
Beberapa hari berlalu.
Hari ini Tiara berniat untuk menjemput Zio ke sekolah. Sudah lama ia tidak menjemput putra tampannya itu semenjak ia sibuk dengan El.
Tiara memutuskan berangkat lebih awal, mumpung bayi tampan itu sudah terlelap. Karena ia akan mengunjungi seseorang dahulu. Sudah lama ia tidak berjumpa, bukanya ia lupa hanya saja keadaan yang membuatnya tidak sempat.
"Mom, Tiara berangkat dulu." pamitnya dan mencium punggung tangan Mommy.
"Hati-hati di jalan sayang, bilang pada Toni jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Mommy yang mengingatkan.
"Iya, Mom."
Sejak kejadian penculikan terakhir, Alex tidak membiarkan Zio tanpa pengawasan. Sehingga Tommy akan berada di sekolah Hingga jam pulang tiba.
Begitupun Tiara yang tidak di perbolehkan keluar rumah sendirian, dan Toni yang akan mengantarkan jika ingin bepergian.
Padahal tanpa sepengetahuan mereka, Alex juga memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi dari jauh.
***
Di dalam mobil Tiara mengotak atik ponselnya untuk mengirim pesan pada Alex. Karena ia tidak mau suaminya tau lebih dulu dari orang lain.
"Kak, stop di sini." Tiara yang tiba-tiba menghentikan mobil. Saat tak sengaja matanya melihat toko bunga. "Kakak tunggu di sini dulu ya, aku cuma sebentar mau beli bunga," jelasnya dan kemudian berjalan menuju toko.
"Selamat pagi Nona," sapa pegawai toko begitu Tiara masuk ke dalam toko. "Mau cari bunga yang seperti apa?"
"Saya mau sebuket bunga lili putih."
"Kalau begitu silahkan tunggu dulu, saya akan mempersiapkannya." Setelah mempersilahkan Tiara duduk, pegawai itu beranjak dari sana untuk mempersiapkan bunga pesanan Tiara.
Hingga beberapa saat pegawai itu datang menghampiri Tiara dengan sebuket lili putih yang sudah di rangkai dengan cantik. "Silahkan, Nona."
Setelah melakukan pembayaran, Tiara kembali masuk ke dalam mobil. "Kak, kita mampir dulu ya ke suatu tempat."
__ADS_1
"Baik, Nona." Toni yang menyanggupi. Tapi ada keraguan terlihat di wajahnya. "Uhm, Nona. Apa Nona sudah memberitahu Tuan?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Toni. "Maaf, jika saya lancang." imbuhnya merasa tidak enak.
Tiara hanya tersenyum mendengar pertanyaan Toni, ia tahu kalau Toni tidak bermaksud apa-apa. "Sudah, kak. Tadi aku sudah memberitahu lewat pesan."
Akhirnya mobil yang di kemudikan Toni melaju sesuai dengan instruksi dari Tiara. Hanya butuh dua puluh menit mereka sampai di tujuan.
Toni hanya menatap heran tempat yang akan di kunjungi majikanya, tapi ia juga tidak mempertanyakannya.
Kaki Tiara mulai memasuki tempat yang beberapa hari ini selalu ada di pikirannya. Tempat yang sepi dan hanya ada pepohonan yang cukup membuat tempat itu tampak sejuk.
Hingga tak lama Tiara berdiri di samping makam yang batu nisannya sedikit usang.
Ya, Tiara menyuruh Toni untuk mengantarkannya ke makam. Beberapa hari ini ia tiba-tiba merindukan seseorang yang telah lama meninggalkannya. Salah satu orang yang berharga dalam hidupnya.
Tiara berjongkok dan menaruh bunga lili yang di bawahnya di depan nisan yang bertuliskan nama Angga.
"Hai, kak. Maaf, adikmu ini baru sempat datang berkunjung." ucapnya. Meskipun ada senyuman di bibir Tiara, tapi suaranya sedikit bergetar saat menyapa seseorang yang sudah berbeda alam dengannya. "Bagaimana kabar kakak?"
"Asal kakak tau, anak Tiara sangat tampan. Mungkin selain dari suami Tiara yang tampan, juga karena Tiara mempunyai kakak yang tampan seperti kak Angga."
Tiara menjeda ucapannya dan menarik nafas dengan dalam kemudian membuangnya secara kasar. Dadanya tiba-tiba terasa sesak begitu saja.
Flashback On.
Tiara remaja yang baru saja pulang sekolah, terburu-buru berjalan ke arah sebuah toko. "Maaf Bu, Tiara sedikit terlambat. Tadi ada jam tambahan di sekolah," jelasnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Tidak apa-apa. Memang seharusnya begitu, kamu harus mementingkan sekolahmu terlebih dahulu." ucap Ibu pemilik toko. Seorang janda yang baik hati mau memberi pekerjaan kepada Tiara dengan membantu menjualkan barang dagangannya.
Tiara yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP itu, diam-diam berjualan minuman botol. Menjajakannya di jalan raya saat lampu merah.
Ia akan memberikan alasan kepada ibunya mendapat jam pelajaran tambahan di sekolah. Meskipun majikan ibunya juga baik terhadapnya, selalu memberikan uang saku untuk sekolah tapi ia tidak mau berpangku tangan.
Uang yang di hasilkan, akan ia tabung. Karena jika sewaktu-waktu ia memerlukan uang untuk kebutuhan sekolah, Tiara tidak akan meminta kepada ibunya.
__ADS_1
"Bu, Tiara berangkat dulu." Pamitnya setelah mengganti seragam atasnya dengan kaos yang ia bawa dari rumah.
"Hati-hati kalau di jalan, jangan ngelamun." Pesan Ibu pemilik toko yang setiap hari ia sampaikan kepada Tiara saat mulai berjualan.
"Iya, Bu."
Tiara mulai berjalan di area lampu merah. Menunggu lampu lalu lintas itu berubah jadi merah, dan ia akan menjajakan dagangannya.
Sebenarnya pekerjaan itu tidak begitu aman bagi Tiara. Karena harus benar-benar waspada. Selain waspada pada kendaraan yang melintas, Tiara juga harus waspada pada anggota Satpol PP yang kapan saja beroperasi. Jangan sampai ia tertangkap.
Hingga sore menjelang, sudah waktunya Tiara untuk pulang. "Hari ini lumayan ramai jualannya," Tiara tersenyum melihat dagangannya yang hanya tertinggal dia botol saja air mineral.
Di saat berjalan kembali ke toko, mata Tiara tidak sengaja melihat seseorang yang sedang duduk kelelahan. Sepertinya baru saja mendorong sepeda motornya yang kehabisan bensin.
Akhirnya Tiara memutuskan untuk menghampirinya. "Apa kakak membutuhkan bantuan?" tanyanya pada laki-laki itu.
Laki-laki itu menoleh kepada Tiara yang sedang menunggu jawabannya. "Oh, sepedaku kehabisan bensin. Dan parahnya aku ketinggalan dompet, juga ponselku yang kehabisan baterai." jelasnya.
Tiara kemudian mengambil uang dari saku roknya, dan mengambil beberapa lembar uang. "Ini kakak ambil saja, mungkin cukup untuk membeli satu liter bensin." Dengan menyodorkan pada laki-laki itu.
"Oh, tidak usah. Aku cukup istirahat sebentar, setelah itu aku akan mendorongnya lagi. Kos-kosanku sudah dekat," tolaknya halus.
Mana mungkin ia tega menerima uang itu. Ia tahu mungkin untung dari jualan Tiara tidak seberapa.
"Tidak apa-apa kak, terima saja. Aku ikhlas membatu kakak." Tiara yang kemudian meletakkan begitu saja uang di samping laki-laki itu duduk dan sebotol air mineral. "Ya sudah kak, aku pulang dulu. Soalnya sudah sore." Setelah mengatakan itu Tiara segera berlalu dari sana.
"Hei ... aku tidak mau," teriak laki-laki itu. Tapi sia-sia karena Tiara sudah berjalan jauh. "Baru kali ini aku bertemu orang yang mudah sekali memberikan uangnya," gumamnya sambil menatap uang dan air mineral yang berada di tangannya.
...----------------...
...Jangan lupa vote, like dan komentar ya say....
...Matanya sudah nggak mau di ajak kompromi, jadi di sambung besok. Ok ☺...
__ADS_1