DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Bermain Pisang Dan Terong Dengan Pedang


__ADS_3

Semua tercengang mendengar ucapan Rey yang terlalu jujur. Bahkan seketika suasana di ruang tamu itu menjadi hening. Tapi Rey dengan tidak tahu malunya masih saja tersenyum tanpa merasa canggung.


Plak.


Tiba-tba sebuah majalah terlempar ke arah Rey dan tepat mengenai kepalanya.


"Ouch." Rey mengusap keningnya yang terasa sedikit nyeri setelah terkena lemparan majalah. Rey menatap tajam ke arah Alex, pelaku pelemparan majalah


"Dasar tidak tahu malu," desis Alex.


"Ehm," Papa berdehem melegakan tenggorokannya yang tadi sempat tercekat mendengar ucapan Rey. Begitupun Mommy melakukan hal yang sama.


Tiara segera menggelengkan kepalanya, yang tadi otaknya sempat tercemari ucapan mesum Rey. "Oh ya kalian menginap di sini saja ya, di sini ada tiga kamar. Nanti Tiara biar tidur dengan Caca sama Tante Mona. Mommy dengan Papa dan Mas Alex dengan Uncle Rey," ujar Tiara dengan menatap semua orang.


"Bagaimana bisa begitu," ucap Rey dan Alex bersamaan. Dari nada suara mereka berdua sangat tidak menyetujui apa yang di ucapkan Tiara.


Mommy dan Papa hanya menghembuskan nafasnya pelan, mereka tahu apa yang ada di pikiran dua lelaki itu. Papa dan Mommy akhirnya saling pandang, ada senyuman di wajah Mommy dan Papa yang menganggukkan kepalanya, seolah tahu apa yang di pikirkan istrinya.


"Uhm ... begini saja, nanti malam biar Papa, Mommy dan Tante Mona menginap di hotel saja," usul Papa.


"Bagaimana bisa begitu," cetus Caca yang merasa keberatan dengan usul Papa. Apalagi mereka baru bertemu.


"Iya, bagaimana lagi," sahut Mommy dengan raut wajah yang di buat sesedih mungkin.


"Tidak, semua orang tidak boleh kemana-mana," ujar Caca seraya berdiri dari duduknya. Dan Tiara juga menganggukki ucapan Caca.


Rey yang duduk di sebelah Caca seketika menggenggam tangan Caca. "Terus gue gimana?" Tanya-nya dengan menengadahkan wajah-nya untuk menatap Caca yang posisinya lebih tinggi darinya. Raut wajah Rey begitu menghibah seakan meminta untuk dikasihani.


Caca yang melihat suami seharinya begitu memelas sebenarnya ingin sekali membuatnya tertawa, tapi dia tahan. "Uncle kan bisa tidur dengan Om Alex. Lagi pula kalian sudah berteman lama, pasti tidak susah berbagi kamar," ujar Caca.


"Tapi gue nggak mau main dengan pisang," sahut Rey yang masih tidak setuju.


"Eh, lo pikir gue suka main sama terong," cibir Alex menanggapi ucapan Rey. Tapi sejujurnya dirinya sendiri juga tidak setuju. Semalam saja ketika dirinya tidur sendiri, sangat susah untuknya. Karena terus terbayang Tiara yang sudah berada di dekatnya tapi tidak bisa ia peluk.


Semua orang menggelengkan kepala melihat perdebatan antara Alex dan Rey. "Sekali-sekali kalian bermainlah pedang-pedangan, bukanya dulu waktu masih kecil lelaki biasanya suka bermain itu," ucap Papa Nathan dengan tersenyum penuh arti.


Sedangkan semua orang kini menatap Papa Nathan. Para perempuan tidak tahu apa yang di maksud Papa Nathan sebenarnya. Tapi Alex dan Rey setelah menatap Papa Nathan akhirnya pandangan mereka berdua ketemu, pikiran Alex dan Rey traveling kemana-mana mendengar ucapan Papa Nathan. Hingga Alex dan Rey kemudian saling membuang muka dengan bergidik geli.


"Buat apa bermain pedang-pedangan, makan donat aja enak," gumam Alex.


"Buat apa bermain pedang-pedangan, kalau lebih enak makan rendang," gumam Rey.

__ADS_1


***


Matahari telah mulai ke peraduannya, menandakan malam sebentar lagi akan tiba.


Tiara malam ini memutuskan memesan beberapa makanan dari cafenya. Karena tidak mungkin untuk dirinya memasak dengan porsi banyak dalam keadaanya hamil sekarang, meminta bantuan Mommy dan Tante Mona juga tidak tegah, pasti mereka juga merasakan lelah karena baru saja tiba.


Makanan sudah tersaji dan tertata rapi di meja makan, tinggal menunggu semua orang untuk berkumpul menikmati makan malam.


Rey dan Alex sedang berbincang di teras rumah Tiara.


"Jadi beneran bini lo hamil?" tanya Rey. Karena tadi matanya juga sempat melihat perut Tiara yang membuncit. Dulu Alex memang pernah menceritakan kehamilan Tiara yang dia ketahui dari Andrian. Tapi Rey pikir Andrian hanya membual saja.


"Iya, lo kan lihat sendiri hasil kerja keras gue," jawab Alex dengan tersenyum bangga.


"Cih, gaya lo," cibir Rey.


Tapi Alex tidak mau menanggapi, karena memang mengingat kehamilan Tiara adalah hasil kerja kerasnya. Bahkan tidak peduli memproduksinya di mansion, kantor, apartemen bahkan dapur. Alex terkikik sendiri mengingat itu.


Tapi wajah Alex tiba-tiba sendu mengingat awal-awal kehamilan Tiara, Alex tidak berada di sisinya. Sungguh, Alex sendiri juga menyebutnya dengan deddy yang buruk untuk anaknya.


"Alex, lo nggak apa-apa kan?" Tanya Rey yang menatap heran dengan raut wajah Alex yang berubah-ubah. Dari senyum kemudian sedih.


Rey beranjak dari duduknya, dan menempelkan punggung tangan kanan Rey ke dahi Alex. Dan tangan kirinya dia tempelkan pada bok*ngnya. "Nggak anget kok Lex," celetuk Rey.


"Nggak," jawab Rey dengan begitu entengnya.


Alex hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Rey. "Pantes dia berjodoh sama tuh anak nakal, sama-sama somplak," gumam Alex.


"Lo bicara apa?" tanya Rey yang mendengar Alex bergumam.


"Nggak, gue udah lapar mau makan dulu," sahut Alex seraya bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah Tiara.


"Dasar aneh," gerutu Rey yang juga mengikuti langkah Alex.


Ternyata di meja makan semua orang sudah berkumpul. Dengan kedatangan Alex dan Rey, semuanya sudah lengkap.


Alex yang langsung duduk di samping Tiara, dan Rey yang duduk di samping Caca. Tangan Tiara bergerak dengan sendirinya untuk mengambilkan Alex makanan, padahal sudah lama dia tidak melakukanya. Mungkin itu reflek kebiasaanya dulu.


Sedangkan Caca dan Rey masih mengambil makanan sendiri-sendiri, mungkin karena belum terbiasa, karena semua butuh proses dan terbiasa.


Tidak ada obrolan ketika di meja makan, hingga sepuluh menit kemudian, makan malam selesai begitu saja. Ketika Tiara ingin membereskan meja makan, dengan cepat Alex melarangnya. "Biar aku saja, duduklah," ucap Alex yang di patuhi Tiara.

__ADS_1


Tiara membiarkan Alex membersihkan meja makan di bantu Rey, yang sebenarnya tadi di paksa oleh Alex.


Tiara sedang menonton televisi, bersama semuanya kecuali Alex dan Rey.


"Sayang, apakah dia sudah mulai bergerak?" tanya Mommy dengan mengelus perut buncit Tiara.


"Hm," jawab Tiara dengan menganggukkan kepalanya. "Tapi belum terlalu keras, hanya saja mulai kemarin dia lebih aktif rasanya," jelas Tiara.


"Mungkin dia tahu, Daddy-nya sedang berada di dekatnya," ujar Mommy.


"Apakah bisa begitu Mom?" Tanya Tiara yang baru tahu.


"Hm ... mungkin dia juga dia merindukan Daddy-nya," ucap Mommy.


Deg


Hati Tiara seketika mencelos, apakah anak-nya juga bisa merasakan kerinduan yang juga dia rasakan.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Sayang apa kamu mau ikut Mommy ke hotel?" tanya Mommy pada Tiara dan Caca.


Alex dan Rey secepat kilat menoleh ke arah Mommy. "Kenapa Mommy mengajak Tiara!" Protes Alex.


"Iya, kenapa mengajak Caca!" Rey yang juga ikut-ikutan protes.


"Tadi kan kalian yang tidak mau tidur sekamar," ucap Mommy mengingatkan.


"Boleh Mom," sahut Tiara dan Caca bersamaan.


Mata Alex dan Rey melebar mendengar jawaban istri mereka.


"Tidak," sahut Rey dan Alex bersamaan.


"Ok, ok. Aku dan Rey akan tidur sekamar," ujar Alex yang akhirnya mengalah. Dari pada harus berjauhan dengan Tiara.


"Baik, biar saja malam ini bermain pisang dan terong dangan pedang," gerutu Rey.


Sedangkan Mommy dan Papa juga Mama Mona tersenyum melihat itu.


...----------------...

__ADS_1


Aku begadang demi kalian, yang masih setia menuggu 😊.


Jangan lupa vote, like dan komen. Hadiah apa saja juga aku terima kalau di kasih 😅. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 🙏


__ADS_2