
Pagi menjelang Filona sudah rapi dengan pakaiannya, dan turun kelantai bawah, hari ini dia akan di jemput oleh Adrian, namun sebelum itu Filona mau ke kampus mengantarkan tugas kuliahnya.
"Pagi semua" sapa Filona kepada seluruh keluarga yang sudah berkumpul di meja makan.
"Pagi, pitri Mommy" ujar Mama Lisa sambil melihat ke arah Filona.
"Pagi sayang" ujar Daddy Bagas mengusap kepala Filona.
perlakuan seperti itulah yang membuat anak kembar itu merasa nyaman di sana, mereka kembali merasakan kasih sayang yang sudah lama hilang, bukan bearti kakaknya tidak menyayangi mereka, tapi beda saja mendapat kasih sayang dari orang tua.
"Kalian kok sudah rapi, emang mau pada kemana?" tanya Filona melihat keluarganya itu juga berdandan rapi.
"Ngak tau, abang ngajak kita ke suatu tempat" jujur Emely.
"jiiee.... aku ngak di ajak" ambek Filona.
"Sudah mau nikah masih saja kaya bocah ncek... ncek... ncek.... kasian sekali om Adrain punya istri masih suka merajuk" ejek Kenzo.
"Heee... Bocil, kamu tuh yang bocah, yang sok dewasa" gerutu Filona.
"Sudah sudah sarapan dulu, pagi pagi sudah ribut" lerai Zahra, kebiasaan klau sudah bersatu adik dan anaknya itu pasti ada saja yang di ributin.
Akhiranya mereka makan dalam diam, tanpa ada suara sama sekali.
Di kediaman Adrian pun sama, Ibu dan anak itu juga sedang sarapan berdua.
"Hari ini jadi kamu ajak Lona ke toko perhiasan nak?" ujar sang Bunda.
"Jadi Bun. Sekalian mau lihat perumahan baru kita, bunda juga ikut ya" ajak Adrian.
"Ngak usah, bunda di rumah saja, ngak enak ganggu kalian" kekeh sang bunda.
"Ncek mana ada ganggu bun, ayo lah, bunda juga ikut semoga bunda juga suka hunian baru kita" ujar Adrian.
__ADS_1
"Baiklah" ujar Bunda Santi pada akhirnya.
"Saya juga ikut pak?" tanya suster Heni yang tiba tiba sudah ada du dekat mereka.
"Tidak usah, kamu di rumah saja" ujar Adrian yang mulai tidak nyaman dengan keberadaan Heni.
Bukan tanpa alasan Adrian tidak suka sama dia, beberapa kali Adrian ke pergok melihat Heni yang memandang Filona dengan pandangan tidak suka, dan juga beberapa kali juga Adrian melihat Heni yang seperti menggoda dirinya, dengan pakaian yang kurang pantas, untuk sementara dia akan diam, karena masih banyak urusan yang dia urus.
Heni hanya mengangguk lemah tanda kecewa tidak di ajak oleh Adrian dan Bunda Santi.
"Jadi orang tau diri mbak, majikan baik sama kita, bukan bearti menyukai diri kita, tapi sama pekerjaan kita mbak, ehh... kamu malah kepedean dan anggap pak Adrian suka sama kamu, muka pas pasan pendidikan tidak ada, malah bermimpi tinggi, ngaca mbak, calon istri pak Adrian itu cantik sempurna, baik hati dan juga berpendidikan, malah mau bersaing" ujar mbak yang lagi beberes di dapur kotor, melihat wajah Heni yang di tekuk, dia juga mendengar Heni menawarkan diri untuk ikut bersama Adrian dan Bunda Santi, jelas jelas orang mau pergi acara keluarga.
"Ncek. diam deh mbak. Aku tuh jauh kemana mana cantiknya dari pada bocah ingusan itu, dan aku juga kan yang ngerawat Bunda dari dulu, masa aku ngak di hargai sih, udah kasih perhatian, melakukan A sampai Z buat bunda" ketus Heni.
Hampir saja si mbak menyemburkan tawanya, ya jelas lah dia harus merawat Bunda santi, melakukan A sampai Z memang sudah tugas dia yang di gaji oleh Adrian, untuk merawat sang bunda, mau heran tapi itu Heni.
"Sudah mbak, ngak usah mikirin dia, biarin saja dia menghalu, urusin aja kerjaan kamu" tegur si mbok yang juga ikut geleng geleng kepala melihat teman satu kerjanya itu.
"Waahhh... Bunda cantik banget" ujat Adrian tersenyum melihat bundanya, sudah lama sang bunda tidak mau berdandan da kali ini ingin pergi bersama anak menantunya dia sedikit memoles wajah, agar anak dan menantunya tidak malu mengajaknya.
"Astaga Bunda, mana ada aku malu sama bunda, Bunda yang tercantik bagiku bunda, baru pujaan hati ku itu" ujar Adrian memeluk bundanya yang berada di atas kursi roda.
"Iya iya, bunda tau, ayo berangkat, takut Lona menunggu kita kelamaan" ajak Bunda Santi.
"Siap Bunda kita jemput bidadari ku" semangat Adrian, mendorong kursi roda Bunda Santi.
"Aku jalan Ya mom, dad, kak" ujar Filona saat melihat mobil Adrian sudah memasuki gerbang rumah Lucas itu.
"Iya kamu hati hati ya sayang" ujar merek kompak.
Filona mengangguk dan berjalan ke luar rumah, menghampiri calon suaminya.
"Loh, sudah rapi sayang" ujar Adrian melihat Filona sudah berada di dekat mobilnya, baru juga dia mau menyusul Filona ke dalam rumah, ternyata Filona sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Sudah bang. Tapi... Anter ke kampus sebentar ya, aku lupa belum nyerahin tugas ku" cengir Filona.
"Baiklah Tuan putri. tapi, abang bawa bunda ngak apa apa kan," ujar Adrian sedikit tidak enak hati, dia ingin Filona semakin dekat dengan bundanya, karena Adrian tidak bisa memilih antara mereka berdua, cintanya sama sama besar.
"Emang ada Bunda! pekik Filona ke girangan, melihat wajah girang calon istrinya membuat Adrian bernafas lega, dia fikir Filona akan menolak Bundanya, ternyata tidak, malah dia kesenangan.
Bunda Santi yang tadinya juga was was, jadi tersenyum haru, ternyata calon menantunya yang satu ini jauh berbeda dengan para wanita selama ini mendekati sang putra.
"Bun, bunda ikut. Aaa... Senangnya" ujar Filona berbinar membuka pintu belakang tempat bunda santi duduk, dia menyalim tangan bunda Santi dengan takzim, setelah iti memeluk hangat bunda santi. Adrian melihat perlakuan calon istri kecilnya kepada sang Bunda, begitu terharu. Dia tidak salah pilih calon istri.
"Aku duduk sama Bunda ya bang?!" pinta Filona manja.
"Abang duduk sendiri dong, jadi sopir abang gitu, nasib nasib" ujar Adrian mendramatisir.
"Ncek, lebay ayo jalan" ujar Filona menutup pintu mobil, membuat bunda santi terkekeh dengan tingkah calon menantunya itu.
Di dalam rumah sana, mata Zahra berkaca kaca melihat interaksi adiknya bersama calon mertuanya, dia lega adiknya mendapatkan calon mertua seperti mertuanya yang menyayanginya dengan tulus.
"Bunda Ayah, lihat lah, putri kalian sudah besar, dan sebentar lagi dia akan menjadi istri orang, tugasku sebagai kakak, sudah di ambil alih oleh suaminya" gumam Zahra.
"Haiii... istri cantik mas ngak boleh bersedih" ujar Lucas memeluk sang istri dari samping.
"Aku ngak sedih, aku terharu, sebentar lagi dia bukan lagi tanggung jawabku, tanggung jawabku akan di ambil alih oleh suaminya, aku berharap, bunda Santi bisa menyayanginya, seperti mommy menyayangi ku" ujar Zahra sendu melihat ke arah sang suami.
"Tentu saja bunda Santi akan menyayanginya, seperti menyayangi Adrian sayang, apa kamu ngak lihat perlakuan bunda Santi sam Filona" ujar Lucas menenangkan sang istri.
"Iya. Aku melihatnya" ujar Zahra.
"Jadi. sudah taukan, jawabannya." tanya Lucas lagi.
"Sudah" angguk Zahra mantab.
Lucas memeluk istrinya penuh kasih sayang dan tidak lupa mengecup sayang jidat sang istri.
__ADS_1
Bersambung....