
Lamunan Tiara buyar seketika, saat dirinya di kejutkan dengan seseorang yang mencium pipinya.
Tiara menoleh ke arah seseorang yang berdiri di sampingnya. Suaminya yang masih terlihat tampan dengan tubuh yang terbalut setelan jas kerja, meskipun raut wajahnya memancarkan kelelahan. Apalagi Alex yang tersenyum tampan ke arahnya, sungguh melelehkan hati Tiara.
"Hei, kenapa? Kok ngelamun?" tanya Alex dengan menggoyangkan tangannya di depan wajah Tiara yang sekarang menatapnya dalam diam.
Tiara segera tersadar. "Oh ... tidak apa-apa," elak Tiara. Tapi sedetik kemudian Tiara ingat dengan apa yang dia lihat tadi. "Mas, mangga nya mulai berbuah," ujarnya, dengan mengarahkan pandanganya pada pohon mangga yang mulai berbuah.
Alex mengikuti arah pandang Tiara, kemudian menatap Tiara kembali lagi. "Terus?"
"Kayaknya enak kalau di makan pakai sambal gula merah," ujar Tiara dengan tatapannya masih tertuju pada mangga muda itu.
Alex menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Tiara. "Sayang, itu masih muda. Nanti kamu akan sakit perut," sergah alex. "Nanti biar Pak Tito akan belikan yang sudah matang," bujuknya.
Raut wajah Tiara tiba-tiba sendu. Karena yang dia inginkan adalah mangga mudah yang berbuah di taman mansion itu. "Tidak usah Mas kalau begitu." Tiara segera bangun dari duduknya, berniat untuk masuk ke dalam mansion.
Tapi belum juga kakinya melangkah tangannya sudah di cekal oleh Alex. Alex menghela nafasnya pelan. "Apa kau menginginkannya?"
Alex mulai mengerti apa yang di inginkan istrinya, apalagi sekarang yang telah mengandung buah hati mereka.
Tiara menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Alex heran.
"Baby-nya yang ingin," cicit Tiara, tapi tidak berani menatap wajah Alex.
Ada senyuman di bibir Alex yang tampak samar. "Baiklah kalau begitu."
Tiara segera mengarahkan pandanganya pada ALex, juga dengan senyuman yang mengembang di bibirnya."Benarkah?"
"Hm ... nanti aku akan menyuruh Pak Tito untuk mengambilkannya," ujar Alex.
"Tapi baby-nya ingin Mas yang ambil," seru Tiara.
"Huh." Senyuman yang tadi terbit seketika lenyap, mendengar penuturan istrinya. Apalagi mangga itu berbuah di pohon mangga yang paling ujung.
"Sayang, tapi aku tidak bisa memanjat pohon," tolak Alex.
Lagi-lagi wajah Tiara berubah manjadi sendu. Alex yang melihatnya hanya menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh tidak tega melihatnya.
"Baiklah, baiklah aku akan melakukanya untukmu." Alex akhirnya memilih memenuhi keinginan baby yang kata istrinya.
Tiara kembali tersenyum melihat itu.
Alex segera melepas jas yang membalut tubuhnya, menyampirkan nya di kursi yang tadi di duduki oleh Caca. Langkahnya perlahan menuju arah pohon mangga yang tadi buahnya di inginkan oleh istrinya.
Sebelum naik, Alex lebih dahulu melepas sepatu dan kaos kakinya, kemudian menggulung kemeja di bagian tangan hingga sampai siku.
Tiara yang menunggu suaminya di bawah pohon mangga hanya memberikan semangat ketika suaminya itu mulai memanjat pohon mangga. "Mas, hati-hati. Tapi ambil yang banyak." teriaknya.
__ADS_1
Alex yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya. "Apa coba maksudnya! khawatir tapi tetap saja menginginkan mangga nya," gerutu Alex saat berada di atas pohon.
Dengan hati-hati Alex memijakkan kakinya pada dahan pohon yang sekiranya kokoh sebagai penyanggah tubuhnya saat Alex mulai menggapai mangga.
Satu persatu mangga yang di petik mulai berjatuhan. Tiara yang berada di bawah pohon sedikit menyingkir.
"Mas ... sudah," teriak Tiara saat melihat empat buah mangga yang sudah di ambil Alex.
"Oke," sahut Alex dari atas pohon. Saat Alex mulai turun kakinya ternyata tidak tepat menginjak pohon yang masih mudah. Alhasil dahan itu langsung patah dan Alex seketika jatuh.
Bugh.
"Mas."
"Om."
Pekik Tiara dan Caca yang baru kembali dari dapur setelah tadi mengambil minum.
Caca segera menaruh minumnya di atas meja kemudian menghampiri Alex yang sudah di tolong oleh Tiara.
"Mas tidak apa-apa?" tanya Tiara sedikit panik.
"Tidak apa-apa, untung saja tidak terlalu tinggi pohonnya," jawab Alex sesekali mendesis saat merasakan bok*ngnya sedikit nyeri karena tadi saat terjatuh, bok*ngnya mendarat terlebih dahulu.
"Om tidak apa-apa?" tanya Caca yang juga sedikit khawatir.
"Untung saja tidak apa-apa kalau tidak bagaimana. Udah jatuhnya nggak keren dari atas pohon mangga, masak iya harus kenapa-kenapa," celoteh Caca yang kemudian tergelak, ketika mengingat jatuhnya Alex tadi.
Seketika Alex menatap Caca tajam, tapi tawa Caca tidak bisa berhenti, hingga sudut matanya berair.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya melihat Caca.
"Ya sudah Mas ayo masuk," ajak Tiara dan membatu memapah Alex berjalan menuju kamar mereka.
***
Malam hari Tiara menyuruh suaminya untuk makan di kamar saja, karena takut jika Alex masih sakit.
Tiara dengan telaten menyuapi suaminya. "Apa kamu tidak makan?" Karena sedari tadi Alex melihat hanya dirinya yang makan.
"Nanti," jawab Tiara.
Alex segera merebut sendok yang berada di tangan istrinya. "Kita makan bersama," Alex yang kemudian menyuapi Tiara.
Tiara juga dengan senang hati menerima suapan dari suaminya. Setelan makan di piring itu tandas, Tiara berjalan keluar kamar berniat mengembalikan piring ke dapur sekalian melihat Zio.
Di meja makan Tiara melihat ada Papa Nathan, Mommy Jessy dan juga Zio.
__ADS_1
"Sayang kamu tidak makan?" tanya Mommy. Karena Mommy tadi melihat Tiara hanya membawa satu piring makanan ke dalam kamar dan itu untuk suaminya.
Tiara segera duduk di kursi sebelah Zio. "Sudah Mom, tadi sekalian makan sama Mas," ujar Tiara.
Mommy menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makanya.
"Sayang, mau Tante suapi?" tawar Tiara pada Zio.
Zio seketika menghentikan makanya dan menoleh pada Tiara. "Tidak, Tante. Zio bisa makan sendiri," ucapnya dan melanjutkan kembali makanya.
Tiara semakin gemas melihat Zio, tangannya seketika mengusap kepala Zio.
Tidak lama ada Bibi yang membawa sepiring irisan mangga muda dangan sambal gula merah yang di taruh mangkuk kecil.
"Non, ini mangga nya." Tiara segera menerimanya. "Terima kasih Bi," ucap Tiara.
Bibi itu menganggukkan kepala dan segera undur diri.
"Sayang, kamu mau makan mangga muda malam-malam?" tanya Mommy. Tapi kemudian mommy bergidik saat melihat mangga muda yang ada di piring Tiara. Membayangkan masam nya bila di makan.
"Iya Mom, tadi pas sore sebenernya Tiara ingin memakanya dengan Caca. Tapi sayang Caca sudah pulang," jelas Tiara. "Ya sudah Mom, Tiara mau ke kamar dulu," pamitnya.
"Iya," sahut Mommy.
Di dalam kamar, Alex segera meletakkan ponselnya saat menyadari kedatangan istrinya.
"Kok lama," protes Alex.
Tiara segera menaruh piringnya di atas nakas, karena akan memakannya nanti. Saat ini perut Tiara masih kenyang setelah makan tadi. Setelah itu Tiara naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah suaminya.
"Aku lihat Zio dulu, Mas."
Kening Alex berkerut. "Siapa Zio?"
"Anak laki-laki yang kita bawa pulang Mas," jelas Tiara.
"Apa kau yang memberikan nama?"
"Hm," sahut Tiara.
"Kenapa harus nama Zio?"
Tiara mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku hanya suka nama itu."
...----------------...
...SEBENERNYA MAU KASIH YANG ANGET-ANGET. TAPI NANTI TAKUT BATAL PUASANYA KARENA MASIH SORE. JADI AKU SIMPEN DULU YA. 😊...
__ADS_1
...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA, BIAR OTHOR-NYA TAMBAH SEMANGAT BUAT NULIS. VOTE, LIKE DAN KOMEN. TERIMAH KASIH, SEMOGA SEHAT SELALU. AMINN....