DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU

DENDAMKU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU
Modus


__ADS_3

Alex sebisa mungkin mengontrol emosinya, berhadapan dengan seseorang dari masa lalu memang tidaklah mudah.


Apalagi setelah mengetahui dalam kesepakatan kerja mereka, perusahaan Alex akan di untungkan.


Hingga beberapa saat meeting mereka selesai, dengan hasil yang memuaskan. "Semoga kerja sama kita ke depan akan berjalan dengan lancar," Ucap perempuan itu, dengan mengulurkan tangan kanannya ke arah Alex.


"Semoga," jawab Alex seraya menjabat tangan wanita itu sebentar, kemudian segera melepasnya.


Alex dengan langkah kaki lebar keluar dari ruangan meeting, rasanya ingin sekali dia melempar Riko dari atap kantor. Karena tidak memberitahunya secara detail siapa koleganya.


Riko yang di tinggal sendirian di ruang meeting, hanya mempersilahkan koleganya dengan hormat saat akan meninggalkan ruang meeting.


"Tunggu," sergah wanita itu, ketika Riko juga akan pergi.


Seketika Riko menghentikan langkahnya. "Iya, Bu Bella."


Wanita yang bernama Bella Ayudia Baskara itu, terlihat ingin menanyakan sesuatu. "Ehm ... saya dengar Tuan Alex sudah menikah?"


Riko hanya menautkan kedua alisnya. "Maaf ... saya tidak bisa menjawab tentang hal yang bersifat pribadi, permisi." Setelah itu Riko juga meninggalkan ruang meeting terlebih dahulu.


Bella hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat, setelah itu berlalu dari sana.


Alex yang masih dalam keadaan emosi seketika membuka pintu ruangannya dengan keras, bahkan Sheryl yang ingin memberitahukan kalau Tiara sudah berada di dalam seketika mengurungkan niatnya.


Brak.


Tiara yang berada di dalam ruangan Alex langsung terjingkat. "Ya ampun!"


Alex yang tadinya merasa emosi, tiba-tiba lenyap begitu saja dengan melihat paras ayu istrinya.


Tiara segera berdiri dari duduknya. "Mas, ada apa?" Tanya Tiara khawatir.


Alex meraup udara sebanyak-banyaknya, dan menghembuskan nya perlahan. "Tidak apa-apa," jawabnya seraya menghampiri Tiara.


Alex memeluk istrinya dengan erat, menyerukkan wajahnya pada ceruk leher Tiara dan menghirup aroma tubuh Tiara yang bisa mendinginkan pikirannya saat ini.


Tiara sendiri juga membalas pelukan Alex yang selalu membuatnya nyaman.


"Apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Alex setelah melepas pelukannya.


"Uhm ... baru sebentar," bohong Tiara, padahal dirinya sudah menunggu satu jam di ruangan Alex.


Alex mengarahkan pandangannya pada paper bag yang berada di atas meja. "Apa kau membawakan aku sesuatu?"


Tiara juga menoleh ke arah paper bag itu. "Oh ... itu aku tadi membelinya di sebelah kantor," jawab Tiara dan mengeluarkan isi dari paper bag apa yang dia beli tadi.


Hingga potongan-potongan roti tertata rapi di atas meja. "Mas ... ayo kita makan," ajak Tiara, seraya menarik tangan Alex untuk duduk disebelahnya.


Alex meraih cappucino panas yang sekarang menjadi dingin, Alex menautkan kedua alisnya setelah meminumnya.

__ADS_1


"Maaf, Mas sudah dingin," ucap Tiara, saat melihat raut wajah Alex yang berubah.


Alex menggelengkan. "Tidak, tapi ... rasanya aneh!"


"Benarkah!"


Tiara juga segera mencoba cappucino yang tadi ia beli. "Nggak kok mas, seperti biasa rasanya," ucap Tiara setelah mencicipi.


"Benarkah!"


Tiara segera menganggukkan kepalanya.


"Pasti punyaku berbeda," ujar Alex.


"Bagaimana mungkin," ucap Tiara tidak percaya.


"Iya, kalau begitu aku ingin coba punyamu," sahut Alex. Ada sedikit senyuman yang terbit di sudut bibir Alex, tapi sayang Tiara tidak mengetahuinya.


Tiara segera menyerahkan cup cappucino yang ada di tangannya kepada Alex. "Ini."


Alex mengambil cup cappucino dari tangan Tiara dan meletakkannya di meja.


Tiara hanya mengerutkan dahi melihat kelakuan Alex. "Kok gak di minum Mas?"


"Aku hanya ingin mencicipinya secara langsung," ucap Alex dengan seringainya.


Tiara seketika membulatkan matanya, saat Alex tiba-tiba menarik tengkuknya dan mendarat kan bibir nya tepat di bibir Tiara.


Tiara segera menepuk bahu Alex, untuk menyadarkannya bahwa mereka sekarang masih berada di kantor.


