
Tiara merasa salah tingkah ketika, Mommy dan Caca yang masih saja terus menatapnya. Untung saja tadi Tiara memutuskan untuk memakai baju turtleneck, untuk menutupi leher dan dadanya yang seperti macan tutul.
"Apa Papa sudah dari tadi ada di sini?" Alex mencoba mengalihkan perhatian, saat tau Tiara yang mendapat tatapan menyelidik dari Mommy dan Caca.
"Tadi sepulang kerja Papa mampir kesini, karena belum sempat melihat keadaan Caca," jawab Papa dengan menoleh ke arah Caca.
Caca yang mendengarnya, seketika senyuman terbit di bibirnya. Merasa bahagia banyak orang yang menyayangi dirinya.
"Ya sudah kalau begitu Papa dan Mommy pulang dulu," ucap Papa seraya berjalan menghampiri Mommy dan Caca. "Ayo Mom."
"Sayang ... Mommy pulang dulu ya! Besok Mommy kesini lagi," pamitnya.
Caca menganggukkan kepalanya. "Ya Mom, terima kasih seharian sudah menjaga Caca."
"Nggak boleh ngomong kayak gitu, kamu juga anak Mommy. Jadi sudah kewajiban orang tua menjaga anaknya," ujarnya seraya mengusap kepala Caca.
Caca tersenyum mendengar jawaban Mommy. "Tapi tidak dengan orang tua Caca, Mom." batinnya.
***
Setelah kepulangan Mommy dan Papa, Tiara duduk di samping Caca. Mata Tiara terlihat sedikit memerah dan sesekali menguap.
"Ara kamu ngantuk?" Tanya Caca.
"Nggak," elaknya.
"Itu mata kamu merah."
"Tadi cuma kena debu, ya sudah ... kamu tidur aja," suruh Tiara.
"Tapi aku belum ngantuk."
Klek.
Pintu ruangan Caca terbuka, semua mengarahkan pandanganya pada seseorang yang baru masuk.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Alex.
"Cuma mau bantu jagain aja," jawab Rey dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rey kemudian berjalan masuk dan duduk di sofa sebelah Alex.
"Modus," cetus Alex.
Sedangkan Rey tak mendengarkan celotehan Alex, yang ada sekarang hanya mengarahkan pandanganya pada Caca.
Caca seketika memalingkan wajahnya, setelah kejadian waktu Rey menciumnya entah kenapa rasanya Caca begitu canggung sekarang.
***
"Tuan ini pesanan anda." Riko datang setelah membeli apa yang di suruh Alex.
"Baiklah, kau boleh pulang," ujar Alex, seraya mengambil tiga paper bag dari Riko.
"Baik, tuan." Baru saja kaki Riko akan keluar dari ruang rawat Caca, suara Alex menginterupsinya. "Riko, sebelum itu tolong hubungi Tommy suruh jemput kesini," perintahnya yang di angguki Riko.
"Apaan?" tanya Rey saat Alex membuka paper bag dari Riko.
__ADS_1
"Ponsel," sahutnya. Dengan fokus mengotak atik ponsel yang berada di tangannya.
"Buat gue satu ya!" Ucap Rey dengan tersenyum penuh harap.
Alex seketika menoleh padanya, "Ck, ini buat istri gue sama tuh anak nakal. Lo beli sendiri jangan kayak orang susah," cibirnya.
Rey hanya berdecak mendengar itu.
"Lo nanti yang jagain Caca, gue mau pulang. Kasian Tiara seharian ini kecapean," ujar Alex dengan mengedikkan dagunya ke arah Tiara yang tertidur di samping Caca dengan posisi duduk.
Rey menaikan satu alisnya. "Bukanya lo tadi seharian di mansion?" Rey yang merasa heran.
"Gue tadi nggak ke mansion, tapi ke apartemen. Ngurus orang tua si brengs*k, setelah itu gue ajak dia olah raga ranjang sampek sore," jelasnya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas membentuk senyuman.
Mata Rey membulat mendengar penjelasan Alex. "Dasar kampret lo," umpatnya.
Sedangkan Alex hanya tersenyum dengan mengarahkan pandanganya pada Tiara yang tertidur.
*
*
23.00 WIB
Alex memasuki kamar, dengan Tiara yang berada di gendongannya. Alex tidak tega jika membiarkan Tiara tidur di rumah sakit, apalagi besok Tiara mulai sekolah kembali.
Dengan perlahan Alex membaringkan Tiara di ranjang, memandangi wajah ayu istrinya. Masih teringat jelas di ingatannya kejadian tadi siang, mengambil sesuatu yang berharga darinya.
Alex merapikan beberapa anak rambut yang terburai di wajah Tiara agar tidak mengganggu tidurnya.
"Ungh," Tiara menggeliat, beberapa kali mencoba mengerjabkan matanya. Yang pertama dia lihat adalah wajah Alex yang berada di hadapannya. "Mas," ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Kemudian mengedarkan pandanganya, merasa ada yang berbeda dengan ruangan yang ia lihat sebelum tidur.
"Hmm."
"Terus Caca bagaimana?" tanya Tiara sedikit panik.
"Ada Rey di sana yang menjaganya."
"Tapi tadi aku belum pamit sama Caca."
"Bagaimana mau pamit, tadi pas kita pulang tuh anak nakal juga sudah tidur," jelas Alex. "Ya sudah sana ganti baju, nanti tidurnya tidak nyaman," perintahnya, tapi ada senyuman tersembunyi yang Tiara tidak tahu.
Dengan langkah malas Tiara menuju ke lemari dan mengambil piyamanya yang berbahan satin. Setelah selesai Tiara kembali merebahkan dirinya di ranjang, sedangkan Alex segera melepaskan pakainya dan hanya menyisakan bokser saja yang melekat di tubuhnya.
Dengan cepat Alex merebahkan dirinya di samping Tiara, dengan tangan yang mengelus perut rata Tiara. "Apakah dia sedang di proses?" gumamnya.
Tiara yang baru saja memejamkan mata, sekarang terbuka kembali saat mendengarkan gumaman suaminya.
"Mas, baru tadi siang kita melakukanya. Sel telur juga membutuhkan proses untuk pembuahan," jawab Tiara. Tiara tahu tentang hal itu karena ada di pelajaran biologi.
"Kena kau sayang," batin Alex yang sengaja memancing Tiara.
"Kalau begitu kita harus rajin membuatnya, agar dia cepat sampai bertemu," ucapnya dengan tersenyum lebar.
Sedangkan Tiara hanya membulatkan matanya, mendengar ucapan Alex.
"Mas," pekik Tiara, saat tangan Alex sudah bergerak bebas di balik piyamanya.
__ADS_1
"Hanya sebentar," ucapnya. Dengan segera Alex mengungkung Tiara di bawah kendalinya dan mengulang apa yang terjadi tadi siang.
***
Sedangkan di rumah sakit Rey masih memperhatikan Caca yang tertidur pulas. Tapi Rey sedikit kesal saat tau Bayu masih juga berada di luar ruangan Caca untuk menjaganya.
"Ra ...." Gumam Caca dengan mata yang masih terpejam.
Rey seketika mendekat ke arah Caca, dengan reflek menggenggam tangannya.
Caca yang merasakan sentuhan di tangannya, dengan perlahan membuka matanya. Dan betapa terkejutnya, bahwa yang berada di dekatnya adalah Rey.
"Uncle," ucapnya.
"Apa lo perlu sesuatu?"
Caca menganggukkan kepalanya. "Aku haus Uncle," ucapnya, dan seketika memalingkan wajahnya.
Rey mengambilkan minum Caca yang berada di atas nakas. "Ini."
Untung minum yang di ambilkan Rey sudah ada sedotannya, hingga Caca tidak susah-susah untuk bangun.
"Terima kasih," ujar Caca setelah selesai meneguk minumannya.
"Hmm ..."
Caca mengedarkan pandanganya, mencari keberadaan Tiara. "Uncle, di mana Tiara?"
"Tadi Alex membawanya pulang, katanya kecapean?" jawab Rey.
"Kecapean!" ulang Caca.
"Iya, tadi seharian Alex mengajaknya olah raga ranjang."
"Huh ...."
"Udah, loh masih kecil gak usah tau yang begituan," cibir Rey.
"Hala, meskipun aku anak kecil, tetep aja Uncle juga pernah nyosor," seloroh Caca. Saat menyadari perkataanya Caca segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Rey tersenyum miring mendengarnya. "Apa lo mau mencobanya lagi? Gue yakin baru gue yang pertama ngerasain bibir lo."
"Huh ...."
Rey dengan segera menarik tangan Caca yang menutupi mulutnya, dan mendekatkan wajahnya ke arah Caca. Baru saja kedua bibir itu akan bertemu.
Tok.
Tok.
"Nona, capat anda istirahat." Teriak Bayu dari luar.
"****."
...----------------...
Maaf hari ini up-nya telat, karena kesibukan di dunia nyata.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komenya. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn .