DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Salah Orang


__ADS_3

"Dia --"


"Maaf, mungkin anda salah orang." potong Caca.


"Loh ada apa ini?" tanya Mommy yang baru datang dari toilet.


"Tuan ini salah orang, Mom. Dia mengira Caca mirip anaknya yang hilang," jelas Caca.


Ayah Caca semakin emosi mendengarnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka berada di tempat umum dan sangat ramai pengunjung.


Sedangkan Papa Nathan sekarang mulai mengerti dengan keadaan yang semakin memanas ini.


"Oh ...." sahut Mommy.


"Tuan, saya adalah Papanya dan ini istri saya." Papa Nathan memperkenalkan diri. "Dan gadis cantik ini, adalah putri kami."


Sedangkan Mommy melewati begitu saja ayah Caca dan keluarga barunya, kemudian duduk di kursinya. "Sayang, Pa, ayo duduk. Nanti keburu tidak enak makanannya." seru Mommy dan mulai memakan makanannya. Setelah Caca dan Papa Nathan duduk, Mommy menoleh ke arah ayah Caca. "Maaf Tuan, kami akan makan siang. Kalau anda berdiri di situ, seakan kami ini orang miskin yang tidak mampu bayar setelah makan." Mommy yang tersenyum manis, tapi matanya menatap dengan sinis.


Akhirnya ayah Caca memilih pergi dari sana dengan keluarga barunya.


Setelah melihat kepergian ayah Caca dan keluarganya, Mommy langsung memeluk Caca yang duduk di sampingnya. "Sayang," ucapnya dengan bibir bergetar. Sungguh Mommy bisa merasakan sakit hati yang di rasakan putrinya itu. Karena sebenarnya tadi Mommy mendengar bagaimana Caca di sebut sebagai wanita simpanan.


Caca yang awalnya tadi berusaha tegar akhirnya menangis juga. Pertahanannya runtuh seketika saat merasakan Mommy yang memeluknya dengan erat menyalurkan kasih sayangnya. "Mom," di sela isak tangisnya. "Kenapa mereka begitu jahat pada Caca." imbuhnya.


"Kalau mereka sudah tidak lagi mengingat Caca, kenapa dia menemui Caca? Kenapa dia tidak berpura-pura saja tidak mengenali Caca. Bahkan mereka bisa menganggap Caca sudah tiada. Caca tidak bisa memilih Mom, akan dilahirkan oleh siapa." Caca yang mulai meracau di pelukan Mommy.

__ADS_1


"Sssttt ... Sayang, jangan biacara seperti itu. Masih ada Mommy dan Papa Nathan, apa kamu lupa? Kami ini sekarang orang tau kamu hmm!" Mommy yang menenangkan Caca dengan mengusap punggungnya. Tapi masih dengan tangisnya yang masih juga belum berhenti.


Papa Nathan yang melihatnya juga ikut merasa terharu, bagaimana orang tua bisa menelantarkan anak mereka sendiri. Bukankah anak hadir juga karena mereka.


Hingga beberapa saat akhirnya tangis memilukan itu berhenti. Mommy menarik diri agar bisa melihat wajah cantik Caca, terlihat mata sembab dan hidung yang memerah menghiasi wajah gadis itu. "Apa kamu sekarang merasa lebih baik?" Yang langsung di angguki Caca. "Yah, sudah sekarang kita makan. Kasian baby-nya, pasti dia sudah merasa sangat lapar." Mommy yang berusaha mencairkan suasana.


Caca kemudian menatap makanannya yang tadi hampir ia makan, dan sekarang makanan itu sudah terlalu matang meskipun masih bisa untuk di makan. Sedetik kemudian ia menoleh kepada Mommy dan Papa Nathan yang sekarang sedang menatapnya untuk menunggunya makan terlebih dahulu. "Mom, Pa, nanti Caca boleh nambah lagi makanannya? Rasanya ini tidak cukup untuk mengganti tenaga Caca yang terbuang karena menangis!!" tanya-nya dengan tersenyum manis, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.


