
Sebelum kejadian celana dal*m bunga-bunga.
"Uncle, aku ngantuk." rengek Caca.
Setelah masuk ke dalam kamar yang ada di mansion Alex, Caca langsung saja merebahkan tubuhnya di ranjang.
Perutnya yang membesar, membuatnya kesulitan untuk beraktivitas. Apalagi berat badannya yang juga naik cukup banyak, terlihat dari tubuhnya yang mengembang.
Rey segera menaruh tas yang ia bawa di samping nakas, kemudian merebahkan dirinya di samping Caca.
Caca langsung memeluk Rey. "Uncle, sepertinya baby ingin telur puyuh."
"Sayang ini sudah malam, besok saja aku belikan." Rey tidak habis pikir, baru saja keinginan terpenuhi sekarang datang lagi keinginan yang lainya.
"Bukan telur puyuh yang di supermarket," ucap Caca merengut.
"Yang ada di pasar?"
"Bukan!" Caca semakin mencebikan bibirnya.
"Yang ada di toko?" Tebak Rey lagi.
"Ish, Uncle kenapa nggak ngerti sih?" Caca yang mulai kesal karena suaminya itu masih saja belum paham apa yang ia mau.
Rey hanya menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa istrinya itu malam-malam bermain tebak-tebakan. Kenapa tidak berbicara langsung saja. "Terus telur puyuh yang di mana?" tanya Rey yang mulai frustasi.
Dengan senyum penuh arti, pandangan mata Caca tertuju pada benda pusaka Rey yang terletak di antara pahanya.
Glek.
Rey hanya menelan saliva nya susah payah. Bagaimana tidak, ia teringat saat istrinya itu bermain dengan benda pusaka nya. Ketika Rey mulai menegang, tapi istrinya itu tidak mau di ajak untuk berolahraga ranjang. Alhasil ia harus bermain solo di kamar mandi.
"Uncle," rengek Caca manja. Bahkan ia semakin mendekatkan mulutnya di telinga Rey, hingga Rey bisa merasakan hembusan nafas istrinya yang menciptakan gelayar aneh di tubuhnya.
"Katanya baby nya lagi kangen," bisik nya lagi. Tangan Caca yang tadi memeluk Rey perlahan bermain di dada bidang itu, menggambar abstrak dengan telunjuknya. "Boleh ya?" pintanya dengan sensual.
Rey hanya bisa memejamkan mata ketika ia sudah mulai merasakan hawa panas.
Tangan Caca dengan nakal terus turun melewati roti sobek, hingga berhenti pada gesper yang ada pada celana Rey.
Tidak sulit untuk Caca membuka gesper dan pengait pada celana Rey, hingga terlihat kain segitiga suaminya yang bewarna pink bercorak bunga-bunga.
Caca selalu memaksa Rey menggunakan apa yang di belikan nya, dengan alasan kasian kalau pakai yang motif polos. Lebih baik pakai yang bewarna lebih ceria.
Tentu saja Rey menurutinya, kalau tidak ia akan libur untuk mengunjungi anaknya.
Caca tersenyum ketika melihat suaminya yang mulai terbawa suasana, dan tangannya kini menyelinap tanpa permisi melesat masuk melewati batang singkong yang mulai mengeras hingga bertemu dua telur puyuh yang dinginkan nya.
Entah kenapa Caca selalu gemas di buatnya. Mulai dari mengelusnya atas ke bawah, hingga meremasnya saat telur puyuh itu berada di genggamannya.
"Oh, sayang." geram Rey menikmati sentuhan Caca.
__ADS_1
Caca menggigit bibir bawahnya, ketika telur itu kini juga mulai mengeras. Dan itu membuatnya semakin gemas. Dengan sengaja Caca meremasnya, hingga salah satu telur itu keluar dari genggamannya.
"Akh," pekik Rey. Sungguh rasanya sangat ngilu, merasakan telur kesayangan nya di permainkan Caca. Bagaikan tersengat listrik dengan tiba-tiba.
"Sayang, kau yang memulainya. Jadi mau tidak mau kau harus tanggung jawab," dengan nafas memburu Rey mengeluarkan tangan Caca dari bawah sana.
Rey dengan begitu saja menyambar bibir ranum itu. Memangutnya dengan rakus, dan menyelipkan lidah nya untuk bermain lebih dalam.
Tangan kokoh itu bahkan bermain di dua bulatan yang kini semakin membesar, meremasnya dengan gemas.
"Ahh," satu des*han keluar begitu saja dari mulut Caca.
Hingga beberapa saat Rey berhasil membuat ia dan istrinya sama-sama polos seperti bayi yang baru dilahirkan.
"Sayang, kamu semakin ****." Rey yang memuji. Hingga membuat wanita yang berada di kungkungan nya tersipu.
Rey kembali menautkan bibirnya, yang kemudian terus turun ke leher. Memberikan tanda kepemilikan nya.
Hingga tepat di dua bulatan matanya berbinar, tidak menunggu waktu lama ia melahap nya dengan rakus. Persis seperti bayi yang sedang kehausan.
"Uncle," rintih Caca. Ia semakin meremas kepala Rey dan menekannya, seolah menyuruh suaminya itu agar menyesap nya lebih kuat lagi. Apalagi saat merasakan suaminya itu memainkan salah satu pucuk bulatan nya dangan tangan Rey.
Mulut Rey setelah puas menghisap dua aset Caca, sekarang terus turun ke bawah. Ia berhenti sejenak ketika sampai di perut buncit itu. "Baby, kami menyayangimu." dan meninggalkan satu kecupan di sana.
Hingga kemudian pandangan Rey terhenti pada inti Caca. Yang sekarang terlihat lebih merekah sejak mengandung buah hatinya.
Tidak menunggu lama, Rey kemudian membenamkan kepalanya di antara kedua paha Caca. Menikmati rasa yang selalu membuatnya ingin menikmati lagi dan lagi.
Menghisapnya, menggigitnya kecil, hingga menekan ujung biji kecil itu dengan lidah nya.
Oh sungguh kenikmatan yang luar bisa Caca rasakan.
"Uncle," rintih Caca ketika merasakan desakan di bawah sana semakin di ujung intinya.
Rey menjeda aktifitasnya dan menatap istrinya dari bawah."Lepaskanlah, sayang." kemudian melanjutkan nya kembali.
Tidak menunggu lama, akhirnya Caca menggeram panjang dan menghembuskan nafasnya tak beraturan ketika ia sudah mendapatkan pelepasannya.
Rey tersenyum melihat istrinya yang sekarang lemas. "Sayang, sekarang giliran ku." Kemudian membantu Caca menung*ing dengan tangan sebagai tumpuan dan ia setengah berdiri di belakangnya.
Karena kehamilannya, maka posisi inilah yang menurut Rey paling aman. Agar tidak menekan perut buncit istrinya.
"Engh," Caca menggeram saat tiba-tiba Rey begitu saja memasukinya.
"Oh, sayang kau begitu hangat dan masih tetap sempit." Racau Rey yang mulai memacunya.
Bahkan tangan kokoh itu meremas dua aset Caca yang bergelantung indah. Sesekali juga memberikan kecupan pada punggung putih Caca.
"Sayang, kau begitu nikmat." Rey yang semakin cepat memacu dirinya, karena merasakan milik Caca yang mulai mencengkeram erat miliknya.
"Bersama," seru Rey.
__ADS_1
Di detik berikutnya kedua tubuh itu sama-sama mengejang saat gelombang pelepasan datang, di akhiri Rey yang menancapkan nya lebih dalam.
"Arrrggh."
"Ahh."
Keduanya segera memisahkan diri dan merebahkan diri masing-masing. Rey kemudian membawa Caca ke dalam pelukan nya. "Tidurlah," ucapnya dan meninggalkan satu kecupan di kening istrinya.
*
*
*
Baru beberapa menit mata Caca terpejam, ia di kejutkan seperti merasakan letusan di dalam perutnya. Tapi entah itu apa.
Saat akan mau memejamkan matanya lagi, Caca merasakan ada yang mengalir di pangkal paha nya. Tangannya kemudian meraba, ada sedikit cairan yang merembes seperti air.
Hingga di detik berikutnya di susul rasa yang tak nyaman pada perutnya dan punggung bawah yang sedikit sakit.
"Uncle," Caca yang membangunkan Rey.
"Hm," hanya deheman yang keluar.
"Perutku sakit," ringisnya.
Mata Rey seketika terbuka lebar dan mendudukkan dirinya. "Apa kamu mau melahirkan?" rasa panik mulai menyerangnya. Ia teringat kata Dokter yang mengatakan jika HPL bisa maju, bisa juga mundur.
"Entah lah, tapi sepertinya iya." Caca yang memegangi perutnya. Rasa sakit itu sebentar datang dan sebentar hilang.
"Lalu aku harus bagaimana?" Rey yang tiba-tiba menjadi bodoh. "Apa aku harus meminta bantuan?" tanya nya konyol.
"Tentu saja Uncle," geram Caca melihat suaminya itu mendadak lemot.
Rey langsung turun dari ranjang. "Baiklah, tunggu dulu. Kalau bisa tahan dulu, Ok."
"Tapi, Uncle --"
"Tunggulah sebentar," Rey yang sudah melesat keluar kamar.
"Ya ampun, kenapa di saat seperti ini suamiku jadi LOLA (loading lama). Padahal aku ingin memberitahu, kalau batangnya hanya tertutup satu lapis. Bagaimana nanti kalau terbang!!" Caca yang membayangkan di tengah rintihanya menahan sakit.
...----------------...
...Nah othor udah kasih yang panas-panas, jangan lupa dukungan nya. Vote, like dan komen. Kalian juga bisa mempromosikan nya di akun media sosial kalian....
...Sama satu lagi othor mau kasih tau, bentar lagi novel ini mau end. Dan aku udah ada satu novel baru, judulnya KAWIN GANTUNG DENGAN KETOS. Kisah remaja Mommy Jessy dan Papa Nathan. Untuk jadwal tayangnya masih di tunda dulu ya....
Terima kasih 😁🙏.
__ADS_1