DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Merindukan


__ADS_3

"Ara aku haus ...." Rengek Caca.


Sejak tadi Caca merengek ingin minum, tapi tidak ada yang berani memberinya minum. Karena Dokter berpesan harus menunggu hingga buang angin.


"Ca, masih belum boleh," sahut Tiara yang duduk di kursi sebelah ranjang. Sedangkan Alex duduk di sofa bersama Rey.


"Kenapa di saat aku membutuhkannya dia malah tidak datang," ucapnya sendu.


Tiara, Rey dan Alex saling tatap, pikiran mereka satu arah. Apakah Caca masih mengharapkan Alan? Jelas-jelas secara tidak langsung orang yang membuatnya seperti ini.


Tiara menggenggam tangan Caca lembut. "Ca, kamu masih--"


"Aku merindukannya." Sela Caca.


"Ca ... tapi dia sudah--"


"Bom atomku."


"Huh!!!"


Semua masih mencerna kata-kata terakhir Caca. Hingga akhirnya mereka semua menatap Caca horor, saat tau apa yang di maksud Caca.


"Kenapa?" Tanya Caca polos.


Tapi semuanya tidak ada yang menjawab.


"Ca kita tunggu sebentar lagi," sahut Tiara.


"Nggak kalian saja yang menunggu, aku tidak mau," sela Alex. "Aku mengantuk," rengekannya pada Tiara.


Rey hanya memutar bola matanya. "Hey, sejak kapan lo tidur jam setengah sembilan (21.00)?" Cibirnya. Setelah matanya melihat ke arah jam dinding.


"Ck, diem lo."


"Bentar lagi," ujar Tiara. Masih tidak tega meninggalkan Caca.


"Udah, lo balik aja sama Alex. Biar gue yang temenin di sini," sahut Rey.


"Iya Ra kamu balik aja," imbuh Caca.


Dengan berat hati Tiara meninggalkan Caca. Dan kembali ke ruang rawat Alex.


Sekarang di ruangan itu hanya ada Rey dan Caca. Rey duduk di kursi yang di tempati Tiara tadi.


"Tumben kentut lo mahal biasanya juga murah meriah, bahkan saat mata lo merem aja bisa keluar sendiri tanpa permisi," ejek Rey.


"Kapan? Nggak pernah!"


"Nggak usah ngeles, orang waktu di pantai itu bom lo keluar. Datang tak di undang pulang tak di antar," jelas Rey.


"Benarkah?" Tanya Caca yang masih belum percaya. "Padahal biasanya keluar di waktu aku sedang gugup, tapi kata Tiara juga kalau aku sedang tidur itu bom gak sengaja keluar. Mungkin dia ingin traveling," jelasnya polos.


Rey hanya mendengus melihat Caca yang menceritakan tentang harta karun yang terbuangnya.


"Tunggu! Tadi lo bilang mau keluar saat lagi gugup?" tanya Rey.


Caca mau menganggukkan kepalanya.


"Lo haus kan?"


Lagi-lagi Caca menganggukkan kepalanya.


"Gue tau caranya," ucap Rey dengan tersenyum penuh arti.


Caca menaikkan sebelah alisnya. Tapi Rey segera berdiri dari duduknya dan mendekati Caca, dengan perlahan Rey menundukkan wajahnya ke arah Caca.

__ADS_1


Mata Caca membulat saat wajah Rey semakin dekat mengikis jarak di antara mereka. "Un-uncle," ucap Tiara gugup. Saat Caca bisa merasakan nafas hangat Rey menerpa wajahnya.


Caca ingin sekali menghindar, tapi apa daya, Tubuhnya masih belum bisa dia gerakkan. Hanya tanganya yang bisa ia gerakkan. Caca mencoba menahan dada bidang Rey, tapi tangannya justru di cekal oleh Rey.


Hingga sepersekian detik.


Cup.


Bibir keduanya saling menempel, Caca seketika memejamkan matanya. Tidak berani menatap Rey yang mencuri first kiss-nya.


Dan yang di rencanakan Rey terjadi.


Ddduuuuutttttt.


Tapi herannya Rey masih menempelkan bibirnya. Bahkan sekarang Rey perlahan menggerakkan bibirnya, entah kenapa rasanya sangat manis. Berbeda dengan milik pacarnya sebelumnya.


Klek.


"Rey lo--"


Rey seketika melepaskan pangutanya. Menatap horor pada seseorang yang baru masuk.


"He ... ini tuh rumah sakit di larang berbuat mesum," ujarnya.


"Dasar pengganggu," umpat Rey.


"Lo sama Alex nggak ada bedanya," cibirnya.


Sedangkan Caca dengan segera menutupi wajahnya dengan selimut.


Yang mengganggu kesenangan Rey adalah Leo, tadi sebelumnya Leo lebih dulu ke kamar Alex. Dan saat dia datang, yang dia lihat adalah sama seperti yang Rey lakukan.


Rey hanya berdecak mendengar gerutuan Leo. Sedangkan Leo tidak peduli dan memilih masuk kedalam ruang rawat Caca. Leo mendudukkan dirinya di tempat Rey tadi. Sebenarnya Leo heran hubungan apa yang di miliki Rey dan Caca, Rey belum pernah menceritakan tentang Caca.


Rey menarik selimut yang menutupi wajah Caca. "Udah keluar kan?" Tanya Rey. Tadi sebenarnya Rey juga mendengar suara bom atom Caca. Tapi Rey lebih tergoda bibirnya.


"Huh ... apanya yang keluar?" Sela Leo, mendengar obrolan ambigu Caca dan Rey.


"Diem lo," sembur Rey.


Tapi Leo hanya mengedikkan kedua bahunya dan menonton adegan drama di depannya.


Rey mengambilkan Caca minum. "Nih."


"Ish ...." Desis Caca, yang tak sengaja ingin duduk. Seketika merasakan nyeri di bekas operasinya.


"Lo nggak apa-apa?" Tanya Rey khawatir.


"Gak bisa bangun, Uncle."


"Apanya." Sahut Leo.


Rey kemudian menatap Leo tajam, yang sedari tadi mulutnya tidak bisa diam.


Rey mencari sedotan, tapi tidak ada. Kemudian Rey mengubah posisi ranjang Caca, dengan menaikkan sisi ranjang bagian kepala.


Dengan perlahan Rey mendekatkan gelas yang berisi air ke bibir Caca, agar lebih muda meminumnya.


Glek.


Rey menelan saliva nya susah payah, saat memperhatikan bibir Caca yang basah terkena air. Bibir yang masih pucat yang dia rasakan tadi.


*


*

__ADS_1


Di kamar rawat Alex.


Alex masih saja menggerutu, karena tadi Leo yang mengganggunya.


"Dasar dua punya temen nggak ada yang punya sopan santun," gerutunya.


Sedangkan Tiara yang berbaring di sebelahnya hanya bisa mendengar gerutuan suaminya. Mungkin ini kesempatan Tiara juga. Di saat Alex masih saja menggerutu, Tiara dengan sengaja memejamkan matanya. Berharap dirinya cepat terlelap sebelum Alex mengetahuinya.


Alex yang setelah lelah mengeluarkan gerutuannya, menoleh ke arah sang istri yang matanya terpejam.


"Ck, sayang ... kau jangan membodohi ku." ujar Alex yang masih bisa melihat kedutan di mata Tiara.


Seketika mata Tiara terbuka. Tiara hanya menampilkan senyum kakunya.


"Ingat ... kau belum membayar hutangmu!" ucap Alex.


"Huh ...." Tiara bingung. "Hutang yang mana?" Rasanya Tiara tidak pernah meminjam uang pada Alex, malah Alex sendiri yang memberinya blackcard.


"Yang kemarin aku tidak bisa tidur," ujarnya mengingatkan.


Tiara terdiam, mencoba mencerna apa yang di maksud Alex.


"Ehem," Tiara berdehem, saat tau apa yang di maksud Alex. Rasanya tenggorokan Tiara sedikit kering seketika.


"Bagaimana! Apa kamu sudah mengingatnya?" Ucap Alex dengan seringai di wajahnya.


Tiara menganggukkan kepalanya, tapi sepersekian detik Tiara menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu ingat apa tidak?" tanya Alex lagi.


Tiara menggelengkan kepalanya.


"Jadi kau tidak ingat?"


"I-iya."


"Baiklah kalau begitu akan ku bantu kau mengingatnya," ucap Alex dengan senyum penuh arti.


Sedangkan Tiara hanya diam membisu. "Apa ini yang di sebut buah simala kama?" batinnya.


Dengan cepat Alex menyingkap baju istrinya, dan terpampang lah dua bulatan yang dia rindukan.


"Kenapa ukuranya mengecil, saat sehari aku tidak merasakannya. Mungkin aku harus merasakannya, agar ukuranya tetap konsisten." Celotehnya.


Tiara hanya bisa menahan malu karena suaminya berada tepat di hadapan di dadanya, dengan celotehnya yang terlalu vulgar.


Alex menatap Tiara. "Apakah aku boleh memintanya?"


Deg.


Detak jantung Tiara semakin berdetak kencang. Tiara tau, suaminya sedang meminta 'hak' nya. "Om ... kan lagi sakit, bagaimana jika sudah sembuh saja," ujar Tiara.


"Benarkah?" tanya Alex sedikit tidak percaya.


Tiara menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu. Besok aku akan meminta dokter untuk mengizinkan aku pulang." ucapnya semangat.


"Huh ...."


"Dan ingat mulai besok panggil aku 'Mas'," imbuhnya.


Dengan segera Alex melakukan rutinitasnya sebelum tidur, bermain dengan dua bulatan yang selalu menggodanya.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa Vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn.


__ADS_2