DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Posesif


__ADS_3

Alex segera menyematkan cincin di jari manis tangan kiri Tiara, setelah mendengar jawaban istrinya.


Air mata yang sedari tadi sudah tergenang di pelupuk mata, akhirnya jatuh juga di pipi Tiara.


Setelah selesai menyematkan cincin, Alex berdiri untuk mensejajarkan dirinya. Kedua tangannya menangkup wajah Tiara, menghapus air mata yang keluar. "Terima kasih."


Alex mengecup singkat bibir Tiara, kemudian memeluknya. Mendekap erat seakan tidak membiarkannya pergi.


Sekarang Alex menyadari, bahwa Andien sudah sudah tidak lagi di hatinya. Dan telah terisi oleh istrinya.


Caca dan Rey hanya melihat drama suami-istri dari kejauhan. "Ternyata meskipun Om Alex datar seperti tembok, tapi bisa romantis juga. Alan pasti juga bisa romantis seperti itu." Monolog Caca.


Rey yang berada di sampingnya hanya memutar bola matanya malas. "Ck, paling juga lo cuma di ajakin nongkrong di Cafe doang." Cibirnya.


"Enak aja, Alan itu tipe-tipe cowok yang romantis."


"Halah ... rokok makan gratis iya." ejek Rey dengan tersenyum miring.


Caca hanya berdecak sebal, kemudian berjalan pergi dari sana.


"Sipit ... mau kemana lo?" teriak Rey.


"Pulang ...." sahut Caca.


Akhirnya Rey mengikuti langkah Caca dan memutuskan pulang, meninggalkan pasangan yang baru jadian setelah menikah.


*


*


"Pa ... anak-anak kenapa belum pulang? Padahal ini sudah pukul 21.00 malam." Ujar Mommy seraya melihat jam yang berada di ponselnya.


"Mungkin ... anak-anak ingin menikmati waktu berdua Mom," sahut Papa.


Tidak lama terdengar deru suara mesin mobil memasuki halaman mension.


Mommy yang tadi berada di ruang tengah, langsung menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Sayang ... akhirnya kamu pulang!" Ucap Mommy khawatir saat Tiara dan Alex masuk ke dalam mension.


"Maaf Mom, kami pulang terlambat." Jawab Tiara, yang merasa tidak enak karena membuat mertuanya khawatir.


"Mom ... tadi Alex hanya ingin jalan-jalan sebentar." Sela Alex.


"Ya sudah kalau begitu kalian pergi istirahat, ini sudah malam." Sahut Papa yang baru datang.


"Ya sudah kalau begitu Alex ke kamar dulu," pamitnya. Dan menggandeng tangan Tiara untuk mengikutinya.


Mommy dan Papa senang melihat perubahan anaknya, sejak menikah sikap Alex sudah tidak begitu dingin lagi.


"Pa ... sepertinya Alex sudah banyak berubah semenjak menikah, dan itu berkat Tiara." Ucap Mommy seraya mengarahkan pandanganya pada punggung anak dan menantunya yang berjalan ke lantai 2 tempat kamarnya berada.


"Semua orang bisa berubah Mom," sahut Papa. "Ya sudah kita juga istirahat, atau Mommy mau memberikan Alex adik?" ucap Papa dengan mengerlingkan sebelah matanya, yang langsung mendapat capitan panas dari Mommy.


"Ish ... Papa, kita ini sudah tua, seharusnya kita menimang cucu. Bukan menimang anak," gerutu Mommy.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah kalau Mommy tidak mau anak lagi. Kita memproduksinya saja kalau begitu sampai setengah jadi," kelakarnya dan tergelak kencang.


Mommy segera meninggalkan Papa yang masih saja dengan pikiran mesumnya.


Sedangkan di kamar Alex dan Tiara, kini mereka berdua sudah berbaring di ranjang setelah membersihkan diri.


Tiara yang tidak bisa menahan kantuknya, segera memejamkan matanya. Berbeda dengan Alex yang baru saja menaruh ponselnya setelah melakukan panggilan dengan Riko.


Alex menoleh ke istrinya. "Kenapa sudah tidur?" gumamnya.


"Tiara ...." Alex mencoba membangunkan, tetapi Tiara sama sekali tidak bereaksi.


"Sayang ...." panggilnya lagi.


"Hmm ...." sahut Tiara dengan mata terpejam.


"Sayang apa tamunya sudah pergi?" tanya Alex.


"Tamu siapa?" sahut Tiara yang mirip seperti gumaman.


Alex merapikan anak rambut Tiara yang terburai. "Tamu yang kemarin datang," ucapnya.


Tapi Tiara sudah tidak lagi menyahuti pertanyaan suaminya, Tiara benar-benar sudah terlelap dalam tidurnya.


"Ya ampun ... dia benar-benar tertidur," gumam Alex.


Alex hanya menghembuskan nafasnya kasar. "Kapan phyton buka puasa!" monolognya.


Akhirnya Alex memiringkan tubuh Tiara agar menghadapnya. Setelah berhadapan, dengan lincah tangan Alex melepaskan kancing piyama yang Tiara gunakan hingga terbuka setengah.


Alex tersenyum saat yang di carinya sekarang sudah terlihat, seperti hari-hari sebelumnya Alex melahap salah satu aset milik Tiara.


*


*


Siang hari sekolah Antar Bangsa.


Tiara seperti biasa, menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Membaca buku untuk persiapan ujian nasional yang kurang 4 bulan lagi.


"Tiara ...." sapa seseorang.


Tiara mengangkat pandanganya dari buku yang ia baca. Tiara sempat terkejut saat mengetahui siapa yang menyapanya, dia adalah Alan. Yang beberapa hari ini sempat menjauh dari Tiara.


"A-alan," ucap Tiara.


"Apa aku boleh duduk di sini?"


"Hmm ...." Tiara menganggukkan kepalanya.


"Maaf." Ucap Alan tiba-tiba. "Maaf, karena telah menjauhi mu beberapa hari ini. Itu karena aku kecewa dengan perasaanku sendiri," ucapnya sendu.


"Sudah, tidak apa-apa Alan." sahut Tiara.


"Terima kasih."

__ADS_1


Hingga beberapa saat suasana menjadi hening.


"Oh ya, dulu kamu sempat janji mau menemani cari buku." ujar Alan memecah keheningan.


Tiara sejenak berpikir sebentar untuk mengingat. "Oh ... yang waktu itu!" ucap Tiara saat sudah mengingatnya.


"Hmm ...." Alan menganggukkan kepalanya.


"Uhm ... aku akan meminta izin dulu, dan bisakah aku mengajak Caca? Aku tidak enak jika hanya pergi berdua," lirih Tiara.


"Boleh, enak juga kalau perginya rame-rame." ucap Alan dengan tersenyum.


Tiara dengan segera menghubungi suaminya untuk meminta izin.


Setelah beberapa saat Tiara berhasil mengantongi izin dari Alex, dengan syarat tidak boleh lama dan menjaga jarak dengan Alan.


( Wah ... psbb donk 😀)


Begitu juga Alan yang juga menghubungi Caca, agar ikut dengannya. Dan Caca juga menyanggupi.


*


*


15.00 WIB


Di sinilah mereka sekarang di salah satu pusat perbelanjaan. Dengan tujuan utama mereka, toko buku.


Mereka bertiga berpencar untuk mencari buku yang mereka inginkan. Tiara dan Alan mencari buku untuk penunjang ujian nasional, sedangkan Caca mencari novel romantis kesukaannya.


Saat Tiara mencari buku yang dia inginkan, ternyata letak buku itu di rak paling atas. Ketika Tiara menggapainya dengan berjinjit masih saja tidak sampai. Hingga dari belakang ada tangan seseorang yang mengambil buku itu.


Punggung Tiara dapat merasakan dada bidang orang yang berada di belakangnya, seketika Tiara berbalik dan mendongak.


Deg.


"Kenapa tidak meminta bantuan orang lain, kalau tidak sampai. Bagaimana kalau buku itu terjatuh dan mengenai kepalamu, hmm? ucapnya.


Seketika Tiara tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum? Apa kau terpesona oleh wajah tampanku!" Sombongnya.


"Ish ... kenapa Om sekarang jadi narsis," cibir Tiara. "Dan kenapa Om jam segini sudah pulang?" Tanya Tiara seraya melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 15.15.


"Memangnya kenapa! Aku berhak pulang jam berapa saja, karena aku pemiliknya." Sombongnya mulai naik satu tingkat.


Tiara hanya memutar bola matanya, dan melanjutkan mencari buku lainya.


Alex dengan tidak tahu malunya, melingkarkan tangannya di pinggang Tiara dari belakang dan menaruh dagunya di pundak kanan Tiara. Sontak saja Tiara membulatkan matanya karena kelakuan suaminya.


"Om ... jangan begini, malu di lihat orang." Ucap Tiara berusaha melepaskan tangan Alex, tapi Alex semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan saja, biar semua orang tahu kalau kau milikku. Dan jika kau malu, kau tinggal menutup matamu jadi sudah tidak malu lagi." Ucapnya santai.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya, mendengar penuturan Alex. "Kenapa suamiku menjadi posesif! Batin Tiara.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn .


__ADS_2