
Peringatan !!! Baca part ini pada malam hari aja ya .... Resiko di tanggung yang ikut merasakan panas 😁
Di dalam kamar, Alex sudah berbaring di ranjangnya untuk tidur setelah tadi mengepak apa saja yang harus di bawa untuk kembali ke Jakarta besok.
Sedangkan Tiara masih berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Rutinitas baru Tiara, semenjak kehamilannya yang memasuki lima bulan. Tiara merasakan tubuhnya semakin cepat gerah, sehingga kalau tidak mandi dulu sebelum tidur, maka Tiara akan kesusahan untuk tidur.
Klek.
Kamar mandi terbuka. Tiara keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Rambut yang di cepol ke atas dengan beberapa helai yang menjuntai menghiasi leher jenjang-nya yang mulus.
Alex yang baru saja akan memejamkan matanya seketika kembali terbuka. Ketika pendengarannya mendengar suara pintu yang terbuka.
Glek.
Alex menelan saliva nya susah payah, saat melihat istrinya yang lagi-lagi menggoda imannya. Melihat tampilan Tiara yang hanya memakai daster selutut, membuatnya semakin **** di mata Alex. Apalagi dengan perutnya yang membuncit.
"Mas belum tidur?" tanya Tiara saat melihat suaminya masih terjaga.
"Hm." Alex hanya menjawab dengan gumaman. Matanya tak lepas mengamati gerak gerik istrinya.
"Kenapa?" Tiara yang mulai naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di samping Alex.
Wangi sabun rasa buah seketika langsung tercium oleh Alex, sungguh sangat manis dan menyegarkan. Otaknya tiba-tiba saja berkelana ke tempat lain. Kalau dari luar saja baunya sudah seharum ini bagaimana dengan dalamnya.
"Mas," panggil Tiara lagi dengan menepuk bahu Alex yang sedari tadi hanya menatapnya tanpa menyahuti ucapanya.
"Hm," Alex terjingkat kaget karena itu. Alex yang tersadar segera menggelengkan kepalanya berharap otak kotornya akan segera pergi.
"Kenapa Mas tidak tidur?" Tiara yang mengulangi pertanyaannya.
"Karena --" Alex tidak mungkin mengatakan karena sekarang otaknya sedang memikirkan hal mesum hanya karena melihat istrinya mengenakan daster. Apalagi Alex melirik ke arah bawa, phyton yang mulai terbangun dari tidurnya. Sial.
"Karena gerah." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Alex.
Tiara menautkan kedua alisnya mendengar jawaban suaminya. "Mas, tapi ac-nya sudah lumayan dingin," sahut Tiara sambil melirik ke arah ac yang sudah ia nyalakan sejak dari tadi.
"Benarkah? Tapi aku masih merasa gerah," Alex yang tetap pada kebohongannya.
"Kalau begitu Mas mandi saja, tadi aku juga mandi," ujar Tiara. "Dan rasanya sangat segar," imbuhnya.
"Ya, sudah terlihat jelas kalau memang menyegarkan," sahut Alex spontan, dengan pandangan matanya yang tak terlepas dari Tiara.
__ADS_1
"Huh." Tiara yang baru saja akan memejamkan mata langsung terbuka kembali. "Apanya?" tanya Tiara yang tidak mengerti ucapan suaminya.
"Apa?" Alex yang masih belum menyadarinya.
"Yang tadi Mas katakan!"
"Memangnya aku mengatakan apa?"
Tiara hanya mencebikkan bibirnya saat Alex yang sudah mulai tidak nyambung.
"Ya sudah, kalau Mas tidak mau Mandi, Mas tidur saja!" cetus Tiara dan kemudian memejamkan matanya kembali.
"Tidur," gumam Alex yang memiliki arti lain dari pikiranya.
Alex merangsek lebih dekat ke arah Tiara. "Sayang ... boleh tidak, kalau aku menyentuhnya?" tanya Alex.
Tiara yang merasakan nafas Alex terasa di ceruk lehernya, langsung membuat tubuhnya meremang. "A-apa?" tanya Tiara yang mulai gugup. Mata yang tadi terpejam, lagi-lagi harus terbuka.
"Dia," ucap Alex, dengan matanya mengarah pada perut buncit Tiara.
