
"Astaga. Ibu dan anak ini kenapa begini ya, nyesal mommy mengenalnya, klau bukan karena sahabat Daddy itu, ngak sudi Mommy kenalan sama dia, hii..." ujar Mommy bergidik
Daddy Bagas terkekeh mendengar celotehan sang istri yang memang benar adanya.
"Kasian sebenarnya teman Daddy itu mom, tapi dia ngak jauh lebih buruk dari istrinya, Daddy baru tau , baru batu ini" ujar Daddy membertahu sang istri.
"Haaa... Serius Dad, Bukankah dia sangat mencintai istrinya?" tanya sang istri terkaget.
"Awalnya sangat mencintai, setelah tau sesuatu. Entah lah, Daddy ngak mau cerita, itu urusan rumah tangga mereka" ujar Daddy Bagas.
"Apakah. Kita akan terus di sini, kasian istri ku" ujar Lucas menghentikan obrolan orang tua nya.
"Oo... Astaga. Ayo sayang, maafin mommy" ujar mommy Lisa dengan rasa bersalahnya.
"Ngak apa mom?" ujar Zahra tersenyum hangat kepada sang mertua.
Mereka pulang ke rumah, masalah obat nanti Lucas bisa minta tolong sama orang rumah, yang penting sekarang istrinya, pulang dan istirahat dulu.
"Daddy mau bikin lift di rumah kamu, biar Zahra ngak turun naik tangga, kasian dia takut kenapa napa" ujar Daddy Bagas dengan santainya.
__ADS_1
Zahra lansung menelan ludah kasar, sebegitu perhatiannya mertuanya ini kepadanya.
"Iya Dad, aku juga kepikiran gitu, kasian nanti dia kecapean turun naik tangga" ujar Lucas mengelus kepala sang istri dengan sayang.
"Ngak usah mas, itu berlebihan" ujar Zahra tidak enak hati.
"Apanya yang tidak usah sayang. Itu harus di buat lift, apa lagi kamu yang suka duduk di balkon lantai tiga, mommy ngak mau kamu kecapean" ujar sang mommy ikut berkomentar.
"Mommy... kenapa kalian begitu baik pada kami" ujar Zahra berkaca kaca.
"Haii... Kenapa menangis sayang, sudah sewajarnya kami menyayangi kamu, dan adik adik mu itu sayang, karena kita keluarga, jangan pernah merasa rendah hati, pengen apa utarakan jangan simpan di dalam hati, karena kami bukan cenayang, ngak bisa menebak isi hati dan kepala orang" kekeh Mommy Lisa.
Maka dari itu Daddy Bagas tidak ingin menyia nyiakan perhatian dan kasih sayang dari keluarga sang istri, walau dia anak orang miskin yang bekerja awalnya menjadi OB sambil kuliah, di angkat jadi staff dan berlanjut jadi asisten sang kakak ipar, hingga sekarang mempunyai perusahaan raksasa di kenal di negara sendiri dan juga negara negara tetangga.
Mempunyai istri yang penurut dan tidak pernah memandang rendah dirinya, dan juga sangat menyayangi orang tuanya, bagaiman bisa Daddy Bagas berpaling dari sang istri, walau di dalam rumah tangga tidak selalu baik baik saja, namun itu sebagai bumbu bumbu dalam pernikahannha.
"Terimakasih mom" ujar Zahra serak.
"Ohhh... Ya ampun. Kita belum kasih tau Oma sama Opa loh, bisa habis kita di amuk sama Raja dan Ratu singa itu" ujar Lucas.
__ADS_1
Puk...
Puk...
Kiri kanan Lucas mendapatkan tabokan dari dua kesayangannya.
"Sembarangan aja ngatain Oma sama Opa" omel Zahra. Lucas terkekeh mendengar omelan sang istri, ini tujuannya membuat sang istri melupakan kesedihannya, dia ngak mau istrinya bersedih.
"Tau. Di bawa kabur istri kamu ke belanda baru tau rasa" ujar sang mommy.
"Oo.... Tidak bisa ya mom, enak saja istriku mau di bawa kabur" ujar Lucas lansung memeluk sang istri.
Deddy Bagas hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan sang anak. Dia pernah di pisahkan dengan anak dan istrinya oleh sang mertua, gara gara di lupa memberitahu sang istri lagi hamil Eemly, membuat dia sangat frustasi saat itu, memang klau mengingat ingat mertuanya yang super ajaib itu, Daddy Bagas jadi bergidik sendiri.
"Apa kalian. Tidak ingin turun, apa mau peluk pelukan sampai malam di dalam mobil" ujar sang mommy.
"Hehehe.... kalau boleh ngak apa apa mom" ujar Lucas dengan tengilnya.
Zahra jangan di tanya mukanya sudah memerah bak kepiting rebus.
__ADS_1
Bersambung...