DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Kesepakatan


__ADS_3

"Jangan lupa sering-sering telfon Ca," pesan Tiara, saat Caca sudah berada di dalam mobil dan akan pergi ke rumah Rey.


Caca yang membuka kaca pintu mobil itu, dapat mendengar ucapan sahabatnya. "Tentu," sahut Caca yang sedikit berteriak karena mobil sudah mulai melaju.


"Ya sudah, ayo," ajak Papa untuk kembali ke mansion.


***


Saat di perjalanan mobil yang di kendarai Tomy harus berhenti karena lampu lalu lintas yang berwarna merah.


Di area itu terdapat banyak anak-anak yang langsung turun ke jalanan menghampiri pengendara sepeda motor dan mobil.


Dari mereka ada yang menjual koran, pengamen, mengemis, hingga ada yang menawarkan jasa sekedar mengelap bodi motor atau mobil.


Di kaca pintu mobil Tiara dapat melihat ada anak laki-laki kecil, mungkin sekitar umur lima tahun yang menghampiri mobilnya. Anak kecil itu terlihat menyedihkan. Dengan pakaian lusuh dan wajah yang kotor, mungkin sudah beberapa hari dia tidak mandi.


Dengan membawa bekas bungkus snack anak itu berdiri di samping pintu mobil tepat Tiara duduk, berharap seseorang di dalamnya akan memberinya sedikit koin atau lembaran uang receh.


"Kamu mau apa?" tanya Alex saat melihat istrinya mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.


"Kasihan dia Mas," jawab Tiara dengan mengarahkan pandanganya pada anak laki-laki di luar itu.


"Apa kau tidak tahu! Sudah ada undang-undang yang melarang untuk memberi uang kepada pengemis," sergah Alex.


"Tapi ini tidak seberapa. Bahkan mungkin hanya cukup untuk dia membeli makan dua bungkus nasi." Tiara yang tidak setuju dengan suaminya.


Papa dan Mommy hanya diam mendengarkan perdebatan mereka.


"Ya sudah, terserahlah." Alex yang mengalah, karena tahu istrinya sekarang sangat keras kepala.


Tiara tersenyum melihat suaminya yang tak lagi mau berdebat dengannya. Dengan sedikit menurunkan kaca mobilnya Tiara mengeluarkan tangannya yang menggenggam beberapa lembar uang untuk diberikannya.


Tapi anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Tiara menautkan kedua alisnya, merasa heran.


"Tante, tolong aku!" ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca. Dan beberapa kali kepalanya menengok ke beberapa arah.


"Sayang, sudah kasihkan," seru Alex, ketika melihat istrinya diam saja.

__ADS_1


"Tunggu sebentar," sahut Tiara yang tak melepaskan pandanganya pada anak laki-laki itu.


"Tante, tolong aku!" lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut kecilnya. Dan mata bulat-nya yang menatap penuh harap.


"Mas," panggil Tiara. "Kemarilah." Tiara yang menyuruh Alex mendekat ke arahnya.


Alex segera mendekat ke arah istrinya. "Ada apa?"


"Mas coba lihat anak ini, dia tidak mau aku kasih uang. tapi dari tadi dia bilang 'tolong aku'" Tiara yang meminta Alex untuk memperhatikan anak itu.


Dan lagi-lagi anak itu terus mengucapkan kalimat yang sama.


"Sudah, jangan hiraukan dia. Kalau tidak mau di kasih uang ya sudah." Alex yang tidak mau ambil pusing segera kembali ke tempat duduknya dan menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.


Sedangkan Tiara, masih belum mengerti maksud anak kecil itu yang sedari tadi meminta tolong kepadanya.


Memperhatikan anak kecil itu, seketika Tiara ingat adik-adiknya yang berada di panti. Karena sebagian besar dari mereka ada juga yang berasal dari jalanan.


Lagi-lagi anak itu mengarahkan pandanganya ke segala arah, hingga tatapannya tertuju pada dua orang pria yang berdiri tak jauh dari sana. Sontak tubuh anak itu sedikit gemetar karena ketakutan, saat pria itu menatapnya dengan tajam dari kejauhan.


