
Hingga siang menjelang, Tiara masih tak mendapati tanda-tanda Caca akan pulang. Sedari tadi dirinya seperti setrikaan yang sedang mondar-mandir.
Hatinya merasa tak tenang, setelah mendengar kabar dari Alex. Bukanya tak senang mendengar kabar itu hanya saja ini terlalu mendadak. Dan pikirannya adalah, apakah Caca terpaksa melakukanya! Seperti dirinya dulu. Betapa berat menjalani-nya dulu, dan sekarang ....
"Minumlah dulu." Alex yang baru datang dengan segelas air putih di tangannya.
Tiara segera menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Alex menginterupsinya. "Terima kasih," ucap Tiara seraya mengambil air yang di berikan Alex, dan meminumnya hingga tandas.
"Duduklah, mungkin mereka sebentar lagi akan pulang," ujar Alex menenangkan.
"Tapi mereka sampai sekarang belum pulang Mas, dan Caca sudah ku hubungi dari tadi juga tidak bisa," cetus Tiara.
Alex menghembuskan nafasnya pelan, istrinya sekarang sedikit keras kepala. Apakah ini efek kehamilan?
"Apakah seperti ini rasanya bersabar?" batin Alex.
Tiara tetap melanjutkan mondar mandir-nya. Hingga beberapa saat langkahnya terhenti ketika merasakan sesuatu pada perutnya.
"Ish ....," Tiara seketika mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa kencang.
"Kenapa?" Tanya Alex khawatir. Yang melihat Tiara mendesis dan mengusap perutnya.
Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, hanya saja terasa sedikit kencang," jelas Tiara, sesekali menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskan nya.
"Duduklah," Alex menarik tangan Tiara agar duduk di sofa. "Apa kita perlu ke rumah sakit?"
Tiara menuruti Alex menyuruhnya untuk dudu. "Tidak usah Mas," tolak Tiara.
"Tapi, kalau nanti terjadi apa-apa pada bayinya bagaimana?" Tanya Alex yang masih khawatir. "Tunggulah di sini sebentar."
Alex segera pergi ke arah luar rumah. Tiara hanya memandang bingung kelakuan suaminya.
Hingga beberapa saat Alex kembali dan menghampiri Tiara. "Ayo cepat," ujarnya. Dan segera menggendong Tiara.
"Mas," pekik Tiara saat Alex menggendongnya begitu saja. "Kita mau kemana?" Tanya Tiara saat Alex menggendongnya ke luar rumah dan sudah ada taksi yang menunggu.
"Diam lah, kita akan ke rumah sakit," cetus Alex dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Tapi ini tidak apa-apa," jelas Tiara, saat sudah berada dalam taksi. Tapi Alex tak menghiraukannya.
"Pak, kita ke rumah sakit terdekat," perintah Alex pada supir taksi.
"Baik Pak," sahut supir taksi.
Tiara hanya mendengus melihat Alex yang tidak mau mendengarkannya. Dengan erat Alex menggenggam tangan Tiara, menyalurkan rasa hangat. Tiara tidak tau harus bicara apa melihat tingkah laku suaminya sekarang. Ada sedikit rasa bahagia yang menyelinap di hatinya.
Taksi melaju ke arah rumah sakit terdekat sesuai dengan permintaan Alex, hingga beberapa saat taksi yang di tumpangi Alex dan Tiara sampai di rumah sakit.
Lagi-lagi Alex menggendong Tiara, karena tidak membiarkan Tiara untuk berjalan. Takut-takut nantinya akan terjadi sesuatu. Tiara hanya bisa menyusupkan wajahnya pada dada bidang Alex, karena tidak sedikit pasang mata yang mengarah pada mereka, sungguh Tiara rasanya 'malu'
__ADS_1
Sekarang Alex sudah berada di depan ruangan khusus OBGYN. Setelah tadi melakukan pendaftaran dan di rujuk ke poli kandungan.
"Ibu Tiara," teriak perawat dari ambang pintu, untuk memanggil pasien.
Alex dengan segera menggendong Tiara untuk masuk.
"Mas, aku bisa jalan sendiri," protes Tiara. Tapi Alex masih tidak mendengarkannya.
Banyak ibu-ibu hamil yang sedang menunggu antrean yang terpesona oleh sikap Alex. Bagaimana tidak, sudah tampan, bule, perhatian dengan istri, dan postur tubuh yang sempurna. Nikmat mana lagi yang kau dusta kan.
"Ya ampun beruntung sekali yang jadi istrinya."
"Andai saja suamiku seperti itu."
"Aku rela kalau harus tukar tambah suami seperti dia."
"Kenapa cuma ada satu ya tuhan, yang seperti dia."
Begitulah jeritan hati para ibu-ibu hamil lainya.
Di dalam ruangan, Alex langsung menuju ranjang untuk memeriksa pasien. Dengan perlahan Alex membaringkan Tiara, seolah Tiara adalah barang yang mudah pecah.
"Loh Ibu Tiara," ucap seorang wanita cantik yang mengenakan jas putih khas seorang Dokter. Arumi.
Ternyata Dokter Arumi adalah Dokter yang biasa menangani Tiara saat cek up. Arumi kemudian mengarahkan pandanganya pada Alex, karena selama Tiara Cek up biasanya yang menemani adalah Caca. "Tuan ini siapanya Ibu Tiara?"
Arumi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan berjalan ke ara Tiara yang sedang berbaring di ranjang. "Ibu Tiara keluhannya apa?" tanya Arumi.
"Ha --"
"Tadi perutnya tiba-tiba terasa kencang," sela Alex.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Alex.
Arumi segera memeriksa keadaan perut Tiara, yang sudah ia singkap terlebih dahulu daster Tiara, dan menarik selimut hingga bagian bawah perut. Dengan menekan secara perlahan.
"Baik, sekarang kita lakukan usg ya Bu Tiara, suaminya juga bisa melihat perkembangannya nanti," ucap Arumi.
Arumi menaruh jel yang terasa dingin di kulit perut Tiara dan segera menempelkan transducer dengan menggesernya. Hingga tampaklah sosok bayi kecil yang sedang meringkuk di layar monitor bewarna hitam putih itu.
Alex yang sedari tadi memperhatikan jalanya pemeriksaan, seketika mengalihkan pandanganya pada arah monitor. Rasa haru langsung menghinggapinya, melihat malaikat kecilnya yang sekarang masih nyaman di perut istrinya. Betapa jahat sekali ia selama ini tidak menemani perkembangannya yang sedang tumbuh dalam kandungan Tiara.
Hingga beberapa saat Arumi mendengarkan suara detak jantung bayi mereka. Betapa indahnya bunyi itu, hingga menggetarkan hati Alex. Cairan bening yang berada di pelupuk matanya akhirnya luruh membasahi pipi Alex.
Perhatian Tiara tak lepas dari Alex, melihat suaminya yang terharu melihat kondisi anaknya.
"Sudah selesai Bu," ucap Arumi dan segera berjalan ke arah mejanya.
Alex membantu Tiara untuk bangun, setelah tadi perawat membersihkan jell yang ada pada perutnya.
__ADS_1
Dengan perlahan Alex menuntun Tiara berjalan, ke kursi depan meja Dokter.
"Tuan, kandungan Ibu Tiara tidak apa-apa. Dan bayinya juga sehat. Kencang yang dirasakan Ibu Tiara bisa di sebabkan beberapa faktor, kelelahan, mengangkat beban berat atau karena stres," jelas Arumi.
Alex dapat bernafas lega, setelah mendengar penjelasan dokter wanita di depannya. Begitupun juga Tiara.
***
Tiara akhirnya kembali pulang, setelah tadi Arumi meresepkan beberapa vitamin untuknya.
Tiara sekarang berada di dalam kamarnya, berbaring di ranjang dengan tumpukan bantal untuk menyangga punggungnya.
"Kenapa Caca masih belum kasih kabar!" gumamnya dengan menatap layar ponsel yang berada di tangannya.
Klek.
Alex masuk kedalam kamar Tiara dengan membawa nampan yang berisi makanan dan air putih.
Tiara segera mengalihkan perhatiannya pada Alex yang baru saja datang.
Alex meletakkan nampan nya di atas nakas sebelah ranjang Tiara. Dan mengambil piring yang sudah berisi nasi dan beberapa lauk.
"Makanlah, ini sudah siang mungkin anak kita sudah lapar," ujar Alex. Setelah duduk di ranjang samping Tiara dengan menaikkan sebelah kakinya ke atas ranjang.
Tiara mendengus, ternyata cuma anaknya yang di pikiran Alex.
"Ibunya pasti juga lapar," ucap Alex dengan tersenyum.
Wajah Tiara yang tadi sempat di tekuk, seketika ada senyuman yang menghiasi bibirnya.
Tiara melihat piring yang berada di tangan Alex, dahinya langsung berkerut. "Mas pesan dari Cafe?" Tanya Tiara. Yang mengetahui menu itu adalah menu dari cafe-nya.
"Hm, karena aku takut kamu tidak akan menyukainya jika aku memesankan makanan dari restoran lain," jelas Alex. "Ya sudah ayo makan," ujar Alex seraya mengarahkan sendok yang sudah berisi nasi dan lauk ke mulut Tiara.
"Mas, aku bisa makan sendiri," sergah Tiara.
"Tidak, aku yang akan menyuapi," ucap Alex tegas dan tidak ingin di bantah.
Tiara akhirnya menuruti ucapan Alex, makan dengan di suapi suaminya.
Saat di sela-sela acara makan mereka tiba-tiba ada yang membuka pintu, hingga perhatian mereka teralihkan pada seseorang yang baru datang.
Klek.
...----------------...
...Maaf baru sempat up, karena kesibukan cari uang di dunia nyata 😊...
...Jangan lupa vote, like dan komen. Kalau di kasih hadian aku juga mau 😀. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin. ...
__ADS_1