DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Bayi Besar


__ADS_3

Setelah kejadian di Cafe yang kacau amburadul, Rey mengajak Caca untuk pulang ke apartemen.


"Uncle mampir ke supermarket dulu," ujar Caca, karena yang mengemudi mobilnya adalah Rey.


"Ok," sahut Rey.


Tak lama mobil honda Jazz merah itu memasuki area parkir supermarket.


Caca dan Rey memasuki supermarket yang sore itu terlihat ramai pengunjung.


"Jadi Uncle temenya Om Alex?" tanya Caca. Dengan mata yang masih memilih barang-barang yang ia perlukann.


"Iya, jadi lo juga temenya bini Alex?" Tanya Rey sembari mendorong troli


"Hmm," jawab Caca dengan anggukan kepalanya.


"Oh ya, siapa tadi cowok yang ada di Cafe sama bininya Alex?"


Caca seketika menoleh ke arah Rey.


"Oh ... Itu Alan temen sekolah Tiara," jawab Caca dengan pipi bersemu merah saat menyebut nama Alan.


"Idih ... Kenapa tuh pipi? Habis kebanyakan pake blus on lo!" Cibir Rey.


Caca seketika menangkup kedua pipinya.


"Ck, Uncle gak usah mulai deh nyebelinya," sungut Caca.


"Ha ha ha ha," Rey hanya tertawa melihat raut wajah kesal Caca terhadapnya.


"Eh ... Sipit mending lo mundur aja, lo gak lihat kalo tuh cowok demen sama temen lo," sahut Rey.


Caca menaikkan sebelah alisnya. "Maksud Uncle Tiara?" Memperjelas maksud Rey.


Rey menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan mulai ikut memasukkan beberapa barang dalam troli.


"Ha ha ha ha," Caca tertawa menanggapi ucapan Rey dan melanjutkan memilih barang belanjaanya.


"Nggak mungkinlah Uncle, Tiara kan sudah menikah sama Om," jelas Caca.


"He ... denger yah, nggak ada yang namanya ngelarang orang jatuh cinta sekalipun sama bini orang. Dan kayaknya tuh cowok juga belum tau kalau temen lo dah nikah," tutur Rey.


Caca yang tadinya tertawa langsung terdiam dan menatap Rey. "Apa boleh yang seperti itu?" Tanya Caca yang masih belum percaya.


"Hmm," jawab Rey dengan mengedikkan kedua bahunya.


"Tapi Tiara cuma menganggap Alan teman," sanggah Caca.


"Ck, itukan Tiara yang anggep dia temen, lah ... tuh cowok gimana?" Tanya Rey yang mulai kesal dengan Caca.


"Huft," Caca mendengus kesal mendengar ucapan Rey.


"Ya udah kalau begitu aku mau pulang saja," tukas Caca seraya berjalan ke arah pintu supermarket.


"Hei ... Sipit ini bagaimana belanjaanya?" Teriak Rey.


"Uncle saja yang bayar," cetus Caca dan melenggang pergi.


"Shit," umpat Rey.


Tapi mau tidak mau Rey tetap berjalan ke kasir untuk membayar barang belanjaanya.


Saat Caca duduk di depan supermarket untuk menunggu Rey, mata Caca melihat seorang laki-laki berjaket hitam yang mencurigakan.


Laki-laki tersebut sepertinya mengincar wanita paruh baya yang berjalan ke arah mobil Pajero sport.


Dan dugaan Caca benar tak lama wanita paruh baya itu menjerit meminta tolong karena laki-laki itu memaksa mengambil tasnya.


" Tolong, tolong, tolong," teriaknya, tapi tidak ada yang berani menolong karena laki-laki itu memegang belati di tanganya.


Saat laki-laki itu berhasil merampas tas dan akan menaiki sepeda motornya, Caca segerah berlari dan melepas sebelah sepatunya.


Bugh.


Caca melempar sepatunya tepat kepala orang itu, yang menyebabkanya terjatuh bersama sepeda motornya.


Dengan segerah Caca mengambil tas dan mengembalikanya pada wanita paru bayah itu.

__ADS_1


"Ini Tante tasnya," ucap Caca seraya memberikan tas waninta itu.


"Terima kasih Nak," balasya.


Tapi saat Caca berbalik matanya membulat saat laki-laki tadi kembali mendekat dan mengayunkan belatinya untuk mengambil tas itu kembali.


"Awas Tante," teriak Caca, dan dengan segarah Caca memeluk wanita itu.


Srett.


Ternyata sabetan belati mengenai lengan Caca.


Bugh.


Tiba-tiba laki-laki itu tersungkur di aspal dan belati yang di pegangnya terpental, ternyata Rey yang telah menendangnya dari belakang. Dengan geram Rey naik di atas tubuh laki-laki itu dan menghajarnya dengan membabi buta.


Tidak lama para warga berkumpul. "Sudah mas, nanti dia bisa mati, biar di serahkan kepada polisi saja," ujar salah satu warga.


Rey yang melihat laki-laki itu sudah tidak sadarkan diri segerah meninggalkanya, dan si bawa warga ke kantor polisi.


Rey segerah menghampiri Caca. "Sipit, lo gak apa-apa kan?" Tanya Rey.


Caca yang masih shock tidak menjawab pertanyaan Rey.


Wanita yang di tolong Caca tadi seketika menoleh ke arah Rey saat mendengar suara yang begitu femiliar.


"Rey!" Ucap wanita itu terkejut.


Begitupun juga dengan Rey. "Mama!" Ucapnya.


Caca yang mulai sadar melihat ke arah lenganya yang tersabet belati, matanya melotot melihat hoddie yang di kenakan sobek.


"Hhhhuuuuuaaaaa," Caca menangis seketika.


Rey dan Mama langsung menoleh ke arah Caca, "Kenapa Ca, apa ada yang sakit?" Tanya Rey khawatir.


"Uncle," Caca menunjukkan lengan Hoddie-nya yang sobek.


Seketika Rey memeriksa lengan Caca.


"Huft," Rey membuang nafanya legah. "Sipit, tangan lo gak apa-apa cuma ke gores doang. Bahkan darahnya gak sampek 2 tetes," ujar Rey.


"Halah, tadi aja lo sok berani," cibir Rey.


Rey tadi memang sempat melihat bagaimana Caca menolong mamanya.


Mama yang melihat perdebatan muda-mudi di dapanya menghembuskan nafasnya kasar, "Kalian berdua ikut Mama pulang," pungkasnya.


"Huh."


Kaget Caca dan Rey bersamaan.


*


*


Malam hari di mansion setelah makan malam, Tiara dan Momy sedang membicarakan suatu hal di taman belakang.


"Sayang, apa belum ada tanda-tanda Cucu Momy di sini?" Tanya Momy seraya mengelus perut Tiara yang rata.


Tiara memaksakan senyumnya mendengar ucapan Momy, setelah itu menggelengkan kepalanya.


"Maaf Mom," ujar Tiara merasa tidak enak.


"It's ok sayang, kalian juga masih baru. Kalian masih bisa mencobanya terus," ucap Momy menenangkan Tiara seraya menggenggam tanganya.


"Sayang apa kamu sudah membuka baju-baju yang kita belanja waktu itu?" Tanya Momy.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Belum sempat Mom," jawab Tiara.


"Ya sudah kalau gitu nanti kamu lihat yah," ujar Momy.


"Ya Mom," sahut Tiara.


"Ya sudah kamu balik ke kamar, pasti suami kamu sudah nunggu di kamar," ucap Momy, yang di angguki Tiara.


Klek.

__ADS_1


Tiara masuk kedalam kamar, ternyata Alex sudah berbaring di ranjang dengan pakaian tidurnya.


Tiara masuk ke bathroom untuk membersikan diri, setelah itu Tiara keluarmenuju lemari. Saat membuka lemari, matanya melihat beberapa paperbag yang masih belum tersetuh.


