
Di dalam ruang persalinan, Caca sangat kesal dengan suaminya. Saat ia berjuang melahirkan anak mereka, suaminya sedari tadi terus berisik di sebelahnya.
Meskipun tujuan Rey memberikan semangat, nyatanya itu sangat berlebihan.
"Sayang, berjuanglah. Ingatlah waktu kita membuatnya, rasanya sangat nikmat. Mungkin itu bisa mengurangi sakitnya," ujar Rey dengan menggenggam tangan Caca.
Sontak saja hal itu membuat mata Caca membulat. Dalam hal seperti ini, sempat-sempatnya suaminya itu menyuruhnya mengingat ketika mereka membuatnya. "Uncle, diam lah!" sungutnya.
Bahkan bukan hanya Caca yang terkejut dengan ucapan Rey, Dokter dan perawat pun seketika memerah mendengar kata vulgar itu.
"Baik Bu, kita ulangi lagi." Dokter menginterupsi. Pasalnya tadi Caca sudah mencoba mengejan tapi rupanya masih belum berhasil.
Rey melihat Dokter itu mengambil gunting, dan itu tiba-tiba membuat Rey merinding dan juga bertambah panik.
"Satu, du--"
"Engh."
Belum sempat Dokter menghitung sampai tiga, ternyata sudah mengejan. Tapi bukan Caca yang mengejan melainkan Rey.
"Uncle!" teriak Caca langsung saja menggigit tangan Rey karena kesal.
"AAAAAAAA," teriak Rey.
Sedangkan di luar ruangan bersalin, semua saling pandang ketika mendengar teriakan. Bukan nya Caca yang melahirkan, kenapa Rey yang berteriak.
Alex mengulum bibirnya menahan tawa, pasti di dalam sana ada pertunjukan seru. Batinnya.
"Ish," Alex mengusap perutnya saat mendapatkan capitan panas dari Tiara.
"Mas, kamu jangan berpikiran aneh-aneh deh." Tiara yang mengerti pikiran suaminya, tapi Alex justru malah tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Sungguh teman yang tidak berperasaan.
*
*
Di dalam kamar bersalin Caca masih berjuang untuk melahirkan. Tubuhnya sudah di banjiri keringat, dan rasa lelah mulai menderanya.
Sedangkan Rey, Laki-laki itu bagaikan habis di serang oleh ratusan ayam betina yang ketahuan mencuri telurnya. Dengan rambut acak-acakan dan beberapa luka gigitan di tangan nya.
Tentu saja itu semua ulah istrinya, karena saat mulas dan sakit datang bersamaan makan Rey yang akan menjadi pelampiasan Caca.
"Dokter, aku mengantuk." keluh Caca. Padahal saat ini anak mereka masih belum melihat indahnya dunia. Terlihat dari matanya yang mulai sayu.
"Bu Caca, tinggal sedikit lagi. Apa ibu tidak ingin segera melihat anak Ibu." Dokter yang memberikan semangat.
"Tarik nafas yang dalam, kemudian Ibu mengejan sekuat tenaga. Bayangkan anak Ibu yang juga ingin segera melihat orang tuanya."
Dengan aba-aba dari Dokter, pada hitungan ketiga Caca mengejan sekuat tenaga di saat itu juga Dokter menggunting jalan keluar agar mempermudah bayi mungil itu keluar.
"Oek."
"Oek."
__ADS_1
"Oek."
"Sayang," Rey langsung mencium seluruh wajah Caca ketika istrinya berhasil mempertaruhkan nyawanya demi anak mereka. "Terima kasih, i love you." bisik nya.
"Selamat Bu Caca sudah menjadi seorang Ibu, dan bayinya sehat tanpa satu pun kekurangan." Setelah memastikan kondisi bayi Caca baik-baik saja. "Dan bayinya sangat tampan," imbuhnya.
Setelah itu seorang perawat membawa bayi tampan itu untuk di bersihkan. Hingga beberapa saat bayi tampan itu sudah bersih dan di taruh di dada Caca untuk mengenali sumber asi nya.
Kesadaran Caca hanya tinggal setengah, akibat kelelahan. Bahkan ia tak bisa melihat wajah bayi tampan yang berada di dadanya dengan jelas.
Air mata bahagia sontak saja menghiasi wajah Rey dan Caca yang resmi menjadi orang tua.
Penantian selama sembilan bulan itu akhirnya kini telah usai, karena malaikat kecilnya kini telah berada di tengah-tengah mereka.
Bayi tampan itu dengan susah payah akhirnya menemukan sumber makanan nya. Dengan lahap kemudian menghisapnya.
"Pak, nanti setelah ini jangan lupa untuk mengadzani." pesan Dokter setelah selesai menjahit di area inti Caca. Dan di teruskan perawat untuk membersihkan tubuh Caca.
"Pasti," sahut Rey.
Beberapa saat kemudian, Caca dan bayinya sudah di dorong keluar dari ruang bersalin untuk menuju ke kamar rawat sebelumnya.
Mama Mona dan yang lain nya sontak mendekat. Tapi sayang Ibu dan anak itu kini sama-sama terlelap.