Tiara segera menoleh ke arah Alex. "Mas, sepertinya anak kecil itu ketakutan dengan pria yang berada di sana," ujar Tiara dengan mengarahkan telunjuknya di mana dua pria itu berdiri.


Alex juga bisa melihatnya pria yang bertampang preman itu. "Terus kita harus apa?" tanya Alex.


Tiara sebenarnya ragu untuk mengatakan keinginannya. Tapi nalurinya berkata, bahwa dia harus menolongnya. "Mas, kita tolongin dia ya!" pinta Tiara dengan wajah memelas.


Mata Alex seketika membulat mendengar permintaan istrinya yang luar biasa itu. "Sayang, itu tidak mungkin. Ada dinas sosial yang bisa menangani mereka," tutur Alex mencoba memberi pengertian.


Tiara menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi matanya tertuju pada anak itu. Sungguh rasa iba menyelimuti hati Tiara.


"Mas ...." Tiara yang mulai merengek. Tapi Alex masih bergeming. Bukanya Alex tidak mau membantu anak kecil itu. Hanya saja jika melihat preman yang berada di seberang jalan, tentu mereka tidak akan tinggal diam jika Alex menolongnya. Alex tidak mau jika suatu saat mereka akan balas dendam kepada keluarganya.


Tiara semakin panik, saat melihat suaminya hanya diam saja. Mata Tiara sesekali melihat ke arah lampu lalu lintas yang masih bewarna merah, mungkin sebentar lagi akan menjadi kuning.


"Mom, Pah," akhirnya Tiara mencoba meminta pertolongan kepada mertuanya.


Mommy dan Papa saling pandang. Kemudian menghembuskan nafasnya pelan. "Sayang, jika kamu ingin menolongnya, maka Alex juga harus mau. Karena bagaimanapun nantinya anak itu tanggung jawab kalian berdua," ujar Papa. Kemudian mengarahkan pandanganya pada Alex. "Alex, cobalah penuhi keinginan istrimu," ucap Papa.

__ADS_1


Tapi Alex masi sama, diam.


Tiara semakin gusar saat lampu lalulintas sudah bewarna kuning. Tiba-tiba otak-nya mempunyai ide, dan Tiara merangsek ke arah Alex. Tiara membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.


Mata Alex terbelalak. "Are you sure?" tanya-nya tak percaya.


Tiara menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Ok, deal," jawab Alex dengan tersenyum lebar.


Mommy dan Papa hanya menatap bingung dengan anak dan menantunya. Entah kesepakatan apa yang mereka buat.


Tiara segera membuka pintu mobilnya, hingga pintu itu bergeser ke samping. "Ayo, masuk." ajak Tiara.


Anak kecil itu terdiam. Antara bingung dan merasa senang ada seseorang yang akhirnya mau menolongnya.


Tangan Tiara terulur untuk membantu anak itu agar cepat masuk ke dalam mobilnya. Sebelum preman menyadari tindakannya.


"Ayo," ajak Tiara lagi.


Dengan gemetar tangan mungil itu terulur menyambut tangan Tiara.


"Hei!" teriak salah satu preman yang menyadari tindakan Tiara. Preman itu segera berjalan menuju mobil Tiara.


Tiara segera menarik tangan anak kecil itu yang sudah di raihnya, dan membawanya masuk kedalam mobil saat menyadari preman itu semakin dekat dengan-nya. Dan dengan cepat menutup pintu mobilnya.


Beruntung lampu lalu lintas sudah bewarna hijau. "Jalan Tomy," titah Alex.


Tomy langsung memacu kendaraanya dengan sedikit kencang, beruntung mereka berada di barisan depan hingga mudah untuk segera pergi dari sana.


Anak kecil itu Tiara dudukkan di sebelahnya. Dia hanya menundukkan kepalanya. Mungkin dia masih merasa takut. Hingga tak lama terdengar suara dari mulut kecilnya. "Terima kasih Tante," cicitnya.


Tiara yang sedari tadi memperhatikannya, seketika tersenyum. "Kamu aman sekarang, tidak perlu takut." ucap Tiara seraya membelai rambut anak itu.


...----------------...


JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN. TERIMA KASIH, SEMOGA SEHAT SELALU. AMINN 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2