
Alex yang berada di dalam mobil heran kenapa istrinya tidak ada tanda-tanda keluar, padahal semua para pelajar sudah keluar dari tadi.
"Kenapa lama sekali," gerutunya.
Alex berinisiatif untuk masuk kedalam area sekolah, saat baru saja kakinya melewati gerbang sekolah.
Matanya melihat istrinya sedang berbicara dengan seorang siswa, Alex melangkahkan kakinya ke arah Tiara saat akan semakin dekat dirinya baru tau bahwa siswa itu adalah siswa yang sama tadi pagi.
Dengan langkah cepat. "Sayang," ucapnya dengan memeluk pinggang Tiara posesif.
"Huh," Tiara seketika menoleh ke arah pemilik tangan itu.
Alan sendiri juga terkejut dengan tindakan yang baru saja di lakukan Alex.
"Ya ampun apa yang baru saja aku lakukan," batin Alex, tapi bagaimana lagi semuanya sudah terlanjur.
"O-Om," ucap Tiara dengan masih menatap ke arah Alex.
"Sayang," ucapnya lagi. "Kenapa belum keluar aku sudah menunggu dari tadi," imbuhnya dengan tersenyum tampan.
"Ya ampun ternyata suamiku jika tersenyum begini terlihat sangat tampan, tapi kenapa aku jadi takut," batin Tiara, hingga beberapa saat di mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Uhm, i-itu aku tadi sedang mengobrol sebentar Om," jawabnya dengan tersenyum kaku dan kemudian mengalihkan pandangan pada Alan.
"A-Alan kalau begitu aku pergi dulu," ucapnya, entah kenapa Tiara sekarang menjadi gugup apalagi tangan Alex yang sejak tadi memeluk pinggangnya.
"Tunggu! Kenapa kau tidak memperkenalkan temanmu," selah Alex.
Gleg.
Dengan susah payah Tiara menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Harus mengenalkan sebagai siapa," batin Tiara.
"Oh, i-iya," jawab Tiara kemudian mengarahkan pandanganya pada Alan. "Alan kenalkan i-ini Om Alex anak Mommy Jessy," ucapnya mengambil jalan tengah.
Alan segera mengulurkan tangannya. "Alan Om," memperkenalkan dirinya.
"Hm," jawab Alex acuh seraya membalas uluran tangan Alan.
"Yah sudah kalau begitu, ayo kita pulang," ajaknya pada Tiara.
Tanpa menunggu jawaban Tiara Alex segera menggenggam tangan istrinya itu dan mengajaknya pergi dari sana.
Alan yang melihatnya itu hanya menatapnya dalam diam hingga punggung Tiara dan Alex menghilang dari pandanganya.
Di dalam mobil Alex sedikit kesal dengan Tiara karena tidak memperkenalkannya sebagai suami, padahal sejak awal Alex sudah tau kalau pernikahan mereka akan di sembunyikan dari teman-teman sekolah Tiara.
Tapi entahlah hatinya sedikit tak terima dengan itu.
Tiara yang tau suaminya hanya diam saja juga tidak berani menegurnya, hingga pandanganya tertuju pada jalan yang dilaluinya.
"Om, ini bukan jalan ke mension kan?" Tanya Tiara.
"Hm," jawab Alex tapi pandanganya masih tertuju pada arah jalan.
"Kita mau kemana?" Tanya Tiara lagi.
__ADS_1
Tapi Alex hanya diam saja.
Tiara bingung melihat suaminya yang cepat sekali berubah-ubah suasana hatinya, akhirnya Tiara juga memutuskan untuk diam.
Tak beberapa lama mobil yang di kendarai Alex memasuki kawasan salah satu Mall ibu kota, Tiara hanya menautkan kedua alisnya kenapa tiba-tiba suaminya mengajaknya ke Mall.
"Ayo turun," ajak Alex, yang sepertinya susana hatinya sudah kembali normal.
Dengan patuh Tiara mengikuti langkah Alex masuk ke arah mall.
Alex yang menyadari Tiara berjalan di belakangnya segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Tiara.
"Kenapa kau jalan di belakangku?" Tanya Alex dan menggenggam tangan Tiara untuk berjalan beriringan.
"Apa Om sudah tidak marah?" Tanya Tiara lirih.
"Kapan aku marah," elaknya.
"Tadi Om kan--"
"Kita sudah sampai," selah Alex.
Tiara mengerutkan keningnya saat Alex mengajaknya masuk ke dalam salah satu toko perhiasan.
"Selamat sore Tuan dan Nona, apa ada yang bisa saya bantu," ucap pegawai toko dengan ramah.
"Berikan saya cincin pernikahan," jawab Alex, yang di angguki pegawai toko itu.
"Sebentar Tuan akan saya siapkan," jawabnya.
Tidak lama, pegawai itu datang dengan beberapa model cincin pernikahan.
"Pilihlah," ucapnya kepada Tiara.
"Untuk apa Om?" Tanya Tiara yang merasa bingung.
Alex segera menggenggam tangan Tiara dengan matanya yang menatap lekat manik mata Tiara.
"Maafkan aku, waktu itu aku tidak terpikirkan untuk memberimu cincin pernikahan," ujar Alex.
Alex memang tidak memberikan perhiasan saat mereka menikah, hanya sejumlah uang uang dia berikan untuk di jadikan mas kawin.
Tiara yang melihat kesungguhan Alex dalam setiap perkataanya merasa terharu. "Om Tiara tidak memintanya," jawab Tiara.
"Tapi tetap saja aku merasa bersalah," ucap Alex.
"Menikah? Bukankah gadis ini masih sekolah?" Batin pegawai tokoh, yang melihat Tiara masih mengenakan seragam sekolah.
Akhirnya setelah Tiara menimbang-nimbang, dia memutuskan untuk memilih sepasang cincin yang sederhana namun terlihat elegan.
"Bagai mana kalau yang ini," tanya Tiara seraya menunjukkan pilihannya kepada Alex.
Alex melihat cincin pilihan istrinya, hingga sudut bibirnya terangkat. "Bagus," ucapnya kemudian.
"Kami pilih yang ini," ucap Alex, dan menyerahkan kepada pegawai toko dan blackcard miliknya.
"Baik Tuan silahkan di tunggu sebentar kami akan membuat nota pembeliannya," ucap pegawai toko itu, yang di angguki oleh Alex.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak menginginkan yang lain?" Tanya Alex pada Tiara.
Tiara menggelengkan kepala. "Tidak Om, Tiara masih tidak membutuhkannya," tolak Tiara.
Ada rasa bahagia di hati Alex, ternyata sifat Tiara tidak jauh beda dengan Andien yang tidak menuntut materi dalam sebuah hubungan.
Hingga beberapa saat pelayan datang dan menyerahkan paper bag yang berisi cincin yang di beli Alex.
*
*
Alex sampai di mansion saat matahari sudah tenggelam dalam peraduannya, mereka memutuskan pulang karena ingin menikmati makan malam bersama dengan Mommy dan papa.
"Sayang kamu tadi dari mana sepulang sekolah?" Tanya Mommy di sela-sela makan malam bersama.
Tiara menghentikan kunyahan nya. "Tadi di ajak Om jalan-jalan sebentar Mom," jawabnya.
Mommy hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban mengerti.
Hari kian malam, Alex dan Tiara sudah merebahkan tubuhnya bersiap untuk beristirahat. Tapi kemudian Alex bangkit lagi untuk mengambil paper bag di atas nakas.
Alex mengeluarkan kotak beludru bewarna biru tua dari paper bag yang berisi sepasang cincin.
"Tiara," panggil Alex.
Tiara yang baru saja memejamkan mata kini kembali terbuka, melihat suaminya yang duduk bersila di sampingnya.
"Ada apa Om?" Tanya Tiara yang kemudian ikut duduk bersila.
"Sini tangan kamu," pinta Alex.
Tiara hanya menurut dan memberikan tangan kanannya, kemudian Alex menyematkan cincin yang tadi ia beli di jari manis Tiara.
Seketika mata Tiara berkaca-kaca merasa terharu, Alex menyerahkan cincin satunya kepada Tiara.
"Pasangkan," ucap Alex.
Tiara juga menyematkan cincin di jari manis Alex.
Segera Alex memeluk tubuh kecil istrinya. "Terima kasih," ucapnya, yang di balas anggukan kepalanya yang masih menempel di dada bidang suaminya.
Cup.
Alex mencium pucuk kepala Tiara dan melepaskan pelukannya. "Kalau begitu ayo kita tidur," ucapnya. Dan mendekap kembali istrinya untuk masuk dalam pelukannya.
Di tempat lain Caca yang masih terjaga karena baru selesai menonton drakor secara maraton. "Kenapa jam segini perutku keroncongan!" Gerutunya setelah melihat jam yang sudah pukul 12 malam.
Dengan langkah malas, Caca menuju dapur membuka lemari pendingin yang ternyata tidak ada makanan.
"Huft," dengan langkah malas Caca mengambil kunci mobilnya berniat mencari makanan di restoran cepat saji yang buka 24 jam.
Tapi baru saja Caca keluar dari apartemennya Caca melihat ada seseorang yang tergeletak di lantai.
"Ya ampun itu a-apa? Hantu? Mayat? Zombi? Apa vampir?" Ucap Caca.
Dengan rasa sedikit takut tapi penasaran, Caca mendekati orang itu. Saat sudah dekat mata caca menyipit. "Se-sepertinya pernah ketemu, tapi di mana?" Gumamnya.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn.