
Plak.
Satu tamparan tepat mendarat di pipi kiri Alex dari Mommy. Dengan nafas memburu Mommy menatap Alex penuh amarah.
"Alex, belum sehari Mommy pergi, tapi berani sekali kau membuat kedua putriku pergi!" Bentak Mommy.
Sedangkan Alex hanya diam membisu menerima amarah dari Mommy.
Mommy bahkan langsung berangkat dari Bogor di tengah malam, setelah menerima telfon dari Pak Tito. Pak Tito segera memberitahu Mommy tentang keributan yang terjadi antara Alex dan Tiara.
Di mansion siapa yang tidak tahu tentang keributan yang terjadi, semua pelayan mendengar dan melihatnya. Tapi lagi-lagi tidak ada yang berani untuk ikut campur.
"Alex, Mommy dulu ingin menjodohkan Tiara dengan-mu, karena Mommy tahu Tiara gadis yang sangat baik," ucap Mommy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tapi Mom, Tiara tidak sebaik yang Mommy pikir," bantah Alex.
"Dari mana-nya Tiara tidak baik, Alex?" Tanya Mommy.
Alex segera mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan foto Tiara yang sedang di peluk Andrian. "Mom lihatlah, Tiara berpelukan dengan Andrian. Orang yang dulu merebut Bella dariku," ucap Alex yang menggebu-gebu.
Mommy hanya tersenyum sinis setelah melihat foto itu dan perkataan Alex. "Kenapa harus Bella, Bella dan Bella lagi. Alex, sudah dari dulu Mommy bilang Bella bukan orang yang baik. Kamu selalu berpikiran Andrian yang merebut Bella, tapi bagaimana jika Bella sendiri yang berpaling dan memilih Andrian?" Ucap Mommy. "Dan, apa kau pikir hanya sebuah foto bisa menjelaskan semuanya? Apa kau mendengar penjelasan dari Tiara? Pasti tidak kan!" Ujar Mommy sarkas.
Alex terdiam mendengarkan perkataan Mommy, ingatan tentang kejadian beberapa jam yang lalu mulai berputar di otak-nya.
Melihat Alex terdiam semakin membenarkan semua ucapan Mommy. "Jangan harap Mommy akan memaafkan mu sebelum Tiara kembali!" Ancam Mommy, setelah itu Mommy beranjak pergi dari mansion.
Papa Nathan yang sedari tadi menyaksikan sikap Alex, sedikit merasa kecewa terhadap putra-nya itu. Papa Nathan berjalan mendekati Alex yang masih terdiam. "Alex, apa kamu ingat apa yang Papa katakan sebelum kamu menikah?"
Lamunan Alex buyar seketika mendengar pertanyaan Papa, Alex mengarahkan pandanganya pada Papa dan mengingat kembali apa yang pernah di ucapkan Papa.
Papa Nathan menghembuskan nafasnya pelan, melihat reaksi Alex. "Dulu Papa pernah bilang, jangan pernah sakiti Tiara, kalau tidak Papa sendiri yang akan menjauhkan-mu dari Tiara. Dan hal itu kini terjadi. Jadi cepat temukan Tiara, kalau Papa yang menemukan terlebih dahulu, Papa tidak akan segan-segan akan membawa Tiara pergi sejauh mungkin, ke tempat yang tidak akan pernah bisa kau temukan," tegas Papa. Dan berlalu dari sana menyusul Mommy.
Sepeninggal Mommy dan Papa, Alex semakin bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Alex tidak bisa menemukan apa itu. "Aarrrggghhh..!" teriak-nya frustasi dengan menyunggar rambutnya kasar.
*
*
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Keadaan Alex semakin kacau, memikirkan masalah dengan istrinya yang belum terselesaikan.
Tiara yang sampai sekarang belum di temukan, begitupun dengan Caca yang juga ikut menghilang.
Semua orang sudah berusaha mencarinya, termasuk Anak buah Riko, Rey, dan anak buah Papa Nathan. Tapi hasilnya tetap sama, mereka seperti hilang di telan bumi.
Di perusahaan, Alex seperti dulu lagi sebelum menikah dengan Tiara. Hanya aura dingin yang menyelimutinya.
__ADS_1
Klek.
"Tuan, di luar ada Tuan Bima dari perusahaan Baskara Group," lapor Sheryl.
Alex yang sedari tadi serius memeriksa berkas, seketika menghentikan-nya dan menatap Sheryl yang berada di depannya. "Sudah ku katakan, kalau untuk urusan Bella serahkan pada Riko," ucapnya dingin.
Sheryl langsung memegang tengkuknya. "Kenapa sekarang setiap aku masuk kesini jadi merinding," batin Sheryl.
Bella sendiri nyata-nya sampai sekarang tetap tidak bisa mendekati Alex, meskipun Tiara sudah pergi. Alex benar-benar berubah, meskipun Alex tidak menyadari, tapi hilangnya Tiara dari sisinya sangat berpengaruh terhadapnya.
"T-tapi Tuan, Tuan Bima datang sendiri ke sini dan ingin bertemu dengan anda," jelas Sheryl.
Alex menautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan kedatangan Bima yang tiba-tiba.
"Baiklah, kalau begitu suruh dia masuk," perintah Alex.
"Baik, Tuan," sahut Sheryl dan pergi keluar dari ruangan Alex.
Hingga beberapa saat, Bima masuk ke dalam ruangan Alex.
"Silahkan duduk," Alex mempersilahkan.
Terlihat dari wajah Bima yang serius, sepertinya ada sesuatu yang penting ingin di sampaikan.
"Pak Alex, saya ingin memberitahukan sesuatu! Tapi saya mohon Tuan, setelah ini mohon maafkan Bu Bella," ujar Bima.
Bima sejenak meraup udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan dadanya yang sedikit sesak. "Tuan Alex, masalah yang terjadi di antara Tuan Alex, Nona Tiara dan Tuan Andrian, sebenarnya ada campur tangan Ibu Bella," terang Bima.
Bima memejamkan matanya setelah mengatakan itu, semenjak kejadian satu bulan yang lalu, dirinya selalu dihantui rasa bersalah pada keluarga Alex.
Sebenarnya saat Bella menelfon dengan anak buah-nya untuk melaksanakan rencananya, saat itu Bima ingin masuk ke ruangan Bella karena akan menyerahkan beberapa laporan. Tapi Bima urungkan saat mendengar percakapan Bella dengan anak buah-nya.
Awalnya Bima ingin menulikan pendengarannya dan menutup mata dengan perbuatan Bella, tapi Bima justru dihinggapi rasa bersalah. Apalagi mendengar kepergian Tiara.
Akhirnya dengan tekat kuat, Bima mendatangi Alex dan menceritakan semua.
Brak.
Alex menggebrak mejanya kuat, setelah mendengar penjelasan dari Bima. "Brengs*k," Teriak Alex. Dengan segera Alex berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Bima.
Alex mencengkeram kuat kerah baju Bima. "Kenapa kau baru bilang sekarang, huh," bentak Alex dengan suara menggelegar.
"Maafkan saya," lirih Bima yang tak berniat membalas Alex.
"Maaf kau bilang, setelah semuanya terjadi! Tidak akan pernah," geram Alex, dan menghempaskan tubuh Bima hingga tersungkur di lantai.
__ADS_1
Klek.
"Tuan," ujar Riko yang langsung masuk ke dalam ruangan Alex, setelah tadi mendapat laporan dari Sheryl kalau ada yang tidak beres.
Alex seketika menatap horor Riko. "Riko, cepat hancurkan Baskara Group," ucap Alex dingin.
"Tuan saya mohon jangan lakukan itu! Bagaimana nasib ratusan karyawan jika perusahaan hancur, dan kasihanilah Pas Baskara yang membangunnya dari nol," mohon Bima.
Inilah yang di takutkan Bima, saat Alex mengetahui semuanya. Sebelumya Bima menutupi ini juga karena Bella adalah temanya sejak kecil, dan Pak Baskara yang sudah teramat baik padanya. Tapi bagaimana mungkin Bima tega melihat kehidupan orang lain hancur karena obsesi teman masa kecil-nya.
*
*
Hari telah berganti malam, Alex telah memutuskan meng-akuisisi perusahaan Bella. Sedangkan untuk Bella, Alex mengirimnya jauh ke kota terpencil hingga Bella tak akan bisa kembali lagi kesini. Itu semua karena permohonan Bima, agar Alex mau mengampuni Bella, meskipun rasanya ingin sekali Alex membunuhnya.
Sekarang tujuan Alex adalah mencari Tiara secepatnya dan membawanya pulang kembali, meskipun itu rasanya akan sulit.
Saat mobil Alex keluar dari pelataran perusahaan, tiba-tiba mobilnya hampir saja tertabrak mobil lain.
Pengemudi dari kedua mobil itu langsung keluar, tapi pandangan mereka seketika menajam saat menyadari siapa pengemudi mobil itu.
Andrian.
Alex.
"Kau," ucap Alex penuh penekanan.
Andrian mengarahkan pandanganya pada mobil Alex. "Apa kau bersama istri kecilmu?" tanya Andrian tersenyum sinis.
Alex menautkan kedua alisnya, sejak kapan Andrian tau kalau Tiara adalah istrinya.
"Kalau kau tidak berhati-hati dalam mengemudi, maka itu akan berbahaya untuk calon anakmu," ujar Andrian.
Deg.
Tiba-tiba jantung Alex terpompa lebih cepat seketika setelah mendengar ucapan Andrian.
"A-apa maksudmu?" tanya Alex sedikit bergetar.
Kini giliran Andrian yang menautkan kedua alisnya, mendengar ucapan Alex. "Jangan bilang kau tidak mengetahui kalau istrimu sedang hamil," ucap Andrian dengan tatapan mata menelisik.
Saat itu juga Alex merasakan dunia-nya hancur seketika.
...----------------...
__ADS_1
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊...