
"Mas"
Hanya kata itu yang bisa Tiara sebut dalam hatinya. Ia sudah memasrahkan takdirnya kepada sang pencipta, tenaganya sudah terkuras setelah memberontak untuk menghindari Rafael yang ingin menjamahnya. Sungguh manusia tak punya hati itu, tidak memiliki rasa belas kasihan. Bahkan air matanya pun rasanya sudah kering tak tersisa.
Sedangkan Rafael hanya memperlihatkan senyuman kemenangannya, melihat wanita yang ia inginkan sekarang sudah tak berdaya di bawah kungkungan nya. Ia memandang wajah ayu Tiara mulai dari mata indah yang terlihat sembab, hidung mancung, bibir ranum yang menggoda, leher jenjang dengan kulit putihnya yang mulus, pasti akan semakin bagus jika ia memberikan tanda merah cintanya di sana.
Mata Rafael terus turun ke arah dada Tiara dan berhenti di sana. Dua bukit kembar itu sekarang ukuranya lebih besar dengan bertambahnya usia kandungannya. Pasti sungguh nikmat jika ia meremasnya dengan kedua tangannya dan menyesap gundukan sampai puas. Hingga pandanganya beralih pada perut Tiara yang membuncit, sungguh di mata pria itu semakin menggoda.
Tiara sekarang hanya memejamkan matanya, ia sungguh takut melihat Rafael yang ingin memakannya. Hingga beberapa saat Tiara semakin merapatkan matanya ketika ia merasakan tangan pria itu perlahan menyingkap dress yang ia kenakan. Air matanya mengalir begitu saja, sungguh ia merasa sebagai istri yang gagal menjaga kehormatannya.
"Aku berjanji, kamu akan menikmatinya." Bisik Rafael di telinga Tiara.
Brak.
"Brengs*k," teriak seorang laki-laki. Yang kemudian dengan cepat menarik Rafael dari atas tubuh Tiara.
Meskipun dengan mata terpejam, tapi Tiara hafal betul pemilik suara itu. Suaminya.
Dan benar saja saat ia membuka matanya, ia melihat Alex yang sudah memberikan pukulannya pada Rafael. Bahkan dengan bringas Alex terus memberikan pria itu pelajaran. Rafael yang mendapat serangan dadakan tidak bisa berkutik karena Alex tidak memberinya kesempatan untuk menghindar dari pukulannya.
"Mas," lirih Tiara dengan bibir bergetar. Rasanya tubuhnya sudah tidak bisa ia gerakkan lagi untuk bergerak.
"Beraninya kau!" Alex bahkan tidak bisa mendengar suara istrinya karena terlalu fokus dengan laki-laki yang sekarang ia duduki tubuhnya, dengan menghantamkan pukulannya bertubi-tubi. "Aaarrgggghh," geram Alex.
Tak lama Riko masuk ke dalam kamar Tiara setelah membereskan anak buah Rafael dan Karin.
Beberapa saat lalu.
Alex yang baru saja tiba, dengan tidak sabar langsung masuk ke dalam rumah dua lantai. Dan yang ia lihat pertama kali adalah Tomy yang sudah babak belur oleh anak buah Rafael.
Tanpa aba-aba, Alex langsung melumpuhkan pria yang sedang menghajar Tomy.
__ADS_1
"Tuan, biar kami yang mengurusnya. Tuan pikirkan saja istri dan putra Tuan." Riko yang sudah berada di sana. Bahkan Toni juga segera mengejar Karin, saat melihatnya berada di lantai dua. Sedangkan Papa Nathan menunggu di mobil karena Alex berpesan sebelum sampai tadi agar tetap berada di dalam mobil, sembari menunggu polisi datang.
Alex yang dalam keadaan panik membuka pintu kamar rumah itu satu persatu. "Sial," umpatnya ketika masih belum mendapati keberadaan istrinya. Hingga pendengarannya menangkap jeritan seorang wanita, yang ia tahu adalah suara istrinya.
Dengan langkah lebar, Alex menapaki tangga hingga ia tiba di lantai dua. Dan segera mencari sumber suara Tiara berada. Di saat tiba di depan pintu kamar yang ia yakini tempat Tiara, ia langsung saja mendobraknya. Amarahnya seakan tak terbendung saat melihat seorang pria berada di atas tubuh istrinya.
Hingga akhirnya sekarang, Rafael sudah tak sadarkan akibat bogem dari Alex.
"Tuan, hentikan." Cegah Riko dengan menahan tangan Alex.
"Pergi kau, jangan mencoba untuk menghentikan ku!" bentak Alex berusaha untuk menarik tangannya. Tapi sekuat tenaga Riko berusaha untuk menahannya.
"Tuan, dari pada anda mengurusi pria ini lebih baik anda memikirkan keadaan Nona." Alex seketika membeku mendengar ucapan Riko. Amarah yang tadinya berkobar, perlahan menyurut ketika pandanganya tertuju pada istrinya yang terbaring di ranjang.
"Sayang," Alex begitu saja beranjak dan menghampiri Tiara. Sungguh sakit hatinya melihat keadaan istrinya yang begitu memilukan, ia segera memeluk wanita yang sedang menatapnya dengan mata sembab itu. "Maafkan aku," hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Hanya terdengar isak tangis dari mulut wanita yang sungguh ia cintai itu.
Tidak menunggu lama, Alex segera membawa Tiara pergi dari tempat terkutuk itu.
Di perjalanan ke rumah sakit, Tiara hanya bisa mendekap erat tubuh suaminya yang sekarang juga memeluknya. Sedangkan di kursi depan ada Papa Nathan yang juga memangku Zio.
Di mobil itu hanya ada keheningan, tidak ada sepatakatahpun yang keluar dari mulut mereka. Hingga rintihan Tiara memecah keheningan mereka. "Mas," panggilnya.
"Ada apa?" sahut Alex dengan sedikit melonggarkan pelukannya agar dapat melihat wajah Tiara.
"Perutku sakit," Tiara yang kembali merintih dengan mengelus perutnya.
"Sayang, apa kamu akan melahirkan?" Alex yang tiba-tiba ikut panik.
"Sepertinya," sesekali Tiara mendesis saat rasa sakit bercampur mulas itu kembali datang.
Otak Alex seketika buyar, rasa panik tidak mampu untuk membuatnya berfikir jernih. "Terus, apa yang harus ku lakukan?" tanyanya.
__ADS_1
Tiara tidak menanggapi ucapan suaminya. Ia lebih memilih diam karena rasa sakit yang ia rasakan.
"Alex, usap punggung Tiara. Itu akan mengurangi rasa sakitnya," sela Papa Nathan yang lebih pengalaman.
Alex segera melakukan apa yang di katakan oleh papanya. Meskipun rasa panik masih menderanya. Tentu ia mengalami itu, karena ini pengalaman baru dalam hidupnya mendampingi istrinya yang akan melahirkan buah cinta mereka.
***
Tidak lama mobil mereka berhenti di pelataran rumah sakit, yang kebetulan tempat Caca juga di rawat.
Beruntung sebelum sampai Papa Nathan sudah menghubungi Mommy yang masih berada di sana. Dan Mommy juga sudah berada di pelataran rumah sakit dengan beberapa Dokter dan perawat untuk segera memeriksa keadaan Tiara saat tiba.
Hingga beberapa saat Tiara sudah masuk ke dalam IGD di temani Alex, dan Zio juga di temani Papa Nathan. Karena sedari tadi ia juga belum membuka matanya.
"Pak apa bisa kita bisa bicara sebentar," ucap Dokter setelah melakukan pemeriksaan pada Tiara, yang langsung di angguki Alex.
"Sayang, tunggu sebentar ya," pamitnya dengan melepas genggaman tangannya yang sedari tadi tidak lepas dari tangan istrinya.
Tiara hanya mengangguk lemah, ia sudah semakin pucat merasakan sakit yang semakin sering ia rasakan.
Dokter dan Alex hanya beranjak dari ranjang Tiara beberapa langkah. "Pak, tekanan darah Ibu Tiara lumayan Tinggi. Apalagi Ibu Tiara juga memiliki riwayat mata minus, jadi saya sarankan untuk melahirkan secara Caesar. Karena terlalu beresiko jika melahirkan secara normal," jelas Dokter.
Lagi-lagi Alex merasakan hantaman di dadanya, ia tidak bisa membayangkan hal buruk yang akan menimpa istrinya di saat ia berjuang untuk melahirkan anak mereka.
*
*
*
...Tuh ... Rafael dah di hajar sama Mas Al, senengkan. Sekarang kita tinggal menunggu launching baby-nya. Ayo main tebak-tebakan, baby boy? Apa baby girl?...
__ADS_1
...Terus nasib Tiara bagaimana?...
...Jangan lupa untuk vote, like dan komen. Terima kasih 😊🙏...