
Alex lagi-lagi hanya menghembuskan nafasnya pelan melihat istrinya sekarang yang sedikit keras kepala. Ternyata kehamilan bisa merubah sifat seseorang.
Alex akhirnya menuruti keinginan Tiara yang masih mau tetap berada di sana, karena berencana makan gado-gado siang hari.
Tidak lama, Tiara mulai gelisah dalam duduknya. Dengan sesekali mengusap punggung bawahnya, dan itu tidak lepas dari perhatian Alex. "Kenapa?" tanya Alex yang sedikit khawatir.
Tiara menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, cuma sedikit pegal. Mungkin terlalu lama duduk." Tiara kemudian beranjak dari duduknya dan lebih memilih berdiri.
Alex kemudian mencekal tangan Tiara. "Lebih baik kita pulang untuk istirahat, nanti saja kita kesini lagi," ujar Alex.
"Kita di sini saja." Tiara yamg masih keras kepala.
"Sayang, kasian baby-nya. Mungkin dia juga merasa lelah." Alex yang berusaha membujuk Tiara.
Tiara kemudian mengelus perutnya yang buncit. Memang ada benarnya juga ucapan suaminya.
"Ya sudah, ayo kita pulang saja." Akhirnya Tiara memutuskan untuk mengikuti saran suaminya. "Tapi nanti kembali ke sini lagi ya?" Pintanya dengan mata berbinar penuh harap.
"Baiklah nanti kita akan kembali lagi kesini." Mendengar jawaban suaminya, Tiara segera berhambur memeluk Alex. "Terima kasih," ucap Tiara.
"Hm," sahut Alex dengan membalas pelukan istrinya. Bahkan mereka tidak sadar jika aksi mereka menjadi tontonan orang yang berlalu lalang.
"Ya sudah ayo," ajak Tiara setelah melepaskan pelukannya. Ada semburat merah pada pipinya setelah menyadari perbuatanya.
Alex segera memesan taksi online, setelah tadi membayar minuman dan makanan Tiara.
Hingga tak berapa lama taksi online yang Alex pesan sudah tiba. Di dalam mobil pun hanya ada keheningan di antara mereka.
20 menit kemudian Taksi yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan rumah berlantai satu itu.
Terlihat Mommy dan Papa Nathan sedang bersantai di teras rumah.
"Alex Tiara kenapa?" tanya Mommy ketika melihat Alex turun dari taksi dengan menggendong Tiara.
Rupanya Tiara tertidur ketika di perjalan pulang, apalagi dengan perut yang kenyang.
"Tidak apa-apa Mom, hanya ketiduran saja," jawab Alex, dan segera membawa Tiara yang berada di dalam gendongannya menuju kamar tidur mereka.
"Oh ... Mommy kira Tiara pingsan sangking senangnya sudah memakan gado-gado." Mommy yang kemudian tergelak.
__ADS_1
Papa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
Alex yang sudah di dalam kamar, dengan perlahan membaringkan Tiara di ranjang. Setelah itu dirinya juga berbaring di samping istrinya.
Dengan tidur posisi miring menghadap Tiara, Alex dapat melihat wajah ayu istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya.
Berlama-lama memandang wajah istrinya, tatapan Alex terarah pada bibir Tiara yang tadi sempat menggodanya.
Perlahan Alex mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Tiara. Matanya yang tadinya hanya tertuju pada bibir Tiara, kini sesekali matanya melihat ke arah mata Tiara. Alex bagaikan maling yang takut ketahuan mencuri.
Hingga beberapa detik kemudian.
Cup.
Alex berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara. Hanya sebuah kecupan singkat, tapi itu berhasil membuat sudut bibir Alex terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Terima kasih," ucap Alex pada Tiara. Seolah-olah Tiara bisa menjawabnya.
Alex memutuskan memejamkan matanya, menyusul Tiara di alam mimpi.
***
Di tempat lain Rey dan Caca memutuskan untuk pergi ke mall. Karena semenjak mereka bertemu kembali, Rey dan Caca belum pernah menghabiskan waktu berdua. Terkecuali tidur bersama.
"Uncle, bolehkan aku kerja lagi?" tanya Caca dengan wajah penuh harap, agar suaminya merubah keputusannya.
Rey yang mendengar pertanyaan istrinya seketika menghentikan langkahnya, dan menatap Caca yang juga menatapnya. "Aku sudah mengabari Farhan, kalau kamu sudah berhenti kerja," jawab Rey yang kemudian melanjutkan langkahnya.
"Huh."
Caca hanya mencebikkan bibirnya mengetahui keputusan suaminya itu. Baru saja Caca menikmati dunia baru-nya, tetapi sekarang harus berakhir. Bagai mana lagi, Caca juga menyadari jika dirinya sekarang adalah seorang istri yang tidak boleh bertindak semaunya.
"Ya sudah sekarang kita mau kemana?" tanya Rey yang mencoba menghibur istrinya. Rey tahu istrinya mungkin sedikit kesal dengan keputusannya.
Caca memikirkan sesuatu, hingga senyuman mengembang di bibirnya. "Kita ke permainan saja," ajak Caca yang langsung menarik tangan Rey.
"Kenapa ke permainan?" Rey yang sedikit tidak setuju tetapi tetap mengikuti langkah istrinya.
"Karena sudah lama aku dan Tiara tidak pergi ke sana," sahut Caca dan terus menarik tangan Rey agar cepat sampai di area permainan.
__ADS_1
Di saat mereka sudah sampai di area permainan. Rey dapat melihat di sana penuh dengan anak kecil dan para remaja seusia istrinya. Ada juga yang seumuran dirinya, itupun mereka sadang mengawasi anaknya yang sedang bermain.
"Bagaimana kalau kita tempat yang lainya saja! Lihatlah, di sana hanya untuk anak-anak," keluh Rey.
"Uncle, aku juga masih terlihat anak-anak," ucap Caca dengan tersenyum. Karena memang kenyataanya Caca masih remaja. "Kalau Uncle kan sudah tu--"
Caca langsung terdiam, saat melihat Rey menatapnya dengan tajam. Rey tau apa yang akan di ucapkan oleh istrinya.
"Uncle, kata upin ipin ... jangan marah," ucapnya dengan tersenyum tersenyum manis dan mata yang berkedip-kedip. Sedangkan Rey hanya mendengus kesal. Dirinya baru menyadari jika umur istrinya memang terpaut jauh dengannya.
"Baiklah ayo." Rey yang akhirnya mengalah dan menuruti keinginan istrinya.
Caca yang senang dengan jawaban Rey, langsung melompat begitu saja untuk memeluk Rey yang jauh lebih tinggi darinya.
Rey seketika menegang saat merasakan dada istrinya yang begitu menempel pada dadanya. Otak kotornya tiba-tiba saja melintas. "Sayang jangan menggodaku," bisik Rey.
Caca yang baru menyadari langsung melepaskan pelukannya. "Si-siapa yang menggoda?" tanya Caca gugup. Kemudian lebih memilih pergi dari sana.
Rey tersenyum melihat istrinya yang gugup seperti itu, sungguh semakin menggemaskan.
Seperti keinginan Caca sebelumnya, Rey juga akhirnya ikut bermain di area permainan itu. Meskipun awalnya menolak.
Hingga beberapa saat, Caca mulai merasa kelelahan karena sudah mencoba semua permainan yang ada di sana.
"Uncle, capek," keluh Caca. Dapat dilihat dari keningnya yang sudah mengeluarkan keringat.
"Uhm, bagaimana kalau kita nonton saja?" tanya Rey.
"Ok," sahut Caca. "Tapi Uncle yang beli tiket, sama minumannya," ucap Caca tersenyum.
Rey hanya menggelengkan kepalanya. "Baiklah, baiklah ayo kita pergi." Rey segera merangkul bahu Caca dan mengajak menuju bioskop di lantai empat.
2,5 jam kemudian Caca dan Rey sudah selesai menonton film horor seperti keinginan Caca. Tapi wajah Caca tak secerah saat awal mula memasuki gedung bioskop.
"Sayang, apa kau masih mau menonton lagi?" tanya Rey, saat melihat wajah Caca bermuram durja.
Caca hanya mencebikkan bibirnya dengan pertanyaan suaminya. "Tidak kita pulang saja," ketus Caca.
...----------------...
__ADS_1
...Maaf telat up, karena si kecil lagi sakit gigi 🙏....
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊🙏...