DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Luka Hati Luka ...


__ADS_3

"Alan, kenapa kamu jadi begini?" Tanya Tiara dengan raut wajah kecewa.


Alan berjalan mendekat ke arah Tiara dan jongkok di hadapannya.


"Apa kamu tahu Tiara, aku sudah menyukaimu hampir 3 tahun. Bahkan aku dengan sabar menantimu, karena aku tidak mau memaksa perasaanmu. Tapi ... apa yang kudapatkan? Kamu malah memilih orang lain, bahkan menikah dengan-nya. Orang yang baru kamu kenal." Ucapnya, dengan tersenyum kecut.


Caca yang berada di samping Tiara, mendengarkan pengakuan cinta Alan semakin menghancurkan hatinya hingga tak tersisa.


"Apa kamu ingat ... sebelum 3 tahun yang lalu!" Alan menjeda kalimatnya. "Ada seorang anak laki-laki yang masih memakai seragam putih biru, dengan wajah babak belur di pinggir jalan. Saat itu tidak ada satu orang yang mau menolongnya, bahkan mereka malah mencemooh karena salah pergaulan. Tapi hingga beberapa saat ada seorang anak perempuan dengan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya, yang sepertinya sepantaran dengannya mau menolongnya dengan memberikan plester dan air minum. Anak laki-laki itu merasa sangat bahagia masih ada yang masih mau peduli dengannya. Sejak saat itu dia mencari tau informasi tentang gadis yang menolongnya, bahkan dia rela belajar dengan giat agar bisa satu sekolah SMA dengannya." Cerita Alan.


"Apa sekarang kamu mengingatnya?" Tanya Alan menatap lekat mata Tiara.


Tapi Tiara hanya diam, otaknya mencoba menggali mencari kepingan memori 3 tahun yang lalu. Hingga matanya sedikit membulat saat dirinya berhasil menemukan ingatan itu.


"Ku rasa sekarang kamu sudah mengingatnya," ucap Alan saat melihat ekspresi Tiara yang berubah.


Klek.


"Tuan ini makanan yang anda pesan," ujar salah satu anak buah Alan dengan membawa beberapa bungkus makanan.


"Letakkan saja di sana," perintah Alan dengan mengarahkan pandanganya pada meja kecil dekat pintu.


Setelah meletakkan makanan, anak buah Alan keluar dari ruangan itu.


"Makanlah," ucap Alan seraya melepaskan tali yang mengikat Tiara dan Caca. "Jangan pernah berniat untuk kabur, karena itu akan sia-sia." Hardik Alan.


Alan segera meninggalkan Tiara dan caca.


"Ra kita harus bagaimana?" tanya Caca yang mulai menangis.


"Tenanglah, pasti kita bisa keluar dari sini." Ucap Tiara dengan memeluk tubuh Caca.


Hingga subuh menjelang tiba, Tiara dan Caca masih terjaga. Bahkan makanan yang Alan berikan sama sekali tidak mereka sentuh.


Klek.


Pintu terbuka, terlihat Alan memasuki ruangan itu kembali lagi.


Alan sedikit geram karena melihat makanan yang dia berikan tidak di makan oleh kedua gadis itu. "Apakah aku harus memanggil suamimu kesini agar kamu mau makan?" Tanya Alan dengan seringai. "Lagi pula aku ingin sedikit bermain-main dengannya."


Tiara dan Caca saling menautkan tangannya, Tiara menggelengkan kepalanya saat Alan ingin memanggil Alex. Tiara tau arti kata bermain yang di sebut oleh Alan.


"Oh, tapi sayang aku tidak mempunyai no ponselnya." Dengan segera Alan mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyerahkan kepada Tiara. "Masukkan no-nya."


Tiara tetap bergeming tidak menerima ponsel Alan.


"Oh, apakah harus perlu ancaman dulu?" gertak Alan. Dengan cepat Alan menggapai tangan Caca, hingga terlepas dari tangan Tiara.


Alan menarik Caca ke sampingnya, "Apa perlu aku menyakitinya dulu." Ancam Alan.


"Akh ...." Rintih Caca, saat Alan mengeraskan cekalan pada tangan Caca.

__ADS_1


"Alan jangan, ku mohon jangan lakukan itu pada Caca." ujar Tiara, dengan gemetar Tiara mengambil ponsel Alan dan memasukkan no telepon Alex.


"Sudah." Tiara menyerahkan kembali ponsel itu pada Alan.


Alan segera mendorong tubuh Caca ke arah Tiara. Dengan segera Alan mengirimkan pesan pada Alex.


💌 Aku ingin bermain denganmu, datanglah ke jalan xxx. Datanglah sendiri, jika kau tidak menuruti perintahku. Maka istri dan sahabatnya yang akan menerima akibatnya.


Setelah selesai mengirim pesan pada Alex, Alan segera keluar dari sana.


Hingga 1 jam berlalu.


"Tuan di luar ada dua orang laki-laki yang ingin menemui anda," lapor salah satu anak buah Alan yang berjaga di luar rumah.


"Bagus, tapi pastikan kau ambil ponsel mereka dan hancurkan." Perintah Alan dingin.


"Baik, Tuan." Dengan segera, anak buah Alan melaksanakan perintahnya.


Alex dan Rey di bawah masuk kedalam ruangan yang cukup luas, di bandingkan tempat penyekapan Tiara dan Caca.


Alex dan Rey, kedua tangan mereka di cekal oleh 4 anak buah Alan.


Di sana Alan duduk dengan santai di salah satu kursi kayu. "Selamat datang," ucap Alan ke pada keduanya dengan penuh senyum. "Aku kira, aku akan bermain dengan satu orang. Tapi ternyata dua orang."


"Di mana istriku!" Tanya Alex dengan geram.


"Wohoho, sabar dulu. Nanti kau juga akan ketemu," ujar Alan yang masih menampilkan senyum.


Alan mengisyaratkan pada anak buahnya untuk membawa Tiara dan Caca.


"Uncle," panggil Caca saat mengetahui Rey ada di sana. Begitupun Tiara yang juga memanggil suaminya.


"Baiklah, permainan akan segera di mulai. Peraturannya, jika kalian membalas pukulan ku. Maka dua gadis itu juga akan menerima balasannya," ujar Alan.


"Dasar pengecut," sahut Rey.


"Apa kau ingin melihat contohnya?" Tanya Alan. Tapi Alan segera memberi isyarat pada anak buah yang mencekal tangan Caca.


Anak buah Alan segera mencengkeram rambut Caca, hingga kepala Caca mendongak ke atas.


"Akh ...." teriak Caca.


"Alan cukup jangan lakukan itu...!" teriak Tiara.


"Tenang saja nanti kau akan mendapat giliran, karena aku sekarang sudah tidak peduli denganmu." ucap Alan yang sekarang menatap dingin pada Tiara.


Entah kenapa Alan tidak suka dengan cara Tiara menatap Alex dengan penuh cinta.


"Ok, ok, kita mulai saja." Sela Rey yang tidak tega dengan Caca.


"Baik," jawab Alan, kemudian mengarahkan pandanganya. "Lepaskan," perintahnya pada anak buah yang mencengkeram rambut Caca.

__ADS_1


"Kita mulai," ucap Alan.


Anak buah Alan segera melepaskan Alex dan Rey.


Bugh.


Bugh.


Alan yang postur tubuhnya tidak jauh beda dengan Alex dan Rey dengan cepat membuat tubuh mereka babak belur. Apalagi tanpa perlawanan dari Alex dan Rey.


"Sudah cukup kumohon hentikan!!!" Teriak Tiara saat melihat tubuh suaminya terkapar. Sedangkan Caca menangis tergugu melihat apa yang di lakukan Alan di depannya.


Alan yang mendengar teriakkan Tiara seketika menghentikan aksinya. Alan masih bisa melihat Alex yang bergerak mencoba untuk bangun. Sedangkan Rey sudah setengah sadar.


"Urus mereka." Perintah Alan, seraya membersikan tangannya yang terkena noda darah Alex dan Rey.


Dua anak buah Alan masing-masing mengambil kursi kayu dan mendekati Alex dan Rey.


"Nggak," ucap Tiara dan Caca bersamaan. Mereka tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.


Dengan segera Tiara menggigit tangan anak buah Alan yang mencekal tangannya. Dan Caca segera menendang selangk*ng*n orang yang mencekal tangannya.


Seketika mereka berdua terlepas dan berlari ke arah Alex dan Rey.


Brak.


Alex yang masih tersadar masih sempat menghindar berguling ke samping dengan Tiara berada di pelukannya, saat kursi itu akan menghantamnya.


Tapi tidak dengan Caca, Caca tidak sadarkan diri di atas tubuh Rey setelah menerima hantaman kursi kayu di punggungnya demi melindungi Rey.


Brak.


Dari luar pintu di dobrak dengan paksa. "****, gue terlambat." Umpat Leo yang melihat keadaan kedua temanya yang babak belur.


Leo datang dengan Riko dan beberapa anak buahnya.


Leo dengan geram langsung menghajar Alan, dan anak buah Riko segera meringkus anak buah Alan.


Anak buah Alan kala jumlah dengan Anak buah Riko.


Dengan segera Riko membawa semuanya ke rumah sakit terdekat.


*


*


Di lorong rumah sakit, Mommy, Papa dan Mama Mona berjalan tergesa-gesa setelah mengetahui kabar dari Riko.


"Riko bagaimana keadaan mereka?" tanya Mommy saat melihat Riko di depan ruang operasi.


"Nyonya, semuanya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Tapi Nona Caca ...."

__ADS_1


...----------------...


Udah aku kasih Doble up hari ini, spesial untuk kalian yang masih setia menunggu. Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn.


__ADS_2