Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja

Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja
Bab 117


__ADS_3

"Sayang, kita kerumah sakitnya siangan aja ya, Mas pagi ini ada meeting, nanti habis meeting Mas jemput" ujar Lucas yang sudah rapi dengan stelan kantornya.


"Iya Mas" ujar Zahra yang masih tiduran di kasur, tidak di izinkan ikut sarapan di meja makan, oleh sang mertua, takut Zahra semakin mabuk, Zahra minta makan buah buahan saja, karena dia tidak kuat mencium aroma nasi.


"Kamu, lansung ke rumah sakit aja luc, biar mommy sama Daddy aja yang bawa Zahra ke rumah sakit, kamu tunggu di sana" ujar sang mommy.


"Ya udah kalau gitu" ujar Lucas mengiyakan ucapan sang mommy, di tolak juga percuma, bisa perang badar pagi ini, makin puyeng lah dia, di tambah semalam juga kurang tidur, klau ngak mikir ada meeting penting, sudah pasti dai lebih memilih tidur di rumah bersama sang istri.


"Mas. Berangkat ya, sayang. Nanti klau pengen apa apa, telpon mas aja ya" ujar Lucas dan di anggukin oleh Zahra.


"Mas hati hati ya" ujar Zahra sambil menyalim tangan sang suami, Lucas pun membalas dengan mengecup jidat sang istri, tidak lupa membelai perut rata sang istri.


"Mom. Aku berangkat ya, titip istri ku" ujar Lucas.


"Hmm... Kamu hati hati ya" ujar sang mommy. Lucas semenjak menikah dengan Zahra, sekarang dia ikut mencium tangan orang tuanya, setiap pulang dan pergi ke kantor atau dari mana, itu menjadi kebahagian tersendiri untuk mommy Lusi, bukan hanya Lucas, Emely pun sama.


"Tumben. mata kaya mata panda?" tanya Adrian menunggu Lucas di bawah, tadi dia minta di jemput oleh Adrian, karena tidak memungkinkan dia membawa mobil seorang diri.

__ADS_1


"Hmmm.... Gue di kerjain sama calon anak gue" jujur Lucas.


"Maksud, loe...?" tanya Adrian, takut salah dengan apa yang dia fikirkan.


"Dini hari tadi, gue di suruh nyari bakso sama bini gue, baksonya sudah dapat, eehhh... Bini gue malah muntah muntah. Tadi pas di cek. Istri gue positif" ujar Lucas dengan mata terpicing, namun bibirnya tersenyum bahagia.


"Aahh... selamat ya bro. Akhirnya jadi bapak juga" ujar Adrian.


"Makasih. Tapi loe ngomong ngomong, kapan nih, nyatain perasaan loe sama Filona" ujar Lucas, dia tau sahabatnya itu menyukai adik iparnya, namun Adrian masih jalan di tempat, dan hanya berani curi curi pandang, tanpa berani mengutarakan isi hatinya.


"Apa yang loe takutin?" heran Lucas.


"Loe, tau kan, kalau gue cuma karyawan loe, dan satu lagi gue punya Ibu yang lumpuh, gue takut Loba menolak gue, dia pasti ingin mencari suami kaya seperti kakaknya" ujar Adrian putus asa.


Lucas hanya gelang geleng kepala dengan sikap temannya, yang tidak pernah berubah dari dulu, kurang percaya diri, padahal apa yang kurang dari dia coba, tampan iya, mampan iya, baik hati jangan di tanya, rajin ibadah sudah di pastikan, apa lagi gajinya ngak kaleng kaleng di kantor sang sahabat, punya usaha kontrakan mewah di beberapa khawasan elit di kota itu, punya saham juga di perusahaan Lucas, cuma tidak percaya dirinya dengan wanita tidak pernah bisa dia hilangkan, setelah kejadian yang tidak mengenakan terjadi sama sang Ibu, saat dia mengenalkan kekasihnya kepada ibunya, kekasihnya mau menikah, asal tidak ada sang ibu, ibunya di suruh tinggal di panti jumpo. Membuat Adrian sakit hati, semenjak itu dia menutup diri dari yang namanya wanita.


Hatinya kembali bergetar hebat saat bertemu dengan gadis cantik, yang sialnya adik ipar sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang loe takutin, keluarga Zahra bukan lah orang yang haus harta tau ngak loe, mereka hanya butuh kasih sayang, perhatian dan laki laki yang bertanggung jawab, bisa menerima dia dan keluarganya, itu yang mereka butuhkan, loe coba aja dekati dia pelan pelan, jangan sampai cinta loe lagi mekar mekaranya. Eehhh... Si do'i di embat sama orang lain, nyesak ngak tuh" ujar Lucas menakuti.


"Aahhh... Sial. jangan nakutin dong loe" kesal Adrian.


"Lagian loe garak ke siput, loe tau ngak teman Emely juga lagi deketin Filona tau" kompor Lucas.


"Ngak bisa, ngak bisa, Lona cuma milik gue, ngak boleh yang miliki selain gue!" kesal Adrian


"Lah, loe aja diam bae, mana Lona tau, perempuan tuh, butuh kepastian, ngak lihat gaya gue minta sang kakak" ujar Lucas menepuk dadanya, merasa bangga dengan pencapaiannya telah bisa memilik Zahra seutuhnya, dan sekarang sudah bibit kecebongnya yang bersarang di perut sang istri.


"Haaa.... Haruskah gue ikutin gaya loe" putus asa Adrian.


"Ngak gitu juga, loe sekatin Lona pelan pelan, jemput dia pulang kampus, anter pulang, nanti gue juga bantu loe ngomong sama istri gue, biar dia merestui loe" ujar Lucas.


"Loe yang terbaik sobat" semangat Adrian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2