
Saat tengah malam tiba, Rey baru saja kembali. Langkah kakinya segera menuju ke arah kamar di mana mungkin istrinya sudah tertidur. Pikirnya.
Rey tertegun ketika melihat pintu kamarnya dalam keadaan terbuka. "Tumben sekali tidur pintunya di biarkan terbuka!" gumam Rey.
Saat Rey sudah masuk ke dalam kamar, ternyata dirinya tidak mendapati istrinya. Tujuannya sekarang adalah mencari Caca ke dalam kamar mandi. Tapi tetap saja Rey tidak mendapatinya.
Dengan langkah lebar Rey segera menuju dapur berharap istrinya ada di sana, dan hasilnya sama saja. Tidak ada.
Rasa panik mulai menderanya. Rey mencoba menghubungi ponsel Caca, tapi tidak lama telinga Rey menangkap sayup-sayup suara dering ponsel.
Akhirnya Rey memutuskan mencari di dari mana sumber suara itu berasal. Dan ternyata suara dering ponsel itu berasal dari ponsel Caca yang tergeletak di atas ranjang. "Sayang, kamu dimana?" gumamnya panik.
Karena panik Rey berlari ke arah kamar Mama Mona. Dengan tidak sabaran Rey menggedor kamar Mama Mona dengan keras.
"Mom," teriaknya dengan tangan yang masih menggedor pintu kamar Mama Mona.
Hingga tiga kali teriakkan Rey pintu kamar itu baru terbuka dari dalam. Terlihat Mama Mona masih dalam keadaan mengantuk dengan sesekali menguap. "Ada apa Rey? Ini sudah malam," kesal Mama Mona melihat kelakuan anaknya itu.
"Ma ... istriku hilang," serunya dengan raut wajah panik dan tegang.
Mama Mona menaikkan satu alisnya mendengar perkataan Rey. Kemudian menoleh ke arah ranjangnya yang terdapat seseorang sedang tertidur lelap. Mama Mona kembali menatap ke arah Rey.
"Ma ... tadi Rey pulang, Caca sudah tidak ada di dalam kamar. Rey sudah mencarinya ke seluruh rumah, tapi juga tidak ada --"
"Stop," potong Mama Mona. Mendengar celoteh Rey membuatnya sedikit pusing.
"Kenapa, Ma?" Rey heran, kenapa mamanya tidak ikut panik seperti dirinya. Padahal Caca adalah menantunya.
Mama Mona menghembuskan nafasnya kasar. "Caca tidur di kamar Mama Rey," ujar Mama Mona.
__ADS_1
"Huh."
Rey yang baru paham perkataan Mama Mona, seketika ingin melihat istrinya. Tapi Mama Mona berdiri di ambang pintu untuk menghalangi Rey masuk.
"Mah ... Rey mau masuk," keluh Rey. Tapi Mama Mona tetap pada posisinya.
"Kenapa istri Rey tidur di sini Ma? Padahal tiap hari juga tidur dengan Rey. Rey juga bisa menghangatkannya jika Caca kedinginan, Rey bahkan --"
Pletak
"Ouch. Mama ...." Rey yang mengusap keningnya karena sentilan Mama Mona.
Sedangkan Mama Mona jengah melihat Rey yang terus maracau yang mulai tidak jelas arahnya. "Makanya, kamu itu jangan pulang larut malam. Tadi istri kamu ketakutan tidur sendiri gara-gara film hantu yang di lihatnya. Sudah, malam ini istri kamu biar tidur dengan Mama," tutur Mama Mona.
Mama Mona kemudian masuk kembali ke dalam kamar, bahkan mengunci
kamarnya dari dalam.
Rey menyunggar rambutnya frustasi. "Bagaimana dengan nasibnya?" keluhnya dengan arah pandang matanya ke arah bawa perutnya. "Pasti akan kisut dan puret, apalagi hujan-hujan begini," Rey hanya menatap nanar adik kecilnya yang malam ini akan kesepian. Padahal hari ini adalah waktunya untuk berbuka puasa, setelah beberapa hari berpuasa siang dan malam.
*
*
Siang hari. Ketika di kantor, Alex dengan serius mendengar laporan dari Riko. "Tuan, dari anak buah yang saya perintahkan. Tidak ada laporan anak hilang yang cocok dengan wajah anak kecil itu. Mereka sudah mengecek di seluruh kantor polisi yang berada di kota Jakarta ini." Lapor Riko.
Alex menghembuskan nafasnya kasar. Tidak mungkin anak kecil itu tidak mempunyai keluarga. Lalu bagaimana bisa ia berada di bawah pengawasan preman itu. Apalagi anak itu tidak mengingat apapun, yang di ingatnya hanya ketika ada seorang perempuan yang membawanya seminggu yang lalu dan menyerahkannya pada preman-preman itu. Itu pun setelah Alex menyuruh Tiara untuk bertanya lagi pagi tadi. "Ya sudah, suruh anak buamu tetap mencari informasi dari segala sumber."
"Baik, Tuan." Setelah itu Riko segera keluar dari ruang kerja Alex.
__ADS_1
Alex menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. "Apakah tidak akan terjadi apa-apa di kemudian hari, jika anak itu tetap tinggal di mansion?" gumamnya dengan memijat pangkal hidungnya.
Ada ketakutan tersendiri di hati Alex. Jika di lihat, Zio sepertinya anak orang berada. Terlihat dari kulitnya yang putih bersih dan wajah yang tampan rupawan seperti dirinya.
Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada seseorang yang mencari keberadaanya?. Alex takut jika istrinya terlanjur menyayanginya, dan kemudian hari ada yang mengaku keluarganya lalu membawa Zio pergi darinya. Alex tidak bisa membayangkan bagai mana perasaan istri yang begitu dicintainya akan sangat terluka. "Mudah-mudahan ini akan berakhir baik," gumamnya.
***
Sedangkan di mansion, hanya ada Tiara yang menemani Zio bermain di taman belakang. Mommy dan Papa sedang pulang ke Bogor untuk beberapa hari. Kata Mommy hanya ingin melihat rumahnya saja, karena sejak kepulangannya dari mencari Tiara dan Caca, Mommy dan Papa belum pulang lagi ke Bogor.
"Sayang, ayo tidur siang dulu. Ini sudah jam satu," ajak Tiara seraya melihat yang berada di ponselnya.
Zio yang sedang asik memainkan mobil mainan yang baru di belikan Tiara secara online segera meletakkannya dan berjalan menghampiri Tiara yang sedang duduk di kursi. "Ayo, Tante," sahut Zio.
"Ya sudah, ayo. Tapi sebelum tidur jangan lupa cuci kaki dan tangan dulu," ujar Tiara.
Zio menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tiara yang gemas langsung mengacak rambut coklat Zio, setelah itu berjalan masuk ke dalam mansion dan menuju kamar yang di tempati Zio. Dan benar saja, saat baru masuk kamar Zio segera menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Tiara tersenyum melihat itu, bagaimana Zio sangat patuh terhadap ucapannya. Tiara dengan segera menyetel suhu ac di kamar Zio, setelah melihat Zio sudah keluar dari kamar mandi.
Zio dan Tiara sudah berbaring di atas ranjang. Dengan memeluk guling, Zio membelakangi Tiara. Tangan Tiara tak henti mengusap kepala Zio agar cepat terlelap. Udara sejuk yang keluar dari pendingin udara membuat Zio cepat terlelap, apalagi tangan Tiara yang penuh kasih sayang terus membelainya.
Melihat tidak ada pergerakan dari Zio, Tiara mencoba untuk melihatnya dari samping. Dan Zio sudah tertidur, terlihat dari tarikan nafas teratur Zio.
"Sudah tidur rupanya," gumam Tiara. Lalu memposisikan kembali berbaring di samping Zio, dengan tangan yang tak berhenti mengusap rambutnya.
"Jika saja tuhan mengizinkan, ingin sekali aku memiliki zio untuk di sisiku. Tapi bagaimana dengan keluarga zio? Pasti mereka juga akan merasa kehilangan. Mungkin untuk saat ini biarkan Zio tetap di sisiku, apakah aku terlalu serakah jika ingin memilikinya?" batin Tiara.
...----------------...
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN. TERIMA KASIH, SEMOGA SEHAT SELALU. AMINN 😊