
Tiara yang mendengarkan cerita Caca semakin menambah pusing kepalanya.
"Terus kamu nya gimana Ca?" tanya Tiara.
Caca hanya menekuk wajahnya, baru kali ini dia merasakan pusing kembali di kepalanya terakhir dia merasakan pusing saat perceraian kedua orang tuanya.
"Aku nggak tau Ra, sebenernya aku seneng Uncle Rey mau bantu aku tapi ... di sisi lain juga kasian sama Tante Mona," jawabnya lesu.
Tiara hanya menghembuskan nafasnya kasar, nasib Caca tidak jauh beda dengannya, tapi Caca lebih beruntung Rey tidak mengancamnya seperti Alex dulu.
Tiara menatap Caca. "Ca, kalau kamu berat melakukanya lebih baik jangan lakukan, karena jika semua tidak berjalan yang seperti kamu harapkan akan ada banyak hati yang terluka," tutur Tiara.
Caca menatap ke arah Tiara, mungkin memang benar apa yang di ucapkan Tiara.
Entah kenapa tiba-tiba perkataan Rey tentang Alan yang menyukai Tiara terngiang di pikirannya, Caca segera menggelengkan kepalanya.
Meskipun jika benar Alan menyukai Tiara tapi Tiara tidak bersalah dalam hal ini karena Tiara tidak pernah memintanya, bagaimana pun Tiara sudah seperti pengganti orang tua bagi Caca.
Tiara yang melihat Caca menggelengkan kepalanya hanya menatapnya heran. "Ca, kamu kenapa?" Tanya Tiara.
"Ng-nggak apa-apa lagi sedikit pusing aja," elaknya.
Drrtt.
Drrt.
Tiba-tiba ponsel Tiara yang ada di atas meja depannya berdering, saat di lihatnya ternyata suaminya yang menelfon.
"Halo Om," saat Tiara menjawab telfon.
("")
"Pulang jam berapa?" Tanya Tiara dengan pipi yang bersemu merah.
("")
Caca pun juga tak lepas melihat ekspresi sahabatnya yang malu-malu saat berbicara dengan suaminya, Caca juga bisa menyimpulkan bahwa Tiara sudah mulai menerima Om Alex.
"Uhm, baiklah nanti biar di antar kak Tomy saja"
Tut.
"Kenapa Ra?" Tanya Caca penuh selidik setelah Tiara menutup panggilannya.
"Oh, itu ... Om Alex lembur nanti aku di suruh ke sana di antar kak Tomy," jawab Tiara.
"Kak Tomy?" Ulang Caca.
"Oh, aku belum cerita ya. Kak Tomy orang yang di suruh Om Alex untuk antar jemput sekolah," jelasnya.
"Oh ...." Jawab Caca. "Ya udah kalau gitu aku pulang dulu, mau lanjutin nonton drakor kemarin belum kelar," ucapnya tersenyum seraya bangkit dari duduknya.
Tiara hanya memutar bola matanya malas, heran saja melihat Caca, katanya pusing ada masalah tapi malah sempat nonton drakor.
"Nggak nginep sini?" Tawar Tiara.
"Nggak," jawab Caca. "Oh ya, aku tadi nggak lihat Mommy sama Papa! Kemana?" tanya Caca.
"Oh ... tadi pas aku pulang sekolah pamit mau ke Bogor, katanya kangen sama rumahnya," jelas Tiara.
__ADS_1
"Uhm," Caca menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari kamar Tiara.
Tiara mengantarkan Caca hingga depan pintu mension. "Hati-hati Ca bawa mobilnya...!" teriak Tiara. Saat Caca sudah mulai melajukan mobilnya keluar gerbang mension.
"Ok," sahut Caca.
Tiara berjalan memasuki mension sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu 1 jam lagi, lebih baik aku masak saja buat di bawa ke kantor nanti," gumamnya.
Alex sengaja menyuruh Tiara ke kantor karena tau kalau Mommy dan Papa pulang ke Bogor, takut Istrinya di rumah bosan karena dirinya sedang lembur.
Tiara berjalan ke dapur untuk melihat bahan apa saja yang bisa ia masak.
"Nona Tiara kenapa anda di dapur? Jika anda memerlukan sesuatu bisa menyuruh pelayan," ujar Pak Tito, yang mengetahui majikanya berada di dapur.
Tiara yang sedang membuka lemari es seketika menoleh ke arah Pak Tito yang berada di belakangnya. "Tidak usah Pak, saya hanya ingin memasak sebentar untuk di bawa ke kantor nanti," ucap Tiara.
"Tapi Nona, nanti Tuan Alex akan marah jika tau Nona memasak di dapur," sahut Pak Tito.
Tiara tersenyum. "Nanti biar saya sendiri yang bilang, sudah Pak Tito pergi saja, biar saya juga cepat selesai memasaknya," pinta Tiara.
Dengan berat hati Pak Tito meninggalkan Nona mudanya memasak di dapur, semoga saja nanti Tuannya tidak akan mengamuk.
"Masak ayam kecap, sama cah brokoli, wortel, dan buncis saja," monolognya.
Dengan cekatan Tiara memulai acara masaknya, hingga 45 menit kemudian masakannya sudah matang semua dan tertata rapi di kotak makanan.
"Selesai, sekarang tinggal siap-siap," gumamnya.
Tiara berjalan menuju kamarnya, memilih baju yang cocok dengannya agar suaminya tidak malu dengan kedatanganya.
Entah kenapa Tiara sekarang menjadi sangat rempong memilih pakaian, padahal biasanya dirinya tidak begitu memperdulikan penampilannya.
Saat di rasa penampilannya sudah sempurna, Tiara keluar menuju dapur untuk mengambil bekalnya dan menemui Tomy.
"Kak Tomy antar kan Tiara ke kantor Om Alex ya!" Pinta Tiara pada Tomy yang berada di pos keamanan.
Tomy sendiri sempat tertegun melihat penampilan majikanya yang berbeda dari biasanya sekarang terlihat 'Cantik.'
"I-iya Nona," sahutnya, dan berlari mengambil mobil yang ada di garasi.
Setelah beberapa saat Tiara sampai di kantor Alex yang di antar oleh Tomy.
"Kak Tomy pulang saja, nanti takutnya nunggu lama." Ucap Tiara sesaat sebelum turun dari mobil.
"Iya Nona," jawab Tomy.
Tiara segera berjalan masuk ke dalam gedung kantor Alex dan bertanya pada resepsionis. "Maaf kak ruangan pak Alex ada di lantai berapa ya?" Tanya Tiara.
Tiara yang lupa tadi menanyakan pada Alex dan sebelumnya juga Tiara belum pernah ke sini.
Resepsionis yang bernametag Sasa itu melihat Tiara dari atas sampai bawah. "Pasti cabe-cabean," batin nya dengan senyum mengejek.
"Maaf Nona, apa sudah membuat janji?" Tanya Sasa, yang memang pegawai baru tidak tahu jika Alex audah menikah.
"Saya tadi su--"
"Maaf Nona, jika belum membuat janji anda tidak boleh masuk," selah nya dengan ketus.
Tiara merasa kesal dengan sikap perempuan di depannya ini, Tiara tau dari tatapan matanya Sasa tidak menyukainya.
__ADS_1
Dengan segera Tiara mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.
"Halo Om!" Saat panggilannya di angkat Alex.
("")
"Tiara sudah di depan tapi tidak bisa masuk," merajuknya.
("")
Tut.
Panggilan terputus.
Tidak lama Alex keluar dari lift khusus pimpinan, Pandangan Alex sempat tak berkedip melihat penampilan Istrinya.
"Apa sudah lama?" Tanya Alex saat sudah di depan Tiara.
Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak, baru saja," ucapnya.
" Kenapa kau tidak bertanya saja pada resepsionis?" Tanya Alex, kemudian menatap tajam Sasa.
Sasa sekarang merasakan tubuhnya bergetar saat mendapat tatapan tajam Alex.
"Uhm ... aku malu Om," elak Tiara, mana mungkin Tiara tega melihat orang lain terkena masalah karena dirinya.
Alex segera memeluk Tiara karena melihat sikap Tiara yang menggemaskan menurutnya.
"Hei kau! Ingat baik-baik bahwa dia adalah Istriku," hardik Alex pada Sasa setelah melepas pelukannya.
Alex segera merengkuh pinggang Tiara seraya berjalan ke lift untuk menuju ruangannya.
Saat di depan ruangan Alex Tiara melihat wanita cantik dan berpakaian **** sekitar umur 25 th bernametag Sheryl.
Sheryl yang melihat kedatangan bos dan istrinya segera berdiri dan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Tiara juga melakukan hal yang sama, tapi Alex segera mengajak untuk masuk ke dalam ruangannya.
Tiara segera meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja, dirinya dan Alex juga duduk di sofa yang lumayan besar.
"Apa ini makanan untukku?" Tanya Alex.
"Hmm," jawab Tiara. Entah kenapa Tiara kesal dengan semua pegawai wanita yang bekerja di kantor Alex, semuanya memakai baju yang super ketat dan span yang kurang bahan.
Alex yang melihat perubahan wajah Tiara, segera mendekatinya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab Tiara.
"Benarkah?"
"Hmm," sahut Tiara, tapi kemudian, "Om, kenapa semua pegawai wanita pakainya kurang bahan?" tanya Tiara kemudian.
Alex yang mendengar pertanyaan Istrinya, seketika sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Alex tahu arah pembicaraan Tiara. "Apa kau merasa cemburu?" Goda Alex dengan menatap lekat manik mata Tiara.
Tiara yang awalnya menatap Alex, seketika memalingkan wajahnya ke arah lain. "Ti-tidak," cetusnya gugub.
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn😊
__ADS_1