
Hari ini Tiara seperti biasanya, sudah kembali ke sekolah setelah kemarin beristirahat. Saat Tiara turun dari mobil Caca, terlihat Alan sudah menantinya di gerbang sekolah.
"Hai Ara!" sapa Alan.
"Hai Alan ...." jawab Caca lebih dulu dari dalam mobil, menampilkan senyum cantiknya.
Tiara hanya melihat Caca dengan jengah, Tiara tau kalau Caca sedang menaruh hati pada Alan. Tapi bagaimana kalau Caca tau bahwa Alan menaruh hati padanya.
Alan tersenyum tampan pada Caca. "Hai Ca!" balasnya.
"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu, bye ...." pamit Caca kepada keduanya. Setelah mobil Caca meninggalkan halaman sekolah, Tiara dan Alan berjalan bersama menuju kelas.
"Ra kemarin kata Caca kamu sakit?" tanya Alan.
Tiara menganggukkan kepalanya. "Hanya kecapekan saja," jawabnya dengan tersenyum.
"Tapi sekarang kamu dah baikan kan?" Menatap Tiara dengan sedikit cemas.
"Iya aku sudah tidak apa-apa," jawab Tiara meyakinkan.
Setelah Tiara sudah di depan kelasnya, Alan juga melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya.
*
*
Mommy Jessy dan Papa Nathan sedang bersantai di mension setelah kepergian Alex ke kantor.
"Pa, Mom tadi dapat undangan dari salah satu temen arisan Mommy yang namanya Sisil, anaknya mau nikah." Ujarnya.
"Kapan Mom?" tanya papa.
"Besok, kata orang rumah tadi telfon. undangannya kemarin di kirim ke bogor, Sisil tidak tau kalau Mommy ada di Jakarta." Jelas Mommy.
Papa menganggukkan kepalanya.
"Oh ya Pa, gimana kalau kita ajak Tiara?" tanya Mommy.
Papa mengerutkan keningnya. "Apa Tiara akan mau? Nanti dia merasa tidak nyaman Mom!" jawab Papa.
Mommy mendengus.
"Tiara pasti mau Pa, nanti Mommy akan keluarkan jurus rahasia Mommy." ucap Mommy dengan senyum bahagianya.
"Apalagi kalau Mommy bilang Tiara itu calon mantu Mommy," imbuhnya dengan percaya diri dan senyum setia menghiasi bibirnya.
"Tapi Mom, Mommy belum kasih tau mereka berdua tentang keinginan Mommy yang ingin menjodohkannya. Bagaimana kalau meraka marah?" cetus Papa.
Senyuman yang tadi secerah mentari langsung sirna seketika. Dengan bibir manyun Mommy menatap sebal terhadap suaminya itu.
"Pa, Pean ndak ngedukung aku, aku iku kepingin Tiara dadi mantuku." Ucap Mommy dengan Bahasa Ibunya.
__ADS_1
(Pa, kamu gak dukung saya, saya itu kepingin Tiara jadi menantuku)
Meskipun wajah Mommy sangat bule, tetap saja dia sangat mahir dengan bahasa jawa yang di warisi dari Ibunya.
Papa hanya menghembuskan nafasnya pelan, "Lagi-lagi pakai Bahasa Jawa." batin Papa.
"Mom, kalau Mommy pakai bahasa jawa nanti pembicaraan kita jadi gak nyambung," ujar Papa.
Kebiasaan Mommy kalau kesel selalu keluar Bahasa Jawa-nya.
Mommy hanya mencebikkan bibirnya. Papa yang gemas melihat tingkah laku istrinya, dengan secepat kilat mencium bibir istrinya, Mommy yang terkejut pun langsung memukul bahu Papa. Tapi Papa tak menggubrisnya bahkan Papa sekarang bukan sekedar menciumnya tapi juga mel*matnya dengan rakus. Dengan sekuat tenaga Mommy mendorong tubuh Papa yang hampir tak berjarak.
"Pa, ini masih pagi! dan juga nanti bagaimana kalau ada yang lihat!" sungut Mommy setelah pangutanya terlepas dengan memandang kesal ke arah Papa.
Papa yang juga masih nafas terengah menatap Mommy dengan pandangan sedikit berkabut, rasanya hasrat papa sedikit bangkit gara-gara ciuman panas di pagi hari ini.
Dengan cepat Papa menarik tangan Mommy, membawanya menuju ke arah kamar. Mommy hanya bingung dengan sikap Papa.
"Pa kenapa ke kamar, ini masih pagi tidak baik tidur di pagi hari." ujar Mommy saat sudah di depan pintu kamar.
"Siapa bilang kita akan tidur, kita akan olah raga Mom." Papa diam sejenak. "Olah raga di atas ranjang," imbuhnya. dengan senyum menyeringai.
"Ya ampun," batin Mommy. Tapi Mommy pun hanya menurut.
*
*
Di saat jam sekolah akan usai, Tiara merasakan ponsel-nya bergetar. Dengan cepat Tiara membukanya,
Isi pesan Mommy.
Tiara hanya mengernyitkan dahinya. "Kenapa Mommy tiba-tiba ingin menjemput!" Gumamnya. Tapi Tiara tetap mengiyakan permintaan Mommy dan segera mengirim alamat sekolahnya.
Beberapa saat kemudian.
Tet.
Tet.
Tet.
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan jam sekolah telah usai. Semua murid berhamburan keluar, termasuk Tiara.
Saat di depan gerbang Tiara celingukan mencari keberadaan Mommy Jessy, tadi Mommy sudah mengirim pesan katanya sebentar lagi akan sampai.
Hingga ada yang menepuk bahunya dari belakang, Tiara menoleh ke belakang ternyata Alan.
"Hei, apa kamu sedang menunggu Caca?" tanya Alan.
"Tidak, aku sedang--" Perkataan Tiara terputus saat suara klakson mobil yang berhenti di depannya.
__ADS_1
Tin.
Tin.
Pintu mobil terbuka, menampakkan sosok wanita paruh baya yang cantik turun dari mobil.
"Sayang, maaf Mommy terlambat." ujarnya dengan membelai lembut pipi Tiara dan pandangan bersalah yang membuat Tiara harus menunggu sebentar.
"Tidak apa Mom, lagi pula Tiara baru saja keluar." Sahut Tiara seraya mencium punggung tangan Mommy. Mommy hanya tersenyum dengan jawaban Tiara.
Alan yang mendengarkan percakapan dua wanita di hadapannya merasa bingung, pasalnya Tiara seorang yatim piatu tapi memanggil wanita paruh baya di hadapannya dengan sebutan MOM.
Tiara yang menyadari kebingungan Alan langsung mengenalkannya kepada Mommy. "Mom ini teman Tiara, Alan."
Dan pandangan Mommy langsung teralihkan kepada Alan, dan Alan pun dengan segera menggapai tangan Mommy untuk mencium punggung tangannya. "Alan tante," setelahnya.
Mom Jessy tau arti pandangan Alan terhadap Tiara. "Oh, kenalkan saya tante Jessy. Mommy Tiara," sahutnya dengan ramah.
Alan sebenarnya masih bingung tapi tidak sopan jika dia bertanya sekarang kepada Tiara.
"Sayang ayo, nanti keburu malam." Mommy berujar.
"Iya Mom," jawab Tiara. Dan mengalihkan pandanganya kepada Alan. "Aku pergi dulu ya, bye." pamitnya.
Alan hanya menganggukkan sebagai jawaban dengan menatap punggung Tiara yang perlahan menaiki mobil bersama Mommy.
"Mom sebenarnya kita akan pergi kemana?" tanya Tiara saat berada di dalam mobil yang melaju ke tempat tujuan.
"Kita akan pergi ke butik. Besok Mommy ada undangan pesta, kamu ikut ya?" pinta Mommy.
Tiara hanya diam bingung harus menjawab apa.
"Sayang mau ya!" pintanya lagi dengan menggenggam tangan Tiara dan menatapnya berbinar penuh harap.
Lidah Tiara terasa keluh. "Ya Mom," akhirnya kata itulah yang terucap dari bibirnya.
Mommy langsung berhambur memeluk Tiara menyalurkan rasa senangnya. "Terima kasih sayang," ucapnya. Dan Tiara hanya mengangguk di pelukan Mommy.
"Ya ampun." Pekik Tiara.
Mommy langsung melepas pelukannya setelah mendengar pekikan Tiara. "Ada apa sayang?" tanya Mommy.
"Mom Tiara lupa belum kasih kabar pada Caca," sahutnya. Dengan segera Tiara mengambil ponsel yang berada di dalam tas dan mengirim pesan pada Caca.
*
*
Di perusahaan Alex menghela nafasnya kasar setelah menerima laporan dari Riko kalau Ibunya sedang bersama Tiara. "Kenapa mereka semakin dekat?" gerutunya.
Sedangkan Riko hanya bisa menikmati wajah bosnya yang kesal.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komen. Semoga sehat selalu.