"Mas, ini masih di kantor," ucap Tiara saat tautan bibir mereka terlepas dengan nafas yang naik turun.


Alex segera menghubungi Sheryl lewat interkom. "Saya tiga jam ke depan sedang sibuk, jangan biarkan ada yang mengganggu."


Alex segera menutup panggilannya, dan menarik tangan Tiara mengajaknya menuju kamar tempatnya melepas lelah.


"Aku ingin," ucapnya saat berada di dalam kamar, dengan nafas yang sedikit memburu.


"M-mas ini di kantor," ujar Tiara gugup saat Alex dengan perlahan membaringkannya di ranjang.


"I don't care," jawab Alex tegas. Dengan segera Alex menyatukan bibir mereka, bahkan Alex melakukanya dengan panas.


Tangannya tidak tinggal diam, segera menelusup di balik seragam sekolah Tiara. Meremas dengan gemas dua bulatan yang selalu jadi pelepas dahaganya.


"Akh ...." Pekik Tiara saat Alex meremasnya sedikit kuat.


Alex melepas cium*nya pada Tiara. Alex bisa melihat nafas Tiara yang juga naik Turun, dengan cepat Alex melepaskan apa yang melekat pada Tiara dan juga dirinya. Melanjutkan apa yang mereka inginkan.


"Mas ...." ucap Tiara, saat Alex mulai memasukinya. Hingga beberapa saat di kamar itu hanya terdengar suara ******* mereka berdua.

__ADS_1


Sedangkan di meja Sheryl. Sheryl hanya menatap gagang telfon yang ada di tangannya.


"Ada apa?" tanya Riko yang berdiri di depan meja Sheryl. Karena tadi Riko berniat memberikan beberapa laporan kepada Alex, tapi berhenti saat tau Sheryl berbicara dengan Alex lewat sambungan interkom.


"Kata Bos, Bos lagi sibuk tidak mau di ganggu tiga jam ke depan," jelasnya. Dengan mengembalikan gagang telfon pada tempatnya.


Riko hanya menaikkan satu alisnya, karena terakhir tadi saat bersama Alex. Alex terlihat emosi, hingga beberapa saat ada satu pertanyaan yang melintas di otaknya.


"Apa Nyonya Bos ada di sini?" tanya Riko kemudian. Dan Sheryl menganggukkan kepalanya.


"Ck." Riko hanya berdecak, sudah tau apa yang di lakukan bos dengan istrinya di dalam sana.


"Ya sudah, ini nanti serahkan pada Bos jika urusannya sudah selesai," ujarnya, dan meletakkan beberapa berkas di meja Sheryl.


"Memangnya Bos ada urusan apa?" tanya Sheryl yang masih belum paham dengan maksud Riko.


"Kau tidak perlu tahu!" ucap nya tegas, dan berlalu dari sana.


Sheryl hanya mencebikkan bibirnya. "Gitu tuh ... kalau orang gak pernah pacaran kaku aja pembawaannya, untung Bos udah laku. Apalagi kalau dapat yang masih ting ting sepertiku," ucapnya bangga dengan menggoyangkan pinggulnya seperti di video tok tok, kemudian tergelak sendiri.


***


Di lain tempat Rey sedang berkunjung ke mansion Alex, untuk apalagi kalau tidak mencuri-curi kesempatan bertemu Caca. Entah sebenarnya apa yang dia rasakan untuk Caca.


Tapi sore itu Caca tidak ada di mansion karena sedang pergi dengan Papa Nathan, karena Caca yang ingin membeli seblak kesukaannya dulu. Karena sudah lama tidak memakannya.


"Tante, Caca perginya masih lama?" tanya Rey.


"Caca baru berangkat Rey," jawab Mommy, dengan membantu para asisten menyiapkan beberapa bahan makanan untuk mereka masak makan malam.


Mereka sekarang berada di dapur.


"Rey, cobalah merayu Caca, agar Caca klepek-klepek," sahut Mommy.


"Rey lebih suka tindakan langsung," sahutnya.


"Tapi apa salahnya jika mencoba, apa lagi dengan lagu romantis," saran Mommy.


Rey sedikit tertarik dengan saran Mommy. "Lagu apa tante?"


Mommy seketika menghentikan kegiatannya. Dan mendekat ke arah Rey. "Bagaimana lagu romantis ini saja."


"Kuju jual cel*na dal*m, itu semua karna Nyai --"


Rey seketika membulatkan matanya. "Tante ... mana ada lagu yang seperti itu," sergah Rey.


"Benarkah!" Mommy seketika mengotak atik ponsel pintarnya. "Oh ya, Mommy keliru." Ucapnya dengan tersenyum lebar, saat mengetahui lirik yang sebenarnya lewat go*gle.


Rey hanya mendengus melihatnya.

__ADS_1


...----------------...


...Jangan lupa vote, like, dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊...


__ADS_2