
Deg....
Zahra kaget mendengar suara anaknya, tanpa sengaja dia mendorong kasar Lucas.
Buk...
"Ausss..... Sayang... kenapa kau kasar sekali, sakit ini pantat saya?" ringis Lucas menahan sakit di pantatnya.
Zahra masa bodo dan meninggalkan Lucas di sana dan tidak perduli klau Lucas kesakitan, dan menulikan telinganya saat mendengar Lucas berteriak. Zahra terus berlari ke dalam rukonya.
"Sayang.... awas kamu ya... kamu minta di hukum sama saya...!" teriak Lucas, namun sayang seribu sayang Zahra tidak melihat sedikitpun.
"Haiisss..... cewek lain klau lihat gue jatuh kaya gini pasti lansung cari muka dan nolongin gue sekalian ambil kesempatan, ini sudah dia yang jatuhin malah ngak perduli" gerutu Lucas sambil berdiri
"Abang ngapain masih duduk di situ!" teriak Emely, membuat Lucas kaget dan langsung berdiri.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Lucas kepada sang adik.
"Aku abis belajar kelompok di sini, sama Filona, dan abang mau ngapain kesini, bukanya arah kantor sama rumah jalannya ngak lewat sini ya?" tanya Emely.
"Abang lagi mau nemuin calon kakak ipar kamu yang bar bar itu" jawab jujur Lucas.
"Siapa kakak Ipar aku bang, jangan bilang Kak Zahra?" tebak Emely.
__ADS_1
"Yap.... tebakan kamu benar" jawab Lucas tersenyum manis.
"Dih... mana ada, kak Zahra ngak punya pacar se tau aku" sela Emely, yang tau Zahra tidak mempunyai pacar, dan terkesan memang menghindari laki laki.
"Ya belum sih.... tapi ini lagi usaha" jujur Lucas.
"Jadi Om... mau jadi Ayah aku, Om yakin suka sama Bunda, Bunda sudah punya anak loh... dan Bunda aku banyak tanggungan nya, kuliah ke dua Om dan Aunty aku di tambah lagi biaya sekolah aku, lebih baik Om mikir mikir dulu buat deketin Bunda aku, jangan cepat mengatakan suka, dan jangan buat Bunda aku sakit hati dan menderita, walau Om suka sam Bunda aku, belum tentu keluarga Om menyukai Bunda ku, karena kami ini hanya beban nantinya" tutur Kenzo, anak itu selalu mendengar ibu ibu yang melabrak Zahra dan mengatakan hal seperti itu, jadi Kenzo tidak ingin Bundanya terluka dengan cacian dan hinaan orang lain kepada Zahra, hatinya sakit, mendengar Bundanya di maki maki orang, maka dari itu lah Kenzo selalu jadi tameng sang Bunda tanpa di minta, dia tidak ingin mendengar isak tangis sang Bundanya di tengah malam seorang diri.
Nyesss....
Sakit sungguh sakit hati Lucas dan yang lain di sana, mendengar penuturan Kenzo tersebut, ternyata hinaan dan cacian yang di lontarkan orang orang kepada Zahra, bukan hanya melukai hati Zahra, namun juga melukai hati anak kecil itu, dan merasa dia hanya beban bagi orang yang mau bersama Zahra.
"Hai.... jagoan" Lucas menyamaratakan tingginya dengan Kenzo, Kenzo menatap dalam mata Lucas. Lucas tersenyum tulus kepada Kenzo, senyum yang tidak pernah di perlihatkan kepada orang lain namun, dia berikan kepada Kenzo, bocah yang sudah mencuri hatinya, bocah yang selalu jadi garda terdepan bagi Bundanya itu.
Kenzo menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kenapa...? kamu ngak percaya sama Om" tanya Lucas mengerut kan jidatnya.
"Mungkin Om berkata jujur, tapi... belum tentu orang tua dan keluarga Om akan menerima kami, kami hanya beban" Kenzo menekan kan kata beban.
Sungguh susah untuk mendapatkan kepercayaan kepada orang yang mempunyai luka dan trauma yang teramat dalam seperti Kenzo, ini baru satu tameng Zahra yang baru akan di lewati masih ada dua lagi, dan belum lagi memikirkan cara meluluhkan hati wanita cantik itu.
"Haii... orang tua Om dan keluarga Om ngak gitu, ini buktinya, Aunty Emely, dia adalah adik kandung Om" tunjuk Lucas ke arah Emely.
__ADS_1
Kenzo, melihat ke arah Emely, dan Emely juga menatap Kenzo lembut, dan kembali menatap Lucas dia kembali menggelengkan kepalanya.
"Aunty Emely memang baik, sebagai teman Aunty Filo tapi..., belum tentu bisa menerima Bunda sebagai kakak Ipar, Aunty Emely pasti tau berapa biaya kuliah Om dan Aunty ku, uangnya tidak sedikit, jangan beri Bundaku harapan palsu, dan setelah itu membuat dia terluka berulang kali, jauhi Bunda ku" ucap Kenzo berkas kaca dan meninggalkan Lucas dan yang lainnya di sana, mereka masih terperangah dengan ucapan Kenzo.
"Jangan lukai kakak ku, sudah cukup kakak menderita" Filio angkat bicara dengan wajah sulit di artikan.
"Hai... saya tidak ingin melukai Zahra, saya menyukainya, dan saya akan menjaganya dan juga akan menjaga kalian" ucap Lucas bersungguh sungguh.
Filio tersenyum dalam sakit hatinya melihat ke mata Lucas.
"Kami sudah sering mendengar ucapan seperti ini, namun ujung ujung tetap kakak ku yang terluka, mungkin Tuan memang bisa menerima kakak ku, namun belum tentu keluarga Tuan menerima kakak ku, berakhir Kakakku di permalukan dan di labrak habis habisan oleh keluarganya, jadi... tolong jangan tambah luka kakakku" ucap Filio sendu.
"Saya tidak akan menambah luka kakak mu, saya akan mengobati luka itu tanpa bekas, tolong percaya saya" Lucas benar benar menurunkan harga dirinya, demi seorang Zahra.
"Terimakasih niat baik Tuan, tapi klau Tuan ingin bersikeras mendekati kakakku, lebih baik beritahu keluarga Tuan, jangan mengambil keputusan sendiri, Emely tahu banyak kehidupan kami, tanya sama Emely kehidupan kami, jadi setelah itu Tuan bisa mengambil keputusan, sekarang Tuan pulang lah, saya menghargai niat baik Tuan" ucap Filio sopan.
Lucas hanya bisa menghembuskan nafas frustasi, susah sekali nembus perisai Zahra itu.
"Kita pulang bang, nanti kita kembali lagi, kapan perlu kita aja mommy dan ke luarga yang lain" Emely menenangkan abangnya.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya...
__ADS_1