Mommy dan Papa Nathan saling tatap setelah mendengar pertanyaan putri cantiknya itu. Pasalnya makanan yang memenuhi meja mereka sekarang ini saja belum tersentuh sama sekali, tapi ingin memesannya lagi. "Uhm, boleh. Asal kamu bisa menghabiskannya sayang," jawab Mommy akhirnya yang membuat senyuman Caca semakin lebar.


Mereka akhirnya memakan makanan mereka dengan canda tawa, melupakan kejadian beberapa saat lalu yang membuat hati siapapun terluka.


*


*


Setelah kejadian di mall waktu itu, nyatanya ayah Caca tidak menampakkan batang hidungnya sampai sekarang. Dan itu membuatnya yakin, jika orang tuanya sudah bahagia dengan kehidupan barunya sehingga tidak memerlukannya lagi.


Dan malam ini Tiara terlihat gelisah, pasalnya hari ini ia sudah selesai masa nifas. Ia takut jika suaminya akan meminta haknya, bukanya ia tidak kasihan dengan Alex yang sudah berpuasa selama hampir dua bulan. Tapi, ia hanya saja belum siap.


Dan untung saja hari ini suaminya itu sedang ada di ruang kerjanya, membahas pekerjaan yang tadi belum terselesaikan di kantor. Karena mulai hadirnya baby El, suaminya itu sudah tidak pernah lagi lembur di kantor dan pulang tepat waktu. Jikapun ada pekerjaan yang belum selesai akan ia selesaikan di mansion seperti sekarang ini. Karena bagi Alex sekarang melihat senyum kedua anaknya adalah hal yang utama.


"Bu Ati, Ibu istirahat saja. Lagi pula El juga sudah tidur," ujar Tiara kepada wanita yang berusia 40 Tahun itu saat berpapasan di dapur. Sudah satu minggu Alex mempekerjakannya untuk membantu Tiara mengurus El, karena Alex tau jika istrinya itu sangat kelelahan mengurus dua putranya dan juga dirinya. Apalagi El yang sering terbangun tengah malam untuk mengajaknya begadang.


"Baik, Nona." sahut Bu Ati yang kemudian berlalu ke kamarnya.

__ADS_1


Tiara sendiri juga segera kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, sebelum El bangun seperti biasanya dan baru tidur dua jam kemudian.


Dan benar saja ketika Tiara masuk kamar, ia dapat melihat bayi tampan itu masih terlelap di box bayi-nya.


Setelah berganti pakaian, Tiara bersiap untuk mengarungi mimpi menyusul putranya. Tak butuh waktu lama ia sudah terlelap.


Tapi, baru saja wanita cantik itu menikmati mimpi indah. Tiara merasakan tubuh atasnya yang terasa dingin. Bukankah ia tadi memakai selimut? Pikirnya. Perlahan ia mengerjabkan matanya, mencoba tersadar dari mimpi indahnya.


"Mas!" pekik Tiara saat tau suaminya lah dalang yang membuatnya kedinginan. Karena suaminya itu sudah berhasil melepas piyama atas-nya dan hanya menyisakan penutup dua bulatannya.


"Sayang aku sudah menantikan hari ini," ujar Alex dengan suara serak dan mata sedikit sayu.


Tiara hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah, ia tahu bahwa suaminya kini telah di landa kabut gairah. "A-apa?" Tiara yang pura-pura tidak mengerti.


"Aku sudah menghitungnya, dan hari ini tepat di mana aku sudah waktunya selesai untuk berpuasa," jelasnya dan tangan yang sudah tidak bisa di kondisikan.


Tubuh Tiara secara reflek sudah tidak bisa diam karena merasakan sentuhan dari suaminya itu. Dan itu membuat darahnya sedikit berdesir. "Tap-i Mas, aku belum konsultasi dengan Dokter."


"Tenanglah, tadi siang aku sudah menelponnya. Dan katanya tidak apa-apa kita melakukanya sekarang," jelas Alex.


Mata Tiara membulat mendengar penuturan suaminya, meskipun tubuhnya sudah mulai memanas tapi ia masih bisa mendengarnya dengan jelas. Ia tidak tau lagi harus pakai cara apa untuk menghindar.


*


*

__ADS_1


*


...Selamat hari Rabu, semoga hari ini menyenangkan. Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih 😊🙏...


__ADS_2