"Ma," panggil Rey ketika melihat Mama Mona.
"Sayang," sahut Mama Mona yang langsung memeluk Rey. "Selamat, sekarang kamu jadi seorang ayah." ucapnya, yang di balas Rey hanya dengan anggukan. Karena hanya terdengar isakan dari mantan Casanova itu.
"Maafkan Rey, Ma. Selama ini Rey sering menyakiti hati Mama dengan kelakuan Rey." Di sela-sela tangisnya ia sekarang sadar betapa selama ini ia sangat menyakiti hati seorang wanita yang telah berjuang hidup dan mati untuk melahirkannya.
"Bahkan mereka tidak pernah berfikir, bisa saja nyawa mereka akan kembali kepada Tuhan saat itu. Itu karena mereka berharap anak mereka akan terlahir dengan selamat."
Tangis Rey semakin pecah setelah mendengar ucapan Mama Mona. Bahkan ingus dan air mata pun sudah menjadi satu.
"Ceh," Alex yang melihat sahabatnya menangis sedemikian rupa.
"Mas." Tiara yang melotot ke arah Alex.
*
*
*
Tak terasa matahari sudah menampakkan sinarnya. Tiara berniat akan berpamitan setelah Caca bangun dari tidurnya.
Hingga pukul tujuh tepat Caca terbangun, dan langsung di sambut dengan senyum bahagia dari semua orang.
Setelah menghabiskan sarapan nya dan membersihkan diri di bantu Rey, bertepatan pula bayi tampan itu menangis di dalam gendongan Mama Mona.
Rey sontak menahan Caca saat ingin memberikan asi, ia melirik tajam ke arah Alex yang duduk santai di sofa.
"Ck," Alex berdecak kesal melihat kelakuan teman nya. "Iya, iya gue pergi sekalian juga mau pamit pulang."
__ADS_1
Alex dan Tiara akhirnya berpamitan untuk pulang.
"Kok mau pulang aja?" Caca yang melihat Tiara berpamitan.
"Iya, kasihan anak-anak di rumah pasti nyariin." Tiara yang memberikan sedikit kecupan di bayi tampan yang sekarang sudah berpindah di gendongan Caca.
"Ra, kamu sakit? Wajah kamu sedikit pucat!!" Perkataan Caca seketika membuat semua orang menoleh kepadanya.
"Sayang, kamu sedang tidak enak badan?" Alex yang ikut bertanya.
"Tidak, mungkin hanya kurang tidur saja." sahut Tiara.
Hingga kemudian ia benar-benar pergi dari sana bersama Alex.
Di lorong rumah sakit, Tiara semakin lama semakin merasakan pusing yang mendera kepalanya.
Entahlah rasanya jalan yang ia pijak rasanya bergoyang seperti di tepa gempa.
"Sayang!" Alex seketika merengkuh tubuh Tiara, ketika istrinya itu hampir saja limbung. Dan di detik kemudian mata indah itu benar-benar terpejam.
"Sayang, bagun!" Alex yang mulai panik mencoba membangunkan.
"Pak, langsung di bawah ke IGD saja." interupsi perawat yang kebetulan lewat.
Secepat kilat Alex menggendong istrinya ke IGD agar segera mendapat penanganan.
Di luar ruangan, Alex hanya bisa mondar mandir menunggu Dokter agar cepat keluar dan memberitahu apa penyebab istrinya sampai pingsan.
Tak lama dua Dokter keluar dari IGD dan Alex segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan istri saya?"
Sebenarnya Alex sedikit bingung kenapa Dokter yang menangani Caca juga berada di sana.
"Selamat, Pak. Istri anda sedang mengandung. Usia kandungan nya baru menginjak dua minggu. Mohon di jaga baik-baik, karena di trimester pertama masih sangat rentan keguguran." Dokter kandungan itu menjelaskan. Setelah itu kedua Dokter itu pergi dari sana.
Alex diam membeku mendengar berita yang baru saja ia dengar.
Hamil?
Oh Tuhan.
Alex segera masuk ke dalam IGD, setelah kesadaran nya kembali. Di lihatnya sekarang istrinya itu menatapnya dengan mata yang berkaca kaca.
"Sayang." Alex memeluknya erat, menyalurkan rasa bahagianya.
"Mas," panggil Tiara dengan suara bergetar.
"Sayang, Tuhan kembali memberikan kita malaikat kecil." ucapnya dengan terus memeluk istrinya. Meskipun ia sudah di berikan dua jagoan, tetap saja ia merasakan bahagia yang luar biasa. "Terima kasih sayang, Terima kasih Tuhan.
Sama dengan suaminya, Tiara juga hanya mampu memeluk erat suaminya. Sungguh, Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang tiada tara.
End.
...----------------...
__ADS_1
...Terima kasih untuk semuanya yang masih setia membaca sampai detik ini. Othor cuma mampu mengucapkan Terima kasih banyak, lope lope untuk kalian semuanya....
...Nanti akan ada extra partnya. Tapi selow ya up nya, karena mau fokus sama Mommy Jessy dan Papa Nathan yang udah lounching. Jangan lupa mampir kesana 🥰....