
Esok hari, seperti biasanya sepulang sekolah Tiara berjalan menuju toko tempat biasanya ia mengambil dagangan.
Tiara remaja itu tak memperdulikan teriknya panas matahari. Karena bagi Tiara tidak apa-apa ia menahan panas matahari, daripada ia harus berhadapan dengan hujan. Yang otomatis membuatnya tidak bisa berjualan.
Senyumnya mengembang, ketika dagangannya sudah habis sebelum sore. "Sepertinya hari ini hari keberuntunganku," gumamnya. Karena ia bisa pulang cepat untuk beristirahat.
"Hey," panggil seseorang.
Tiara yang sedang berjalan kembali ke toko seketika mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara itu. Dan saat berbalik ia melihat seorang laki-laki yang kemarin di tolong nya.
Laki-laki itu segera turun dari sepeda motor untuk menghampiri Tiara. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas. "Terima kasih, kemarin sudah menolongku." Dengan menyodorkan beberapa lembar uang yang seperti Tiara berikan kemarin.
Tiara hanya diam memandang uang itu, kemudian menatap laki-laki itu. "Tapi, aku kemarin ikhlas membantu." jelasnya.
"Tapi aku mau mengembalikannya."
"Tidak usah kak," Tiara yang tetap tidak mau menerimanya.
Laki-laki itu terus berpikir agar Tiara mau menerima uangnya. Ia tahu meskipun uang itu jumlahnya tidak seberapa baginya, tapi bagi pedagang seperti Tiara sangat berarti.
Hingga sebuah ide muncul di kepalanya. "Apa kamu setiap hari berjualan di sini?" Yang di jawab Tiara dengan anggukan kepala.
"Ya sudah, anggap saja uang ini untuk aku membeli dagangan mu. Bagaimana?" usulnya.
Tiara terdiam untuk berfikir, hingga kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu," menyetujui usul laki-laki itu. Dan mengambil uang yang tadi sempat di tolaknya.
"Ya sudah besok aku ke sini, kamu tunggu saja. Ok," pesannya. Saat laki-laki itu akan pergi, sepertinya ia melupakan sesuatu dan menghampiri Tiara kembali. "Oh ya, nama kamu siapa?"
"Tiara." jawab Tiara.
"Uhm ... panggil saja aku Kak Angga." Angga yang memperkenalkan diri.
"Iya," Tiara menganggukkan kepalanya.
***
Dan esoknya seperti janji Angga yang dia ucapkan kemarin. Ia menemui Tiara di mana gadis itu berjualan.
Di hari itu Angga melihat dagangan Tiara yang masih tersisa setengah. "Apa hari ini jualan kamu sepi?" tanyanya dengan menenggak minuman botol yang baru saja di berikan Tiara.
Tiara yang duduk di samping Angga tersenyum. "Jualan gak bisa di tebak, Kak. Anggap saja hari ini sepi mungkin akan di gantikan besok rame jualannya." Tiara yang mencoba berfikir positif.
__ADS_1
Angga hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penuturan Tiara. Gadis seusianya bisa memiliki pikiran seperti itu.
Mungkin Angga tidak pernah mengalami apa yang di alami Tiara. Meskipun ia hanya seorang yatim piatu, tapi ia berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang dengan mudah dengan cara kerjanya.
"Ya sudah, biar minumannya kakak borong. Kebetulan di kos-kosanku sudah habis stoknya."
Mata Tiara memicing, menatap ke arah Angga tak percaya. "Bukan Kakak karena kasihan padaku kan, jadi Kakak beli semuanya?"
"Ha ha ha ha," tawa Angga menyembur seketika melihat ekspresi Tiara yang lucu. Apalagi dengan pemikirannya. "Buat apa aku mengasihani kamu, kamu bukan pengemis kan?"
Tiara hanya mencebikkan bibirnya melihat Angga menertawakannya. Tapi sesaat kemudian senyum terukir di bibirnya, karena dagangannya habis seketika.
Setelah kejadian itu, Tiara dan Angga semakin dekat. Angga yang sering mendatangi Tiara saat selesai berjualan.
Kedekatan mereka tak lebih dari keduanya yang sama-sama menganggap sebagai saudara. Angga yang menganggap Tiara adik, dan Tiara juga yang menganggap Angga kakak.
Hingga suatu saat ketika Angga mengajak Tiara makan di warung, Angga tiba-tiba mendapatkan pekerjaan yang datangnya tidak bisa di prediksikan itu.
