
Di ruang tamu Tiara sekarang, sudah ada Alex, Tiara, Caca dan juga Rey. Mereka sedang menemui Radit yang bertamu pagi-pagi di rumah Tiara.
Di ruang tamu itu terasa hawa dingin yang mencekam. Bagaimana tidak, sedari tadi Alex dan Rey memberikan tatapan tajam-nya pada Radit.
"Kak Radit silahkan di minum," ujar Tiara memecah keheningan. Sebenarnya Tiara sendiri juga merasa tidak enak pada Radit karena sikap suaminya dan Rey yang seperti mengintimidasinya.
"Iya," sahut Radit dengan tersenyum, seraya mengambil teh hangat yang berada di depannya dan menyeruputnya.
"Oh ya , Kak Radit tumben pagi-pagi kesini?" tanya Caca.
"Oh ... itu, aku hanya memastikan keadaan kalian baik-baik saja. Karena kemarin waktu aku datang ke cafe, kata Vita Tiara tidak bisa datang. Dan kamu juga, kata Bang Farhan kamu sempat di bawah seseorang waktu kamu kerja," jelas Farhan seraya mengembalikan teh-nya ke meja.
Vita adalah salah satu karyawan yang di percaya Tiara untuk mengurus cafe miliknya saat dirinya tidak bisa datang.
Tiara dan Caca hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Radit. Bingung harus menjelaskannya dari mana.
"Yang bawa Caca adalah saya, suaminya." Rey yang tiba-tiba berbicara. Hingga semua pandangan terarah padanya.
"Huh." Radit terkejut mendengar penuturan Rey. Pasalnya terakhir kali dirinya bertemu dengan Caca, Caca tidak mengatakan apapun.
Radit kemudian mengarahkan pandanganya pada Caca. "Beneran, Ca?"
Perlahan Caca menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban pertanyaan Radit.
***
Setelah kepulangan Radit, Alex dan Rey terus saja membuntuti istri mereka masing-masing.
"Kamu mau kemana?" tanya Alex. Saat melihat Tiara sedang bersiap-siap.
Tiara seketika menghentikan kegiatannya, dan menoleh ke arah Alex. "Aku mau pergi ke Cafe Mas."
Alex yang mendengar ucapan Tiara, seketika merasa tidak suka. Karena pengunjung cafe kebanyakan dari mereka adalah laki-laki muda. Apalagi Alex yang melihat istrinya sekarang bertambah cantik di saat telah mengandung. Kekhawatirannya akan semakin besar dalam dirinya, kehilangan Tiara beberapa bulan yang lalu cukup menjadi pembelajaran bagi dirinya dan tak akan membiarkannya terulang kembali.
"Kenapa harus pergi ke cafe? Di sana kan banyak karyawan yang mengurusnya." Alex yang berusaha membujuk agar Tiara tidak pergi.
"Mas, tetap saja aku harus pergi ke sana. Lagi pula saat siang hari cafe akan lebih ramai, aku bisa bantu-bantu di sana," ujar Tiara dan meneruskan kegiatannya.
Alex mendengus kesal, niatnya membujuk Tiara untuk tidak pergi ke cafe nyatanya gagal.
Sedangkan Caca juga sedang bersiap karena akan ikut pergi ke cafe dengan Tiara.
__ADS_1
Rey yang sedari tadi duduk di ranjang memperhatikan gerak gerik istrinya sebenarnya juga merasa sebal, karena tadi Rey juga melarang Caca untuk pergi tapi tidak berhasil. Alasannya sama seperti Tiara, yang ingin bantu-bantu di cafe.
Rey berjalan mendekati Caca yang sedang memoles wajahnya di depan cermin. Dengan segera Rey melingkarkan tangannya pada pinggang Caca yang ramping, dan menaruh dagunya pada bahu Caca. "Kapan kita akan kembali ke Jakarta?" tanya Rey tiba-tiba.
Sontak itu membuat Caca menghentikan kegiatannya, dan menatap Rey lewat pantulan di cermin. "A-apakah kita harus kembali?" Yang menjawabnya dengan pertanyaan.
Rey seketika melepaskan pelukannya, dan memutar tubuh Caca untuk menghadapnya. "Hei ... kita harus mengurus berkas-berkas pernikahan kita," jelas Rey lembut. "Dan pekerjaanku ada di Jakarta," imbuhnya, seraya menyelipkan beberapa helai anak rambut Caca.
(Cieeee yang udah mulai ganti panggilan aku-kamu 😁)
Caca terdiam mendengar ucapan suaminya. "Tapi, pekerjaanku juga bagaimana Uncle?" cicit Caca yang menundukkan kepalanya. Tiba-tiba rasa sedih menghantuinya jika harus meninggalkan kota ini, kota yang beberapa bulan sudah memberinya rasa nyaman.
Rey seketika menarik pinggang Caca, hingga kini tidak ada jarak di antara mereka. "Sejujurnya aku sendiri juga tidak menyukai pekerjaanmu di klub malam." Rey mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.
Caca seketika mengangkat wajahnya hingga kini pandanganya bertemu dengan Rey yang sedang menatapnya.
"Kau tahu, rasanya malam itu ingin sekali aku mengeluarkan mata mereka karena telah berani menatapmu dengan pandangan lapar. Dan sekarang kau sudah menjadi istriku, jadi aku semakin tidak rela melihatnya," jujur Rey. "Kalau kau ingin tetap bekerja, ada satu pekerjaan yang cocok untukmu," ujar Rey dengan senyuman di wajahnya yang sulit di artikan.
"Apa?"
"Menjadi teman hidupku, dan ibu dari anak-anakku," jawab Rey, yang sukses membuat blushing Caca.
"Uncle." Caca seketika menutup pipinya yang terasa mulai memanas.
Rey dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Caca, yang menjadi tujuan-nya sekarang adalah bibir pink milik Caca.
Caca yang tau keinginan suaminya langsung memejamkan matanya, menyambut bibir Rey yang sebentar lagi mendarat pada bibirnya. Bahkan tangannya sudah melingkar di leher Rey.
Hingga saat jarak mereka kurang dari satu mili.
Tok.
Tok.
"Sayang, kenapa lama sekali?" teriak Mommy dari luar.
Caca sontak memalingkan wajahnya ke arah pintu.
Cup.
Akhirnya cium*n itu mendarat di pipi mulus Caca.
__ADS_1
Rey membulatkan matanya ketika tujuannya tidak tepat sasaran. "****," umpatnya kesal.
"Ya ampun, aku lupa kalau tadi Mommy dan Mama juga mau ikut pergi ke cafe." Caca yang baru mengingatnya. "Uncle, aku pergi dulu ya," ucap Caca dan berusaha melepaskan diri dari Rey yang tetap memeluknya.
"Ck," Rey berdecak kesal melihat itu. Pasti kalau istrinya sudah bersama mereka akan sulit dirinya untuk mendekatinya.
"Kompensasinya dulu," ucap Rey.
"Kompensasi apa?" Caca yang tidak mengerti.
Dengan segera Rey mendorong Caca hingga terjerembab di atas ranjang. "U-ncle," ucap Caca gugup ketika Rey mengungkungnya.
Rey dengan cepat ******* bibir Caca yang tadi sempat gagal.
Caca hanya membulatkan matanya melihat kelakuan Rey yang tiba-tiba. Bahkan sekarang Caca bisa merasakan tangan Rey yang tidak bisa diam merayap di balik bajunya.
"Ungh ...." Caca mengeluarkan satu lenguhan saat Rey memberikan tanda kepemilikannya pada lehernya dan bersamaan dengan tangan Rey yang meremas gemas pada salah satu bulatannya.
Caca yang hampir saja melayang karena tindakan Rey, seketika tersadar kembali saat telinganya mendengar gedoran di pintu kamarnya.
"Uncle," Caca menyadarkan suaminya yang sekarang sedang asik bermain di dadanya. Bahkan Caca harus menepuk sedikit keras bahu suaminya. Hingga Rey harus terpaksa menghentikan dengan mainan barunya.
"Awas saja kalau tamu laknat itu sudah pergi, akan ku pastikan kau tidak akan bisa keluar dari kamar," tegas Rey. Dan segera beranjak dari atas tubuh istrinya.
Caca yang mendengarnya hanya bergidik ngeri membayangkan jika itu benar-benar terjadi, bagaimana nasibnya.
Caca segera bangun dan merapikan penampilannya yang sempat di acak-acak oleh Rey, dan menyambar tas-nya. "Uncle, aku pergi dulu," pamit Caca pada Rey yang sedang berada di dalam kamar mandi.
Ternyata di luar kamar semua orang sudah menunggunya. Caca hanya memberikan senyum kaku-nya.
***
Di hari menjelang sore, Mommy Jessy dan Mama Mona sudah kembali ke rumah. Setelah tadi sempat membantu sebentar di cafe.
Tiara yang berada di ruang khusus untuk dirinya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya menerawang jauh, dengan pikirannya yang mengingat ucapan Mommy tadi.
Mommy sempat memintanya untuk kembali ke Jakarta, tapi Tiara masih ragu jika harus kembali. "Aku harus bagaimana," gumam Tiara dengan memejamkan matanya.
Karena kota itu telah menorehkan sejuta luka untuknya.
Flashback On.
__ADS_1
...----------------...
...Maaf telat up 😊. Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊🙏...