DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Kenapa Jadi Begini


__ADS_3

Rey yang mendengar teriakan Caca hanya tersenyum di dalam bathroom, entah mengapa bertemu sosok Caca mengingatkan pada suatu hal, tapi entah itu apa.


Caca sendiri setelah menemukan barang terlarang milik Rey, segera berlari keluar dari sana dan memutuskan untuk membeli makanan di luar.


Setelah 30 menit Caca kembali ke apartemen dengan membawa 1 bungkus makanan, tapi saat di lorong apartemen Caca melihat Rey yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya.


"Om kenapa di sini?" Tanya Caca yang sudah berada di depan Rey.


"Bisa tidak jangan panggil Om! gue masih muda," ujar Rey.


Caca memutar bola matanya malas, ucapan Rey mengingatkan pada suami temanya yang tak mau mengakui kalau dirinya sudah tua.


"Terus, harus panggil apa?" Tanya Caca.


"Panggil aja kak," jawab Rey.


"Ya ampun itu kemudaan," protes Caca.


"Kalau gitu terserah, yang penting lo jangan panggil gue Om."


"Gimana kalau Uncle?" Usul Caca.


"He Sipit, Uncle itu masih sodaraan sama Om," ujar Rey tak terima.


"Sipit?" Ucap Caca.


"Iya Lo Sipit, gak nyadar mata Lo gak bisa kebuka," ejeknya.


Caca hanya mendengus saat Rey mengatainya, meskipun itu adalah kenyataan.


"Uncle, namaku itu Caca bukan sipit," ujarnya.


"Ya udah awas sana, aku mau sarapan," usir Caca dengan menggeser tubuh Rey yang berada di depan pintu apartemennya.


"Hei tunggu dulu!" Cegah Rey saat Caca akan menutup pintu. "Gue juga lapar," serunya.


Caca menaikkan sebelah alisnya. "Terus?"


"Bagi gue sarapan," ucap Rey.


Tanpa permisi Rey nyelonong masuk ke dalam apartemen Caca.


Caca hanya mendengus sebal melihat kelakuan tetangga barunya itu.


Dengan tak tahu malunya Rey sudah duduk di sofa tempat dia tidur kemarin dengan membawa sendok yang dia ambil dari dapur Caca.


Caca membuka bungkusan nasi padang yang ia beli tadi, terpaksa dia berbagi dengan Rey.


"Lo nggak sekolah?" Tanya Rey di sela-sela sarapan.


Rey tahu melihat dari wajah dan penampilan Caca yang masih wajah-wajah anak sekolahan.


"Telat," sahut Caca.


"Huh, lo hamil?"


"Uhuk uhuk uhuk," seketika Caca tersedak mendengar apa yang di ucapkan Rey.


Dengan cepat Caca mengambil minum yang berada di sampingnya dan meneguk habis.


"Uncle, aku tuh telat bangun bukan telat hamil," semburnya.


"Ha ha ha ha." Rey hanya tertawa melihat ekspresi Caca yang terlihat kesal.


Setelah menyelesaikan sarapan Caca mengirim pesan pada Tiara.


💌 "Ra ntar ke Cafe yuk."


*


*

__ADS_1


Siang hari waktu istirahat Tiara masih setia menyendiri di Perpustakaan, Tiara membuka ponselnya saat tadi ada notif pesan masuk di waktu jam pelajaran.


"Tumben Caca ngechat waktu jam pelajaran," ucap Tiara saat membaca pesan Caca.


Tiara akan menyanggupi pesan Caca, tapi sedetik kemudian dia mengurungkannya. Tiara sadar sekarang dirinya tak sebebas dulu lagi, masih ada suami yang harus dia mintai izin dulu.


Sesaat kemudian Tiara baru menyadari bahwa dia tidak mempunyai kontak Alex, dari di lihatnya tidak ada nama suaminya di kontak ponselnya.


"Ya ampun ternyata baru sadar," monolognya.


Tiara sejenak berpikir, kemudian sudut bibirnya terangkat saat mengetahui siapa yang bisa membatunya. "Mommy," ucapnya.


Dengan cepat Tiara melakukan panggilan pada Mommy.


"Halo Mom," ucap Tiara waktu panggilan sudah tersambung.


("")


"Uhm, Mom Tiara boleh minta no hape Om?" Tanya Tiara.


("")


Raut wajah Tiara bersemu merah, saat mendengar Mommy yang menggodanya.


"Mom," ucap Tiara yang sedikit merajuk.


("")


"Terima kasih Mom, aku sayang Mommy." ucapnya sumringah.


Ting.


Setelah Tiara menutup panggilannya, notif pesan dari Mommy masuk .


💌0891764xxx


Ternyata no ponsel Alex.


Sampai dering ketiga Tiara menghubungi Alex, tapi tidak ada tanda-tanda Alex mengangkatnya.


"Apa Om sedang sibuk? Tapi inikan jam istirahat," gumam Tiara. "Uhm, kalau gitu aku chat saja biar nanti di buka kalau Om udah nggak sibuk.


