DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Menginap


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"Mas, kamu itu kenapa nggak mau ngalah?" Tiara mendengus melihat suaminya.


Baru saja El tertidur, Alex langsung memindahkan nya ke box bayi. Untung saja bayi tampan itu tidak terbangun.


"Sayang, ini sudah giliran ku. Tadi El sudah habis banyak," jawab Alex. Dan langsung memposisikan tidurnya menghadap Tiara.


Baru saja Tiara menutup sumber asi El, sekarang suaminya itu dengan tidak sabaran membuka kancing piyamanya dan mengeluarkan bulatan itu dari penutupnya.


Mulut Alex langsung saja melahap ****** pink itu, menyesap nya dengan rakus. Bahkan tangannya pun tidak tinggal diam, ikut bermain di salah satu bulatan.


Notes : Di dalam agama tidak di perbolehkan istri meny*sui suami hingga kenyang. Jadi bisa di simpulkan sendiri ya.


Tiara hanya bisa menahan nafas saat merasakan hawa panas mulai menyerangnya. Tentu saja itu karena sekarang yang meny*su adalah suaminya.


"Mas," ucap Tiara tertahan. Ketika suaminya itu semakin lama semakin kuat menyesapnya.


"Ada apa sayang?" Alex menjeda aktivitas nya. kemudian menatap wajah istrinya yang sekarang nafasnya sedikit memburu, ia bertanya seolah-olah tidak mengetahuinya.


Tiara hanya menatap suaminya dan perlahan mengembalikan kesadaran nya tadi yang mulai menghilang.


"Apa kamu menginginkan nya?" Ada seringai di wajah Alex. Bahkan tangan kekar itu dengan sengaja merayap di balik piyama dan terus ke bawah, menuju inti pusat istrinya.


"Mas, aku capek." Rengek Tiara yang tau setelah ini akan ada pergulatan ranjang jika di teruskan.


Bukanya ia sengaja menolak, tapi sungguh hari ini ia merasa sangat lelah. Apalagi pengasuh El hari ini tidak enak badan, mana tega Tiara menyuruhnya untuk bekerja. Jadi ia menyuruhnya untuk libur satu hari.


Bahkan Mommy juga sudah tidur setelah makan malam, setelah tadi membantu menjaga El dan Zio. Karena memang usia yang juga tidak lagi muda jadi membuatnya cepat lelah.


"Hanya sebentar." Alex yang dengan sejuta rayuan nya.


Baru saja tangan Alex akan mendapatkan apa yang di mau, seseorang sudah mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan, Nona." Terdengar suara Pak Tito.


"Sial," umpat Alex.


"Mas, mungkin ada hal penting. Temui saja," Tiara bisa sedikit bernafas lega. Malam ini ia akan libur dari bayi besarnya itu.


Dengan setengah kesal Alex turun dari tempat tidurnya untuk menemui Pak Tito. Dan Tiara segera merapikan piyama yang sedikit berantakan.


Klek.


"Ada apa?" tanya Alex begitu melihat Pak Tito.


Glek.


Pak Tito hanya menelan saliva nya susah payah, kalau di lihat dari raut wajah tuan nya sudah di pastikan ia datang di waktu yang tidak tepat.


"Ehm, di bawah ada Nona Caca dan Tuan Rey. Juga Nyonya Mona," beri tahunya.

__ADS_1


Alex sedikit menaikkan alisnya, entah kenapa setiap anak nakal itu datang ke mansion nya pasti akan membuat rusuh.


"Apa Caca datang kemari?" tanya Tiara yang menghampiri dua laki-laki itu. Tadi ia sempat mendengar nama Caca.


"Iya, Nona."


"Ya sudah kami akan turun." sahut Tiara.


Tiara kembali lagi ke kamar untuk mengambil ponsel, ia akan memantau El dari ponselnya yang langsung terhubung dengan CCTV. Berjaga-jaga siapa tau El bangun saat ia dan suaminya sedang tidak ada di kamar.


Alex dan Tiara saling tatap ketika menuruni anak tangga, mereka dapat melihat tiga orang itu sedang duduk di ruang tamu. Dan membawa beberapa tas yang berukuran cukup besar.


"Tante," Tiara langsung mencium punggung tangan Mona, begitu sampai di ruang tamu. Begitu pun dengan Alex, melakukan hal yang sama.


"Maaf Nak Tiara, malam-malam menganggu kalian." Mona yang tidak enak hati, merasa sudah mengganggu jam istirahat seseorang.


"Tidak apa-apa, Tante." Tiara mengulas senyum, kemudian duduk bersama mereka. Sedangkan Alex duduk di samping Tiara.


"Ehm... begini, Caca ingin menginap di sini. Karena tidak tega jadi tante ikut juga, apa tidak apa-apa?" Mona yang menjelaskan maksud kedatangan mereka.


Tiara langsung menoleh ke arah Caca yang hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


Wanita hamil sembilan bulan itu masih saja ngidam. Tentu saja mertuanya ikut khawatir jika tidak mengikutinya, apalagi hanya kurang beberapa hari ia akan menyandang status Ibu.


