
Beberapa hari berlalu.
Alex hari ini mulai masuk kembali ke kantor, dengan bujuk rayu Tiara. Karena Tiara tidak tega melihat Riko yang harus bolak balik ke mansion.
Dan tentu saja dengan berat hati Alex menyetujuinya. Tapi baru saja Alex tiba di kantor dirinya mendapatkan kabar yang tidak baik.
Barak.
Dengan emosi Alex menggebrak mejanya. "Riko, bagaimana bisa kamu baru mengatakannya sekarang !"
"Orang yang mengawasi mereka baru mengatakannya lima menit yang lalu, Tuan." jawab Riko yang berdiri di depan Alex.
"Ck." Alex rasanya ingin sekali mengubur hidup-hidup Rafael dan Karin waktu itu, tapi apalah daya mereka. Karena negara memiliki hukum sendiri untuk menghukumnya. Tapi kini apa yang ia dengar, mereka bebas dengan jaminan. Apalagi kalau tidak mengandalkan uang.
"Riko, bagaimana dengan perusahaan Rafael?"
"Perusahaan itu di ambang kehancuran, Tuan. Karena para pemegang saham sudah menarik saham mereka dari sana setelah mendengar kabar yang di alami Tuan Rafael," jelas Riko.
"Cepat akuisisi perusahaan itu, dan cari keberadaan mereka. Jangan sampai manusia seperti mereka mendekati keluargaku lagi, tambah orang-orang untuk memperketat penjagaan di sekitar mansion. Tapi ingat, jangan sampai Tiara mengetahuinya. Aku tidak mau ia khawatir."
"Baik Tuan, akan saya laksanakan. Tapi untuk perusahaan itu, apa anda tidak salah. Mengakuisisi perusahaan yang akan bangkrut?" tanya Riko ragu.
"Tidak, karena aku ingin menghancurkan Rafael yang berani bermain-main denganku. Untuk perusahaanya, pikirkanlah mau di apakan itu."
Riko hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan dengan keinginan bosnya itu. Ingin mengakuisisi perusahaan yang berada di ambang ke hancuran tapi masih belum tau untuk apa.
Di mansion, Tiara sedang menikmati hari-harinya menjadi ibu untuk kedua anaknya. Seperti sekarang ini ia sedang bersantai di taman belakang dengan baby El di gendongannya menikmati suasana pagi yang hampir siang itu dengan duduk di kursi ayunan.
"Sayang, kamu mengambil semua gen milik Daddy-mu. Dari mata, hidung dan bibir." Tiara yang terus memandangi putranya yang sekarang sedang menatapnya. Dan sesekali memberikan kecupan di pipinya. "Kenapa kamu tidak menyisakan sedikit untuk Mami, hmm?" imbuhnya.
Tapi bayi tampan itu hanya bisa menatap Tiara, dan sesekali tersenyum.
"Oh ya sayang, semoga saja Aunty kamu tidak membuat sakit pinggang Oma kambuh." Tiara yang teringat dengan Mommy.
__ADS_1
Beberapa jam lalu Caca datang ke mansion, meminta Mommy untuk menemaninya jalan-jalan ke mall. Dan alhasil Mommy dan Papa Nathan hanya bisa pasrah menuruti keinginan putri satunya itu.
Di mall.
"Sayang, kita istirahat dulu ya? Apa kamu tidak lapar?" tanya Mommy. Sungguh, apa yang khawatirkan Tiara benar terjadi. Mommy mulai merasakan pinggangnya yang sudah terasa pegal, karena sadari tadi di ajak Caca berkeliling mall memasuki dari satu toko ke toko lainya.
Caca yang hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko seketika menghentikan kakinya lalu menoleh ke arah Mommy. "Benar juga Mom, kelihatanya anak Caca juga sudah merasa lapar." ucap Caca tersenyum dengan mengusap perut buncitnya.
Akhirnya Papa Nathan dan Mommy bisa bernafas lega karena bisa beristirahat sejenak. Mereka memilih restoran yang menyediakan makanan khas Korea, sesuai keinginan putri cantik mereka yang masih di kawasan mall.
Lagi-lagi Papa Nathan dan Mommy hanya bisa menggelengkan kepala ketika ibu hamil itu memesan semua menu yang ada. Apalagi kalau bukan alasan jika anaknya yang menginginkannya.
"Pah, Ca, Mommy ke toilet dulu ya," pamit Mommy. Karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
"Ok."
"Ya, Mom."
Sahut mereka berdua bersamaan.
"Ya sudah, kalau begitu Papa pesan sekarang saja. Biar nanti tidak terlalu lama menunggu." Caca yang menyetujui dan Papa Nathan segera beranjak dari duduknya.
Tidak lama, pelayan datang membawakan pesanan Caca yang langsung memenuhi mejanya. Dan tidak lupa pelayan juga memasaknya, jadi Caca hanya tinggal menunggunya matang. "Selamat menikmati, Nona." ucap pelayan ramah, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Iya, terima kasih." sahut Caca yang tak kalah ramah, kemudian pelayan itu berlalu dari sana.
Baru saja Caca ingin mencicipi makanannya, ada suara bariton yang memanggil namanya.
"Caca !!!" panggilnya. Seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan dengan setelan jas rapi. Berdiri di samping meja Caca.
Caca mengalihkan pandanganya pada laki-laki itu.
Deg.
__ADS_1
Jantung Caca rasanya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Bahkan sumpit yang di pegang nya jatuh seketika.
"Papa," yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
Laki-laki yang ternyata ayahnya itu, melihat keadaan putrinya sekarang baik-baik saja meskipun selama ini tanpa dirinya. Dan matanya berhenti ketika melihat perut buncit Caca. Sontak itu membuatnya terkejut, apakah selama ini putrinya itu salah pergaulan? Pikirnya. "Kamu hamil??"
Caca hanya mengelus perut buncitnya, dan memberikan senyuman tipis di bibirnya tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
Papa Caca sedikit geram melihat Caca yang mengacuhkannya. "Jadi ini hasil kamu tinggal sendiri selama ini?" tanya-nya dengan nada dingin.
Caca menghembuskan nafasnya kasar kemudian berdiri dari duduknya dan menatap ayahnya itu. "Maaf, makanan saya akan dingin jika tidak segera di makan." ucap Caca berusaha tenang.
Mata ayah Caca membulat mendengar ucapan Caca yang secara tidak langsung mengusirnya. "Apa kamu sekarang tidak punya sopan santun kepada orang tua? Hah!!!" Bentak ayah Caca.
Caca hanya tersenyum miring mendengarnya. "Siapa? Maksudnya anda ayah saya?" tanya Caca. "Jika anda mengaku sebagai ayah saya, kenapa selama ini saya hidup sendiri? Bahkan anda tidak pernah sekalipun mencoba menghubungi saya."
Caca masih berusaha untuk tenang. Sakit? Tentu saja ia merasakannya. Bahkan tangannya sudah mengepal kuat. Kenyataan yang harus membuatnya hidup tanpa merasakan kasih sayang setelah perceraian kedua orang tuanya.
"Ada apa ini?" Papa Nathan yang baru saja kembali dan melihat ada ketegangan di antara putrinya dan laki-laki yang baru ia lihat.
Ayah Caca kemudian mengalihkan pandanganya pada Papa Nathan, kemudian kembali menatap Caca. "Jadi sekarang kamu menjadi seorang simpanan?" Tuduhnya dengan kesimpulannya sendiri.
Hati Caca seakan semakin teriris rasanya. Bagaikan luka yang menganga lebar tapi kemudian di taburi garam dan jeruk nipis.
Sedangkan Papa Nathan menautkan kedua alisnya, karena tidak mengerti arah pembicaraannya. Dan sebenarnya siapa laki-laki itu.
Pa," panggil seorang wanita cantik yang menghampiri ayah Caca. Istri barunya. Tak lama juga datang gadis yang seumuran dengan Caca. "Papa kenapa disini, ayo kita pulang." ajaknya. Kemudian menoleh ke arah Caca dan Papa Nathan. "Papa kenal mereka?"
*
*
*
__ADS_1
...Selamat hari raya idul adha bagi yang merayakannya. Dan terima kasih yang masih mau menunggu kelanjutan novel ini. Jangan lupa vote, like dan komen.😊🙏...