
Setelah drama kentut yang di timbulkan Caca, Tiara dan Caca memilih pergi berbelanja di Supermarket. Karena hari libur, Tiara seperti biasa akan memasak untuk dirinya dan juga Caca.
Di supermarket, Tiara yang mendorong troli sambil sesekali berhenti untuk mengambil barang yang di rasa sudah habis di dalam lemari pendinginnya.
Sedangkan Caca juga memilih barang yang juga di perlukan nya, dan menaruh di troli yang di dorong Tiara.
Sesekali mereka juga mengobrol di sela-sela memilih barang belanjaannya. "Ra ... kemarin kamu tidur jam berapa? Maaf aku kemarin gak betah kantuknya." tanya Caca tapi matanya masih memilih barang yang di incar nya.
"Jam setengah satu (00.30)." jawab Tiara sama seperti yang Caca lakukan, matanya masih sibuk memilih barang belanjaannya.
"Oh ya, kemarin kamu sempet lihat videonya nggak? Gimana, lebih hot mana sama yang video 19 detik yang lagi viral itu?" tanya Caca lagi, tapi sekarang Caca menatap Tiara karena menuggu jawabannya.
Tiara yang mendengar pertanyaan Caca langsung menatapnya dengan jengah. "Gak." Jawab Tiara. Dan melanjutkan acara berbelanja nya.
Tiara heran ada-ada saja yang di tanyakan Caca, tapi memang Caca yang memiliki jiwa kepo yang tinggi. Selain itu juga kebiasaan buruk Caca yang suka buang gas sembarangan, waktu tidur dan apalagi waktu Caca sedang gugup.
Bunyi kentut Caca pun tidak bisa di silent, selalu berbunyi nyaring seperti suaranya yang cempreng.
Makanya mempunyai wajah cantik belum tentu kentutnya juga ikut cantik. Tapi ya begitulah meskipun itu kebiasaan buruk nyatanya Caca tetap sahabat terbaiknya.
Saat sedang asik mengobrol troli Tiara tidak sengaja menyenggol troli orang lain, "Ma--" Saat Tiara akan meminta maaf Tiara terkejut melihat siapa pemilik troli yang ia senggol.
"Alan!" ucap Tiara kemudian, ternyata troli itu adalah milik Alan.
"Hai Ara ...." sapa Alan.
"Hai juga ...." balas Tiara dengan senyum manisnya. "Kamu belanja juga?" tanya Tiara. Karena melihat troli Alan yang sudah setengah penuh barang.
Alan menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi cuma menemani Mama saja." sahutnya sambil matanya yang mengarahkan keberadaan sang Mama, yang posisinya lumayan jauh darinya. Alan memang sengaja menemui Tiara karena tadi tidak sengaja melihatnya.
Sedangkan Caca yang mendengar Tiara berbincang dengan seseorang langsung menghampiri Tiara, saat pandanganya bertemu Alan.
Deg.
Jantung Caca langsung berdetak kencang, "Bagaimana ada makhluk setampan ini." batinnya.
Tiara yang melihat Caca ada di sebelahnya, berniat untuk memperkenalkannya kepada Alan. "Alan kenalkan ini sahabatku, Caca." ucapnya.
Alan pun mengulurkan tangannya kepada Caca. "Alan." sebutnya.
Tapi Caca masih belum menyambut uluran tangan Alan, Caca masih menatapnya takjub. Hingga Tiara menyenggol bahu Caca.
Caca yang baru sadar dari lamunannya, langsung menjabat uluran tangan Alan dengan gugup. "Caca." Ucapnya.
Sesaat kemudian Caca merasakan ada yang bergejolak di dalam perutnya, saat melihat Alan tersenyum padanya. Seketika itu juga Caca merasakan gugup.
Caca langsung melepas jabatan tangannya dari Alan dan lari dari sana, Caca sudah tidak kuat menahan apa yang seharusnya dia keluarkan.
Alan heran melihat kelakuan Caca yang langsung berlari begitu saja, Alan mengalihkan perhatiannya kepada Tiara seperti isyarat. "Kenapa?"
Tiara hanya tersenyum kaku kepada Alan, Tiara tau apa yang akan di lakukan Caca.
Di saat Caca melihat area yang cukup sepi, langsung saja Caca mengeluarkan bom atom-nya dengan sedikit merapatkan kakinya untuk meredam suaranya, tapi tetap saja kentut itu masih terdengar.
BROOOOTTTT...PREEETTT...TTIIITTT
(sungguh alunan nada yang merdu kan π)
"Legah ...." ucap Caca.
Seketika. "Hhhuuuaaaaaa." Terdengar suara anak kecil menangis, Caca yang terkejut pun langsung mencari sumber tangis itu. Waktu Caca berbalik matanya langsung melotot ternyata anak kecil itu tepat di belakang Caca.
Sesaat kemudian Sang Ibu langsung menghampiri anaknya. "Sayang, kenapa menangis?"
"Mama, Aunty ini kentut dan bau." ucap anak kecil itu, sambil telunjuknya menunjuk ke arah Caca. Caca hanya senyum terpaksa dan secepat kilat melarikan diri dari sana.
Caca menghampiri Tiara yang masih bersama Alan. "Ara sudah selesaikan belanjanya? Ayo kita pulang aku sudah lapar." Rengek Caca.
__ADS_1
Tiara yang mendengar rengekan Caca hanya menatapnya malas, tadi tiba-tiba lari. Dan sekarang tiba-tiba datang minta pulang.
Sebenarnya Caca malu dengan Alan, karena kelakuannya tadi. Makanya Caca mengajak Tiara pulang untuk menghindar.
"Uhm ... Alan kita pulang dulu ya!" pamit Tiara, tapi Alan menahan kepergiannya. "Tiara aku mau kenalin kamu sama Mama dulu," cegahnya.
Karena mama Alan belum juga menghampiri Alan, Alan berniat memanggil Mamanya, namun di tahan oleh Tiara. "Alan lain kali saja ya." Ucapnya.
Tiara belum siap, karena takut dengan tanggapan mama Alan. Alan hanya menatap Tiara dengan sedikit kecewa, tapi dia juga tidak bisa memaksa.
"Ok," akhirnya jawab Alan.
"Bye."
"Bye."
Akhirnya Alan dan Tiara berpamitan.
*
*
Siang hari di mansion mewah laki-laki tampan sedang duduk di ruang kerja bersama asisten pribadinya Riko, siapa lagi kalau bukan Alex.
"Bagaimana hasil kerja dari anak bua mu hari ini?" tanya Alex.
"Lapor Tuan, hari ini Nona Andien hanya ada di rumah tidak kemana-mana," jawab Riko.
"Bagus kalau begitu, lanjutkan pekerjaan kalian." perintahnya lagi.
"Baik Tuan." Setelah itu Riko keluar daru ruang kerja Alex.
Sedangkan Alex hanya duduk di kursi kerjanya dengan menatap foto Andien. "Aku akan tau sebenarnya apa yang kamu sembunyikan sayang." lirih Alex.
Alex sangat mencintai Andien, karena bagi Alex Andien berbeda dengan mantannya dulu. Tega meninggalkan Alex karena harta.
Tapi sekarang saat Alex menjalin hubungan dengan Andien, Alex tau kalau Andien berbeda. Karena selama menjalin kasih Andien tak pernah meminta macam-macam atau menuntut apapun, itulah yang membuat Alex sangat mencintai Andien.
Pertemuan Alex yang tidak di sengaja di Surabaya karena urusan bisnis 7 bulan lalu, sejak saat itu Alex dan Andien menjadi dekat sebagai teman.
Saat tau Andien memutuskan untuk pindah ke jakarta 6 bulan lalu, maka semakin intens pertemuan mereka. Bagi Alex 2 bulan sudah cukup untuk mengenal sosok Andien.
Hingga Alex memutuskan untuk mengungkapkan perasaanya kepada Andien. Dewi Fortuna pun seakan berpihak padanya. Karena Andien menerima ungkapan hati Alex.
Sejak saat itulah Alex sangat mencintai Andien. Dan berusaha tidak akan membuat Andien berpaling darinya.
*
*
Malam hari saat Tiara bekerja. Tiara di kejutkan dengan pelanggan yang akan memesan makanannya.
Pelanggan itu seorang perempuan cantik berambut pendek yang tersenyum menatapnya.
"Non Andien!" sapa Tiara yang terkejut, tapi kemudian tersenyum manis kepada Andien.
"Hai Tiara!" sapa Andien juga. "Uhm, apa jam kerja kamu masih lama?" tanya-nya.
Tiara yang melihat seperti ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh Andien, langsung melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih 1 jam lagi Non Andien." jawabnya karena jam di pergelangannya menunjukkan jam delapan malam.
"Aku butuh teman ngobrol ...." kata Andien lirih. Entahlah di saat Andien banyak masalah yang terlintas di kepalanya adalah Tiara. Oleh sebab itu Andien memutuskan untuk menemui Tiara.
Tiara yang menerka mungkin Andien sedang butuh teman bicara. "Maaf, Non Andien jika mau menunggu tidak apa-apa, nanti akan saya temani setelah pekerjaan saya selesai." Ucapnya tidak enak kepada Andien tapi juga Tiara tidak berani, jika harus menemani mengobrol sekarang. Karena takut di pecat.
Andien yang mendengar apa yang di ucapkan Tiara membuatnya tersenyum.
"Ok, kalau begitu aku akan menunggumu," kata Andien. "Oh ya ... kalau begitu aku juga pesan coklat hangat untuk sembari menunggumu," imbuhnya.
__ADS_1
Tiara segera mencatat pesanan Andien. "Non Andien tunggu sebentar saya akan siapkan pesanannya." Setelah itu Tiara berlalu untuk menyiapkan pesanan Andien.
Beberapa saat Tiara kembali dengan membawa pesanan Andien, "Silahkan Non." kata Tiara sambil meletakkan coklat hangat di atas meja.
"Terima kasih Tiara," ujarnya. "Oh ya jangan panggil Non, panggil aja kak Andien." pinta Andien.
Tiara tersenyum mendengar permintaan Andien. "Baik kak Andien." jawab Tiara, setelah itu Tiara melanjutkan pekerjaannya untuk melayani pelanggan lainya.
*
*
1 jam berlalu
Di sinilah mereka berdua di Cafe 24 jam, di temani kopi hitam dan beberapa makanan ringan.
"Tiara apa kamu tidak ingin berkunjung ke rumah? Pasti Mama dan Papa akan senang melihatmu," kata Andien membuka obrolan mereka.
Tiara hanya tersenyum. "Mungkin lain kali kak kalau libur kerja." sahut Tiara.
Andien hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Uhm, Aku sebenarnya ada masalah, aku bingung harus berbicara dengan siapa ...." ujar Andien sendu, saat Andien mulai bercerita. Tiara hanya diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan Andien.
"Aku mempunyai kekasih namanya Alex yang sangat aku cintai, tapi entah mengapa Papa malah tiba-tiba ingin menjodohkan ku." Kalimat Andien terjeda saat Andien menghirup udara agar bisa masuk ke dadanya yang tersa sesak.
"Aku bingung harus bagai mana, hatiku sangat mencintai Alex tapi aku juga tidak tegah kalau harus melukai hati Papa." ucap Andien, Andien mengatakannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tiara yang mendengarnya juga merasa iba terhadap apa yang di alami Andien. Tiara menghela nafasnya sebelum mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Kak, mungkin maksud Papa kakak itu baik dan tidak ada orang tua yang bermaksud untuk menjerumuskan anaknya, meskipun keputusan itu akan menyakiti kakak." Tiara menjeda kalimatnya dan menatap Andien. "Mungkin Papa kakak punya maksud tertentu atau apalah itu, tapi pasti itu yang terbaik buat kakak kedepan." ujar Tiara.
Andien hanya terdiam mendengar ucapan Tiara, Andien mencerna ucapan Tiara. "Apakah artinya aku harus memilih keinginan Papa," batin Andien.
Tapi mereka tidak tahu bahwa sejak tadi ada seorang pria yang terus mengikuti mereka, dan sekarang duduk di belakang mereka. Bahkan pria itu merekam pembicaraan mereka dan sesekali memfotonya.
Setelah hari sudah larut, Andien dan Tiara memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
*
*
Sedangkan di lain tempat, Alex yang sedang menahan amarah karena laporan yang di kirimkan oleh Riko. Di mana itu adalah rekaman pembicaraan Andien dan Tiara serta beberapa foto.
Brak.
Alex menggebrak meja yang ada di depannya, Alex menatap foto itu seketika alisnya langsung saling bertautan menatap gadis yang bersama Andien.
"Kenapa j*lang kecil itu bisa mengenal Andien," seketika Alex menghubungi Riko. Saat panggilan tersambung .
"Ha--" Belum juga Riko menjawab sudah di potong oleh Alex.
"Cepat cari tau gadis di foto yang bersama Andien itu."
"Ba--" Tut, tut, tut, belum juga Riko menjawab lagi-lagi di putus sepihak.
(telfon di putusin secara sepihak aja buat kesel hati, apalagi kalau hatiπ)
Di seberang sana Riko hanya menghela nafas melihat perangai dari bos-nya itu.
...----------------...
...Aku udah nulis panjang loh, aku tuh sedih kalau gak ada yang ngasih vote, like dan komen. Sehat selalu aminnn....
...kunjungi juga...
...Facebook : auraaurora...
...iG : auraaurora / ninikdwifauria...
__ADS_1