
Di kantor polisi Alex yang di dampingi Riko sedang berhadapan dengan Hendra. "Apakah kau belum puas setelah mengambil uang perusahaan sekarang kau juga ingin membunuhku?" Tanya Alex dingin.
"Cih," Hendra hanya berdecih mendengar pertanyaan dari Alex.
"Apa kau tau, karena kau memecat ku Istri dan anak-anakku pergi meninggalkanku!" ucap Hendra emosi.
"Itu karena kesalahanmu sendiri yang berbuat kesalahan, tapi kenapa kau justru harus menyalahkan orang lain," ujar Alex.
"Ha ha ha ha, apa kau tau! Aku menggelapkan uang perusahaan untuk apa? Aku melakukanya karena aku tidak mau mengecewakan istriku yang tidak bisa menuruti keinginannya, tapi sekarang apa balasannya. Mereka semua meninggalkanku di saat aku terpuruk," jelas Hendra dengan berapi-api.
"Bahkan sebelum kau menikah, aku sudah mengikuti mu dan istri kecilmu. Aku berniat ingin menghabisi nyawa istrimu saja agar kau tau bagaimana rasanya di tinggalkan," imbuhnya.
Brak.
Alex yang sudah tidak tahan dengan penjelasan Hendra seketika menggebrak meja yang ada di hadapannya. "Brengs*ek, aku akan menghabisi mu sekalian," ucap Alex yang siap menghajar Hendra.
Segera Riko yang berada di belakang Alex memegang bahu Tuanya. "Tuan, tenangkan diri Tuan. Dia hanya ingin memancing emosi Tuan saja," Riko berujar menenangkan Alex.
"Ha ha ha ha," Hendra hanya tertawa melihat Alex yang emosi.
Alex yang masih dengan nafas bergemuruh di dadanya mencoba untuk tenang. "Baik akan ku pastikan kau akan membusuk di penjara," peringatan dari Alex.
Setelah itu Alex dan Riko memutuskan untuk pergi dari sana meninggalkan Hendra yang tertawa tidak jelas.
"Tuan setelah ini kita mau kemana?" Tanya Riko yang sudah berada di dalam mobil.
"Ke perusahaan saja ada yang harus aku cek sebentar," jawab Alex. "Dan pastikan Hendra takkan bisa keluar dari penjara," imbuhnya.
"Baik Tuan," jawab Riko.
Setelah itu mobil menuju ke arah perusahaan, dengan jalan yang sedikit ramai karena bersamaan dengan pulangnya anak sekolahan. Baru 45 menit Alex dan Riko sampai di perusahaan.
Hingga beberapa saat.
"Sudah malam ternyata," gumam Alex yang melihat jam di pergelangan tangannya. Alex terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak tau kalau sudah pukul 19.00.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk," ucap Alex dari dalam. Saat pintu ruangannya ada yang mengetuk.
Klek.
Ternyata Riko yang masuk. "Tuan pekerjaan hari ini semuanya sudah selesai," lapor Riko.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera pulang, dan kau juga pulanglah." ucapnya.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi undur diri," pamit Riko.
Tidak lama Alex juga beranjak dari duduknya untuk segera pulang menjemput istrinya.
*
*
Setelah 30 menit Alex sampai di apartemen Tiara.
__ADS_1
Klek.
Alex membuka pintu apartemen, ternyata pemandangan yang dia lihat adalah sepi, Alex melangkahkan kakinya lebih kedalam.
Ternyata dia melihat istri dan sahabatnya sedang menonton film horor, sepertinya Tiara dan Caca sedang dalam keadaan tegang karena takut. Terlihat dari duduknya yang berdempetan dan telapak tangan yang menutupi wajah mereka.
"Ck," Alex berdecak melihat itu. "Sudah tau takut masih saja di lihat," gerutunya.
Entah kenapa terlintas ide untuk mengerjai mereka berdua, segera Alex mengedarkan pandanganya untuk mencari panel lampu. Setelah ketemu Alex segera mematikannya.
Blup.
Lampu mati seketika.
"Aaaaaaaaaa," jerit mereka berdua seperti yang di harapkan Alex.
Alex seketika menyunggingkan senyumnya delam gelap.
"Ara kok jadi mati lampu," ucap Caca.
"Ca tapi kalo mati lampu tv nya masih nyala," ujar Tiara.
"Eh iya ya," jawab Caca.
"Mungkin ada yang konslet," ucap Tiara yang kemudian berdiri dari duduknya. "Kamu tunggu aja di sini aku mau cek dulu," imbuhnya.
"Jangan lama-lama Ra," ucap Caca.
"Iya," sahut Tiara.
Tiara yang berjalan dengan meraba-raba karena ruangan yang temaram dari cahaya tv.
"Aaahh," Teriak Tiara.
Tapi heranya dia tidak terjatuh malah ada tangan kokoh yang menopangnya.
Alex segera menyalakan lampu.
Blup.
Seketika Tiara melihat siapa pemilik tangan itu. "Om," ucapnya terkejut. "Kapan Om pulang?" tanyanya, dan segera melepaskan diri dari Alex.
"Baru saja, makanya kalau takut jangan nonton film horor." Ujarnya datar.
Tiara hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Alex.
"Ada apa Ra?" Tanya Caca yang juga menyusulnya, tapi kemudian matanya tertuju pada Alex. "Loh Om ada di sini, kok gak bilang-bilang?" Tanya Caca.
Alex hanya memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Caca.
Caca hanya mencebikkan bibirnya yang selalu saja tidak di tanggapi oleh Alex.
"Om sudah makan?" Tanya Tiara mengalihkan perhatian.
"Belum," jawab Alex.
"Ya sudah kalau begitu biar Tiara masakin," ucap Tiara dan mengambil tas kerja yang ada di tangan Alex, kemudian menaruhnya di sofa dan menuju dapur.
Alex hanya mengikuti Tiara dari belakang.
__ADS_1
Sedangkan Caca melanjutkan melihat drakornya yang tertunda.
"Om tunggu saja di meja makan," ujarnya.
"Memang kamu bisa masak?" Tanya Alex.
"Sedikit," ujarnya.
"Apa tangan kamu sudah tidak sakit?" Tanya Alex.
Tiara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hm," jawab Alex.
Tiara membuka lemari pendinginnya. "Ya ampun lupa, aku belum belanja," ucapnya.
Tiara melihat ada telur dan wortel. "Kalau begitu masak omlet saja," gumamnya.
Dengan cekatan Tiara mencuci beras dahulu dan memasukannya ke dalam ricecooker, tinggal menunggunya matang. Setelah itu mengupas wortel, memotongnya dadu kecil-kecil dan merebusnya.
Tiara mengiris daun bawang untuk mencampurkannya kedalam beberapa telur yang sudah dia pecahkan, tinggal menambah garam dan merica bubuk.
Setelah di kocok sampai tercampur, Tiara meniriskan wortel yang tadi dia rebus dan di masukkan kedalam kocokan telur. mengaduknya lagi sampai tercampur.
Saat Tiara menggoreng omletnya, aroma masakannya sampai di hidung Caca dan Alex.
Caca yang tadinya serius dengan drakornya, seketika meninggalkannya dan menyusul Tiara di dapur.
"Ra laper," rengekannya waktu di dapur.
"Ya sebentar lagi," jawab Tiara. "Lebih baik kamu buat teh hangat sana," perintah Tiara.
Dengan semangat Caca membuat teh hangat tiga gelas. "Ra, sepertinya Om mulai ada perubahan," ujar Caca di sela-sela aktivitasnya membuat teh.
Tiara yang sedang menggoreng omletnya seketika menoleh ke Caca. "Berubah seperti apa? Seperti Lee min hoo mu," kelakar Tiara.
"Ish," Caca hanya mendesis mendengar jawaban Tiara. "Bukan itu Ra, tapi sudah tidak galak lagi," jelas Caca.
Mereka tidak tau kalau orang yang di bicarakan sedang berada di belakang mereka, belum juga Tiara menjawab tapi. "Siapa yang galak?" Tanya Alex.
Sontak saja Tiara dan Caca menoleh ke arah sumber suara yang ada di belakang mereka.
Tiara hanya diam tak bersuara, sedangkan Caca hanya menampilkan cengiranya. "Gak ada yang galak kok Om," jawab Caca.
"Awas jangan suka ngomongin orang, nanti tubuhmu tidak bisa tinggi," ujarnya, setelah mengatakan itu Alex melenggang pergi kembali ke meja makan.
Caca hanya mendengus sebal melihat Alex. "Memangnya kenapa kalau aku pendek yang pentingkan cantik," gerutunya.
Tiara yang berada di sampingnya hanya tersenyum melihat wajah Caca yang kesal.
Setelah 10 menit kini mereka makan malam bersama. "Ra kamu nanti pulang ke mension?" Tanya Caca di sela-sela makan.
Tiara menganggukkan kepalanya. "Iya," jawabnya.
"Yahhhh ...." jawab Caca sendu. "Aku boleh ikut nggak? Aku takut kebayang film yang tadi," tanya Caca.
Tapi Tiara hanya mengarahkan arah matanya pada Alex, Caca yang tau itu seketika menoleh ke Alex. "Om ...." ucapnya melas memperlihatkan puppy eyes-nya yang imut.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen. Semoga sehat selalu, aminnn.