Untung saja makanan di piring Angga hanya tinggal sedikit. Ia segera mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja setelah menggeser piring makanya.
Sebelum itu ia mengedarkan matanya untuk memastikan keadaan sekitar, jangan sampai orang lain mengetahui pekerjanya.
"Tidak, Kakak hanya ada pekerjaan sedikit." Angga yang menjawabnya dengan tidak mengalihkan pandangannya.
Entah mengapa, Angga begitu saja menjawabnya dengan jujur. Tidak ada rasa curiga pun di hatinya terhadap Tiara. Karena ia yakin Tiara gadis yang baik.
Tiara kemudian hanya diam di samping Angga, memperhatikan kakaknya itu menyelesaikan pekerjaannya.
Sejujurnya Tiara juga penasaran pekerjaan apa yang sedang di kerjakan. Karena hanya ada tulisan kecil-kecil yang cukup banyak muncul bergantian.
Beberapa saat kemudian. "Beres," gumam Angga dan menutup laptopnya.
"Sebenarnya pekerjaan kakak apa?" Akhirnya Tiara memberanikan diri untuk bertanya.
Angga tersenyum mendengar pertanyaan Tiara. "Pekerjaan mudah, hanya membantu seseorang menyelesaikan masalahnya melalui laptop." jelasnya. "Apa kamu suka bermain laptop?"
"Suka, tapi hanya di sekolah." jawab Tiara polos.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak punya laptop, masih nabung buat belinya." jelas Tiara.
__ADS_1
Angga berpikir sejenak. "Apa kamu mau laptop bekas punya kakak, masih bisa di pakai."
Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak, nanti menyusahkan kakak."
"Tidak, lagi pula sudah tidak kakak pakai lagi. Dari pada nganggur di kos-kosan, sayang kan. Lebih baik kamu pakai." Angga yang membujuk Tiara. Ia tahu adiknya itu tidak mudah menerima pemberiannya begitu saja.
Tiara terdiam menimbangnya. "Uhm, ya sudah kalau tidak menyusahkan kakak."
"Mana mungkin, adik tidak pernah menyusahkan kakaknya." Angga yang mengacak rambut Tiara karena gemas.
Esok hari Angga sudah membawa laptop yang di janjikan nya. Sebenarnya ada kebohongan sedikit yang ia lakukan. Karena sebenarnya laptop itu masih baru, bahkan ia membeli seperti yang ia pakai. Hanya sedikit memberikan stiker di luarnya, seolah-olah itu bekas miliknya.
"Apa benar ini laptop bekas kakak? Sepertinya masih baru." Tiara yang melihat kondisi laptop itu masih mulus.
"Iya, benar. Kakak sudah tidak memakainya lagi. " jawab Angga berusaha tidak gugup.
Sedetik kemudian, ada senyuman di bibir Tiara. "Terima kasih kak Angga," ucap Tiara dengan tulus.
Mulai saat itu Angga sedikit demi sedikit mengajari Tiara. Bagaimana menjadi hacker, mungkin suatu saat itu akan berguna untuk adiknya itu.
Tidak sulit mengajari Tiara, karena pada dasarnya Tiara murid yang pintar di sekolahnya.
Beberapa bulan berlalu. Tiara sudah lihai menarikan jarinya di atas keyboard, tak jarang Angga menyuruhnya langsung mengerjakan pekerjannya. Dan hasilnya, Tiara sudah bisa menguasainya.
Esok adalah, hari kelulusan tiara menjadi pelajar SMP. "Kak, besok kalau kakak tidak sibuk, kakak datang ya di acara kelulusan Tiara." pintanya lewat sambungan telepon, karena hari ini ia tidak bertemu dengan Angga. Bagaimana pun Angga sudah menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya.
"Baiklah, baiklah. Kakak besok akan datang untuk adik kakak yang paling cantik." Janji Angga dari sebrang sana. "Ya sudah, sekarang kamu tidur sudah malam." Perintah Angga.
"Ya sudah kalau begitu, sampai besok kak."
"Iya."
***
Hari yang di nanti telah tiba, Tiara tampil cantik dengan menggunakan kebaya. Senyumnya juga terus mengembang karena di hari bersejarahnya ini ia akan di temani oleh ibu dan juga kakak laki-laki nya.
Tapi senyum manis itu perlahan pudar, saat kakak yang di nantikan nya tidak kunjung terlihat. Bahkan hingga acara wisuda itu berakhir.
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih😘💕
__ADS_1