DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Accident


__ADS_3

"Sayang maafkan Daddy tidak bisa datang. Ehm ... bagaimana kamu dan Mami datang ke kantor Daddy untuk makan siang bersama. Setelah itu kita beli mainan," bujuknya.


Ada perubahan dari raut wajah Zio. "Apa Daddy tidak bohong?" Ia masih sedikit tidak percaya.


"Tentu, Daddy berjanji." Alex menunjukkan jari kelingkingnya.


Senyuman tampannya menghiasi wajah Zio. "Ok."


"Ya sudah, berikan ponselnya pada Mami."


"Mas."


"Datanglah ke kantor, aku tunggu."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


"Hati-hati di jalan."


"Iya."


Tut.


"Ca, kamu mau ikut ke kantor Mas Alex?" tanya Tiara.


Caca menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ra. Punggungku mulai terasa pegal," tolaknya dengan mengusap punggungnya.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Hati-hati di jalan."


Setelah itu mereka berdua berpisah dan menaiki mobil masing-masing. Di dalam mobil Zio tidak berhenti berceloteh. Ia berencana akan menceritakan aksi panggungnya kepada Alex sesampainya nanti di kantor. Dan Tiara lega melihat putranya yang tidak lagi marah dengan Daddy-nya.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada dua mobil hitam yang sedari tadi terus membuntutinya.


Hingga beberapa saat, Tomy yang sedang serius pada jalanan di depannya mulai merasa aneh. Tanpa sengaja ia melihat dari kaca spion dua mobil yang di rasa dari tadi mengikutinya. "Nona berpeganglah pada kursi," Tomy yang memberi peringatan karena akan memacu kendaraanya lebih cepat.


Tiara yang sedang mendengarkan celoteh Zio segera mengalihkan perhatiannya pada Tomy. "Ada apa kak?" herannya.


"Nona sepertinya ada yang mengikuti mobil kita," jelas Tomy. Sedetik kemudian Tomy segera memacu mobilnya.


Bahkan, Tiara yang belum siap sedikit terhempas ke belakang. Begitupun dengan Zio. Tiara segera menarik Zio masuk ke dalam pelukannya. Rasa panik seketika melandanya, pikirannya seketika melayang ke beberapa bulan yang lalu, situasi yang hampir sama pernah menimpanya. Ketika Alan menculiknya.


"Mami ...." panggil Zio yang sekarang hanya bisa memeluk Maminya dengan erat dan wajah yang bersembunyi di dada Tiara. Tiara saja bisa merasakan takut apalagi untuk Zio.


"Tenanglah tidak ada apa-apa, ada Mami di sini yang akan selalu melindungi Zio." Tiara mencoba menenangkan putranya. Dirinya sendiri dengan tangan gemetar mencoba mengambil ponsel yang berada di dalam tas-nya.


Ketika ponsel sudah berada di tangannya, hanya nama suaminya yang menjadi tujuannya. "Kenapa tidak di angkat?" gumamnya bercampur rasa panik. Mungkin Tiara lupa jika suaminya masih belum selesai meeting.


Hingga panggilan ke sekian kalinya, Alex masih belum juga mengangkatnya. "Semoga tidak terjadi apa-apa," monolog Tiara. Karena Tomy masih memacu kendaraanya dengan kencang.


Tomy sendiri juga segera melakukan panggilan pada seseorang untuk membantunya. "Toni, sekarang ada yang sedang membuntuti mobil Nona. Segera lacak melalui gps." Tanpa menunggu jawaban Tomy segera mematikan sambungan teleponnya. Karena ia yakin Toni akan bertindak dengan cepat setelah ia menghubunginya.

__ADS_1


Alex memang masih memerintahkan Toni untuk mengawasi keadaan istrinya jika sedang berada di luar mansion. Apalagi sekarang juga di tambah dengan adanya Zio.


Entahlah kenapa siang itu jalanan yang biasanya ramai lalu lintas, mendadak menjadi sepi. Seharusnya sekarang sudah ramai di padati oleh para pekerja yang akan makan siang. Ini semakin membuat Tomy semakin waspada. Ia tak mau gagal lagi menjaga majikanya seperti beberapa bulan lalu.


"Kak Tomy, apakah mereka masih mengikuti kita?" Tiara yang sesekali menoleh ke arah belakang mobilnya.


"Iya, Nona mereka masih mengikuti kita. Saya akan berusaha untuk menghindar," sahut Tomy dengan mata yang masih lurus ke depan.


***


Sedangkan seseorang di dalam mobil yang mengejar Tiara, ia sedikit kesal karena anak buahnya yang masih belum berhasil menyusul mobil Tiara. "Kenapa kalian lambat sekali," bentaknya.


"Maaf, Nyonya. Sepertinya mereka menyadari keberadaan kita," sahut salah satu anak buahnya.


"Aku tidak mau tahu, cepat kejar mobil mereka dan tangkap segera." titahnya.


"Baik, Nyonya."


Mobil hitam itu akhirnya juga melesat dengan kecepatan tinggi agar bisa menyusul mobil yang di kendarai Tomy.


Di lain tempat, Mommy sedari tadi mondar mandir di dalam kamar. Entahlah, wanita paruh baya itu tiba-tiba merasakan gelisah yang tidak tahu apa penyebabnya. Sebenarnya Mommy berencana kembali pagi tadi dari Bogor, tetapi harus ia urungkan saat melihat Papa Nathan yang tiba-tiba mengeluh kepalanya pusing.


"Mom, ada apa?" tanya Papa Nathan yang berbaring di ranjang. Sedari tadi ia memperhatikan istrinya yang seperti memikirkan sesuatu.


"Tidak, Pah. Hanya saja tiba-tiba aku merasa gelisah. Entah kenapa!" Mommy yang mendudukkan dirinya di samping Papa Nathan dengan tangan yang saling meremas.


"Coba kamu hubungi saja Alex atau Tiara. Tanyakan pada mereka apa semuanya baik-baik saja," saran Papa.


Dan kemudian melanjutkan menghubungi Tiara, tapi kemudian hanya suara operator yang menjawab di luar jangkauan. "Tiara juga sama Pa, nggak bisa di hubungi." Mommy yang sedikit putus asa.


"Coba kamu hubungi Tito saja, mungkin ia tau sesuatu." Papa yang mengingat keberadaan Tito di mansion. Dan langsung di lakukan oleh Mommy.


"Tito apa di mansion baik-baik saja?" tanya Mommy ketika sambungan tersambung.


(""")


"Kemana Tiara pergi?"


(""")


"Ya ampun aku lupa, jika hari ini pentas seni di sekolah Zio!" gumam Mommy yang baru ingat. Karena sebelum pulang ke Bogor, Mommy tau kalau Zio sedang berlatih menyanyi untuk acara pentas seni. "Apa mereka belum pulang?"


(""")


"Baiklah, kalau mereka sudah pulang segera hubungi aku."


(""")


Tut.

__ADS_1


"Bagaimana Mom?" Papa yang juga tidak sabar mendengarnya.


"Tiara sedang menghadiri acara pentas seni di sekolah Zio, Pa. Dan kata Tito, mereka belum pulang." Mommy masih sedikit khawatir, meskipun sudah tau kabar anak dan cucunya.


"Kalau begitu, nanti sore kita pulang saja." Papa berujar.


"Apa Papa sudah baik-baik saja?" Mommy masih ragu dengan usul Papa. Takutnya Papa masih sakit.


Papa Nathan menggenggam tangan Mommy. "Cukup di buat tidur sebentar nanti pasti akan sembuh, lagi pula tadi juga sudah minum obat," sahut Papa.


"Baiklah kalau begitu." Mommy akhirnya menemani Papa Nathan tidur, agar sore nanti bisa kembali ke mansion.


Tidak jauh beda dengan Mommy, Alex sendiri yang sekarang masih sedang meeting mulai fokus. Alex tadi mengubah mode ponselnya menjadi silent, berharap agar fokus dan cepat menyelesaikan meeting yang gak kunjung selesai itu.


Tapi ada sesuatu yang sedang menganggu pikirannya, bayangan istri dan anaknya yang selalu terlintas. Alex kemudian mengangkat tangannya, yang membuat semua peserta meeting segera mengarahkan pandanganya pada dirinya. "Meeting kita tunda setelah jam makan siang," ujarnya dan segera berlalu dari sana. Riko yang heran hanya bisa mengikuti tuanya dari belakang.


Saat di ruangannya Alex segera mengeluarkan ponselnya. Dan terkejut melihat banyak panggilan dari istrinya dan Mommy. Baru saja Alex akan menghubungi Tiara, Toni lebih dulu menelponnya.


"Ada apa?"


("")


Brak.


Alex seketika menggebrak meja, setelah mendengar kabar dari toni. Rahangnya mengeras dengan pandangan penuh amarah. "Cepat, lakukan tugasmu. Dan jangan sampai kau terlambat. Ingat, aku tidak mau secuil saja melihat mereka terluka."


(""")


Tut.


Alex segera beranjak dari sana. "Tuan," panggil Riko.


"Cepat bawah anak bua mu sebanyak mungkin, ada tikus yang mau bermain-main denganku." Riko dengan segera melakukan perintah tuanya dan keluar dari kantor.


***


Tomy semakin bingung melihat banyak jalan yang di tutup, apalagi mobil yang mengikuti mereka semakin dekat.


"Nona, jika terjadi sesuatu. berpeganglah dengan erat." pesan Tomy yang mulai gelisah. Belum juga Tiara menjawab, ternyata mobilnya sudah di tabrak dari belakang.


Brakk.


"Aaaaaa."


*


*


*

__ADS_1


...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn....


__ADS_2