
Jum'at malam Tiara sudah mulai membereskan barang-barang yang akan di bawanya besok pagi ke panti asuhan. Meskipun acaranya akan di selenggarakan hari minggu tapi Tiara akan berangkat Sabtu pagi.
"Sayang, beristirahatlah kau pasti sudah lelah." Alex yang melihat istrinya itu masih sibuk mengepak barang apa saja yang akan di bawa. Tadi Tiara sudah membereskan barang milik Zio terlebih dahulu, karena sekalian menidurkannya. Jadi sekarang giliran miliknya dan Alex.
"Mas ... kalau tidak di bereskan sekarang, besok kita akan kesiangan untuk berangkat ke panti." jawab Tiara dengan posisi yang masih membereskan barangnya.
Alex menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya ia hanya tidak mau terjadi apa-apa kepada istri dan anaknya. Karena tadi sesudah menemani Caca makan mekdi, ternyata Caca kemudian mengajaknya ke mall untuk berburu DVD drakor terbaru. Dan hingga sore mereka baru kembali.
Alex melirik jam yang berada di kamarnya, yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Hingga suatu ide muncul dalam pikirannya. Ada seringai di bibir Alex.
Dengan jalan mengendap-ngendap, Alex mendekati di mana istrinya berada. Dan saat tepat di belakang Tiara, Alex begitu saja menggendongnya.
"Mas!" pekik Tiara yang kaget dengan tindakan tiba-tiba suaminya.
"Karena Mami tidak mau beristirahat, biar Daddy saja yang membuat Mami lelah. Agar Mami cepat mengantuk," ujar Alex dan langsung membawa Tiara ke atas ranjang mereka.
"Mas aku belum ummpphh." Bahkan Alex tidak membiarkan Tiara untuk menyelesaikan kalimatnya. Alex ******* rakus bibir pink Tiara, bahkan tangannya tidak bisa diam. Tangan Alex sudah mengabsen lekuk tubuh istrinya, hingga tidak ada satupun yang terlewat.
Tiara sebenarnya ingin menolak, karena mengingat pekerjaannya yang belum selesai. Tapi apalah daya, pikiran dan tubuhnya tidak sejalan. Tiara akan kalah telak jika suaminya sudah menyentuhnya.
Entah bagaimana cara Alex melakukanya. Tapi yang jelas sekarang mereka berdua sama-sama polos.
"Unghh," lenguh Tiara. Ketika suaminya mulai menghisap salah satu bulatan favoritnya, dan tangan satunya meremas gemas bulatan yang satunya. Sungguh suaminya itu begitu pandai membuat dirinya tak berdaya.
Hingga penyatuan di mulai, maka hanya ada ******* dan erangan yang terdengar di kamar itu. Alex bahkan mengulanginya hingga tiga kali malam itu, agar memastikan istrinya itu benar-benar kelelahan dan akan tertidur pulas.
"Bagaimana? Olah raga yang melelahkan tapi membawa nikmat kan!" tanya Alex dengan tersenyum. Padahal Tiara sudah terlelap di pelukannya, tapi Alex bertanya seolah-olah istrinya akan menjawabnya.
Ting.
Notif pesan pada ponsel Alex.
"Ck." Alex berdecak kesal, entah siapa yang mengirimi pesan tengah malam begini. Padahal dirinya berniat menyusul istrinya terbang ke alam mimpi tapi ada saja yang mengganggu.
Dengan malas Alex menggapai ponselnya yang berada di atas nakas, matanya menyipit ketika nomor Rey yang tertera di layar ponselnya. "Sial, kenapa dia malam-malam begini mengirim pesan." Alex menggerutu.
💌 Apa istrimu sudah tidur? Gue ada di bawah, cepetan lo turun.
Ternyata Rey sudah berada di mansion Alex. Sebenarnya tadi salah satu bibi sudah menawarkan akan memanggilkan tuanya, tapi Rey menolak. Takut jika akan menganggu Tiara.
Dengan malas Alex beranjak bangun berniat menemui Rey, sesekali matanya mengarah pada istrinya yang terlelap. Alex takut jika Tiara akan terbangun karena terganggu.
__ADS_1
Tidak lama Alex dapat melihat Rey yang sedang duduk dengan menikmati acara malam di televisi. Dan di meja depannya juga sudah tersedia dua cangkir kopi dan beberapa cemilan seperti pesanannya tadi pada bibi.
Bugh.
Alex melempar bantal kursi yang tepat mengenai wajah Rey.
"Sial." Umpat Rey yang terkejut.
"Ngapain lo malem-malem ganggu orang tidur?" tanya Alex dengan wajah kesal, setelah itu mendudukkan dirinya di samping Rey.
Rey hanya tersenyum lebar mendengar pertanyaan sahabatnya itu. "Gue gak bisa tidur, ayo main ps," ajaknya.
Mata Alex melebar mendengar ajakan Rey. Apa Rey kurang kerjaan datang tengah malam ke mansion nya hanya untuk menemaninya main ps.
"Rey, lo udah punya istri. Kenapa nggak lo mainin aja istri lo." Kesal Alex.
"Lo sendiri tau, bini gue tidurnya sama Mama. Dia masih belum mau tidur sama gue," ujar Rey dengan lesu.
Alex hanya menyunggar rambutnya frustasi. Kenapa dia memiliki teman laknut seperti Rey. Akhirnya dua lelaki beristri itu bermain ps di tengah malam.
***
"Mas, ayo bangun. Nanti kita berangkatnya kesiangan." ucap Tiara dengan menyisir rambutnya yang basah. Tapi tetap saja tidak ada sahutan dari Alex, dan masih terdengar dengkuran halus Alex.
Tiara menggelengkan kepalanya. Kenapa suaminya itu susah sekali di bangunkan, padahal kemarin malam pertempuran mereka berakhir jam satu dini hari. Seharusnya tidur mereka sudah cukup. Tiba-tiba pipi Tiara menghangat mengingat olah ranjang mereka semalam. "Ya ampun." Tiara segera mencakup kedua pipinya.
Akhirnya Tiara memutuskan untuk membangunkan Zio terlebih dahulu. Dan benar saja membangunkan putranya itu ternyata lebih mudah dari pada Alex. Tak lama Zio sudah rapi dan wangi. "Sayang, kamu sarapan dulu ya. Mami mau bangunin Daddy dulu."
Zio segera berjalan ke arah meja makan yang sudah terdapat Mommy dan Papa Nathan. Sedangkan Tiara kembali menuju ke arah kamarnya untuk membangunkan kembali bayi besarnya.
Rencana yang awalnya berangkat pagi-pagi harus mundur satu jam, karena Alex. Sehingga Mommy dan Papa Nathan memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu.
"Mas, kamu semalam tidur jam berapa?" tanya Tiara, ketika dalam perjalanan menuju panti. Karena Alex terlihat masih saja mengantuk, sedari tadi tidak berhenti menguap.
Alex seketika menoleh ke arah istrinya. "Ya sesudah kita olah ranjang semalam."
Zio yang berada di pangkuan Alex dengan mainan robot-robotan di tangannya tiba-tiba saja menoleh ke arah Daddy-nya. "Daddy, olahraga dengan Mami di ranjang? Kenapa tidak ajak Zio?"
Mata Tiara melebar mendengar ucapan putranya. Kenapa putranya itu selalu mendengar perkataan Daddy-nya yang memiliki arti lain.
Alex sendiri seketika rasa mengantuk nya juga menghilang saat mendengar ucapan Zio. Otaknya langsung berputar untuk mencari jawaban yang pas. "Oh ... itu karena semalam kamu sudah tidur, lain kali saja Daddy akan mengajakmu."
__ADS_1
"Benarkah," sahut Zio antusias. "Daddy janji?" Zio memberikan jari kelingkingnya pada Alex.
"Tentu." Alex segera melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Zio.
Tiara hanya memutar bola matanya malas.
***
"Zio, apa mau beli mainan juga?" Tawar Tiara. Mereka sekarang sedang berada di supermarket, karena Tiara ingin membelikan oleh-oleh untuk anak panti. Seperti sebelum-sebelumnya.
Zio menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mami. Mainan Zio sudah banyak." Tolak Zio. Di mansion sudah sangat banyak mainan Zio yang di belikan oleh kedua orang tuanya dan kakek-neneknya. "Apa Zio boleh beli makanan itu," tunjuk Zio pada deretan makanan ringan di rak.
"Boleh, asal tidak boleh banyak-banyak." sahut Alex. Alex memang melarang istri dan anaknya untuk tidak banyak mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung mic*n, dengan alasan tidak baik untuk kesehatan.
"Ok, Daddy," jawab Zio senang.
Saat Alex dan Zio sibuk memilih makanan yang mereka inginkan. Tiba-tiba saja troli milik Tiara di senggol troli seseorang.
Bruk.
"Oh, maaf Nona. Saya tidak sengaja," ucapnya menyesal. Seorang perempuan dengan pakaian ketat dan make up yang cukup tebal.
"Tidak apa-apa," sahut Tiara dengan tersenyum.
Mata wanita itu tertuju pada perut buncit Tiara. "Wah ... anda sedang mengandung? Pasti anak anda laki-laki maupun perempuan akan terlahir tampan dan cantik. Karena ibunya juga cantik," puji wanita itu.
"Terima kasih, atas pujiannya." sahut Tiara.
Wanita itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kalau begitu saya permisi dulu, karena ada keperluan lain." Pamitnya, dan segera berlalu dari sana.
Tiara hanya tersenyum memandang kepergian wanita itu.
Setelah menjauh dari Tiara, terlihat ada seringai di bibir wanita itu.
*
*
Jangan lupa vote like dan komen. Satu like dan satu komen dari kalian sangat berarti buat othor 😊.
Terima ksih, semoga sehat selalu. Aminn.
__ADS_1