DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Detik-detik Persalinan


__ADS_3

Di saat dalam mobil menuju ke rumah sakit, Caca ternyata terlihat lebih tenang di bandingkan suaminya.


Caca, Rey, Mama Mona berada dalam satu mobil bersama Leo yang menjadi supirnya. Sedangkan Tiara dan Alex berada di dalam mobil yang berbeda.


Mommy Jessy tadi sebenarnya ingin sekali ikut menemani Caca melahirkan, tapi ia juga kasihan dengan El dan Zio jika semuanya ikut.


Jadi Mommy Jessy dan Papa Nathan memutuskan untuk menunggu kabar di mansion.


"Ish," Caca mendesis kembali saat merasakan mulas pada perutnya muncul.


"Sayang, apa sakit lagi?" Mama Mona yang duduk di samping kanan nya membantu mengusap punggung bawah Caca.


"Iya, Ma." Sahut Caca.


"Sayang apa sangat sakit?" Rey yang mulai dari tadi mengusap perut istrinya mulai dihinggapi rasa panik kembali. "Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang." ucap Rey sembari mempraktekan nya.


Tapi kemudian Caca menyandarkan punggungnya kembali di sandaran kursi mobil, ketika mulas di perutnya hilang.


"Sayang, ayo cepat lakukan. Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang." Rey yang menyuruhnya lagi sambil memperagakan nya.


"Uncle, diam lah. Mulasnya sudah hilang." Caca sedikit kesal melihat suaminya yang sedari tadi panik.


Mama Mona hanya menggelengkan kepala melihat anak dan menantunya sedari tadi berdebat.


Hingga beberapa saat mobil yang di kendarai Leo sampai di rumah sakit milik keluarga Pratama. Dan terlihat Alex dan Tiara yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu.


Mereka sudah bersama Dokter dan beberapa perawat menanti kedatangan Caca. Caca di dorong masuk kedalam ruang pemeriksaan menggunakan kursi roda.


Mama Mona dengan setia mendampingi menantu kesayangannya menjalani pemeriksaan. Sedangkan Rey, Laki-laki itu semakin di tepa rasa panik.


"Masih, pembukaan tiga," ucap Dokter perempuan setelah memeriksa Caca dan melakukan USG. Kemudian melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Nanti sekitar jam tiga baru pembukaan penuh." Karena Caca yang tiba pukul dua belas malam.


"Lama sekali," sahut Rey.


"Iya Pak, harus menunggu pembukaan penuh dulu baru kita bisa mulai proses persalinan. Dan air ketuban Ibu Caca juga sudah pecah," jelas Dokter itu.


Kemudian, Caca mulai berganti pakaian rumah sakit dan mulai di pasang infus di tangan kirinya.


"Saya tinggal dulu ya, dan setelah ini lama-kelamaan rasa mulasnya akan datang lebih sering. Saya akan memeriksanya tiga puluh menit sekali, tapi kalau ada apa-apa langsung tekan nurse call saja." setelah mengatakan itu Dokter berlalu dari sana.


*


*

__ADS_1


"Bagaimana Ca?" tanya Tiara.


Tiara dan Alex masuk ke dalam ruangan Caca, yang berada di kamar VIP.


"Untuk sekarang mulasnya masih seperti tadi," jawab Caca sambil meringis ketika mulas itu kembali datang.


Caca berbaring dengan posisi miring ke kiri, untuk mempercepat proses kontraksi.


Rey dengan setia mengusap punggung Caca, sedangkan Mama Mona terus menggenggam tangan menantu cantiknya itu.


Caca kemudian menoleh ke arah suaminya. "Uncle, aku ingin ice cream." ucapnya tiba-tiba.


"Apa?" Rey yang merasa salah pendengaran nya.


"Ice cream, Uncle." ulang Caca.


"Tapi ini tengah malam?" Rey yang melihat jam pada ponselnya.


"Ish, Uncle. Aku mau ice cream," Caca yang tidak mau tau.


"Rey, sudah belikan saja. Pasti ada supermarket 24jam yang buka di sekitar sini," Mama Mona yang menginterupsi.


Akhirnya Rey dengan berat hati meninggalkan istrinya untuk membelikan permintaan nya. "Lex, ayo temenin gue." Rey yang menarik tangan Alex agar ikut bersamanya.


"Ck," Alex berdecak kesal. Bisa-bisanya wanita hamil yang sebentar lagi melahirkan itu menginginkan ice cream.


