
Pagi hari di rumah yang di tempati Tiara, masih belum menunjukkan tanda-tanda aktifitas di sana.
Setelah semalam Tiara dan Alex yang memang kesulitan untuk tidur.
Hingga jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi Tiara baru bangun. "Ya ampun, kesiangan!" Pekik Tiara ketika matanya tertuju pada jam dinding yang berada di kamarnya.
Dengan segera tangannya mengambil ponsel yang berada di atas nakas, di layar ponsel-nya tertera beberapa panggilan dari no cafe miliknya. "Pasti mereka menghawatirkan aku," gumam Tiara.
Karena memang sebelum-sebelumnya Tiara tidak pernah terlambat ke cafe. Dengan segera Tiara menghubungi karyawannya, mengatakan kalau hari ini dirinya tidak akan pergi ke cafe karena ada urusan.
Setelah melakukan panggilan pada karyawan cafe-nya, tujuannya sekarang adalah kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin membuatnya segar, karena sejak hamil Tiara selalu merasa gerah.
15 menit kemudian, ritual mandi telah selesai. Tiara tampak lebih segar dengan rambut-nya yang masih setengah basah, dan baju daster berlengan pendek dengan panjang di atas lutut yang membalut tubuhnya.
Sejak kehamilannya yang semakin membesar, Tiara memang lebih nyaman memakai daster jika di rumah.
Setelah selesai menyisir rambutnya, Tiara segera berjalan ke arah kamar Caca. "Apa Caca belum pulang?" gumamnya.
Klek.
Tiara mengedarkan pandanganya pada kamar yang bercat warna pink itu., ternyata masih kosong. "Jadi beneran Caca tidak pulang! Tumben sekali tidak mengabari," gerutu Tiara. Kehamilannya membuat Tiara sedikit cerewet dari biasanya, apalagi menyangkut Caca yang seperti adiknya.
Tiara keluar kembali dari kamar Caca, tujuannya sekarang adalah dapur. Karena sedari tadi anaknya terus saja aktif bergerak, mungkin karena sudah merasakan lapar.
Saat langkahnya menuju dapur, kakinya tiba-tiba berhenti di depan pintu kamar yang di tempati Alex.
Tangan-nya tiba-tiba saja terangkat untuk mengetuk pintu, tapi sebelum terjadi Tiara mengurungkan niat-nya. Rasanya dirinya masih canggung untuk berinteraksi dengan suaminya.
Klek.
Seketika pintu kamar Alex terbuka dari dalam, Alex yang terlihat sudah segar sepertinya baru saja selesai mandi dengan pakaian yang sama seperti yang dia kenakan kemarin.
Tubuh Tiara membeku saat berhadapan dengan Alex, sungguh perasaan-nya sekarang tidak bisa di gambarkan. Rasanya ada rasa kecewa, tapi juga terselip rasa kerinduan di sudut hatinya.
Tiara segera mengelus perut buncitnya, ketika merasakan gerak anaknya yang tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" Tanya Alex saat melihat istrinya yang diam di depan pintu kamarnya.
"Uhm ... hanya sekedar lewat saja," sahut Tiara sedikit gugup, dan segera melenggang pergi menuju dapur.
Ada senyuman yang terselip di bibir Alex melihat tingkah Tiara. "Ternyata masih menggemaskan seperti dulu," gumam Alex dengan senyum yang semakin lebar.
Akhirnya Alex memutuskan mengikuti Tiara yang sedang berada di dapur.
"Sayang, kenapa kamu lebih aktif," ucap Tiara dengan mengelus perutnya, seakan-akan anaknya bisa membalas ucapannya.
Tiara mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin untuk dia masak. Dan sesekali juga mengobrol dengan anaknya yang berada di dalam kandungan.
Tiara tidak menyadari jika Alex sedari tadi telah memperhatikannya dari belakang. Rasanya Alex sendiri juga ingin menyentuh anaknya yang berada di perut Tiara, tapi takut jika Tiara tidak akan mengizinkannya.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Alex.
__ADS_1
Tiara seketika mengarahkan pandanganya pada Alex. "Tidak, ini hampir selesai," jawab Tiara.
Karena Tiara hanya memasak nasi goreng yang dicampur orek telur dan sedikit sayuran, tidak lupa juga taburan bawang goreng kesukaannya.
Hingga beberapa saat nasi goreng buatan Tiara matang. Alex membantu untuk membawakan dua piring nasi goreng ke meja makan. Dan di susul Tiara dengan membawa secangkir teh hijau untuk suaminya, dan segelas perasan lemon hangat.
"Hanya ada nasi goreng," ucap Tiara saat sudah duduk di meja makan dengan Alex.
"Iya, aku juga suka nasi goreng, apalagi buatan istri sendiri," sahut Alex.
Mendengar itu pipi Tiara merona seketika.
Akhirnya mereka berdua makan dengan hening, hingga Alex mengingat ucapan Rey di telfon tadi pagi ketika Alex akan tidur.
"Uhm ... tadi jam tiga pagi Rey telfon," ucap Alex memberitahu Tiara.
Tiara yang hampir menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya dia urungkan, dan menatap Alex yang berada di depannya.
Alex juga melakukan hal yang sama, menatap Tiara. "Rey bilang ...."
Alex sendiri juga bingung harus bagaimana menyampaikannya, karena kabar yang cukup mendadak.
Tiara tetap memandang Alex lekat, menunggu lanjutan kalimat Alex.
"Rey bilang ... sedang bersama Caca, dan katanya mereka sudah menikah," ujar Alex.
Mata Tiara seketika membulat mendengar penjelasan dari Alex. Pasalnya kemarin siang Caca masih mengabarinya kalau dia akan ke mall untuk mencari dvd drakor.
***
Di kamar hotel yang di tempati pengantin baru itu, nyatanya mereka masih terlelap.
Caca menggeliat dalam tidurnya, saat panggilan Alam mengusik tidurnya. Yang ia perlukan saat ini adalah hanya kamar mandi.
Dengan perlahan matanya mengerjap saat sinar matahari masuk lewat sela-sela gorden mengenai matanya.
Caca merasakan ada tangan kokoh seseorang yang mendekap tubuh polosnya, bahkan wajahnya terasa nyaman saat menempel pada dada bidang orang itu.
Tangan Caca meraba apa yang ada pada hadapannya. Matanya masih menyesuaikan dengan pencahayaan lampu kamar yang temaram.
Tiba-tiba saja tangannya di cekal seseorang. Rey.
"Apa kau ingin menggodaku sayang? hmm!" ucap Rey dengan mata yang masih terpejam.
Mata Caca seketika terbuka lebar saat mengetahui siapa pemilik suara itu. Caca segera menjauhkan tubuhnya dari Rey, tapi Rey semakin mendekapnya erat.
"Uncle, kenapa Uncle ada di sini? Dan apa yang sudah kita lakukan!" Ucap Caca panik, apalagi saat mengetahui kalau dirinya dan Rey sekarang dalam keadaan polos. Rasa nyeri pada bagian bawahnya tiba-tiba saja ia rasakan, bertambah panik pula sekarang.
Potongan-potongan memori percintaannya dengan Rey semalam sekarang menghiasi ingatan Caca.
"Huaaaa," Caca yang menangis begitu kencang. Hingga membuat Rey bangun terduduk, begitu pun Caca.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rey bingung dengan istrinya yang tiba-tiba saja menangis.
"Uncle, kenapa Uncle lakukan ini?" Tanya Caca di sela-sela tangisnya, dengan tangan yang memegang erat selimut pada dadanya.
Rey hanya menautkan alisnya mendengar ucap Caca.
"Karena aku sudah tidak peraw*n lagi, bagaimana jika aku menikah dan suamiku tidak bisa menerima keadaanku." Caca yang mulai meracau.
Rey seketika mengulum bibirnya, ternyata Caca tidak mengingat jika dirinya sudah menikah. Yang di ingatnya hanya malam pertamanya saja dengan Rey.
"Kenapa Uncle hanya diam saja," cetus Caca sebal, yang melihat Rey hanya bersikap santai.
"Terus apa yang harus aku lakukan?" tanya Rey dengan menahan senyumnya.
Tangisan Caca tiba-tiba berhenti saat mendengar pertanyaan Rey. "Iya ya, Uncle harus melakukan apa?" ucap Caca polos.
"Apa harus orang yang sudah menikah, jika ingin melakukan hal yang seperti kita lakukan?" tanya Rey.
Dengan cepat Caca menganggukkan kepalanya. "Tentu saja Uncle," jawab Caca cepat.
Rey seketika tersenyum lebar. "Kalau begitu ayo kita lakukan lagi," ajak Rey dengan mengerlingkan matanya.
Mata Caca langsung membulat. "Uncle, itu tidak benar, itu hanya boleh di lakukan oleh orang yang sudah menikah. Dan kita sekarang ini sedang melakukan kesalahan," jelas Caca menggebu-gebu.
"Apakah kau begitu menikmati malam pertama kita! Sehingga kau tidak mengingat kita sudah menikah!" ucap Rey seraya membaringkan Caca kembali keranjang.
Sedangkan Caca tidak menyadari perbuatan suaminya, karena otaknya masih mencari kepingan memori yang hilang. Hingga beberapa saat tubuhnya menegang, ketika mengingat pernikahan dadakannya dengan Rey.
Mata Caca sekarang semakin melebar saat melihat Rey yang sudah mengungkungnya. "U-uncle," ucap Caca terbata.
"Kenapa hm? apa kau sudah mengingatnya!" Rey dengan seringai di wajahnya.
"A-aku mau ke toilet," ucap Caca. Caca tau setelah ini apa yang akan terjadi padanya jika tidak menghindar dari Rey.
"Oh, ok," Rey segera beranjak dari atas tubuh Caca. Dan dengan cepat menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Uncle," pekik Caca saat tubuh polosnya sekarang terpampang nyata begitupun dengan Rey. Bahkan Caca tidak berani untuk menoleh ke arah Rey.
"Baiklah ayo ke kamar mandi," ujar Rey dan langsung menggendong Caca menuju kamar mandi. "Ku rasa untuk sementara kau akan kesulitan untuk berjalan," imbuh Rey.
Caca hanya menyusupkan wajahnya pada dada bidang Rey, memang benar apa yang di ucapkan suaminya.
"Uncle, keluarlah," usir Caca, saat Rey sudah mendudukkannya di closet.
Rey segera berbalik, tapi bukanya keluar, Rey malah menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Ada seringai di wajah Rey.
Hingga acara di kamar mandi yang tadinya sebentar, harus menjadi berjam-jam.
...----------------...
...Maaf telat up, habis kondangan dulu 😊🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin 😊...