
Tiara satu jam lalu sudah berada di rumah, dan hanya menghabiskan waktunya duduk di ranjang dengan tumpukan bantal yang menyangga punggungnya.
Pikirannya melayang jauh, entah memikirkan apa. Hanya tatapan kosong yang ada di matanya.
Klek.
Lamunan Tiara seketika buyar, saat suaminya baru saja masuk kedalam kamar.
Alex segera duduk di ranjang samping Tiara. "Apa ada sesuatu?" tanya Alex yang menyadari kegundahan istrinya.
Tiara menatap lekat wajah suaminya yang sekarang juga menatapnya. Suaminya yang begitu tampan dengan kesempurnaannya. Pantas jika semua wanita juga ingin memilikinya. Tapi pria tampan ini sekarang adalah suaminya, apa dirinya serakah kalau Tiara hanya ingin memilikinya seorang.
"M-mas," ucap lirih Tiara dengan bibir bergetar.
"Hm," sahut Alex. Pria itu memberanikan diri untuk menggenggam tangan istrinya yang sekarang dengan raut wajah sendunya.
"Maafkan aku, jika kamu harus terpaksa tinggal di sini," ucap Tiara. Tiara tau sedari tadi Riko terus saja menghubungi suaminya untuk memberitahukan tentang perusahaanya.
"Hei ... aku mau tinggal di sini itu karena kemauan ku sendiri," Alex yang mencoba menenangkan. Tangannya terulur untuk membelai pipi istrinya yang mulai tembem. "Jangan pikirkan apa pun," imbuhnya.
"Tapi aku jadi menyusahkan mu," Air mata Tiara yang mulai mengalir.
"Ssttt, sudah jangan mengatakan apapun. Kau tidak pernah menyusahkan ku," sergah Alex seraya menghapus air mata Tiara.
***
1 Minggu berlalu.
Tiara dan Caca sedang bersantai di halaman belakang rumah menikmati udara pagi. Sedangkan Alex pergi menemani Rey yang menghadiri pembukaan cabang baru pabriknya di kota itu. Dan Mommy sudah kembali bersama Papa ke Jakarta dua hari yang lalu, untuk mengurus perusahaan.
"Ca, bagaimana kalau kita kembali ke Jakarta?" tanya Tiara tiba-tiba.
"Apa kamu sudah yakin Ra?" Yang di jawab pertanyaan oleh Caca. gadis itu takut jika Tiara mengambil keputusan kalau bukan dari hatinya sendiri.
"Hm ... aku sudah mempertimbangkannya dengan matang. Bagaimana denganmu?" Tiara yang bertanya balik.
"Uhm ... aku juga akan pergi ke Jakarta. Karena aku juga belum mengurus surat-surat pernikahan secara negara," sahut Caca yang mengingat percakapan suaminya beberapa hari lalu. Rey sudah mengajaknya kembali ke Jakarta, tapi Caca tetap dengan alasan yang sama, dirinya belum siap untuk kembali ke Jakarta. Padahal alasan utama Caca adalah tidak mau meninggalkan Tiara sendiri di kota ini, meskipun sudah ada Alex yang mau menemaninya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku nanti akan pergi ke cafe dan membicarakannya dengan Kak Vita," ujar Tiara.
Tiara akan memasrahkan urusan cafe dengan Vita, karena selama ini yang tahu perkembangan cafe selain Tiara dan Caca, Vita juga mengetahuinya. Vita sudah di percaya Tiara sejak beberapa minggu bekerja dengannya. Vita sedikit banyak juga membantu memberikan ide masakan baru untuk cafe mereka dan yang paling penting Vita adalah gadis yang jujur.
"Kita sekalian saja membuat pesta kecil-kecilan," saran Caca. "Jadi, besok kita sudah bisa kembali ke Jakarta," jelas Caca.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan mengirim pesan kepada Mas Alex." Tiara yang segera mengotak atik ponselnya untuk mengirim pesan pada Alex. "Sudah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Tiara yang di setujui Caca.
Hingga beberapa saat, Tiara sudah sampai di cafe dengan Caca. Pagi itu kebetulan cafe baru buka jadi tidak begitu banyak pengunjung.
Tiara dan Caca memanggil beberapa karyawan termasuk Vita untuk berkumpul ke ruangannya.
"Pagi semua." Tiara yang memulai pembicaraannya.
"Pagi," sahut semua karyawannya.
"Ada kabar yang mau saya sampaikan. Besok Saya dan Caca sudah tidak bisa lagi datang ke cafe ini," Tiara menjeda kalimatnya. Dan menatap ke arah Vita. "Mulai besok, yang mengelola cafe ini saya serahkan kepada Vita."
