
Setelah menikmati liburan kemarin yang sedikit kacau, akhirnya Tiara dan Caca kembali ke aktifitasnya kembali sebagai pelajar.
Hari ini Alex memutuskan untuk mengantarkan Tiara pergi ke sekolah, karena Tomy akan mengantarkan Caca ke sekolahnya terlebih dahulu, baru Tomy akan ke sekolah Tiara.
Hari ini Bayu meminta izin pulang kampung karena mendapat kabar bahwa ibunya sedang sakit dan berada di rumah sakit.
Mobil yang di kendarai Alex berhenti tepat di depan gerbang sekolah Tiara. "Nanti Tomy akan kesini setelah mengantar Caca," ujar Alex.
"Ehm ... sebenarnya kalau kak Tomy tidak bisa menjemput juga tidak apa-apa mas, aku bisa naik ojol atau taksi online," ucap Tiara seraya bersiap untuk turun dari mobil.
"Tidak, nanti Tomy akan tetap menjemputmu, baru menjemput Caca," sahut Alex tegas, tidak ingin di bantah.
Tiara menghembuskan nafasnya pelan, perkataan suaminya selalu saja tidak pernah bisa di bantah.
"Baiklah, baiklah aku akan pulang dengan Kak Tomy," ujar Tiara akhirnya.
"Bagus," ucap Alex dengan tersenyum.
Tiara menggapai punggung tangan Alex untuk dia cium, sebelum turun dari mobil.
"Tunggu, kau melupakan sesuatu!" Serga Alex, dengan mencekal tangan Tiara.
Tiara menautkan kedua alisnya. "Apa?"
Cup
Satu kecupan mendarat mulus di bibir pink Tiara.
Tiara membulatkan matanya, suaminya selalu saja memanfaatkan keadaan di dalam kesempitan.
"Sudah," ujar Alex kemudian dengan tersenyum yang tersungging di bibirnya.
Tiara hanya bisa menggelengkan kepalanya., melihat kelakuan Alex.
Tiara segera turun dari mobil Alex, dan berjalan masuk ke dalam sekolah untuk menuju ke kelasnya.
Sedangkan mobil Alex melaju pergi, untuk menuju perusahaanya.
Ternyata interaksi yang di lakukan Alex dan Tiara tadi tidak luput dari pengawasan seseorang.
***
Brak.
Bella menggebrak meja kerjanya, saat anak buah-nya memberikan foto hasil pengintainya. Meskipun tidak terlihat jelas gambar foto itu karena Alex dan Tiara yang berada di dalam mobil, tapi Bella bisa melihat bagaimana Alex mencium Tiara.
"Jadi dia benar orang-nya," ucap Bella dengan geram. "Baik akan aku berikan permainan untuknya," imbuh Bella.
Bima yang berdiri di samping meja Bella hanya menghembuskan nafasnya pelan, sejujurnya Bima tidak mau melihat teman kecilnya itu berbuat macam-macam dengan seseorang. Apalagi orang itu berhubungan dengan Alex Pratama.
"Baik kau boleh pergi, tunggu perintahku selanjutnya," ujar Bella pada anak buahnya.
"Baik Nona," pamit anak buah Bella dan pergi dari sana.
"Bima, bagaimana menurutmu!" tanya Bella.
"Anda bertanya sebagai atasan atau teman, Bu?"
Bella hanya mendengus, mendengar Bima menjawabnya dengan pertanyaan. "Terserah padamu!"
"Kalau saya sebagai bawahan, itu terserah anda, Bu. Karena saya tidak mau ikut campur masalah pribadi terlalu jauh. Kalau sebagai teman, hentikan Bella! ini semua pasti akan berakhir tidak baik," jawab Bima.
Bella hanya memutar bola matanya malas mendengar jawaban Bima. "Ya sudah ... kembalilah ke ruangan mu," ujar Bella.
"Baik, saya permisi, Bu." Pamit Bima dan pergi dari sana.
"Aku harus merencanakan sesuatu," gumam Bella.
__ADS_1
*
*
Jam pulang sekolah telah tiba, semua pelajar berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Begitupun yang di lakukan Tiara.
Tiara melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah, matanya langsung menangkap keberadaan Tomy yang berdiri di samping mobil.
"Silahkan Nona," ucap Tomy membukakan pintu belakang mobil, mempersilahkan Tiara masuk.
"Terima kasih Kak Tomy," ujar Tiara seraya masuk dalam mobil.
Mobil itu melaju menuju sekolah Darma Bhakti, tempat Caca bersekolah.
Hingga sepuluh menit kemudian, mobil yang di kemudikan Tomy sampai di sekolah Caca. Terlihat Caca sudah berdiri di depan gerbang.
Caca segera berlari ke arah mobil Tiara, dan masuk di kursi belakang mobil, tanpa menunggu Tomy turun.
"Huh ... panas sekali hari ini," keluh Caca, sambil mengipas wajahnya dengan tangannya.
Tiara yang duduk di samping Caca hanya menggelengkan kepalanya.
"Ra, ayo beli ice cream yuk ... kayaknya enak," ajak Caca.
"Uhm ... boleh," sahut Tiara.
Dengan segera Tomy melajukan mobil ke kedai ice cream.
Jalanan menjelang sore itu sudah lumayan padat di penuhi kendaraan, sebagian besar pelajar yang baru pulang sekolah.
"Nona, kita sudah sampai," ujar Tomy, saat mobilnya berhenti di depan kedai khusus menjual ice cream.
"Apa kakak mau ikut juga!" tawar Tiara.
"Tidak Nona, saya akan menunggu di dalam mobil saja," tolak Tomy.
"Iya Nona."
Tiara dan Caca turun dari mobil, suasana kedai ice cream sore itu lumayan ramai di penuhi pengunjung. Untung ada beberapa meja yang kosong.
Pelayan mendatangi meja dua gadis itu sesaat mereka baru duduk. "Silahkan kak mau pesan apa?" Tanya pelayang seraya memberikan dua menu pada Tiara dan Caca.
"Saya mau pesan , ice cream mix lima rasa combo dengan toping buah campur sama coklat," ujar Caca.
Tiara lagi-lagi menggelengkan kepalanya mendengar pesanan Caca.
"Kalau saya, ice cream mangga dengan toping buah mangga, dan yogurt," pesan Tiara.
Pelayan itu segera mencatat pesanan mereka berdua, dan kemudian pergi untuk menyiapkan-nya.
"Ca, perut kamu nggak sakit? Pesan sebanyak tadi!" Tanya Tiara.
Caca hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kamu sendiri tadi pesan rasa mangga di tambah yogurt juga, apa nggak asem?"
"Seger lagi Ca, udaranya lagi panas jadi pas," sahut Tiara.
Hingga beberapa saat menunggu, akhirnya pelayan datang membawa pesanan mereka. Tidak menunggu lama, Tiara dan Caca segera menikmati ice cream yang tadi mereka pesan.
Menikmati dinginnya Ice cream bertoping buah yang meleleh di lidah mereka, apalagi di cuaca yang panas.
Bahkan tidak ada percakapan di antara mereka, karena terlalu fokus untuk menghabiskan ice cream yang begitu menggoda.
15 menit kemudian.
"Ca udah yuk, kasian Kak Tomy sudah menuggu lama," ajak Tiara.
__ADS_1
"Bentar Ra, tinggal sedikit lagi, nanggung," ucap Caca.
"Ya sudah kalau begitu, aku bayar dulu." Tiara meninggalkan Caca yang masih menghabiskan ice cream-nya.
Tiara menuju meja kasir untuk membayar apa yang tadi ia dan Caca makan, dan membungkus satu cup ice cream untuk Tomy.
Ternyata saat Tiara menunggu pesanannya Caca sudah terlebih dahulu menghampirinya. "Ayo Ra!"
"Sebentar," sahut Tiara.
"Ini kak, pesanan-nya," seorang pelayan memberikan paper bag yang berisi satu cup ice cream kepada Tiara.
"Terima kasih," ucap Tiara, dan berlalu dari sana.
"Untuk siapa Ra?" Tanya Caca seraya berjalan menuju mobil.
"Untuk Kak Tomy, kasian tadi dia menunggu kita. Masak cuma kita yang makan," sahut Tiara.
Caca hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban mengerti.
"Ini untuk Kak Tomy," Tiara menyerahkan paper bag yang berisi ice cream yang ia beli tadi, saat sudah masuk kedalam mobil.
"Terima kasih Nona, seharusnya tidak perlu," ucap Tomy sungkan.
"Tidak apa-apa kak Tomy terima saja," sahut Caca.
"Kalau begitu, sekali lagi terima kasih Nona," ujar Tomy seraya menerima pemberian dari Tiara dan menaruhnya di kursi penumpang sampingnya.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja sekarang Kak Tomy," ucap Tiara.
"Baik Nona."
Dengan perlahan mobil yang di kendarai Tomy melaju menuju mansion.
*
*
Malam hari.
Alex dan Tiara sedang berbaring di ranjang bersiap untuk tidur.
"Apa kau senang hari ini menikmati ice cream dengan gadis nakal itu, hmm?" Tanya Alex, seraya mendekap tubuh Tiara dalam pelukannya.
"Mas, tau?"
"Tentu saja, apa yang tidak aku tau!" Alex yang mulai sombong.
'Pasti Kak Tomy yang memberitahunya,' batin Tiara.
Tiara kemudian menengadahkan kepalanya hingga pandanganya bisa menjangkau wajah Alex. "Maaf, aku tadi lupa kasih kabar," ujar Tiara dengan raut wajah menyesal.
"Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali kau harus memberitahuku! Mengerti?" ucap Alex seraya mencubit pipi Tiara yang sekarang sedikit tembem.
"Ok, ya sudah ayo tidur. Aku besok ada pelatihan sebelum ujian," sahut Tiara, yang kemudian memejamkan matanya, dengan memeluk tubuh Alex.
"Mas apa kamu ganti parfum?" tanya Tiara tiba-tiba dan membuka matanya kembali.
Alex menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Tiara. "Tidak, memangnya kenapa? Bahkan aku sekarang tidak memakai parfum."
"Tapi baunya enak Mas." Tiara semakin mengeratkan pelukannya, dan mulai memejamkan mata. Hingga tidak lama sudah terdengar dengkuran halus.
Alex mengintip wajah istrinya yang sekarang berada di pelukannya, ternyata sudah terlelap. "Cepat sekali oleh tidur," cetus Alex.
...----------------...
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin 😊...
__ADS_1