
Dua hari sudah Bunda Adrian di rawat di rumah sakit, dan hari ini bunda Adrian sudah di izinkan pulang.
Tak lupa Filona ikut menjemput Bunda Adrian itu. Itu juga permintaan dari Sang Bunda, dia ingin pulang bersama Filona dan bersyukurnya Filona hari ini libur kuliah, dan bisa datang lebih awal ke rumah sakit.
Ceklek.....
"Assalamualaikum...." ujar Malika masuk ke dalam ruang rawat Bunda Santi.
"Wa'alaikum salam. Kamu sudah datang nak, baru mau di jemput sama Adrian" ujar Bunda Santi tersenyum senang melihat kedatangan Filona.
"Tadi aku bareng sama Filio Bun" ujar Filona mendekat ke arah bed Bunda Santi dan mencium tangan Bunda Santi dengan takzim, membuat Bunda santi terenyuh dengan kesopanan Filona itu.
"Kamu bawa apa sayang?" tanya Bunda Santi melihat tentengan yang di bawa Filona.
"Aku bawa puding Bun, Bunda mau makan sekarang?" tanya Filona membuka kotak yang berisi puding.
"Waahhh.... seger kayanya, bunda mau" ujar Bunda Santi dengan wajah berbinar.
Filona dengan telaten menyuapi bunda Santi dan itu di lihat oleh Adrian yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aahhh... Rasa rasanya pengen cepat cepat ngajak dia kepelaminan biar bisa di suapin dan di manjain" gumam Adrian menghayal di depan kamar mandi.
"Perempuan ini kenapa sih, datang datang melulu kesini, bikin kesal aja deh, sok sok perhatian lagi" gerutu Heni yang sedang nerapikan barang barang yang akan mereka bawa pulang.
__ADS_1
"Bang, ngapain diam di situ?" tanya Filona melihat bingung ke arah Adrian.
"Pengen di suapin juga" ujar Adrian tanpa sadar.
"Mau..." ujar Sang Bunda.
"Mau banget..." ujar Adrian mengangguk dengan cepat.
"Nikahin dulu, baru boleh suap suapan" kekeh Bunda Santi.
"Astaga, Bunda ini, awas saja klau aku sudah nikah sama Filona, bunda ngak boleh dekat dekat sama dia" gerutu Adrian.
"Emang Malika mau sama kamu?" goda Bunda santi.
Filona yang di tanya seperti itu, lansung grogi dan malu, jangan lupa wajahnya yang sudah berubah merah jambu.
"Loba, tuh di tanya Adrian, mau ngak nikah sama laki laki jomblo itu" ujar Bunda Santi.
Filona semakin di buat malu oleh ucapan bunda santi.
"Jawab dong Lona, masa diam aja" desak Adrian, yang tadinya ingin mengutarakan isi hatinya di tempat romantis, tapi apa lah daya, bunda sakit, dan bundanya dengan blak blakan menyatakan sukanya nya kepada Filona, dan Adrian pun tidak mau kalah sama sang bunda.
"Loba mau jawab apa? Lona ngak mau pacaran." ujar Filona dengan polosnya. .
__ADS_1
"Bunda setuju, jadi lansung nikah saja" ujar Bunda Santi dengan sangat senang hati.
Prannnkkkk....
"Mbak.... apa apaan sih, ngagetin aja" kesal Adrian.
"Ahhh... Maaf maaf, saya tidak sengaja" ujar Heni. Dia begitu terkejut, begitu mudahnya majikannya itu menerima Filona menjadi calon istri sang anak, padahal selama ini, dia sudah berusaha terlihat baik dan perhatian namun tidak di lirik sedikitpun oleh Adrian mau pun Bunda Santi, seharusnya dia lah yang mendapatkan posisi sebagai nyonya Adrian itu, bukan orang lain, yang telah mengurus Bunda Santi selama ini" haduuuhh... ini si mbak hayalan setinggi langit, helllooo.... Mbak, kamu tuh cuma bekerja di sana, dan mendapat gaji, bukan di jadikan calon istri.
"Kerjanya hati hati mbak, jangan buru buru, itu ngagetin orang" tegur Bunda Santi.
"Iya bu, maaf" ujar Heni dengan sedikit merasa bersalah, walah di dalam hati sangat gondok setengah mati.
"Ya sudah, kita pulang yoo..." gagal sudah Adrian mendengar jawaban dari Filona ulah Heni itu.
Bunda Santi mengangguk, dan turun ke lantai duduk di atas kursi roda yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Mereka keluar dari rumah sakit, berjalan beriringan Adrian mendorong Bu Santi, sementara itu Filona berjalan di samping Bunda Santi sambil berpegangan tangan.
Heni mengikuti dari belakang denga membawa tentengan di tangannya, sambil menggerutu kesal, melihat pemandangan di depan mata, yang membuat hatinya panas.
"Sadar diri, lihat siapa kamu, jangan berharap lebih sama pak Adrian, klau loe masih ingin bekerja di rumah Pak Adrian loe jangan berulah" bisik sopir adrian di telinga Heni.
Heni hanya bisa mendengus kesal, mendengar teguran sopir itu, apa salahnya klau dia menginginkan bosnya itu, sudah lah tampan, baik hati, dan tajir pula, kan itung itung bisa pamer di kampung dan merubah perekonomiannya.
__ADS_1
Bersambung