Sontak semua karyawan yang berada di sana menatap ke arah Vita. Ada yang menatapnya biasa saja, tapi ada juga yang menatapnya tidak suka.
"Tapi, Mbak Tiara saya tidak bisa." Vita rasanya tidak mampu jika di beri tanggung jawab seperti itu.
"Iya Kak Vita, nanti aku juga akan memantaunya meskipun tidak secara langsung. Dan sesekali juga aku atau Caca akan datang kemari untuk mengunjungi." Tiara yang berusaha membujuk Vita untuk mau bertanggung jawab atas cafe yang di dirikan nya selama ini.
Vita meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Sungguh dirinya merasa tidak pantas. Tapi karena Tiara dan Caca yang dulu mau menerimanya bekerja, hingga dirinya bisa melanjutkan kuliahnya.
"Baik, kalau begitu saya menerimanya," jawab Vita setelah mempertimbangkan beberapa saat keinginan Tiara dan Caca.
Tiara dan Caca seketika memeluk Vita. "Terima kasih Kak Vita," ucap mereka berdua.
Tiara segera melepas pelukannya, saat teringat dengan rencana pesta kecil-nya. "Oh ya, nanti malam cafe tutup lebih awal. Saya ingin membuat pesta kecil, jadi kalian tolong persiapkan," titah Tiara yang di angguki semua karyawannya. "Dan untuk Kak Vita mulai hari ini, jangan bekerja lagi menjadi kasir lagi."
"Ya sudah, semuanya boleh kembali bekerja. Kecuali Kak Vita yang tetap di sini." Perintah Caca.
Akhirnya di ruangan Tiara hanya ada mereka bertiga. Tiara mengambil sesuatu di laci meja kerjanya. "Kak Vita pelajari ini ya. Ini pembukuan cafe. Dan data barang-barang apa saja stok yang ada di gudang." Tiara memberikan buku yang lumayan tebal kepada Vita.
"Iya Mbak Tiara," sahut Vita dengan menerima buku yang di berikan Tiara.
__ADS_1
Sebenarnya umur vita lebih tua dua tahun dari pada Tiara. Hanya saja Vita menghormati Tiara sebagai pemilik cafe, sehingga memanggilnya dengan sebutan 'Mbak'
*
*
Malam telah tiba, seperti rencana sebelumnya. Cafe sudah tutup lebih awal.
Tiara mengadakan pesta kecil sebelum dirinya dan Caca kembali ke Jakarta. Pesta itu hanya di hadiri oleh karyawannya sendiri dan beberapa orang yang sengaja mereka undang untuk memberitahukan kembalinya mereka.
Dan jangan lupakan Alex dan Rey yang begitu gembiranya, saat istri mereka memberitahunya jika ingin kembali ke Jakarta.
Alex dan Rey tidak membiarkan istri mereka jauh darinya selama pesta berlangsung. Karena di pesta itu ternyata ada Radit dan Farhan yang di undang istri mereka.
Radit begitu terkejut, mengetahui jika Tiara dan Caca akan kembali ke kota asal mereka. Karena sebelum pesta tadi di buka, Tiara sudah memberikan kabar tentang dirinya dan Caca yang akan pindah. Rasanya ada sesuatu yang hilang hingga tak tersisa di hatinya.
Hingga waktu pukul sebelas malam, pesta itu baru berakhir.
Alex dan Rey segera mengajak istrinya segera pulang. Karena mereka tidak mau jika Radit mendekati Tiara dan Caca.
***
Rey dan Caca sudah bersiap tidur setelah tadi mengepak barang-barang mereka ke dalam koper. Karena besok mereka akan melakukan penerbangan pagi.
"Sayang, sudah satu minggu." Rey yang sudah menghitung tamu bulanan Caca.
Mata Caca yang baru terpejam terbuka seketika saat mendengar ucapan suaminya. "Apanya?" Caca yang masih belum mengerti acara pembicaraan suaminya.
"Jangan pura-pura tidak mengerti, aku bahkan sudah melingkari kalender yang ada di ruang tengah, kapan seharunya tamu laknat mu itu pergi," seru Rey seraya tangannya memainkan kancing piyama Caca yang bergambar keropi.
Mata Caca membulat saat sudah paham perkataan Rey. "Uncle, tapi masih belum pergi semuanya. Masih tertinggal sedikit. Coklat-coklat," jelas Caca dengan pipi yang bersemu merah. Sungguh malu membahas tentang ini dengan suaminya.
Rey yang mendengar jawaban Caca membaringkan tubuhnya kembali di samping Caca. Rey mendengus kasar. "Kenapa harus ada coklat-coklat. Kenapa tidak ada vanila, stroberi atau yang lainya," gerutu Rey.
Caca hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn.