
"Cie... ciee.... yangg habis di lamar...." sorak Emely dan Filio yang menunggu kepulangan Filona, mereka tidak sabar untuk menggoda perempuan cantik itu.
"Apa sih kalian..." ujar Filona dengan wajah bersemu.
"Ada yang ngak mau pacaran dan ngak mau dekat sama cowok, sekalinya dekat lansung di ajak nikah, tajir pula" ujar Emely terkekeh geli, dia ingat gimana susahnya gadis itu klau di dekatin para cowok, klau di ajak makan, pasti ngajak rombongan, auto kapok lah cowok yang deketin dia.
"Ternyata. Bukan abang lagi yang nemenin kamu, kamu sudah bosan ya di temanin sama abang, dari dalam perut kita bersama, sekolah bersama, dan kuliah pun di tempat yang sama, walau beda jurusan. Tapi, sebentar lagi kamu sudah ada laki laki lain yang menemani kamu" ujar Filio sendu menahan tangisnya di dalam hati, ada rasa bahagianya kembarannya sudah mendapatkan laki laki yang baik dan ada juga rasa sedihnya, wanita itu sebentar lagi akan pergi meninggalkan dirinya, hidup bersama keluarga barunya, membuat dia sedih, selama ini mereka tidak pernah berpisah, dan sekarang tibalah saatnya mereka berpisah, Filona akan hidup dengan pasangannya.
"Abang.... Hiks... Hiks..." pecah sudah tangis Filona memeluk kembarannya itu.
"Jangan menangis, sudah di lamar malah sedih" ujar Filio dengan bahu bergetar menahan tangis, namun sekuat tenaga memperlihatkan senyum dengan air mata sudah menetes di pipinya.
"Abang ikut bahagia, karena kamu mendapatkan laki laki yang baik, abang bisa tenang sekarang, dan bisa fokus sama tujuan hidup abang, karena tanggung jawab abang sudah di ambil orang" ujar Filio dengan bibir bergetar.
"Abang. Hiks... Hiks...." Filona tidak mampu lagi berkata kata hanya air matanya yang semakin deras keluar, dan itu membuat hati Filona ikut teriris melihat sepasang kembaran itu bersedih hati.
__ADS_1
Zahra ikut menangis melihat ke dua adiknya menangis haru, sungguh inikah kehidupan, mereka akan berpisah dan hidup bersama pasangan masing masing, dan harus mematuhi perintah suami, dia tau bagaimana ke dua anak kembar yang tidak pernah berpisah itu, mereka selalu bersama sama, tanpa mau di pisahkan dan sekarang mereka harus berpisah, karena mau tak mau pasti Filona akan di ajak pergi oleh suaminya pada akhirnya.
"Jangan menangis, mas tau apa yang kamu fikirkan, mereka tidak akan terpisah kok, mas sudah punya rencana kok sama Adrian, jadi ngak usah memikirkan yang belum terjadi" ujar Lucas memeluk sang istri, seolah olah, Lucas sudah seperti cenayang yang selalu tau apa yang ada di pikiran tiga bersaudara itu.
"Mereka itu ngak pernah terpisah loh mas, hiks, dulu pernah Filona di ajak abang sama kakak ipar nginap, besoknya Filio lansung sakit, gara gara di tinggal sama Filona hiks.. hiks.." ujar Zahra tersedu sedu.
"Astaga sampai segitunya" ujar Lucas yang baru tau, pantas saja dia sering melihat si kembar itu tidur bersama walau kamar sudah di sediakan masing masing, namun mereka selalu saja tidur bersama, klau tidak Filona yang pindah kamar, kadang Filio yang pindah, walau tidak setiap hari namun sering, apa lagi klau ada masalah di antara salah satu kembaran itu, lansung nyentuh kepada kembarannya yang lain.
"Mmm..." ujar Zahra sambil mengangguk.
Ceklek...
"Bun..." panggil Lucas menghampiri Bunda Santi.
"Kamu sudah pulang nak?" tanya Bunda Santi.
__ADS_1
"Hmm... Bunda kenapa belum tidur, sudah malam loh ini." ujar Adrian.
"Bunda masih nunggu kamu, apa rencana kamu berhasil, atau harus bunda yang turun tangan" ujar Bunda Santi.
"Lancar dong Bun, tinggal lamaran resmi aja, besok aku akan lansung bilang sama Lucas, aku ngak mau lama lama Bun, aku mau 1 atau 2 minggu lagi Filona sudah jadi istri ku Bun" ujar Adrian penuh semangat.
Bunda Santi ikut tersenyum melihat semangat sang anak, yang selama ini masih cuek cume saja sama lawan jenis, semenjak putus dengan mantan pacarnya, dan dia tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan lawan jenis lagi, walau banyak perempuan cantik dan kaya mendekatinya, Adrian tidak pernah tertarik, beda hal dengan Filona gadis cantik yang baru tiga hari Bunda Santi kenal.
"Semoga saja Filona mau di ajak menikah secepat itu" ujar Bunda Santi.
"Iya Bun. Bunda jangan lupa do'ain aku terus ya, semoga semua yang kita inginkan terkabul" ujar Adrian tersenyum lembut kepada sang bunda.
"Pasti dong. Bunda akan selalu mendo'akan kebahagiaan untuk anak bunda yang baik hati, sholeh, dan sayang sama Bunda" ujar Bunda Santi membelai kepala sang putra penuh kasih sayang.
Bersambung...
__ADS_1