Tiara terdiam sebentar, hingga akhirnya dia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Alex dan Tiara terdiam saat sama-sama merasakan gerakan dari anaknya.
"Lihat, anak kita menyukainya saat aku menyentuhnya," ujar Alex. Meskipun bukan pertama kalinya dia merasakan gerakan anaknya, tapi rasa itu tetap saja sama. Menyenangkan.
"Hm." sahut Tiara yang juga tersenyum.
Lagi dan lagi Alex terus mengusap perut Tiara. Dan anaknya yang juga terus bergerak di dalam kandungan.
"Sayang, kalau anak kita dengan aku menyentuhnya saja dia sudah senang. Apalagi jika aku menjenguknya!" Alex yang mulai menginginkan lebih.
Kening Tiara berkerut mendengar ucapan suaminya. "Menjenguk? Tapi dia masih berada di dalam. Bagaimana bisa!"
Alex seketika menyeringai. Dengan gerakan cepat Alex sudah mengungkungnya. "Aku akan menunjukkannya."
Mata Tiara membulat saat Alex sudah berada di atasnya. "M-mas," ucap Tiara gugup.
Mata mereka berdua saling mengunci. Perlahan Alex mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir pink Tiara.
Hingga di detik berikutnya Alex dapat merasakan manis dari bibir istrinya. Perlahan tapi pasti Alex mulai melum*tnya dan mencecapnya.
__ADS_1
Udara malam yang semakin dingin tidak membuat tubuh Alex merasa dingin, justru semakin memanas.
Beberapa saat kemudian Alex melepas tautan bibirnya, saat mulai merasakan pasokan udara sudah menipis.
Dengan sama-sama nafas tersengal, mereka berlomba-lomba meraup udara untuk mereka hirup.
Alex melihat Tiara yang sekarang juga menatapnya. "Apakah boleh aku melakukanya?" tanya Alex dengan suara yang mulai serak. Gairah sudah menjalar ke tubuhnya.
Tiara perlahan menganggukkan kepalanya, dengan pipi yang bersemu merah. Tiara sendiri juga terbawa arus gairah yang di ciptakan oleh suaminya.
Saat mendapat lampu hijau, Alex tak menyia-nyiakan. Alex kembali memangut bibir Tiara, tangannya pun juga tidak bisa tinggal diam. Alex menjam*h apa saja yang terjangkau oleh tangannya.
Cumb*an Alex turun ke arah leher Tiara. "Ah ...." desah Tiara saat Alex memberikan jejak kepemilikannya. Mendengar itu semakin membuat Alex semakin memanas.
Beberapa saat kemudian Alex sudah berhasil melepas apa yang menempel pada Tiara dan dirinya. Hingga mereka kini berdua sama-sama polos.
Dua bulatan kesukaan Alex itu kini sudah berubah. Sudah sedikit membesar sejak terakhir dia melihatnya.
"Mas," lirih Tiara saat Alex menatap dua bulatannya.
"Mereka semakin, menggemaskan," cetus Alex, dan langsung melahapnya, tanpa menunggu lama.
"Ungh," lenguh Tiara saat Alex menghisapnya dengan kuat.
Di rasa Alex sudah puas dengan dua bulatannya Alex menatap Tiara yang sekarang masih memejamkan matanya. "Aku akan memulainya, aku akan berhati-hati," ucapnya.
Tiara perlahan membuka matanya dan menatap ke arah suaminya yang sekarang menatapnya lekat. Dengan nafas yang memburu Tiara menganggukkan kepalanya.
Alex memberi jarak antara perut Tiara dan dirinya, agar tidak menimpanya.
"Ngg," Tiara menggeram saat Alex mulai penyatuannya. Kuku tangan-nya mencengkeram bahu Alex. Sudah lama dirinya tidak merasakan ini.
Alex mulai menghentak nya dengan perlahan. Tapi karena gairah yang sudah menguasainya hingga semakin lama Alex semakin mempercepatnya. Di detik kemudian keduanya merasa ada gelombang yang ingin meledak. Dan lemas.
...----------------...
Untuk menunggu up jangan lupa mampir di karya saya yang lainya. Airin.
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 🙏😊
__ADS_1