Rey sudah kembali membawa beberapa ice cream dan makanan. "Sayang ini," Rey memberikan pesanan istrinya.


Caca dengan antusias langsung duduk dan meraih nya. Kemudian menikmatinya tanpa menawari yang lainya.


Mama Mona dan Tiara tersenyum melihat Caca yang tidak begitu mengeluh menjelang persalinan. Padahal kebanyakan orang terkadang ada yang tak bisa menahan rasa mulas dan sakitnya, hingga ada yang menangis.


Baru saja Caca menghabiskan ice creamnya, pintu ruang rawat inap nya terbuka dari luar. Dokter dan perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan kembali, sehingga Tiara dan Alex memutuskan untuk keluar dan sekalian menghubungi Mommy untuk memberikan kabar tentang Caca.


"Ibu Caca sudah pembukaan lima," jelas Dokter setelah selesai mengeceknya. Kemudian menoleh ke arah Rey. "Pak, istrinya di ajak berjalan ya. Cukup di kamar ini saja, itu juga bisa membantu mempercepat pembukaan." imbuhnya.


"Baik, Dokter." Sahut Rey.


Dokter dan perawat kemudian beranjak dari sana. Bergantian Tiara dan Alex yang masuk kembali ke ruangan Caca.


"Sayang, apa mau coba berjalan sekarang?" tawar Rey.


"Boleh," Caca yang kemudian dengan perlahan turun dari ranjang.

__ADS_1


Rey dengan hati-hati memapah tubuh Caca dangan tangan kanan nya melingkar di pinggang Caca, sedangkan tangan kirinya memegangi tiang infus Caca.


"Pelan-pelan saja sayang," Mama Mona yang mengingatkan.


"Iya, Mah." Jawab Caca.


Selangkah demi selangkah Caca berjalan, sesekali berhenti ketika ia merasakan mulas pada perutnya.


Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba tubuh Caca hampir saja limbung. Untung saja Rey dengan sigap memeluknya.


"Akh, Uncle." Caca meringis memegang perutnya. Keringat dingin juga mulai membasahi keningnya. Mulas yang datang sekarang jauh lebih sakit di banding sebelumnya.


"Rey, cepat bawa Caca ke ranjang. Dan panggil Dokter," Mama Mona membantu Caca untuk berbaring.


Caca begitu kesakitan sekarang, rasa mulas itu datang dalam jarak dekat. Rasanya tulang-tulang dalam tubuhnya seperti ikut remuk secara bersamaan.


"Uncle." Caca menggenggam erat tangan suaminya itu, berharap rasa sakit sedikit berkurang.


Meskipun Tiara sudah pernah melahirkan, tapi melihat Caca seperti itu rasanya ia juga ikut merasakan apa yang di alami Caca.


"Sayang, lebih baik kita keluar. Sebentar lagi Dokter datang," ajak Alex yang di angguki Tiara.


Tidak lama Dokter datang bersama perawat dan langsung memeriksa Caca. "Wah, cepat sekali. Sudah pembukaan penuh, ternyata lebih cepat dari perkiraan." Setelah Dokter mengecek jalan lahir.


"Suster siapkan persalinan nya sekarang," perintahnya.


"Baik Dokter," perawat itu segera berlalu dan mempersiapkan peralatan bersalin.


Beberapa saat kemudian.


Di ruang bersalin, Caca di temani Rey.


"Baik Ibu Caca tunggu dari aba-aba dari saya untuk mengejan," instruksi Dokter yang sudah berada di antara kedua paha Caca yang terbuka lebar.


Caca hanya mengangguk, rasa sakit itu rasanya sudah tidak bisa membuatnya menjawab.


"Pak, bantu untuk memberi semangat kepada istrinya." Seru Dokter, seketika membuyarkan lamunan Rey.


"I-iya," sahut Rey gugup.


Semenjak Rey melihat alat yang akan di gunakan bersalin, entah kenapa ia jadi merinding sendiri.


"Ibu, tarik nafas yang dalam kemudian mengejan. Seperti orang yang mau buang air besar ya." Dokter yang menginterupsinya.

__ADS_1


...----------------...


...Hayo waktunya vote nih, jangan lupa like dan juga komentarnya. Nah kira-kira kehebohan apa yang akan di lakukan Rey? Trus apa nama baby yang cocok untuk anak mereka? ☺...


__ADS_2