Tiara mengeluarkan salah satu isinya, betapa terkejutnya Tiara saat menjereng lingeri bewarna merah menyalah dengan tali kecil di bagian bahu yang jika di pakai pasti terihat semua yang ada di baliknya.


"Ya ampun, kenapa kurang bahan begini!" Gumamya.


"Apa yang sedang kau lakukan," tanya Alex yang tiba-tiba berada di belakang Tiara.


Tiara yang terkejut, reflek memutar tubuhnya menghadap Alex dengan tangan yang masih memegang lingeri.


"O-om," ucapa Tiara gugup.


Sedangkan mata Alex menatap lingeri yang di pegang oleh Tiara.


Gleg.


Dengan seketika Alex menelan salivanya, pikiran-pikiran kotornya seketika berterbangan di otaknya. Membayangkan Istrinya memakai pakaian itu.


"Aku mau kau memakai itu malam ini, kalau tidak! tidak usah memakai pakaian sekalian," tuturnya tegas.


Setelah mengatakanya Alex segera kembali keranjangnya, ada senyuman yang terlintas di bibirnya.


Sedangkan Tiara masih tercengang mendengarkan ucapan Alex.


Beberapa saat Tiara kembali dengan benar-benar memakai lingeri apa yang di inginkan Alex tadi.


Dengan cepat Tiara berbaring di ranjang dan segerah menutup tubuhnya dengan selimut, hanya kepalanya saja yang terlihat.


Alex yang melihat kelakuan Istrinya, rasanya semakin gemas. Dengan sekali tarik Alex dapat melepaskan selimut yang di pakai Tiara.


"Om," pekik Tiara saat selimut yang tadi dia pakai sudah teronggok di lantai.


"Kenapa kau tutupi hmm?" Tanya Alex dengan seringaianya.


"A-aku malu Om ...." Cicit Tiara.


"Aku bahkan sudah melihatnya bagian ini," ucap Alex dengan tatapanya mengarah ke dada Tiara.


Blus.


Seketika wajah Tiara merona.


Alex dapat melihat warna dalaman Tiara yang senada dengan lingeri-nya, dengan cepat Alex menarik lingeri Tiara hingga robek dan membuangnya segala arah.


Tiara terjingkat karena kelakuan Alex, saat Alex ingin menjamah Tiara. "O-om sebenarnya Tiara lagi datang bulan," cicit Tiara dengan menundukkan kepalanya.


Sebenarnya tadi Tiara ingin menjelaskan, tapi Alex keburu pergi.


"Huh," terkejut Alex, Alex tidak bodoh dengan tidak tahu itu.


"Bagaimana bisa? Mulai kapan?"


"Barusan Om," jawab Tiara.


Alex megusap wajahnya kasar merasa frustasi, kemudian terlintas ide di kepalanya dengan bibir yang tersungging.


"Meskipun bawah tidak bisa tapi atas masih bisa kan?" Tanya Alex ambigu.


"Huh," Tiara masih tidak mengerti maksud Alex.


Tapi sedetik kemudian, Alex melepas br* Tiara dan memiringkan tubuh Istrinya untuk menghadap ke arahnya.


Hingga dada Tiara yang tidak berpenghalang tepat di depan wajah Alex.


"Aku ingin mulai malam ini, kamu kalau tidur tidak usah pakai br* dan posisi seperti ini," ucap Alex.


Alex seketika melahap salah satu sumber Asi untuk calon anaknya kelak dengan lahap, sedangkan tangan satunya untuk menggenggam gundukan Tiara yang satunya.


Tiara seketika menegang dengan apa yang di lakukan oleh Alex.


Hingga beberapa saat Alex tertidur dengan keadaan nipl* Tiara yang masih berada di dalam mulut Alex, sedangkan Tiara masih terjaga dengan posisi yang tidak nyaman.


"Ya ampun kenapa aku sudah mempunyai bayi, padahal aku belum memproduksinya. Pasti hari-hari berikutnya aku tidak bisa tidur dan akan ada panda baru di mansion ini," batin Tiara.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn😊


__ADS_2