
Caca yang baru saja akan memasuki mansion, ternyata mendapati kejutan untuknya. Untuk menyambut kepulangannya.
Tiara bersama keluarga memang sudah merencanakan ini, makanya waktu tadi Mama Mona menawari Caca agar ikut tinggal bersamanya, pasti kejutan yang mereka buat akan gagal total.
Semua akhirnya menikmati makan bersama, tapi sayang Caca tidak bisa untuk lama-lama duduk di kursi roda saat rasa nyeri sudah mulai menderanya.
"Uhm ... maaf," ucap Caca yang mengalihkan perhatian semua orang tertuju padanya.
"Boleh aku ke kamar!" Ucapnya tidak enak karena merasa mengganggu.
"Boleh dong sayang, tapi kamar kamu di lantai satu saja ya ... biar kalau perlu apa-apa tidak susah," jelas Mommy, dan berdiri dari duduknya untuk menunjukkan kamar yang akan di tempati Caca.
Sedangkan Caca hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tiara sejenak juga akan berdiri untuk mengantar Caca, tapi tangannya di cekal oleh Alex.
"Rey, lo anterin tuh anak ke kamarnya." Alex menjeda kalimatnya. "Kalau lo nggak mau! Ya udah gue suruh Bayu," imbuhnya.
Rey yang mendengar nama Bayu di sebut seketika bangun dari duduknya, menyudahi acara makannya. Rey kemudian mendorong kursi roda Caca mengikuti langkah Mommy yang berjalan lebih dulu.
Alex hanya tersenyum miring melihat kelakuan sahabatnya itu. Kemudian mengalihkan pandanganya pada Tiara. "Biarkan mereka berdua," bisik Alex.
Setelah selesai acara makan bersama, Mama Mona memutuskan untuk pulang. Sedangkan Papa pergi keluar dengan Mommy entah kemana. Alex dan Rey bersantai di ruang kerja Alex. Dan Tiara sedang berada di kamar Caca untuk menemaninya.
"Ca, kamu bener! Nggak usah ngasih tau Om dan Tante tentang keadaan kamu?" Tanya Tiara.
Karena beberapa waktu lalu Tiara ingin mengabari kedua orang tua Caca, meskipun tidak tahu keberadaan mereka. Tapi hal yang mudah bagi Tiara untuk melacaknya. Apalagi profesi Ayah Caca yang seorang Dokter dan Ibunya yang seorang model. Tapi Caca tidak mau mereka tau.
Caca menghembuskan nafasnya pelan. "Nggak usah Ara, percuma jika mereka tau. Semuanya nggak akan berubah, kamu tahu sendiri, sudah beberapa tahun mereka tidak pernah datang. Bahkan menelfon hanya menanyakan kabar," jawab Caca dengan sendu.
Tiara juga menghembuskan nafasnya pelan, nasib sahabatnya ini memang sungguh ironi. Mempunyai orang tua tapi rasanya seperti dirinya yang sudah yatim piatu.
Di kamar Tiara Alex menunggu istrinya yang tak juga kembali. Tadi sepulang Rey Alex memutuskan ke kamar untuk istirahat siang, tapi sang istri justru tidak ada. Alex menunggunya hingga jam satu siang, tapi tanda-tanda Tiara belum juga ada.
Hingga terpaksa Alex menuju kamar yang di tempati oleh Caca, saat sudah di depan kamar Caca, Alex dengan perlahan membuka pintu. Dan benar saja dugaannya, istrinya tertidur di sana.
"Ck, ini masih setengah hari. Tapi aku sudah mencari mu saat ingin tidur, bagaimana dengan hari-hari berikutnya!" Kesal Alex.
Dengan perlahan Alex menggendong Tiara dan membawanya kembali ke kamar. Saat sudah berada di dalam kamar, Alex segera membaringkan Tiara di atas ranjang, yang kemudian di susul dirinya berbaring di samping Tiara dengan memeluknya erat.
*
*
Hingga beberapa hari berlalu, Caca yang sudah bisa berjalan meskipun dengan tertatih, Mommy memperkejakan seorang perawat untuk membantu keadaan Caca. Dan juga sudah beberapa kali melakukan terapi.
__ADS_1
Dan Alex yang juga sedikit kesal karena waktu bersama Tiara sekarang sedikit berkurang. Tapi Tiara sedikit bersyukur kerena dia bisa sedikit menghindar dari suaminya yang selalu saja membuatnya lelah di atas ranjang.
Seperti sekarang ini, Alex menjadi uring-uringan tidak jelas di perusahan. Bahkan Riko kewalahan menghadapi sikap Bos-nya itu.
"Tuan, hari ini ada perwakilan dari Baskara Group yang akan datang. Membahas kerja sama yang mereka ajukan," lapor Riko.
Sebenarnya Riko tadi sudah memberitahunya, tapi takut Alex akan lupa, mengingat dari pagi Alex hanya marah-marah.
Alex menatapnya tajam. "Kau tadi sudah mengatakannya Riko," ucapnya dingin.
Riko hanya menelan saliva nya dengan susah payah, merasa tenggorokannya tiba-tiba kering.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi," pamitnya dan segera keluar dari ruangan Alex.
Alex mengecek jadwal meeting, ternyata jam setengah tiga sore. Alex melihat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul satu siang.
Alex kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja setelah mengutak-atik segera menempelkan di daun telinganya, untuk memulai sambungan telfon.
"Ha --"
"Tomy, nanti Tiara antar kan saja ke kantor."
"Ba --"
Tut.
***
Jam pulang sekolah telah tiba, Tomy dapat melihat Nona nya berjalan ke arahnya.
"Silahkan Nona," ucap Tomy seraya membukakan pintu mobil untuk Tiara.
"Kak Tomy, Tiara bisa membukanya sendiri," keluhnya.
"Ini sudah aturan dari tuan Nona," jelas Tomy. Dan kemudian menutup pintu mobil setelah Tiara masuk ke dalam mobil. Tomy sendiri segera masuk di bagian pengemudi untuk melajukan mobil ke arah perusahaan.
"Nona tadi Tuan meminta saya, untuk mengantarkan Nona ke perusahaan," lapor Tomy.
Tiara menautkan kedua alisnya. "Ada apa kak?"
"Saya tidak tau Nona," jawab Tomy.
Hingga beberapa saat mobil yang di kendarai Tommy akan sampai di perusahaan, tapi mata Tiara tertuju pada toko roti yang berada tidak jauh dari kantor Alex.
"Kak Tomy, berhenti di sini saja. Aku mau beli sesuatu," serunya.
__ADS_1
Dengan patuh Tomy menepikan mobilnya. "Kak Tomy pulang saja tidak usah menunggu," ujar Tiara sebelum turun dari mobil.
Setelah mobil Tomy melaju pergi meninggalkannya, Tiara segera masuk ke dalam toko roti untuk memesan beberapa potong roti dan dua cup cappucino panas.
Tidak Butuh waktu lama pesanan Tiara sudah selesai. "Seratus dua puluh kak," ucap karyawan toko, seraya memberikan pesanan Tiara.
Tiara segera mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyelesaikan transaksi pembayarannya. "Terima kasih," ucapnya dengan senyuman manis.
Tiara melangkahkan kaki menuju kantor Alex yang jaraknya sudah dekat dengan paper bag di tangannya, tapi baru saja kaki Tiara akan memasuki perusahaan. Tiara bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf saya tidak sengaja," ucap Tiara dengan menundukkan kepalanya.
"Apa kau tidak bisa melihat," bentak orang itu
Tiara segera mengangkat pandanganya, Tiara dapat melihat wanita itu seumuran dengan suaminya dengan pakaian formal yang ketat, dan riasan wajah yang cukup tebal. Wanita cantik dengan tinggi semampai.
"Maaf saya benar-benar tidak sengaja," ucap Tiara lagi.
Tiara dapat melihat wanita itu menatapnya dengan pandangan tidak suka.
Seorang scurty menghampiri mereka, dia berniat ingin memberitahukan siapa perempuan yang di bentaknya. Tapi Tiara memberi isyarat agar tidak usah di besar-besarkan.
Wanita itu kemudian menoleh ke arah scurty yang diam saja. "Seharusnya kau itu tidak membiarkan orang yang tidak penting masuk ke dalam perusahaan," hardiknya.
Kemudian wanita itu melenggang pergi masuk ke dalam perusahaan di ikuti laki-laki yang berjalan di belakangnya.
"Apa Nyonya tidak apa-apa?" Tanya scurty.
Tiara tersenyum manis. "Tidak apa-apa Pak."
Tiara juga segera masuk ke dalam perusahaan, untuk menuju lantai atas ke ruang kerja suaminya.
Di ruang meeting Alex sedang menunggu kolega yang akan membahas kerja sama dengannya.
Klek.
"Selamat sore Tuan Alex," ucap seorang laki-laki yang baru memasuki ruangan meeting itu.
"Selamat sore," jawab Alex.
Tapi pandangan Alex mendadak dingin saat melihat sosok wanita yang baru hadir.
"Apa kabar Tuan Alex," ucap wanita itu dengan tersenyum.
Tapi berbeda dengan Alex yang menatapnya tajam dan menggertakkan giginya.
__ADS_1
...----------------...