DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Keputusan


__ADS_3

Tiara yang bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan Mommy, apalagi melihat ancaman Alex tadi padanya.


"Aku-aku-aku," jawab Tiara tergagap, sejenak Tiara memejamkan matanya.


Setelah di rasa tenang Tiara membuka matanya dan menghembuskan nafasnya pelan untuk melegahkan sesak di hatinya dan memandang Mommy dengan tersenyum.


Masih dengan menggenggam tangan Mommy, Tiara tersenyum. "Mom Tiara mau," jawabnya.


Sontak mereka yang di sana terkejut dengan jawaban Tiara, tapi tidak dengan Alex sudut bibirnya terangkat bahkan nyaris tak terlihat.


"Sayang Mommy tidak mau jika kamu terpaksa," sergah Mommy.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak Mom, ini sudah menjadi keputusan Tiara," ucapnya dengan masih tersenyum manis, meskipun matanya terlihat sembab.


Mommy terlihat bahagia dengan keputusan Tiara, Momy merentangkan tanganya ingin memeluk Tiara. Dan dengan segera Tiara berhambur masuk ke dalam dekapan Momy.


Papa segera memandang Alex. "Alex, Papa ingin bicara denganmu di luar." Ucapnya, dan segerah Papa meninggalkan ruangan Momy.


Alex tidak menjawab ajakan Papa, tapi Alex segera beranjak dan mengikuti langkah Papa dari belakang.


Saat di luar Papa dan Alex duduk di kursi tunggu luar rungan Mommy. "Alex sebenarnya apa yang terjadi, kenapa titba-tiba Tiara setuju?" Tanya Papa dengan menatap Alex tajam. "Apa kamu mengancamnya?" Imbuhnya curiga.


"Tidak Pah," jawabnya datar.


"Alex jika Papa tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Tiara Papa tidak akan segan-segan memberimu pelajaran," ancam Papa.


"Hhhaahh ...." Alex menghembukan nafasnya pelan. "Pah sudah Alex bilang, Alex tidak tau apa-apa," jawabnya santai. "Lagi pula yang Papa lihat di apartemen tadi kami melakukanya suka sama suka," elaknya.


Papa hanya diam memandang Alex. "Apa kamu pikir Papa bisa kamu bohongi," batin Papa.


Sedangkan di dalam kamar rawat Mommy, Mommy sudah lebih baik keadaanya. Apalagi setelah mendengar keputusan Tiara tadi.


Klek.


pintu kamar terlihat terbuka dari luar, Papa dan Alex masuk ke dalam. "Mom apa keadaan Mommy sekarang sudah lebih baik?" Tanya Papa yang langsung duduk di sebelah ranjang Mommy.


Sedangkan Alex langsung duduk di sofa di sebelah Tiara, tubuh Tiara seketika menegang. Alex hanya tersenyum miring melihat ekspresi Tiara.


"Ya Pah ... Mommy seketika mendapat obat yang mujarab," jawab Mommy dengan mengarakan pandanganya ke Tiara. Tiara hanya tersenyum kaku mendengar itu.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Papa yang senang melihat Mommy tidak murung lagi.


"Sayang sebaiknya kalian pulang sudah malam, besok kan harus sekolah," ucap Mommy lembut pada Tiara dan Caca.


Tiara dan Caca hanya mengangguk dan segerah bangkit dari duduknya. "Kalau begitu kami pamit pulang dulu," pamit Tiara. Tiara dan Caca segerah mencium punggung tangan Papa dan Mommy.


Tapi saat akan mencapai pintu suara Papa menghentikan langkah mereka. "Tunggu Nak, biar Riko yang mengantarkan kalian pulang," ujar Papa, karena milihat Alex yang diam saja.


Tiara dan Caca saling pandang. "Tidak usah Pah kami naik taxi saja," jawab Tiara tidak enak. "Iya Om tidak usah," imbuh Caca. Caca tidak berani memanggil papa karena sebelumnya tidak pernah ketemu. Caca sudah menduga lelaki paruh baya itu adah suami Mommy.


"Tidak apa-apa," jawab Papa, lalu mngalihkan pandanganya pada Riko. "Riko, tolong antar mereka pulang ya. Sekalian nanti kamu pulang saja sekalian," pinta Papa.


Riko segera berdiri dari duduknya. "Baik Tuan," jawab Riko dan segera berjalan ke arah Tiara dan Caca. "Silahkan Nona," ucapnya sopan.


2 gadis itu hanya menganggukkan kepanya. "Mom, Pah kalau begitu kami pulang dulu," pamitnya.


"Yah, hati-hati di jalan." Pesan Mommy.


Saat di perjalanan pulang mereka bertiga hanya diam, hingga suara cempreng Caca memecah keheningan.


"Uhm kak ...." Ucap Caca terhenti saat beru menyadari tidak tahu nama lelaki yang mengantarkanya pulang. "Aduh siapa ya namanya lupa belum tanya," gumamnya tapi masih terdengar oleh Riko.


Riko yang mendengar gumaman Caca langsung membuka suara. "Panggil saja saya Riko Nona," ucap Riko tetapi tidak mengalihkan pandangannya dari jalan.

__ADS_1


Caca tersenyum mendengar lelaki tampan itu bersuara. "Baiklah kak Riko, oh ya jangan panggil kami Nona. Panggil saja aku Caca dan ini Tiara," tunjuknya ke arah Tiara.


"Saya tidak berani Nona, itu sudah tugas saya," jawabnya datar seperti bosnya.


"Kenapa?" Tanya Caca penasaran.


Tetapi Riko tidak menjawabnya, Caca hanya mendengus karena Riko tidak menanggapinya. Sedangkan Tiara hanya diam mendengarkan ocehan Caca.


Saat mobil yang mereka tumpangi sampai di apartemen, kedua gadis itu langsung turun tak menunggu Riko untu membukakan pintu.


"Terima kasih kak Riko," ucap Caca dan Tiara.


"Sama-sama Nona." Sahutnya, dan melajukan mobilnya ke arah rumahnya.


"Ca aku langsung tidur aja ya," pamitnya saat sudah di depan unit apartemenya.


"Tunggu Ara," sergah Caca dan memegang tangan Tiara. "Aku malam ini nginep ya!" Ucapnya dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Tiara hanya memutar bola matanya. "Tapi ingat jangan buang gas beracun sembarangan," ujarnya.


"Ok," jawab Caca, dengan jarinya yang membentuk huruf O.


*


*


Sang surya telah menampakkan sinarnya menandakan hari telah pagi.


Tring.


Tring.


Tring.


"Ca bangun," ucap Tiara, Caca bukanya bangun tapi malah mengeratkan pelukanya ke guling.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya melihat Caca yang susah bangun. "CACA BANGUUUN," teriak Tiara.


Bukan suara Caca yang menjawab tapi.


Prrreeeetttttiiiiittttt.


Bom atom Caca meletus sektika.


"Ya ampun Caca," jerit Tiara dan berlalu ke kamar mandi membiarkan Caca terlelap. Saat di kamar mandi mata Tiara membulat seketika melihat penampakan lehernya lewat cermin. "Ya ampun ini," ucap Tiara dengan menyentuh tanda merah keunguan di lehernya, seketika bayangan kemarin malam melintas di pikiranya.


"Apakah sudah benar keputusan yan aku ambil ini!" Ucapnya lirih dengan air mata yang jatuh di pipinya.


20 menit berlalu, Tiara sudah menyelesaikan ritual mandinya. Saat keluar dari kamar mandi ternyata Caca masih tidur, sesaat Tiara mempunyai ide agar Caca bangun.


"Caca kalu kamu gak bangun bakalan aku tinggal biar kamu gak bisa ketemu Alan," teriak Tiara.


Dan benar saja Caca langsung terbangun, tanpa menyahuti Tiara dia segera berlari ke apartemenya.


"Xixixixi," Tiara hanya terkikik geli melihat kelakuan sahabatnya itu.


*


*


"Ara tumben rambutnya di gerai biasanya juga di kuncir?" Tanya Caca saat sudah berada di mobil.


"Oh-ini-ini karena lagi pengen aja," jawabnya gugup.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Caca dengan mata menyipit.


"Be-benar," jawab Tiara.


"Oh iya kemarin aku mo tanya, sebenarnya kamu dan Om itu--"


"Ah sudah sampai aku turun dulu yah," selah Tiara dan juga kebetulan sudah sampai.


Sedangkan Caca hanya mencebikkan bibirnya, karena Caca merasa Tiara menghindari pertanyaanya.


"Ara," panggil Alan dari kajauhan.


Caca yang mendengar suara alan langsung merpihkan rambutnya yang sebenarnya masih rapi.


"Hai Alan," sapa Caca seperti biasanya mendahului Tiara.


Tiara hanya tersenyum, baru kali ini dia senang dengan kehadiran Alan karena bisa menyelamatkanya dari Caca.


"Hai Caca, tambah cantik," guraunya. tapi berbeda dengan Caca yang pipinya seketika bersemu.


"Terima kasih," jawabnya. "Oh ya kalau begitu aku berangkat dulu, bye..." Pamitnya kepada Tiara dan Alan


"Bye."


"Bye."


Jawab Alan dan Tiara bersamaan.


Saat berjalan berdua. "Oh ya ... Ara dulu kamu pernah janji mau menemaniku mencari buku!" Ingatkanya.


Langkah kaki Tiara berhenti. "Uhm ... gimana kalau hari senin saja!" Tiara berpendapat.


"Boleh," ucap Alan sumringah. Tiara tersenyum yang melihat tanggapan Alan.


*


*


Tet.


Tet.


Tet.


Suara bel pulang sekolah berbunyi, semua murid berhamburan keluar dari kelas untu pulang. Begitupun Tiara, melangkahkan kakinya menuju ke halte untuk menunggu bus.


Baru juga Tiara menjatuhkan bokongnya untuk duduk di kursi tunggu.


Tin.


Tin.


Suara klakson terdengar nyaring, lamborgini hitam berhenti di depanya. Saat si pengemudi kaca pintu mobilnya. "Masuk," perintahnya. Siapa lagi kalau bukan Alex.


Tiara dengan takut dan tidak berani membantah segera masuk ke dalam mobilnya, seketika mobil itu melaju pergi. Dari kejauhan ternyata ada yang memperhatikanya.


Di dalam mobil Tiara hanya diam tidak berani menatap Alex, hingga pernyataan dari Alex mengagetkan Tiara.


"Sabtu besok Mommy pulang dari rumah sakit dan kita akan menikah." Ucapnya tegas tanpa melihat ke arah Tiara.


"Huh," kaget Tiara dan mengahlikan pandanganya pada Alex.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin..


__ADS_2