DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Sedikit Mulai Terbongkar


__ADS_3

Alex dan Rey berniat mencari Tiara dan Caca, karena mereka yang belum pulang juga. Padahal kata Pak Diman tempat mereka beli jagung dan sosis tidak terlalu jauh.


Saat baru keluar gerbang vila, mata Alex menyipit saat pandanganya, menangkap keberadaan Tiara dan Caca yang di hampiri seorang laki-laki.


"Lo kenapa?" Tanya Rey yang melihat Alex tiba-tiba berhenti. Tapi Alex tidak menggubrisnya.


Pandangan Alex tetap mengarah pada Tiara, hingga beberapa saat rahangnya mengencang saat tau siapa yang menghampiri istrinya.


'Andrian'


Dengan langkah lebar Alex menghampiri Tiara. "Jangan dekati dia," ucap Alex seraya menarik Tiara agar tidak terlalu dekat dengan Andrian.


Rey pun melakukan hal yang sama pada Caca saat mengetahui bahwa seseorang itu adalah Andrian.


"Oh ... rupanya ada kau juga di sini?" Ucap Andrian dengan tersenyum sinis.


Sedangkan Alex hanya menatap-nya dengan tajam.


***


Sekarang Alex dan Tiara berada di dalam kamar, setelah tadi Alex dengan kasar menarik Tiara kembali ke vila.


Sedangkan Caca, di bawa Rey pergi agar tidak ikut campur urusan Tiara dan Alex.


"Kenapa kau bisa mengenalnya?" tanya Alex dingin, menatap lekat Tiara yang berada di depannya.


Sedangkan Tiara yang duduk di ranjang, hanya menundukkan kepalanya. Sungguh dirinya saat ini takut melihat Alex yang seperti itu.


"Aku tidak mengenalnya Mas, hanya sekali aku tidak sengaja bertemu dengannya waktu di supermarket, itupun aku sedang bersama Caca," jelas Tiara.


"Kenapa, kau tidak menceritakannya padaku!"


"Karena aku pikir orang itu hanya seseorang yang tidak sengaja aku tabrak waktu itu," cicit Tiara.


"Apa kau tau! Andrian adalah orang yang --" Alex tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Bagaimana mungkin dia akan bercerita bahwa Andrian adalah orang yang pernah merebut mantan kekasihnya dulu.


Alex memilih pergi ke arah balkon kamar mereka, untuk menenangkan amarah yang sempat menghinggapinya.


Bagaimana mungkin dia akan melampiaskannya kepada Tiara.


Sedangkan Tiara hanya menatap punggung Alex, dari dalam kamar. "Sebenarnya apa yang terjadi!" gumamnya.


Hingga beberapa saat Alex, kembali ke dalam kamar, tapi tidak mendapati Tiara di sana. Alex mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


Klek.


Tiara keluar dengan menggunakan bathrobe, karena tadi sepulang membeli jagung dengan Caca tubuhnya sedikit berkeringat. Dan juga mendinginkan kepalanya yang tadi sempat sedikit pusing, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara suaminya dan lelaki itu.


"Mas ... kamu tidak mandi! Sudah hampir malam," ujar Tiara, mencoba mencairkan suasana setelah tadi sempat tegang dengan Alex.


"O-oh ya sebentar lagi," jawab Alex. Rasa kesal tadi yang sempat menggerogoti hatinya sirna sudah dengan melihat wajah polos Tiara, dan dengan rambut yang setengah basah, terlihat begitu ****.


"Hm ...." gumam Tiara, dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.


Mata Alex tak lepas dari apa yang di lakukan Tiara.


Saat Tiara akan menarik tali bathrobe-nya, ternyata Tiara melihat Alex yang sedang menatapnya, Hingga Tiara mengurungkan niatnya.


"Mas, aku mau ganti baju," ucap Tiara.


Alex yang sedari tadi hanya diam, sekarang berjalan maju menuju Tiara. "Kenapa memangnya! Kau tinggal ganti baju saja. Lagi pula aku sudah melihat semuanya, bahkan merasakannya."


Tiara seketika bersiaga, saat Alex begitu dekat dengannya. Tiara tahu arti pandangan Alex saat ini untuknya. Saat Tiara akan berlari ke kamar mandi, dengan cepat Alex mencekal tangannya.


"Mas, aku mau ganti baju," elak Tiara.


"Karena aku suami yang baik hati, biar aku saja yang membantumu," ujar Alex dengan cepat menarik tali bathrobe yang di kenakan Tiara.


Hingga terlihatlah tubuh Tiara bagian depan. "Mas," pekik Tiara seraya memegang bahtrobe yang tadi sempat terbuka.


"Kenapa kau selalu terlihat menggoda," ucap Alex, seraya mendorong tubuh Tiara hingga menempel pada pintu lemari.


Alex dengan cepat mencium bibir pink Tiara, bahkan semakin lama semakin memanas. Tangan-nya pun tak tinggal diam, menjangkau apa saja yang bisa ia remas.


Tiara akhirnya mulai mengikuti permainan Alex, dengan melingkarkan tangannya pada leher Alex.

__ADS_1


Cium*n Alex turun hingga leher Tiara, memberikan beberapa jejak kepemilikan-nya. Alex merasakan ****** Tiara yang mulai mengeras dengan tangannya.


Tak menunggu lama Alex melahapnya dengan rakus, seolah akan ada seseorang yang akan merebutnya.


"Mas," desis Tiara, saat Alex dengan gemas sedikit menggigit ujung bulatan itu.


Entah kapan Alex melakukanya, hingga dirinya sekarang sudah polos. Sedangkan Tiara, bathrobe yang di kenakan hanya tersampir di pundaknya.


Alex mengangkat kaki sebelah Tiara untuk melingkar di pinggangnya, dan dengan cepat phyton memasuki rumahnya tanpa aba-aba.


Membuat Tiara memekik merasakan itu, hingga sore menjelang malam itu menjadi susana yang begitu panas karena ulah mereka.


***


Di kantornya Bella sedang menunggu laporan dari anak buah-nya.


Tok.


Tok.


"Masuk," sahut Bella dari dalam.


Klek.


Seorang laki-laki masuk ke ruangan Bella.


"Jadi, informasi apa yang kamu bawa hari ini?" Tanya Bella pada anak buah-nya.


"Nona, saya telah menyuruh seseorang untuk menyelinap di perusahaan Pratama, dan seseorang itu mengatakan bahwa istri dari Tuan Alex masih berstatus pelajar SMA," lapor anak buah Bella.


Brak.


Bella seketika menggebrak meja kerjanya. "Apa!" Teriaknya.


"Jadi sekarang selera mu, gadis sekolah," ujar Bella. Kemudian Bella membuka laci, mengambil kembali foto dua gadis pelajar yang beberapa hari lalu di berikan anak buahnya. Foto Tiara dan Caca.


"Apa mungkin, salah satu dari kalian?" gumamnya. Tapi kemudian matanya tertuju pada Tiara. "Aku sepertinya pernah bertemu dengannya," Bella mencoba mengingat kembali.


Hingga beberapa saat, Bella mengingat pertemuannya dengan Tiara saat akan memasuki perusahaan Pratama.


"Kau, terus ikuti saja gadis ini?" perintah Bella dengan menyerahkan foto Tiara.


"Baik Nona," sahut anak buah Bella dengan mengambil foto Tiara.


"Ya sudah, kau boleh pergi."


"Baik Nona, saya permisi."


Bella menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya. "Aku akan pastikan, kau akan menjadi milikku lagi Alex. Dan akan menyingkirkan siapapun itu," ucap Bella dengan seringai di wajahnya.


***


Tengah malam di vila.


Caca menggerutu kesal, rencana yang di susunya, berantakan semua.


Saat tadi Caca bertanya keberadaan Tiara pada Alex saat keluar dari kamarnya, Alex menjawab kalau Tiara sedang tertidur.


"Ck, kalau begini sia-sia dong tadi jalan kaki-nya," gerutu Caca.


Alex sendiri tidak membiarkan Tiara keluar dari kamar, dengan Alasan itu hukuman karena Tiara tidak menceritakan pertemuannya dengan Andrian. Bahkan makan malam Alex membawakannya ke dalam kamar.


Caca melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan jam setengah dua belas, tapi matanya belum ingin terpejam. Bahkan perutnya terasa lapar kembali.


Caca akhirnya memutuskan berjalan menuju dapur, dan membuka lemari pendingin. Caca mengambil sosis yang di belinya tadi, dengan memanaskan teflon dan memberikan sedikit mentega Caca memasukkan sosis-sosis itu.


Sambil menunggu sosisnya matang, Caca menyiapkan saus pedas kesukaannya.


Hingga sepuluh menit kemudian sosis yang di panggang Caca di teflon matang.


"Wah, seperti masakan chef terkenal," puji Caca pada masakannya sendiri.


"Ya ampun, masak gini aja jadi gerah," keluh Caca. Padahal Caca malam itu hanya menggunakan kaos putih oblong dengan celana jins pendek.


"Makan di pinggir kolam renang pasti enak," gumam Caca, setelah itu membawa piring yang berisi sosis dan saus pedas itu ke arah kolam renang.

__ADS_1


Caca duduk di kursi panjang di pinggir kolam renang dan meletakkan piringnya di meja kecil samping kursi.


"Hmm ... enak," gumam Caca, sesekali mendesis merasakan saus sambal yang mulai terasa pedasnya.


Saat sedang menikmati makanannya ternyata ada seseorang yang memperhatikannya, Rey.


Rey dengan perlahan berjalan mendekati Caca, berniat ingin mengagetkannya.


"Dor ...." Teriak Rey.


"Aaaaaa," teriak Caca karena terkejut, bahkan langsung berdiri dari duduknya.


Rey tergelak kencang melihat raut wajah Caca yang cemberut.


"Uncle ...." Teriak Caca.


"Apa?"


"Ngeselin."


"Biarin."


Caca mencebikkan bibirnya.


"Lo, makan sendirian aja. Gak ajak-ajak," ucap Rey sambil melirik piring sosis Caca.


"Uncle kan bisa masak sendiri, di kulkas masih ada," sahut Caca.


"Gue males, minta punya lo aja."


"Ck, tuh ... ambil aja," Caca menunjuk piring-nya.


Tiba-tiba pandangan Rey tertuju pada bibir Caca yang terdapat sedikit saos pedas di sudut bibirnya. Pikiran liar-nya mulai traveling kemana-mana.


"Gimana kalau gue minta yang ada di mulut lo aja," ujar Rey.


"Huh."


"Gimana?" Rey bertanya kembali, dengan berjalan mendekat ke arah Caca.


Caca seketika berjalan mundur, saat Rey semakin dekat. Caca mulai mencerna apa yang di maksud Rey.


"U-uncle, ambil saja semua sosisnya kalau mau," ucap Caca yang terus berjalan mundur.


Karena tidak melihat arah belakang, Caca tidak tau kalau dirinya sudah di tepi kolam renang.


Byur


"Aaaa," teriak Caca.


Dengan segera Rey juga menceburkan diri saat melihat Caca kesusahan untuk menepi.


Dengan cepat Rey mendekap tubuh Caca, dan menggendongnya lebih tinggi. "Apa lo gak bisa berenang?"


"A-ku bisa, cuma tadi karena terkejut, aku jadi panik," jelas Caca dengan melingkarkan tangannya pada leher Rey, takut jika Rey akan melepasnya.


Tanpa di sadari, dalaman Caca tercetak jelas di balik kaos putihnya yang telah basah, dengan warna merah menyala. Dan itu tak luput dari tatapan Rey.


"Aku belum mencicipinya yang tadi," ujar Rey tiba-tiba.


"Huh."


Tangan kiri Rey melingkar erat di pinggang ramping Caca, dan tangan kanan-nya menuju tengkuk leher Caca.


"U-uncle," ucap Caca terbata saat wajah Rey semakin dekat dengan wajah-nya.


Cup.


Rey kembali bisa merasakan bibir manis Caca yang sekarang sedikit pedas, Rey memangutnya dengan lembut meresapinya dengan pelan.


Caca sendiri entah kenapa kali ini tak menolaknya seperti sebelumnya, bahkan sekarang tangannya melingkar lebih erat di leher Rey


...----------------...


...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊...

__ADS_1


__ADS_2