Berbeda dengan Alex yang kini sedikit memicingkan matanya. Entah mengapa suka sekali Caca membuat rusuh di mansion nya.


Tiara kembali menatap Mona. "Tidak apa-apa Tante. Lagi pula Caca juga bagian dari keluarga," tentu Tiara yang tidak keberatan.


"Sama-sama."


"Ahhh Ara makasih ya," Caca yang langsung berhambur memeluk Tiara. "Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu."


Caca kemudian menarik tangan Rey. "Ayo Uncle, kita tidur." Beranjak dari sana tidak memperdulikan bagaimana raut wajah Alex, dan menuju kamar yang biasanya di tempati.


Sedangkan Tiara mengantarkan tante Mona ke kamar tamu.


Alex tak habis pikir kenapa wanita hamil itu malam-malam datang ke mansion nya hanya untuk menumpang tidur. Padahal rumah Rey juga tak kalah nyaman, aneh.


"Sayang." Alex mencekal tangan Tiara begitu istrinya itu selesai mengantarkan tante Mona ke kamar tamu. "Ayo kita lanjutkan yang tadi," yang kemudian menarik tangan Tiara hingga membuatnya duduk di pangkuan Alex.


Mata Tiara membulat, masih saja suaminya itu ingat dengan kegiatan mereka tadi yang tertunda. "Mas, tap mmpphh--"


Alex tidak membiarkan istrinya itu berbicara, langsung saja menyerbu bibirnya. Bahkan ia tidak peduli jika mereka sekarang berada di ruang tamu.


Baru saja Alex akan memperdalam cium*nya, seseorang datang mengganggunya.


"Ekhm," dehem seseorang.


Alex dan Tiara tentu saja langsung menghentikan kegiatan mereka.


Alex menatap tajam orang itu, sedangkan Tiara salah tingkah.

__ADS_1


"Maaf mengganggu," ucapnya dengan tersenyum.


"Ngapain lo kesini?" Alex tidak habis pikir, tadi sepasang suami istri plus mertuanya. Dan sekarang Leo yang datang.


Leo segera duduk di kursi sebrang Alex. "Lex, gimana?" tanya nya dengan penuh harap.


Sudah berbulan bulan ia meminta tolong, agar Tiara mau membuka cabang di Jakarta. Tapi hingga sekarang sahabatnya itu masih belum memberikan kabar.


Tiara yang menyimak pembicaraan mereka hanya diam mendengarkan. Karena tidak tau apa yang di bahas.


"Ck," Alex berdecak kesal. Sahabatnya itu malam-malam datang hanya untuk menanyakan itu. Tapi memang ia sendiri juga tidak pernah mengatakan nya kepada Tiara, karena takut kesulitan dalam membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan. "Masih belum bisa."


Lagi-lagi jawaban itu yang di dengar Leo. Kemudian menoleh pada Tiara, mungkin kalau memintanya langsung jawabannya akan berbeda. "Tiara, ayo kita melakukan kerja sama. Membuka cabang cafe mu di Jakarta," ucapnya dengan mata berbinar.


"Huh."


"Gue bilang tidak," sela Alex.


Tiara masih belum paham sebenarnya apa yang terjadi, tapi kemudian Leo mengutarakan niatnya. Menjelaskan maksud ia menjalin kerja sama, dan juga ingin lebih dekat dengan Vita.


Setelah perdebatan beberapa saat dengan Alex, dan bujuk rayu dari Leo. Akhirnya kesepakatan itu terjadi, dengan Leo yang menangani semua.


Mulai dari pencarian tempat hingga bisa di tempati, dan juga perlengkapan yang lainnya. Sedangkan Tiara hanya menanam saham saja. Sisanya nanti di serahkan kepada Vita yang akan mengelola Cafe seperti di cabang yang sebelumnya.


"Deal," Leo dengan semangat mengulurkan tangannya.


"Nggak usah jabat tangan juga," Alex yang menarik tangan istrinya saat mau menjabat tangan Leo.


"Ck," Leo hanya berdecak melihat kelakuan sahabatnya itu.


Hingga tidak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki dari tangga.


"Tolong!" teriak Rey.


Alex, Tiara dan Leo seketika berdiri dari duduknya dan melihat ke arah tangga.


"Tolong!" Rey yang sudah di hadapan mereka dengan wajah panik.


Mata ketiga orang itu membulat. Alex segera menarik Tiara untuk masuk kedalam pelukan nya, dan mendekap kepalanya agar tidak melihat ke arah Rey.


"Lo, gila!!!" Pekik Leo.


"Huh," Rey yang bingung.


"Kenapa lo berkeliaran cuma pakai cel*na d*lam? Warna pink lengkap gambar bunga-bunga lagi!!" Leo yang heran dan juga merasa lucu.


Rey yang bingung kemudian menatap ke arah bawahnya. Matanya membulat seketika. "Aaaaaaaaaa," teriaknya.


...----------------...


...Jangan lupa buat dukung ya, vote, like dan komen. Kalau ada yang kasih hadiah, tambah seneng akunya 😁....

__ADS_1


__ADS_2