DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Laki-laki Masa Lalu 3


__ADS_3

Hingga malam hari tiba, tidak ada kabar dari Angga. Ia seperti hilang di telan bumi.


Tiara berulang kali melihat ponselnya, berharap ada kabar dari kakaknya. Tapi satupun tidak ada pesan yang masuk.


Pagi-pagi sekali Tiara terburu-buru pergi dari rumah, setelah beberapa saat lalu ada seseorang yang menghubunginya.


"Apa kamu yang bernama Tiara?" Tanya seseorang dari sebrang sana.


"Iya."


"Bisakah kamu menemui ku sekarang? Ada sesuatu yang harus aku sampaikan."


Tiara diam sejenak, kenapa orang yang tidak di kenalnya menghubunginya dan memintanya untuk bertemu. Apa ini penipuan? pikirnya.


"Ini soal Angga." ucapnya tiba-tiba saat ia tidak mendengar sahutan dari Tiara.


Deg.


Mata Tiara melebar, setelah seseorang itu menyebutkan nama Angga. Kakaknya yang tidak ada kabar sejak kemarin.


Tidak menunggu lama Tiara menyanggupi permintaan seseorang di sebrang sana, setelah menyebutkan tempat di mana ia harus menemui seseorang itu.


Setelah beberapa saat menaiki angkot, Tiara sampai di tempat tujuan. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang tadi menghubunginya.


"Apa kamu yang bernama Tiara?" Seorang perempuan yang menghampirinya.


"Iya," sahut Tiara cepat.


Gadis itu tersenyum menatap Tiara dengan pandangan yang sulit di artikan.


Tiara juga melihat perempuan itu dengan sedikit heran. Wajahnya sedikit pucat dan matanya sedikit memerah. Sepertinya perempuan itu teman kampus kakaknya karena mereka terlihat seumuran.


Tapi kemudian Tiara tersadar tidak ada Angga di sana. "Di mana Kak Angga?"


Perempuan itu tersenyum. "Ikutlah."


Ia kemudian berjalan lebih dahulu dan mau tidak mau Tiara mengikutinya, entah mengapa perasaanya sedikit tidak enak.


Hingga beberapa saat, kaki Tiara berhenti melangkah saat ia melihat perempuan itu memasuki kawasan yang cukup mencekam bila di malam hari.


Makam.


Pikiran Tiara sudah tidak bisa jernih, sekarang yang ada di otaknya hanya ada hal-hal buruk. Tapi sekuat tenaga ia menyangkalnya.


Dengan kaki gemetar Tiara memasuki area pemakaman, dari kejauhan ia melihat perempuan itu berdiri di samping makam yang terlihat masih baru.


Perempuan itu menoleh ke arah Tiara dan melambaikan tangannya agar mendekat.


Kaki Tiara rasanya semakin berat saat ia semakin dekat dengan pusaran itu.

__ADS_1


Mata Tiara membulat saat sudah di samping makam itu. Karena ada nama Angga di batu nisan. "Kak, mm-maksudnya apa ini?"


Perempuan itu hanya menatap kosong pada makam. "Angga sudah damai di dunia barunya," lirih perempuan itu dengan suara serak. Bahkan air matanya lolos begitu saja.


Deg.


Tubuh Tiara seketika jatuh terduduk di samping makam, kakinya kali ini benar-benar tidak bisa menopang nya.


Kenyataan apa ini? Apa ini hanya candaan? Bukankah malam sebelum wisuda ia masih berbicara dengannya?


Pertanyaan bertubi-tubi memenuhi kepalanya, takdir pahit harus merenggut orang yang disayanginya lagi.


"Angga kecelakaan dua hari yang lalu," suara perempuan itu tercekat di tenggorokan saat mengingat kejadian naas malam itu.


Malam kejadian.


Sesaat setelah menutup panggilan dari Tiara, Angga bergegas pulang. Karena malam itu ia berada di supermarket untuk membeli keperluan yang sudah habis di kos-kosan.


Dari kejauhan, perempuan yang bisa di bilang teman Angga itu melihat Angga yang akan pergi meninggalkan pelataran supermarket.


"Angga," teriaknya dengan mempercepat langkahnya. Berharap Angga akan mendengar panggilannya.


"Yah ... dia tidak mendengarnya," raut wajah kecewa menghiasi wajah cantik itu saat Angga sudah berada di jalan raya.


Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam supermarket yang tadi Angga datangi. Tapi baru saja ia membalikkan badan, terdengar dentuman yang cukup keras.


Brak.


Dengan sedikit sempoyongan, perempuan itu mendekat di mana Angga sudah tidak sadarkan diri. Ia terduduk di samping Angga dan dengan tangan bergetar ia mencoba membangunkan Angga. "Angga."


Tapi Angga masih tetap terpejam.


Hingga beberapa saat ia mulai histeris, meminta bantuan siapa saja agar cepat membawa Angga ke rumah sakit.


***


Perempuan itu berdiri di depan ruangan operasi, di mana Angga berjuang hidup di dalam sana.


Hingga tak lama seorang Dokter keluar. "Dokter bagaimana keadaanya?" tanya nya panik.


Dokter itu menghembuskan nafas berat. "Kami sudah berusaha semampu kami, dan operasinya berhasil." jelas Dokter, yang membuat kelegaan perempuan itu.


"Tapi pasien dalam keadaan kritis, karena luka di kepalanya cukup serius. Dan kita berdoa saja, semoga Tuhan memberikan mukjizat nya." Setelah mengatakan itu, Dokter berlalu dari sana dan menepuk bahu perempuan itu agar menguatkan diri.


Kelegaan yang tadi sempat menghampirinya sekarang lenyap begitu saja, seperti debu yang hilang di tepa angin.


Hingga keesokan harinya, Angga masih saja terpejam.


"Angga kapan kamu bangun?" tanya nya di balik kaca ruangan ICU.

__ADS_1


Terlihat tubuh Angga yang sudah di pasangi beberapa alat untuk mendeteksi. Dan bibir pucat yang tertutup rapat.


Tak lama ada pergerakan pada jari Angga, dan monitor di sampingnya merespon. Dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan.


Hingga kemudian seorang perawat datang menyuruhnya untuk masuk.


Perempuan itu dengan langkah pelan menghampiri Angga setelah mengenakan jubah steril.


Ia sekuat tenaga menahan agar air mata nya tidak luruh. Beberapa tahun mengenal sosok Angga membuat separuh hatinya tertambat pada laki-laki yang sekarang terbaring lemah di hadapannya.


Tapi sayang, ia hanya bisa memendam perasaanya. Karena Angga pernah berkata bahwa ia adalah teman yang baik.


Mungkin hanya menjadi teman untuk Angga sudah cukup untuknya, daripada memaksakan perasaanya yang akan memperburuk keadaan.


Ia melihat Angga seperti mengumumkan sesuatu, yang kemudian ia lebih mendekat ke arah Angga.


Tapi tidak lama, monitor di sebelah Angga berbunyi nyaring memekakkan telinga.


"Te-ri-ma ka-sih," lirih Angga dan di susul mata yang terpejam kembali.


"Nggak, nggak," ucap gadis itu dengan panik. "Angga bangun, kamu nggak boleh pergi." histerisnya.


Monitor yang awalnya masih menandakan kehidupan Angga, sekarang hanya tampak garis lurus yang menghiasi.


Perawat terpaksa menyuruh gadis itu keluar, dan Dokter berusaha untuk mengembalikan denyut jantung Angga dengan Alat pacu jantung.


Tapi hingga beberapa saat, ternyata Angga sudah nyaman di dunia barunya.


Dan kini, ia kembali ke makam Angga lagi untuk menyampaikan permintaan terakhirnya.


"Dia bilang, dia minta maaf karena tidak bisa menepati janjinya." Lalu menjeda kalimatnya sejenak, mencoba meraup udara sebanyak mungkin untuk melegakan dadanya yang tiba-tiba sesak. "Dan terima kasih sudah menjadi adik yang baik," imbuhnya.


Setelah mengatakan itu, ia segera beranjak dari sana. Mungkin Angga tidak akan suka melihatnya yang terus menangisi kepergian nya.


Tatapan Tiara terus tertuju pada nisan itu. Tidak ada yang keluar dari mulutnya. Hanya air mata yang lolos begitu saja tanpa bisa ia cegah.


Kenyataan ini sungguh benar-benar menyakitkan.


"Kak, apa Tuhan lebih menyayangimu? Sehingga tak membiarkanmu menjadi kakak untukku lebih lama lagi?"


Setelah beberapa saat, hanya pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Tiara. Seakan-akan Angga bisa memberikan jawaban.


"Tapi sekarang Kakak sudah tidak akan merasakan sakit lagi," ucap Tiara dengan tersenyum. Tapi air mata itu masih deras mengalir.


"Maaf, Tiara masih belum bisa menjadi adik yang baik buat Kakak. Dan terima kasih sudah menjadi kakak yang terbaik."


Flashback Off.


...----------------...

__ADS_1


...Nah, sudah tau kan awal mulanya Tiara bisa hacker. Jangan lupa untuk dukungan nya, vote, like dan komen. Terima kasih😘💕...


__ADS_2