Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja

Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja
Bab 152


__ADS_3

"Aduhhhh... Mas, bangun." rintih Zahra saat merasakan perutnya semakin sakit, memang sedari sore perutnya sudah mules, namun dia tetap tenang karena dia tidak ingin semua orang khawatir, dia tau bagaimana keluarganya itu, terutama mertuanya semakin dekat hari kelahiran sang cucu, wanita yang sebentar lagi berganti gelar Oma itu, semakin ceriwis kepada zahra, tidak boleh ini, tidak boleh itu, kemana mana harus ada yang menemani, ya kali ke kamar mandi juga ada yang menemani.


"Eegghhh... Kenapa sayang?" tanya Lucas dengan mata yang masih susah untuk di buka, namun karena sudah terbiasa, setiap malam dia mengelus perut atau punggung sang istri, reflek tangannya bergerak mengelus perut istrinya itu.


"Perutku sakit mas, kayanya dedek otw keluar deh." ujar Zahra hati hati.


"HAH... APA, sayang mau lahiran!" kaget Lucas lansung terduduk, mendengar ucapan sang istri.


"Iya kayanya, mulesnya sudah dari sore, sekarang makin berasa." keluh Zahra menahan mules.


"Astaga sayang, kenapa ngak ngomong sih, sakit di tahan sendiri." omel Lucas, dia lansung bangun dan memakai pakaian asal yang penting nemu dan pakai baju, setelahnya dia bergerak ke arah lemari di mana sang istri sudah menyiapkan segala peralatan untuk lahiran, walaupun panik dan khawatir, Lucas tetap menjaga kewarasannya, jauh jauh hari dia sudah di simulasi oleh Mommynya tentang cara penanganan Zahra klau mau lahiran, apa saja yang harus dia lakukan, semua di ingat di dalam kepalanya oleh Lucas.


Zahra hanya diam, melihat apa yang di lakukan oleh suaminya itu, dia percaya suaminya paham apa yang akan dia lakukan.


"Tunggu sebentar ya, Mas keluarin mobil dulu, sama narok tas, kamu masih bisa tahan sayang?" tanya Lucas cemas namun berusaha baik baik saja.


Zahra mengangguk saja, walau perutnya semakin mules.


Ceklek...


"Loh, abang mau kemana?" beretapan Lucas keluar kamar, dan Filio juga baru keluar dari dapur mengambil minum.


"Aahhh... Kebetulan ada kamu, ayo temani abang, Kak Zahra mau lahiran." ujar Lucas.


"Apa.... Haaa... baik lah." ujar Filio tak kalah paniknya, calon dokter itu pun menguasai dirinya dengan baik, dan mengambil tas dari tanga Lucas, dia berjalan keluar untuk mengambil mobil, sementara Lucas kembali ke dalam kamar, untuk menjemput sang istri.


"Siiii.... sa- sakiiitt....." keluh Zahra sambil mencengkram tangan sang suami.


"Iya sayang, sabar ya, sebentar lagi kita sampai." ujar Lucas, dia membiarkan tangannya di cakar, di cubit, di cengkram oleh sang istri, yang penting istrinya baik baik saja, sakit yang dia rasakan, tidak sebanding dengan sakit sang istrinya rasakan.


"Suster... Tolong kakak saya..." ujar Filio, memanggil suster jaga, saat sampai di rumah sakit, suster lansung dengan sigap menangani Zahra.


Ke dua laki laki itu hanya di izinkan menunggu di ruang tunggu UGD tersebut.


"Ya Allah selamatkan kakak ku, dan lancarkan persalinannya." gumam Filio di tengah tengah kecemasannya.


"Tak Kalah dengan Filio, luas pun merafalkan banyak do'a untuk anak dan istrinya.

__ADS_1


Ceklek...


"Suami Bu Zahra..." panggil perawat.


"Iya, saya suaminya." ujar Lucas.


"Bu Zahra akan kami pindahkan ke ruang bersalin, untuk administrasi tolong di urus ya pak." ujar Perawat.


"Baik, tolong berikan pemananganan terbaik untuk istri saya." ujar Lucas.


"Biar aku aja bang, abang temanin kakak aja." ucap Filio.


"Baiklah." ucap Lucas, tanpa di suruh masuk, Lucas lansung masuk ke dalam UGD tersebut, siapa yang berani melarangnya.


"Mas..." Panggil Zahra melihat sayu sang suami, karena perutnya semakin sakit.


"Iya sayang Mas di sini." ujar Lucas, dan mengecup pipi sang istri.


"Sayang, anak ayah, kamu sudah ngak sabar mau ke luar ya, keluar lah baik baik sayang, jangan sakiti bunda kamu." bisik Lucas di perut sang istri, dia membelai perut itu dengan sayang.


"Mari pak, kita pindahkan, bu Zahra ke kamar bersalin." ujar perawat, kepada Lucas.


"Ke dua laki laki itu, lupa memberi kabar kepada anggota keluarga mereka, entah apa yang terjadi klau nanti mommy Lusi tau cucunya sudah lahir.


Sementara di rumah Adrian, tidak henti hentinya menggempur sang istri, karena hari ini dia buka puasa, setelah puasa selama seminggu karena sang istri sedang datang tamu bulananya.


"Ahhh....kak." de sah Filona, menikmati perlakuan sang suami.


"Kak... aku mau ke lu ar..." serak Filona.


"Bareng sayang." ujar Adrian.


Setelah dua jam melakukan olehraga malam, akhirnya Adrian ambruk di sisi sang istri.


"Aahhh.... kamu makin nikmat aja sayang." bisik Adrian memeluk sang istri.


Filona hanya tersenyum sambil memejamkan matanya, lelah sungguh lelah dirinya, melayani sang suami yang tenaganya seperti kuda liar itu, membolak balikan tubuhnya, yang miring, jongkok, nungging, berdiri entah lah banyak gaya yang di mau oleh Adrian itu.

__ADS_1


Sementara sang kembaran mulai bernafas lega, di rumah sakit sana, karena dia mendengar suara lengkingan bayi di luar kamar bersalin itu, dia sangat yakin, bayi tersebut adalah keponakannya, karena hanya Zahra lah yang ada di dalam sana.


Cup...


Cup...


Cup...


Lucas mencium Zahra bertubi tubi, tanda rasa bahagianya, karena sang istri, telah berjuang antara hidup dan mati, untuk melahirkan putra mereka.


"Terimakasih sayang, sudah mau melahirkan anak kita, terimakasih sudah bertahan untuk kami, mas sangat mencintai kamu." Bisik Lucas sambil menitikan air mata haru.


Zahra hanya mampu menganggukkan kepalanya, karena semua tenaganya sudah terkuras habis.


"Pak, silahkan di azankan putranya." ujar Suster yang telah membersihkan bayi tampan itu.


Lucas mengazankan sang putra dengan suara yang serak, dia terharu, tidak menyangka saat ini dia sudah menjadi Ayah seutuhnya, putranya itu bagai duplikat dirinya.


"Jadilah anak sholeh nak, jadilah pelindung Bunda mu." bisik Lucas mengelus pipi gembul sang anak.


Zahra dan bayi nya, sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP, setelah saru jam melewati masa observasi di ruang bersalin itu.


"Loh.... Nyonya di rumah, emang Nyonya muda sudah lahiran ya Nya, anaknya cewek apa cowok?" tanya si mbak bertanya kepada Mommy Lusi.


"Ngomong apaan sih kalian, ngadi ngadi aja, belum ada mantuku lahiran, mbak mimpi yq." kekeh Mommy Lusi dengan santainya.


"Lah.... kan kata satpam, semalam Den Filio ambil mobil, buat bawa Nyonya muda ke rumah sakit." bingung si mbak.


"Apa.....! kamu ngak bercanda kan mbak!" pekik Mommy Lusi.


"Apa sih Mi, teriak teriak, masih pagi, udah seriosa aja." ujar Daddy Bagas.


"Dad, coba telpon Lucas, katanya Zahra semalam di bawa ke rumah sakit." pekik Mommy Lusi.


"Apaaa...." Daddy Bagas pun ikutan berteriak.


"Buru Dad, ngak usah pakai seriosa, telpon anak durjana itu sekarang." titah sang mommy dengan muka kesal, cemas dan bercampur aduk rasa yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2