DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Pengacau


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu. Keadaan Caca sudah mulai membaik dan di izinkan pulang, dengan catatan harus banyak istirahat dan Rey yang di larang untuk mengunjungi anaknya sementara waktu sampai kandungan Caca benar-benar kuat. Tentu itu membuat Rey frustasi, apalagi Caca sekarang lebih memilih tidur dengan Mama Mona karena tidak tahan dengan bau suaminya yang di anggapnya tidak sedap.


Sedangkan di kantor Alex, Riko sedang memberikan beberapa berkas yang selama beberapa hari ini dia kerjakan. Berkas tentang hak asuh Zio. "Tuan, semuanya sudah saya kerjakan sesuai dengan apa yang anda perintahkan," tutur Riko. Sembari menunggu Alex memastikan berkas tersebut.


Alex menaruh kembali berkas itu di atas meja setelah yakin kalau berkas sudah seperti apa yang di harapkannya. "Baik, kalau begitu kau boleh keluar. Setelah ini aku akan pulang, selesaikan pekerjaanku yang tersisa. Jika tidak memungkinkan nanti antar saja ke mansion."


Setelah itu Alex segera beranjak pergi untuk pulang ke mansion-nya. Di dalam perjalanan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, membayangkan istrinya akan senang dengan apa yang akan di sampaikannya.


Tidak lama mobil lamborgini hitam yang di kendarai Alex sudah memasuki halaman luas mansion.


Dengan cepat kakinya melangkah memasuki mansion bahkan mesin mobilnya masih dalam keadaan hidup di pelataran.


"Sayang ...." Teriak Alex dengan mengedarkan pandanganya ke segala arah, tapi tidak menemukan istrinya.


Sesaat kemudian, telinganya menangkap suara tawa seseorang. Dan bila di dengarkan lebih lama, ternyata itu suara istrinya dan Zio. Mungkin sedang bermain.


Alex melangkah mengikuti dari mana sumber suara itu berasal, ternyata dari kamar Zio. Kaki Alex berhenti di ambang pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat. Dan ia dapat melihat istrinya yang memang terlihat bahagia bila bersama Zio.


"Ya sudah, bermainnya sudah selesai. Sekarang ayo kita tidur, sudah siang," tutur Tiara yang kemudian merebahkan dirinya di ranjang. Zio dengan patuh juga menyusul Tiara berbaring.


Seperti kemarin-kemarin ritual Zio sebelum tidur, Tiara akan mengusap punggungnya dan menyanyikan lagu pengantar tidur. Dengan telaten Tiara melakukanya, menunggu sampai Zio tertidur. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Zio terlelap.


"Sudah tidur," gumam Tiara saat mendengar dengkuran halus. Perlahan Tiara beranjak dari kasur agar tidak membangunkan Zio. Biasanya Tiara juga akan ikut terlelap, tapi entah kenapa Tiara rasanya ingin sekali meminum jus jeruk di cuaca yang siang ini lumayan terik.


Saat akan menutup pintu kamar Zio, Tiara dikagetkan dengan suaminya yang sudah berdiri di luar kamar Zio. "Loh, Mas sudah pulang???"


Alex menganggukkan kepalanya dengan bibir yang masih tersenyum, dia menyembunyikan berkas di balik punggung dengan tangan kananya. "Hm, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan," ucapnya seraya merengkuh tubuh istrinya agar lebih dekat dengannya.


Tiara menautkan kedua alisnya, tumben sekali suaminya memberikan kejutan. Tapi dia yakin itu pasti sesuatu hal yang gembira, melihat senyum yang terus mengembang di wajah tampan suaminya. "Apa?" tanya Tiara yang mulai penasaran.


Tapi Alex tidak langsung menjawabnya, dia memikirkan imbalan apa yang harus ia dapatkan. "Ehm ... tapi ini tidak gratis."

__ADS_1


Tiara hanya memutar bola matanya. Baru saja dia tersanjung, tapi suaminya sudah berulah. "Baiklah, baiklah. Kalau itu hal yang sangat bagus aku akan memberikan Mas imbalan," tutur Tiara dengan tersenyum manis.


"Ok." Alex yang menyetujui, kemudian tangan kananya memberikan sebuah map yang berisi berkas tentang pengesahan adopsi Zio.


Tiara bingung, untuk apa suaminya memberikan sebuah map. Padahal Tiara tidak pernah ikut campur untuk hal-hal yang berhubungan dengan kantor, atau hal serius lainya. Tapi tangannya tetep meraih map dari tangan suaminya itu.


Mata Alex tak lepas dari wajah ayu istrinya, ia ingin menyaksikan raut wajah itu tersenyum bahagia karena kabar darinya.


Tiara mulai membuka map itu, membacanya mulai dari awal kalimat. Dan benar seperti dugaan Alex, bibir istrinya mulai melengkung membentuk senyuman dengan mata yang mulai digenangi oleh cairan bening.


Dengan cepat Tiara menatap Alex. "M-mas ini --"


Tiara tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat suaminya itu menganggukkan kepala atas pertanyaan yang belum selesai ia ucapkan.


Rasa bahagia sudah tidak mampu lagi di ucapkan dengan kata-kata. Tiara segera berhambur memeluk suaminya. "Terima kasih," ucapnya dengan suara tertahan karena tangis.


Alex segera membalas pelukan istrinya, ia dapat merasakan punggung Tiara sedikit bergetar karena mulai menangis. "Apa kamu bahagia?"


Hingga beberapa saat Tiara sudah mulai menguasai dirinya kembali. Alex merenggangkan pelukannya hingga kini dapat melihat wajah istrinya dengan mata sembab. "Kalau kamu habis menangis seperti ini, terlihat jelek. Nanti baby akan menirunya bagaimana?" goda Alex.


"Ck." Tiara hanya berdecak kesal mendengar ucapan suaminya yang ia tahu sengaja untuk menggodanya. "Biarpun aku jelek, tapi Mas tidak bisa jauh dariku." ucap Tiara yang sebenarnya kenyataan.


"Ya kamu memang benar," jawab Alex kemudian mendekat ke arah telinga Tiara. "Apalagi soal ranjang, dan hanya kamu yang bisa menghangatkan."


Tubuh Tiara seketika meremang, saat nafas Alex menyapu daun telinganya dan mata Tiara reflek terpejam. Ada seringai di wajah Alex yang melihat reaksi istrinya.


"Aku ingin uang mukanya dulu," ujar Alex tiba-tiba, yang membuat mata Tiara terbuka seketika. Dan ia melihat wajah suaminya yang sudah mendekat ke arah wajahnya. Ketika dua benda kenyal itu akan bertemu, tiba-tiba ada teriakan dengan suara melengking yang menghentikan mereka.


"Ara ...." Teriak Caca dari ambang pintu masuk mansion.


Alex hanya berdecak kesal mengetahui siapa pemilik suara yang sangat merdu menurut orang gila itu. Apalagi yang sekarang berdiri di di hadapannya dengan senyum tanpa dosa. "Ngapain?" Ketus Alex.

__ADS_1


"Aku kepingin ketemu Tiara, Om." jawab Caca.


Sedangkan Tiara hanya tersenyum kaku, karena adegan romantisnya tepergok oleh Caca.


Caca kemudian mengarahkan pandanganya pada Tiara. "Ra, aku kepingin makan nasi goreng sama telur dadar buatan kamu," ujar Caca dengan tersenyum.


"Huh." Sepasang suami istri itu heran dengan permintaan Caca yang jauh-jauh dari rumah Rey ke mansion hanya untuk makan siang buatan Tiara.


"Tidak boleh, nanti Tiara kelelahan," sergah Alex dengan menatap tajam pada Caca.


Tidak seperti biasanya Caca yang akan berdebat dengan Alex, tapi sekarang mata Caca sudah berkaca-kaca. Hingga sedetik kemudian.


Huaaaaa


Caca menangis dengan kencang, apalagi dengan suara melengking nya yang memekakkan gendang telinga.


Tiara segera mencubit roti sobek Alex yang membuat sahabat sekaligus saudaranya itu menangis.


"Sayang, ada apa?" tanya Mommy yang datang dengan tergesa karena mendengar tangisan Caca. Padahal Mommy tadi sedang di taman belakang.


Caca yang melihat kedatangan mommy segera mengadu. "Mom, Om Alex melarang Caca makan," dengan isak tangis yang tersisa.


Mommy segera menatap tajam ke arah anak lelakinya itu.


"Mana ada yang seperti itu," sangkal Alex tidak terima dengan tuduhan Caca yang lima puluh persennya benar. "Dasar pengacau."


*


*


*

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE. LIKE DAN KOMEN. TERIMA KASIH, SEMOGA SEHAT SELALU. AMINNN.


__ADS_2