
"Haiii.... Adrian apa kabar?" sapa seseorang di samping Adrian.
Deg...
Kaget Adrian, kaget bukan karena jatuh cinta. tapi kaget karena kesal, dengan wanita itu.
Begitupun denga Bunda Santi ikutan kaget melihat wanita itu, dia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita ini lagi, setelah sekian lama tidak bertemu dengan mereka sejaka saat itu.
"Ngapain kamu ke sini?" ketus Adrian, melihat perempuan itu tidak suka.
"Ncek.... Santai dong, ini tempat umum wajar dong klau aku ada sini, ngapain lagi klau bukan shopping, kamu ngapain ke sini? masih sama ya sendirian, ngak ada kan yang mau sama kamu, gara gara ibu kamu ini! coba kamu mau membuangnya ke panti asuhan waktu itu, pasti kita sudah menikah sekarang, bahkan bisa jadi kita sudah punya anak, egois sih kamu, masih mempertahankan Ibu lumpuh mu itu, jadi sampai sekarang masih jomblo, dan masih merawat ibu yang lumpuh itu sendirian." cibir perempuan **** tersebut.
Ingin rasanya Adrian menatap wanita itu saat ini juga, namun dia menahannya, karena percuma dia melawan perempuan tidak beradab itu, tidak habis pikir, kenapa dia dulu mencintai wanita itu, sampai sampai mau memebelikan segala apa yang wanita itu minta, ternyata dia hanyalah wanita egois dan juga sombong tidak ketulungan.
"Tidak apa belum menikah, asal saya bisa merawat Bunda saya, Mana tau nanti ada wanita baik hati, cantik dan sholeha, mau menerima saya dan bunda saya, tanpa membuang bunda saya ke panti asuhan seperti yang kamu mau" ucap dingin Adrian.
"Ncek... ncek.... Kasihan sekali kamu, berharap terlalu tinggi, menginginkan seorang wanita, yang mau menanjadi babu kamu, untuk mengurus ibumu yang lumpuh itu, siapa yang mau hahahaha.... perempuan menikah itu mau jadi ratu, bukan jadi babu, klau ada pasti wanita itu sangat lah bodoh atau bisa jadi wanita matre yang hanya ingin uang kamu saja" cibir perempuan yang bernama Anjani itu.
"Tidak semua sama seperti kamu Anjani, banyak perempuan baik hati yang ada di luar sana, dan tidak sombong seperti kamu ini!" ucap Adrian penuh penekanan.
"Hahaha... klau ada pasti kamu sudah punya pendamping sekarang, namun buktinya sampai sekarang kamu masih jomblo, dan masih sibuk mengurus wanita tua ini" cibir Anjani.
"Sayang... Lihat deh, aku beli ini untuk bunda, dan aku mau pakai baju caple sama bunda, bagus tidak" ucap Filona membawa dua dress di tangannya, dan berucap manja kepada Adrian, dari tadi dia begitu kesal dengan ucapan wanita sombong itu.
Deg....
Anjani kaget melihat wanita muda, dan lebih cantik dan glowing dari pada dirinya, bagaimana tidak glowing, tiap minggu pasti di arak sama mertua kakaknya ke salon untuk perawatan, yang pada dasarnya memang sudah cantik, semakin di rawat tentu saja semakin bersinar.
__ADS_1
"Waahhh... Ini cantik sekali" ucap Adrian berbinar melihat ke arah Filona, bukan baju yang di bilang cantik, tapi calon istrinya yang dia bilang cantik, fokus Adrian hilang saat calon istrinya memanggil dia sayang, baru kali ini Filona memanggil sayang kepada dirinya, bagaimana dia tidak bahagia, mana manggilnya dengan suara manja pula.
Sementara Filona, susah payah menahan malu, dengan ucapannya sendiri, dia sengaja memanggil Adrian dengan sebutan sayang, karena dia kesal mendengar perempuan tadi menghina calon suami dan juga calon ibu mertuanya.
Sementara Bunda Santi ikut senang dengan calon menantunya itu, begitu bahagia dia dapat perhatian dan juga pembelaan dari calon menantunya itu, tulus atau tidak, yang penting harga diri anaknya di selamatkan oleh Filona.
Sementara Anjani terbengong melihat wanita muda nan cantik itu, bergelayut manja di tangan Andrian.
"Loh. Ada teman abang ya, kenalin aku calon istri abang, kami akan menikah, tidak kurang dua minggu lagi, klau sempat datang ya... di pernikahan kami, kami pasti sangat bahagian klau teman teman abang pada datang" ujar Filona dengan wajah watados nya, membuat Adrian terkikik geli dalam hati, melihat kelakuan calon istrinya itu, ternyata wanita ini bisa juga untuk membatai lawan dengan kepolosannya.
"Bun, lihat deh. Bunda suka ngak sama dressnya, Lona mau caple an sama Bunda, biar di kata anak dan ibu yang kompak sama orang orang, biar mereka iri, pengen seperti kita" ujar Filona dengan mode manjanya.
"Waahhh... Ini sangat bagus sayang, tidak nora, sederhana tapi elegan, kamu kalau cari barang pintar banget, selalu dapat yang bagus, tidak terkesan norak dan murahan, ada loh orang pak pakaian mahal tetap aja klau dia yang pakai, kaya pakai pakaian tiga limaan yang di jual di pasar, saking noraknya" sindir Bunda Santi.
"Astaga kenapa Bunda gue mulai kelihatan taringnya, biasanya cuma sedih dan menangis, sekarang sudah pintar menyindir, apa sekarang sudah punya cruss nya ya" kekeh Adrian menatap dua wanita kesayangannya.
"Haiii... bu, hati hati loh, yakin sekali perempuan itu mau sama anak kamu, jangan jangan dia cuma mau morotin uang anak mu loh Bu, mana dia masih muda, cantik pula, yakin dia mau merawat kamu?" cibir Anjani menakuti bunda Santi.
"Tentu saja saya mau merawat Bunda suami saya kelak mbak, karena dia ibu dari suami saya, ingat mbak surga suami terletak pada ibunya, sementara surga istri terletak pada suaminya, kewajiban istri untuk membantu sang suami mendapatkan surga ibunya, agar hidup kita selalu di berkahi oleh Tuhan." ucap Filona pelan namun nancap di hati semua orang.
Nyesss....
Adrian tidak menyangka calon istri begitu bijak melawan ucapan pedas Anjani, gadis yang umurnya belum genap 22 tahun itu bisa mengalahkan mulut pedas Anjani yang lebih tua darinya, tidak dengan kekerasan cukup dengan ucapan cerdasya.
Bunda Santi tersenyum bangga dengan jawaban calon menantunya itu.
Namun tidak dengan Anjani, dia semakin kesal saja, dengan ucapan Filona.
__ADS_1
"Mana ada perempuan cantik dan masih muda, mau mengurus seorang wanita lumpuh seperti dia, klau bukan karena uang, gue yakin loe itu cuma cari pencitraan, dan bisa menikah dengan laki laki itu, gue tau kok dia kaya, tapi gue ngak munafik kaya loe, yang mau berbuat baik di depan mereka, tapi pada kenyataan nantinya pasti loe bakal mengusir wanita tua itu, pintar juga loe ini!" cibir Anjani mencoba menakuti Andrian dan Bunda Santi.
"Mohon maaf mbak nya. klau hanya sekedar uang, suami kakak saya dan keluarganya pasti sudah memfasilitasi semua kebutuhan saya, klau soal laki laki tampan, saya banyak teman laki laki yang jauh lebih muda, tampan dan lebih kaya yang mendekati saya, tapi... hati saya sudah di curi oleh laki laki dewasa ini, yang saya cari bukan hartanya mbak nya, tapi kenyamanan, banyak harta tapi tidak nyaman percuma mbak, ngak akan ada kebahagian, tapi utamakan ke nyamanan dulu mbak, in syaa allah, pasti bahagia, harta sudah pasti ngalir mbak. Intinya saya mencari jodoh adalah KE NYA MAMANAN." eja Filona sambil tersenyum manis kepada Anjani.
Melawan wanita di depannya ini, bukan dengan tarik urat, karena dia semakin pintar membuat emosi naik, tapi cukup dengan kata kata cerdas yang harus membuat dia paham, dan bungkam seribu bahasa menurut Filona.
Dan terbukti wanita itu melihat Filona dengan wajah kesal, dan tidak ada kata kata keluar dari mulutnya.
"Mbaknya sudah selesai, apa mau lanjut!" tekan Filona dengan santai.
"Huu.... Sombong kau gadis ingusan!" kesal Anjani, ingin sekali dia menjambak rambut Filona, karena gadis itu, selalu bisa menjawab setiap ucapan Anjani.
"Saya ngak sombong mbak, saya hanya bicara apa yang ada di hati saya saja" ucap Filona dengan senyum manisnya dan itu memuakan bagi Anjani.
Anjani pergi dengan wajah kesal, dan menghentakkan kaki ke lantai, karena saking kesalnya dengan Filona, dan sedikit pun Adrian tidak melarang perempuan itu berceloteh kepadanya, bertambah lah kesal Anjani.
"Calon istri abang ini, kok pintar sekali sih" ujar Adrian sambil mengacak rambut Filona dengan gemas, setelah kepergian Anjani, dia begitu bangga dengan Filona yang bicara santai tapi menikam, dia tidak mengamuk seperti kebanyakan wanita pada dasarnya.
"Iya dong. Abang lupa siapa Lona, adik Zahra, sudah terbiasa di rundung orang, sudah makanan sehari hari bagi kami" kekeh Filona.
Adrian menatap sendu ke arah calon istrinya itu, ya benar apa yang di katakan Filona, dia sudah terbiasa dengan orang orang seperti Anjani, bermulut pedas, suka menghina orang, klau mengingat itu, sungguh Adrian tidak tega rasanya.
"Jangan di ingat lagi ya, kenangan itu biarlah berlalu, jangan di simpan dalam hati" ucap Adrian.
"Di simpan dalam hati. Ngak kok, tapi itu sejarah dalam hidup kami, dan dengan masalah itu, menjadikan kami anak anak kuat dan tidak gampang di tindas orang" ujar Filona.
"Pintar Calon istri abang, makin cinta deh" kekeh Adrian, Bunda Santi pun ikut bahagia melihat adengan tersebut, dia bersyukur Adrian mempunya istri seperti Filona, lembut tapi tegas, melawan tapi tidak dengan kekerasan.
__ADS_1
Bersambung....