
Pagi hari di mansion sudah seperti biasanya, semua bersiap untuk aktivitas masing-masing. Tetapi bedanya pagi ini, Tiara yang juga sudah rapi. Seperti apa yang di katakan kemarin, hari ini ia akan menghadiri acara pentas seni di sekolah Zio.
Meskipun semalam Alex sempat membujuknya kembali, dan hasilnya di menangkan oleh Tiara. Tapi itu semua tidak gratis untuk Tiara, ia harus menggantinya dengan olahraga ranjang. Entahlah, suaminya itu tidak ada capeknya jika menyangkut urusan ranjang.
Berbeda dengan Alex. Alex memang lebih meminta hak nya, karena selain untuk mempermudah menjelang persalinan ia juga memanfaatkan waktu yang tinggal menghitung hari sebelum ia berpuasa.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Alex ketika mereka bertiga berjalan beriringan ke arah dua mobil yang berbeda.
"Sudah," sahut Tiara seraya merapikan dasi suaminya yang sedikit miring. "Sempurna," ucapnya dengan tersenyum setelah melihat tampilan suaminya yang sudah rapi.
"Aku memang sempurna, buktinya kamu tergila-gila padaku." Alex yang mulai mengeluarkan rasa percaya dirinya.
Tiara hanya mencebikkan bibirnya mendengar itu. Tidak ingatkah jika dulu Alex yang memaksanya agar mau menikah dengannya, ya ... meskipun sekarang mereka sudah sama-sama memiliki rasa cinta.
Melihat ekspresi yang di tampilkan istrinya, sungguh sangat menggemaskan bagi Alex. Dan secepat kilat ia mencuri satu kecupan di bibir istrinya.
"Mas," pekik Tiara dengan menepuk lengan suaminya. "Malu banyak orang," Tiara mengedarkan pandanganya. Benar saja di halaman sudah banyak pekerja mulai dari scurity, tukang kebun, dan Tomy yang berdiri di samping mobil. Tapi di antara mereka tidak ada yang berani melihat ke arah majikanya yang sedang bermesraan.
"Mereka tidak ada yang --"
"Mami, ayo kita berangkat. Nanti kita akan terlambat," teriak Zio dari dalam mobil. Sedari tadi ia sudah menunggu Maminya, tapi tidak kunjung datang.
Alex dan Tiara menoleh ke arah Zio yang berada di dalam mobil. "Ck, lihat putramu mengganggu saja keromantisan kita." Alex berujar dengan raut wajah yang ia buat sedikit kesal.
"Ia juga putramu," Tiara mengoreksi ucapan suaminya. "Dan dia juga sama denganmu tidak sabaran," imbuhnya.
"Dalam hal apa?" Alex yang pura-pura tidak mengerti. "Apa soal olahraga malam kita? Tapi kurasa kau pun juga menyukainya. Bahkan saat aku, ouch." Sebelum Alex meneruskan kata-katanya istrinya itu sudah lebih dulu mencubit roti sobeknya.
"Mas, diam lah. Ya sudah, aku berangkat dulu." Tiara segera menggapai tangan Alex dan menciumnya. Kemudian berlalu masuk ke dalam mobil yang Zio sudah menunggunya.
"Kenapa dia semakin menggemaskan," gumam Alex dengan tersenyum, melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu jika ia menggodanya dengan urusan ranjang.
Tak lama kedua mobil itu beriringan keluar mansion untuk ke tujuan masing-masing. Alex juga tadi sempat memperingatkan Tomy agar selalu berada di dekat istrinya.
__ADS_1
Di dalam mobil yang melaju Tiara sendiri tersenyum mengingat ucapan suaminya sebelum berangkat. "Ya ampun, kenapa jadi panas begini." Tiara mengipaskan kedua tangannya ke arah wajah. Rasanya sekarang pipinya sedang merona mengingat kata mesum suaminya.
Zio seketika menoleh ke arah Tiara. "Mami, di dalam mobil sudah dingin." Celetuk Zio. Mengira Tiara yang kegerahan karena merasa panas.
"Huh," Tiara hanya memaksakan senyumnya ke pada putranya yang sekarang menatapnya dengan heran.
***
Baru saja Tiara dan Zio turun dari mobil, ia sudah mendengar suara cempreng seseorang.
"Ara ...."
Tiara menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu. Siapa lagi kalau bukan Caca. Semalam Tiara menawari Caca untuk menemaninya menghadiri acara di sekolah Zio, dan Caca dengan senang hati menyetujuinya. Karena suami dan mertuanya sedang sibuk di pabrik.
"Ca, kamu itu sedang hamil. Jangan buru-buru kalau jalan." Tiara memperingatkan ketika ia melihat Caca yang menghampirinya dengan sedikit berlari.
Caca hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya seraya mengusap perutnya yang sekarang terlihat sedikit membuncit di usia kandungan yang menginjak empat bulan.
"Tidak, aku di antar supir mama. Tadi mama berangkatnya bareng sama Uncle," sahut Caca.
"Oh ...."
Kemudian mereka akhirnya masuk kedalam salah satu ruangan yang berada di sekolah Zio. Ruangan itu sudah di hias sedemikian rupa untuk acara pentas seni yang sebentar lagi akan berlangsung. Tiara dan Caca sudah duduk di bangku paling depan. Dan tidak lupa sudah menyiapkan ponsel untuk mengabadikan aksi panggung Zio. Dari pojok ruangan terlihat Tomy yang mengawasi Tiara seperti titah Alex.
Sedangkan Zio sudah bergabung bersama teman-temanya, untuk latihan satu kalai lagi sebelum mereka manggung. Dan setelah itu berganti pakaian yang sudah di siapkan oleh pihak sekolah.
Hingga jam setengah sepuluh Alex juga belum datang. Padahal sebentar lagi giliran Zio yang akan tampil.
Hingga tiba waktunya, Zio dan teman-temanya sudah berdiri di atas panggung dan siap untuk bernyanyi.
Tiara dapat melihat arah pandang putranya yang mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Alex, yang berjanji akan menyusul ke sekolah. Tapi sekarang ia tak menemukanya.
"Zio," teriak Tiara untuk menghibur putranya yang terlihat sedikit muram. "Semangat," imbuhnya setelah Zio melihat ke arahnya.
__ADS_1
Akhirnya Zio dan teman-temanya berhasil mempersembahkan nyanyian dan tari yang apik. Tidak lupa Tiara dan Caca yang juga mengabadikannya dengan ponsel pintar mereka.
"Wah ... kamu hebat Zio," Caca menunjukkan dua jempol tangannya pada Zio yang menghampiri Tiara.
"Terima kasih Aunty," sahutnya dengan tersenyum senang. Kemudian menoleh pada Tiara. "Mami, Daddy tidak datang?"
"Mungkin sebentar lagi, sayang. Mami tadi juga sudah mengirimkan video saat kamu bernyanyi pada Daddy."
"Benarkah?" Zio yang terlihat antusias.
"Hm."
***
Setelah jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, acara pentas seni itu berakhir sudah. Dan ternyata Alex yang ternyata tidak bisa hadir.
Saat mereka berempat berjalan ke arah tempat mobil mereka terparkir, ponsel Tiara berdering menandakan panggilan masuk. Setelah di lihat ternyata Alex yang menghubunginya dengan video call.
"Sayang maafkan aku tidak bisa datang ke sana," saat panggilan tersambung kata pertama itulah yang keluar dari mulut Alex dengan nada menyesal. Pasalnya meeting yang di ikuti nya ternyata tidak sesuai prediksinya, karena sampai saat ia menghubungi Tiara kini pun meeting itu belum selesai dan ia meminta waktu sebentar untuk menghubungi istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Tapi --" Tiara melirik ke arah Zio yang berada di sebelahnya. Sedari tadi Zio hanya menekuk wajahnya, yang merajuk karena tidak hadirnya sang Daddy.
"Baiklah, aku ingin bicara dengan jagoan ku." Alex yang mengerti maksud Tiara.
"Hei jagoan Daddy," sapa Alex setelah wajah putranya menghiasi layar ponselnya. Tapi masih tidak ada sahutan dari pria kecil itu.
*
*
*
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih semoga sehat selalu. Amin....
__ADS_1