Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja

Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja
Bab 132


__ADS_3

Pernikahan Adrian dan Filona akan di laksanakan dua minggu ke depan, karena Adrian tidak ingin lama lama berpisah dari pujaan hatinya itu.


Semua urusan kedung, konsumsi, undangan dll nya, semua di urus oleh Adrian dengan memakai jasa WO, dia tidak ingin Filona dan Zahra kerepotan, apa lagi mengingat kehamilan Zahra sudah semakin besar dan juga di tambah ke adaan sang bunda yang tidak memungkinkan.


Pakaian pengantin mereka Mommy Lisa yang mensponsori karena dia sudah menganggap Filona anak sendiri.


"Klau gitu kami undur diri dulu ya bu, Pak, Zahra dan yang lain, sudah menerima kedatangan kami" ujar Bunda Santi yang tidak lepas memegang tangan calon menantunya.


"Iya bu hati hati, kita saudara loh, masa sama saudara ngak nerima sih" ujar Mommy Lusi.


"Hati hati ya bun" ujar Zahra sopan sambil menyalami tangan Bunda Santi.


"Iya sayang, kamu juga baik baik ya" ujar Bunda Santi mengelus perut Zahra.


"Bunda hati hati ya" ujar Filona ikut mengantar Bunda Santi sampai ke mobil.


"Iya sayang, Bunda sudah ngak sabar bawa kamu pulang sayang" ujar Bunda Santi membelai wajah Filona penuh kasih.


Filona hanya tersenyum malu, mendengar ucapan sang Bunda.


"Sayang abang pulang ya, besok abang jemput, buat cari cincin nikah kita" ujar Adrian mengelus puncak kepala Filona.


"Iya mas..." ujar Filona mengangguk patuh.


"Masuk gih" ujar Adrian yang tidak ingin sang kekasih berlama lama di luar.

__ADS_1


"Baiklah aku masuk. Abang hati hati ya" ujar Filona dan berlalu ke teras rumah Lucas tersebut, karena di sana masih berkumpul Mommy Lusi, Daddy Bagas dan yang lain.


"Haaa... Sebentar lagi adeknya kakak ngak tinggal sama kakak lagi, kamu baik baik sama suami dan mertua ya sayang" ujar Zahra membelai kepala sang adik penuh kasih yang berada di atas pangkuannya.


"Iya kak, aku akan merindukan saat saat ini" ujar Filona sendu.


"Kamu bisa datang ke sini kok, kapan pun kamu mau, pintu rumah ini terbuka untuk kamu, adik bontot kakak yang manja" ujar Zahra.


Sementara di balkon kamarnya, Filio sedang menatap langit malam dengan sendu, karena dia merindukan ke dua orang tua dan abang dan kakak iparnya.


"Huuff... Apa kalian melihat dari sana Yah, Bun anak bontot kalian curang, dia meninggalkan aku se diri, padahal aku yang selalu menemaninya dari dalam kandungan, tapi setelah dewasa, dia malah pergi meninggalkan aku, sebentar lagi, dia akan hidup bersama keluarga barunya Bun, lalu. Aku bagaimana" gumam Filio menatap langit gelap itu.


"Bun, bukan aku tak senang Lona punya pendamping, aku malah bersyukur bun, dia mempunyai calon suami dan calon mertua yang baik, aku yakin itu Bun, tapi bukan secepat ini bun, aku belum merasa siap hiks..."


"Memang semua yanga ada di dekat kita itu, tidak akan selamanya tetap di sisi kita, ada yang pergi karena di panggil sang kuasa, seperti kalian, dulu aku sangat hancur bun, kalian meninggalkan aku secara bersamaan, kakak menanggung beban membiayai kami, dan mengasuh kenzo secara bersamaan, dia banting tulang demi kami hiks... sampai di caci di mami, di katai perempuan murahan, kakak tabah bun hiks... sampai dia di peristri dan di beri keluarga yang begitu menyayangi kakak dan kami semua, aku takut saat itu bun, keluarga suaminya hanya ingin kakak, tapi itu tidak terjadi, kami semua di boyong kerumah kakak bun hiks, aku bahagia bun, di sini bersama kakak dan keluarga suami kakak, belum pernah aku merasakan sebahagia ini selama kalian pergi meninggalkan kami hiks."


Grap....


"Kamu tidak boleh kemana mana, kamu harus disini bersama kami anak bodoh, siapa yang mengizinkan kamu kuliah jauh jauh ngak ada, kuliah di sini sampai jadi profesor sekalipun, ingat. di sini rumah mu, jangan pernah merasa sendiri, mommy, Daddy, Emely, Zahra, Filona, dan Kenzo adalah kelurga kamu, keluarga kamu menikah bukan berati dia menjauh dari kamu, tapi menambah saudara dan ibu untuk kamu, anak anak bodoh, bisa bisanya berfikir mau meninggalkan kami hiks..." Mommy Lusi memukul dada Filio puas memukul Filio dia memeluk anak malang itu dengan erat.


Daddy, Lucas dan Emely pun ikut meneteskan air mata, segitu takut dan traumanya laki laki yang seperti kuat di luar, ternyata rapuh di dalam itu di tinggal oleh para saudaranya untuk menikah, trauma di tinggal mati oleh anggota keluarganya begitu mengerikan untuk Filio.


Di seberapa sana, Adrian dan Bunda Santi ikut meneteskan air mata, dia sengaja di vicall oleh Lucas agar mendengar curahan hati kembaran calon istrinya itu.


"Aku janji akan membahagiakan kalian, aku janji tidak akan membatasi waktu pertemuan kalian" gumam Adrian.

__ADS_1


"Kita ajak aja Filio tinggal bersam kita nak, mereka kembar, sudah biasa hidup bersama sejak di kandungan, pasti berat bagi mereka untuk berpisah, apa lagi mereka punya trauma yang sangat tragis dalam hidup mereka" ujar Bunda Santi.


"Aku dan Lucas sudah membeli rumah yang berdekatan bun, hanya beda dinding saja, agar Filona dan Filio tidak merasa terpisahkan" ujar Adrian.


"Itu bagus, Bunda mendukung kamu nak" ujar Bunda santi memegang tangan Adrian.


"Nak, Bunda mohon sama kamu, setelah menikah nanti, jangan pernah bentak istri mu nak, sesalah apa pun dia, ajak dia bicara baik baik, dari hati ke hati, di tambah Filona masih sangat muda, jiwanya masih labil, mungkin nanti dia akan bersikap manja kepada kamu, dan suka merengak ini itu, jangan sesekali membentaknya, dulu Bunda sama Ayahmu pun begitu, Ayah mu terpaut umur 10 tahun dengan Bunda, tapi Bunda nyaman bersama Ayahmu, dia bisa menjadi suami, bapak, kakak dan teman sekaligus, Ayahmu tidak pernah membentak Bunda, saat emosinya memuncak dia lebih suka merendam tubuhnya di kamar mandi" ujar Bunda Santi mengingat mendiang sang suami.


"Iya bun, aku akan selalu mengingat nasehat Bunda" ujar Adrian memeluk Bunda Santi.


"Bun, apa kah kita akan mengundang mereka?" tanya Adrian, mereka yang di sebut tentu saja para saudara baik dari dirinya maupun dari pihak sang suami.


"Bukan Bunda tidak ingin bersilahturahmi dengan mereka nak, kamu tau bukan sifat mereka, apa lagi kaku sekarang hidup lebih berjaya, Bunda takut mereka akan menyakiti Filona, ibu rasa tidak usah, biarkan saja mereka, lagian selama ini mereka tidak ada buat kita, saat bunda sakit dan kamu butuh biaya, mereka malah menghilang dan tidak mau mengenal kita, sudah lah lupakan, Bunda ngak mau menantu Bunda akan terluka" gaje Bunda Santi.


"Baiklah klau begitu, aku pun sebenarnya tidak mau, cuma takut bunda ingin mengundang mereka" ujar Adrian.


"Sudah, tidur sana, sudah malam, besok kamu harus kerja, cari uang yang banyak, jangan sampai menantu bunda kurang uang" kekeh Bunda santi.


"Mana ada dia kurang uang, bunda lupa anak bunda ini siapa sekarang" sombong Adrian.


"Hahahaha.... Iya iya" ujar Bunda santi ikut terkekeh.


"Aku mau tidur di sini aja sama bunda" ujar Adrian, menaiki tempat tidur sang bunda. Bunda Santi mengelus kepala sang anak sampai tertidur di sampingnya.


"Yah... Sebentar lagi anak kita akan menikah, dengan gadis cantik dan baik hati, ayah tenang di sana ya, suatu saat nanti kita pasti berjumpa lagi" gumam Bunda Santi berkaca kaca.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2