💌 "Om nanti Tiara mau pergi ke Cafe sama Caca."


"Ra," panggil Alan seraya menepuk bahu Ara dari belakang.


"Huh," terkejut Tiara.


"Sorry," ucap Alan yang melihat wajah kaget Tiara, dan mendudukkan dirinya di sebelah Tiara.


"Oh, gak apa-apa," sahut Tiara.


"Serius amat, lagi ngapain sih?" Tanya Alan


"Lagi baca pesan Caca," sahutnya.


"Uhm, emang kamu ada rencana sama Caca?" Tanya Alan yang sedikit kepo.


"Oh, tadi Caca ngajakin buat pergi ke Cafe pulang sekolah," jawab Tiara.


Sudut bibir Alan sedikit terangkat mendengar jawaban Tiara. "Apa aku boleh ikut?" Tanya Alan.


Tiara hanya diam dan memandang wajah Alan yang sepertinya penuh harap agar di izinkan untuk ikut.


"Huft," Tiara menghembuskan nafasnya pelan. "Hm ... baiklah," akhirya jawab Tiara yang tidak tega.


Senyum merekah tergambar di wajah Alan.


"Caca pasti shock lihat kalau Alan ikut, tapi kalau Om yang tau bagaimana?" Batin Tiara karena melihat ekspresi terakhir saat suaminya bertemu Alan.


*

__ADS_1


*


Tet.


Tet.


Tet.


Bel pulang sekolah telah berbunyi Tiara segera bergegas untuk menemui Tomy, tapi baru saja Tiara akan keluar dari gerbang sekolah ada yang memanggilnya.


"Ra, gak sekalian bareng aja?" Tanya Alan.


Belum juga Tiara menjawab tapi Tomy sudah menghampirinya.


"Nona," panggil Tomy.


Tiara segera mengarahkan pandanganya pada Tomy, dan kemudian menatap Alan. "Alan, kita berangkat sendiri-sendiri saja ya, kalau begitu aku pergi dulu, bye."


Tomy berjalan di belang Tiara yang sedang menuju mobil mereka.


Alan hanya menatap kepergian Tiara dan Tomy, kenapa banyak sekali orang baru yang mengelilingi Tiara.


Alan segera bergegas menuju arah mobilnya terparkir untuk menuju Cafe tempat mereka bertemu.


"Nona, apakah Nona sudah memberi tahu Tuan kalau Nona akan keluar?" Tanya Tomy, setelah tadi Tiara memberitahunya akan pergi.


"Sudah," jawab Tiara, tapi Tiara lupa mengabari kembali kalau Alan juga ikut.


Di lain tempat Caca sedang kesal dengan seseorang yang berada di kursi penumpang sebelahnya. "Uncle, apa Uncle pengangguran? Kenapa dari tadi menggangguku," sungut Caca.


"He Sipit, gue ini bukan pengangguran tapi cuma lagi males aja kerja," Rey membela diri.


"Ck," Caca hanya berdecak sebal mendengar jawaban Rey.


Tidak lama mobil yang di kendarai Caca sampai di tempat tujuannya bertemu dengan Tiara.


Saat Caca masuk kedalam Cafe, matanya memandang ke segala arah mencari keberadaan Tiara yang tadi katanya sudah sampai.


Deg.


Saat matanya menemukan keberadaan Tiara tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena Tiara tapi karena Alan yang berada di sebelahnya.


Caca tiba-tiba berhenti berjalan dan merapikan penampilannya.


Rey yang berada di sampingnya hanya menautkan kedua alisnya. "Kenapa lo?"


Caca kemudian menatap Rey. "Uncle, tidak ada yang salahkan sama penampilan aku?" Tanya dengan menampilkan ekspresi yang menggemaskan.


Belum juga Rey memberi jawaban Caca sudah meninggalkannya untuk menghampiri Tiara dan Alan.


Caca segera duduk di dekat Tiara, dan Rey juga melakukan hal yang sama duduk di sebelah Caca.


"Hai Alan," sapa Caca.


"Hai Ca, gak apa-apa kan aku ikut gabung?" Tanya Alan.


"Tentu gak apa-apa," jawab Caca semangat.


Tiara hanya memutar bola matanya malas begitupun dengan Rey yang melihat kelakuan Caca di depan Alan.


Sedetik kemudian Rey mengarahkan pandanganya pada Tiara begitupun juga Tiara yang bertatap dengan Rey.


"Itukan teman Om yang waktu itu," batin Tiara.


" Lo kan is--"


Belum juga Rey berbicara, tapi Caca sudah membungkam mulut Rey dengan tangannya. "Uncle sebaiknya diam saja ok," bisik Caca.


Alan masih bingung dengan kelakuan Caca dan Rey, sedangkan Tiara semakin tegang dengan kehadiran seseorang yang baru datang dengan wajah yang menatapnya dengan tajam berdiri di belakang Caca.


"Kenapa jadi begini!" Batin Tiara.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn.


__ADS_2